TESTIMONI SEORANG PEROKOK BERAT YANG TERKENA KANKER PARU

Ia paksa bangun dari baringnya, ia mencoba menghargai kedatangan sahabat-sahabatnya yang entah dulu menjadi siapa saat satu sekolahan. Meski, sudah kami larang, “Biarlah kami yang sehat, yang menyesuaikan mas, jenengan berbaring aja,” Matanya pasrah, punggungmya membungkuk, mengikuti hembusan nafas yang sempit. Sangat lemah, bahkan, untuk duduk tegak terlihat sangat repot, harus ditopang bagian punggung.

Aku membayangkannya bagai seorang penderita diare akut yang disertai muntah hebat, sedang makan dan minum tak sedikitpun berpihak. Lemah. Tak berdaya. Namun, bahkan bayangan ini pun terlalu ringan, bila disandingkan dengan kenyataan yang ada. Efek kemoterapi, satu-satunya alternatif terbaik untuk saat ini, setelah tegak terdiagnosa, bahwa teman kami mengidap kanker paru stadium 4. Kemoterapi yang diprediksikan akan berlangsung 6 kali, baru saja terlewati kali pertama. Masih ada 5 kemo lagi yang saling susul dengan jeda masing-masing 21 hari. Perjuangan masih panjang, tapi insyaAllah dimudahkan. Barang siapa yang menyerahkan segala urusan, sepenuhnya kepada Allah, maka hasil terbaik akan Allah siapkan, hanya tugas manusia sabar serta syukur menjalani dan semakin mendekat kepadaNya.

Apalagi bicara, sekedar ulasan senyum yang ia paksakan untuk disuguhkan pada para sahabatnya, pun berasa begitu berat, seolah kekuatannya tinggal 10%, begitu akutnya. Hanya sesekali, ia terlihat mecoba tersenyum, setiap kali kita melemparkan sedikit candaan, dengan maksud agar dia sedikit terhibur. Senyuman, yang biasanya kita pasang dengan refleks tanpa sedikitpun tenaga untuk membuatnya nyata, namun, untuknya, ia harus keluarkan sedikitnya 50% kekuatan hanya untuk senyum. 

Hari sudah beranjak petang, saat kami tiba di ruang tempat ia dirawat. Setidaknya, fakta ini sedikit menyadarkan para pecinta rokok, meski hanya sebatas teman-teman dekatnya. Dengan dirawatnya sahabat kami, membuat kami memaksa diri untuk bangun, dari kenyamanan menyepelekan penyakit apapun yang berhembus, terkait pola hidup tidak sehat. Merokok, salah satunya. Menurutnya, ia hanya merokok paling banyak 1bungkus setiap harinya, kawan!

Begitu hebohnya efek buruk itu. Meski semua tergantung kekuatan masing-masing diri, namun hendak ditambah berapa kasus lagi sekedar untuk pembelajaran? Adakah yang ikhlas dijadikan pembelajaran? Kurasa jika diberikan bocoran bahwa kelak beberapa bulan atau tahun lagi salah satu dari kita akan bernasib yang sama, pun belum sepenuhnya percaya, kalah sama ego hebatnya sugesti yang dibentuk sendiri. Hanya, jika benar-benar mengalaminya sendiri maka orang akan lebih percaya. Namun, bukannya semua itu sudah terlambat. Walaupun, seandainya ada jaminan bahwa akan disembuhkan seperti sedia kala, namun harus melewati beberapa tahap kemoterapi yang begitu menyiksa, akankah masih ada yang mau menjadi sukarelawan? 

Bahkan tak hanya berita, video testimoni, hingga peringatan di setiap bungkus rokok yang disuguhkan dengan legal, diartikan hanya sebagai lelucon saja oleh para pencintanya. Entah dengan cara apalagi untuk membantu menyadarkan masing-masing diri. 

Apakah nunggu semua merasakan langsung baru akan percaya? Setidaknya berkaca dari pengalaman pahit seseorang, akan lebih membuat kita selangkah lebih maju, dalam hal ini. 

Semoga menginspirasi. 

-ew-

Written by

67   Posts

Eka Wahyuni Tinggal di Jogja, Bunda dari 3 bocah hebat shaleh dan shaleha ini mempunyai kepribadian hangat dan supel. Selain aktif di sebuah klinik di Jogja, juga aktif berkomunitas dengan sesama penulis dan Blogger di Jogja. Senang sekali berbagi, ilmu, pengalaman, motivasi juga hal-hal positif lainnya. Kontak dan kerjasama bisa dihubungi melalui: Email: ekabyan@gmail.com
View All Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: