Menjalani kesengsaraan, Menikmati Penderitaan, Mensyukuri Kegagalan adalah Kunci Kebahagiaan yang Sempurna

Menjalani Kesengsaraan Menikmati Penderitaan Mensyukuri Kegagalan adalah Kunci Kebahagiaan yang Sempurna –“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S:2;155)

Peredaran darah dari jantung menuju ke seluruh tubuh lancar, otak ternutrisi, jantung ternutrisi, ginjal, hati, paru-paru, mata, tangan, kaki dan semua organ yang kita miliki yang hampir tak bisa dihitung dengan jari, semuanya berjalan normal. Tidak cukupkah membuatmu bahagia?Jika satu saja kenikmatan itu Allah ambil, terserah yang mana saja yang kamu pilih, bersediakah?Kenapa begitu sulitnya bersyukur?Menurutmu siapakah yang mengaturnya?alami?Allah!.

Bahkan milyaran manusia yang tetap saja tak terlihat, dari radius gugus-gugus bintang, semua diatur sedemikian rumit. Milyaran manusia itu berpijak di bumi, yang bahkan besarnya pun tak sampai setitik dibanding bintang paling besar di jagat ini.

Hanya Allah yang Maha Mengatur segala sesuatunya dengan sangat detil!

Ujian bagi manusia itu dimulai semenjak ia dilahirkan hingga ia masuk ke liang lahat. Hal itu sudah ditetapkan, bahkan oleh Sang Penguasa jagat raya ini, Allah SWT.

Tak ada satupun manusia yang terlewat dari yang namanya ujian. Bahkan, nabi sekali pun, semua mengalami ujian dalam bentuk penderitaan yang teramat parah. Yang bila dibandingkan dengan ujian bagi manusia biasa tidak akan sepadan.

Dari satu ayat tersebut harusnya kita mampu untuk menyimpulkan bahwa, Kunci kesuksesan menghadapi segala bentuk ujian, hanyalah SABAR. Mampukah?

Ada satu buku, yang dari awal sampai akhir mengulas semua hal yang berhubungan dengan: CARA MENYIAPKAN HATI UNTUK BAHAGIA DI SETIAP KEADAAN. Gimana, sih caranya kita agar tetap berbahagia, ketika kita menghadapi ujian yang mungkin hampir kita rasakan setiap saat? Ujian ringan hingga berat yang seharusnya bisa kita lewati seluruhnya untuk memperoleh kelas lebih tinggi lagi. Yang ada, bahkan, kadang kita tidak menyadari bahwa hembusan napas kita lancar, sudah merupakan rejeki tak terhingga dari Allah, yang tak pantas kita ingkari, hanya karena kita sedang merasakan sedikit kesulitan.

Merasa sudah diterima pekerjaan yang layak, ternyata hanya karena kesalahan tidak sengaja yang tidak disadari justru, di-PHK tepat di hari ketiga bekerja. Namun, ternyata di balik itu semua, justru dia diterima kerja di tempat lain yang lebih dekat dengan posisi kerja lebih bagus, pun gaji yang lebih besar dari tempat kerja sebelumnya. Hanya butuh kesabaran belajar menerima, dan Allah lebih mengetahui apa-apa yang terbaik buat hamba-Nya, sedang hamba-Nya tidak mengetahui. (Belajar Menerima, hal:24)

Galau, pencarian nilai yang harus kuanut sepertinya belum berakhir. Dan pembuktian atas segala teori kebahagiaan pun belum cukup kugenggam.

“Hidup memang harus terus berlanjut, tak peduli seberapa menyakitkannya itu, biarlah nanti waktu yang mengobatinya.”

Kutipan itu, adalah kutipan favoritku yang bisa kamu temukan pada halaman 94, buku merah: JALANI, NIKMATI, SYUKURI karya Mas Dwi Suwiknyo. Bukan rahasia lagi, bahwa, indahnya hidup dapat kita peroleh, hanya apabila kita tahu caranya menikmati, semua hal yang terjadi di dalamnya.

Judul Buku      : Jalani Nikmati Syukuri

Penulis             : Dwi Suwiknyo

Penerbit           : Noktah

Terbit               : Januari 2018

Tebal               : 260 Halaman

ISBN               : 978-602-50754-5-2

Kebiasaan lama, setiap membaca buku, selalu kuawali dengan membuka bagian terakhir. Bagian epilog, yang menjadi “cinta pada pandangan pertama” ku terhadap buku merah ini. Dari judul subtema pada bagian ini saja sudah membuatku tersenyum, ini dia buku yang kucari! “JANGAN TUNDA BAHAGIA”. Sepintas, kalimat tersebut sangat sederhana, namun positif, yaitu hanya mengajak bahagia, sekarang juga! Apapun kondisi kita saat ini.

Unik! Dan anehnya, kuturuti juga kalimat tersebut. Bahwa konsep bahagia yang dimaksud disini memang bukan bahagia semu yang bersifat duniawi, namun bahagia yang sebenarnya, yang hanya bisa kita peroleh saat kita niatkan segala sesuatunya hanya untuk Allah. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan unsur keduniawian. Karena, ternyata segala hal yang bersifat duniawi tersebut hanya akan memberi kita perasaan senang yang bersifat sementara. Bukan bahagia yang kita cari selama ini!

Lanjut pada bagian depan, ada yang unik dari cover-nya, yang ini benar-benar membedakannya dengan buku lainnya, bahkan yang sejenis sekalipun. Karena, di sana kita akan menemukan notice sederhana, yang tak menunggu lama kita pasti akan mengikutinya, “Jangan lupa bahagia” dan “Tempel Foto Senyum Kamu Di Sini Ya”.  Ah, memang unik nih buku!

Membuka buku dari depan, kita langsung disuguhi kisah True Story, dalam PROLOG JALANI NIKMATI SYUKURI. Sebuah cerita yang mengupas tentang kehidupan seorang karyawan yang bekerja keras, demi mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk kemajuan perusahaan. Cerita ini, menggaris bawahi beberapa poin penting:

Apa artinya kesibukan kalau tidak bisa kita nikmati?

Apa artinya pekerjaan bergengsi tapi bikin kita mudah stress?

Apa artinya kesuksesan kalau akhirnya membuat kita terkapar di rumah sakit?

(Hal. 5)

Begitu melanjutkan ke halaman berikutnya, rupanya langsung masuk pembahasan subtema selanjutnya. Kubuka lagi kembali ke awal, mencoba mencari sesuatu yang sepertinya janggal, ah, rupanya buku ini tidak dilengkapi dengan daftar isi! O,ya? Teknik baru kah? Atau aku yang tidak tahu? Tapi okelah, hal ini menambah satu keunikan lagi pada buku pemberani ini. Setidaknya ketidakberadaan daftar isi akan memaksaku membuka setiap halaman dan membacanya singkat, sebelum akhirnya mengetahui semua subtema menarik lainnya yang bakal di bahas lengkap di buku ini.

Buku ini memiliki 52 subtema, termasuk di dalamnya prolog dan epilog. Dari kesemuanya, ada beberapa hal yang berhasil kutarik sebagai benang merah, yang menghubungkan antara satu subtema dengan subtema berikutnya hingga menuju ke epilog.

  1. Bahwa penulis ingin mengajak pembaca, menikmati kehidupan ini dengan cara bahagia. Dimana harus bisa mensubstitusi semua perasaan, keadaan yang tidak diharapkan, baik berupa kekecewaan hidup, kesengsaraan, kegagalan, stress, tidak dianggap, disepelekan dan lainnya, yang diakibatkan oleh kelakuan kita sendiri maupun yang disebabkan oleh lingkungan sekitar kita, tanpa kita bisa mengendalikan, dengan cara yang positif, bahagia.
  2. Dengan cara apa lagi, kalau dengan menghilangkan semua ketidakenakan tersebut tidak mungkin? Ya dengan cara menjalani kesengsaraan, menikmati penderitaan dan mensyukuri setiap kegagalan yang ada. Jika semua hal buruk itu tetap bisa kita nikmati, yang artinya kita tidak lagi terganggu karenanya, maka otomatis hanya akan tersisa nikmat dan bahagia saja pada seluruh aspek kehidupan yang kita jalankan. Tak ada lagi penderitaan, karena semua sudah melebur menjadi satu. Ah, sudah biasa menderita, ngapain dipusingkan!

Warna merah buku ini, sangat merah! Apa artinya? Artinya adalah sangat berani. Berani menghadapai segala macam bentuk ujian yang Allah timpakan kepada kita, untuk tetap bahagia. Buku ini mengupas tuntas mengenai, beberapa keadaan sulit yang kerap menjangkiti kita para manusia, baik disadari maupun tidak disadari. Juga sekaligus menghadirkan solusi dari setiap keadaan yang tidak diharapkan, lengkap dengan contoh dan sumber hukum resminya. Buku ini berpatokan pada kebenaran ayat Al Quran pun dalil-dalil sunnah yang bersumber dari hadis sahih. Yang semuanya secara lugas, renyah dan mudah dicerna, ditulis oleh Mas Dwi Suwiknyo selaku penulis solonya.

Banyak hal-hal sepele, yang nyatanya justru menjadi sumber kebahagiaan kita bersama keluarga. Seharusnya, tak ada sekecil apapun kejadian yang kita ijinkan untuk mengobrak-abrik hati kita menjadi pecah, tergores luka, bahkan hanya memanas karena diremehkan seseorang atau karena kegagalan dari usaha maksimal kita sendiri.

Tidak sedikit orang berjuang lantaran menyimpan dendam. Dendam karena pernah diremehkan orang lain dan ingin sekali membuktikan bahwa ia tak layak diremehkan (Hal: 84).

Kebahagiaan, yang menjadi tujuan setiap manusia, sejatinya mempunyai tujuh tanda, hal ini dijelaskan pada halaman 91. Dari tujuh tanda itu, dua di antaranya adalah: mempunyai pasangan hidup yang saleh dan saleha, serta dikaruniai anak-anak yang baik, yang membahagiakan di dunia maupun di akhirat.

Tidak ada satu pun manusia yang tidak ingin bahagia. Apa sebenarnya bahagia itu? Bahagia hanya ada di angan-angan, jika kita mengartikan bahagia tersebut hanya sebatas kesenangan yang belum bisa kita capai. Orang miskin akan membayangkan, betapa bahagianya orang kaya yang kemana-mana bisa mengendarai mobil bagus, gonta-ganti pula. Namun, apa sesungguhnya yang dirasakan orang kaya tersebut? Justru dia membayangkan orang miskin itu, yang mempunyai waktu penuh untuk berkumpul dengan anak dan istrinya, hidupnya lebih bahagia daripada dirinya, yang bergelimang harta, tetapi hampir tak pernah bertemu dengan anak-istri dalam keadaan sadar (tidak tidur). Ternyata semua hanya wang-sinawang.

Pada dasarnya, semua orang pada setiap keadaan, pasti bisa merasakan bahagia. Tanpa syarat apapun. Jika ia mampu menyadari, bahwa bahagia hanya ada di hatinya masing-masing.

Kebahagiaan adalah anugerah dari-Nya yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sehat (Hal: 254).

Apakah orang yang kaya pasti bahagia? Bahagia adalah suatu keadaan dimana saat hati kita tidak merasa terbebani oleh apa pun. Bahagia memberikan perasaan nyaman, serta menambah semangat untuk melakukan sesuatu yang membuatnya kembali bahagia. Maka tidaklah salah, saat ada seseorang yang mengungkapkan bahwa selama nyawa dikandung badan, maka masalah (ujian) pun akan senantiasa menyertainya. Dari hal tersebut, hanya ada satu kunci yang membedakan satu dengan lainnya, yang kemudian akan menunjukkan tingkat kualitas seseorang, adalah sabar.

Menjalani hidup, akan memberikan warna yang berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya. Pada keadaan yang sama yaitu dihadapkan pada “masalah” hidup, yang keberadaanya merupakan satu paket dengan kontrak hidup dari Allah SWT.

Inti dari kehidupan hanya ada dua yaitu perasaan negatif derita dan perasaan positif bahagia. Hampir semua aspek selalu berkaitan dengan dua hal tersebut. Mencari nafkah, bekerja keras demi apa? Demi mencari kebahagiaan. Namun kebahagiaan sendiri seringkali diartikan yang salah. Bahagia jika mempunyai rumah mewah, maka seumur hidupnya akan ia gunakan untuk bekerja keras tak kenal waktu tak kenal lelah hanya untuk memperoleh rumah impiannya. Konsep yang umum sekali dipahami oleh masyarakat kita. Pun konsep yang sempat kuanut selama ini. Sebelum akhirnya pikiran ini terbuka dengan ijin Allah, dari sebuah pertanyaan simpel yang tiba-tiba muncul di kepala,

“Seandainya seumur hidup kita, Allah tidak mentakdirkan kita mempunyai rumah mewah, itu berarti kita selama hidup tidak akan pernah bahagia? Lantas, sia-sialah lelah dan waktu yang selama ini terbuang untuk mengabulkan cita-cita yang tak terwujud?”

Astaghfirullah, semoga dijauhkan dari hal seperti itu.

Pada intinya, tidak ada alasan untuk kita tidak bahagia, apapun kondisinya! Nah, setiap subtema di sini, menjelaskan serta memberi referensi berbagai tips dan solusi, yang dapat kita terapkan pada setiap keadaan yang tidak diharapkan. Jadi, tidak perlu konsentrasi pada keadaan yang kurang beruntung pada setiap kesempatan, namun konsentrasilah pada setiap solusi yang mampu merubah keadaan tidak menyenangkan menjadi kemenangan. Dengan cara apa? Dengan cara husnuzon terhadap semua hal yang terjadi pada kita. Husnuzon pada Allah, sebagai posisi tertinggi di kehidupan ini.

Penulis mengajak pembaca ikut merasakan setiap kejadian ilustrasi maupun true story yang dipaparkan secara renyah dan bahasa yang ringan, seolah semua pembaca pernah atau sedang menghadapi masalah yang serupa. “Ih, subtema ini gue banget nih!” Hal itu yang ingin dicapai oleh penulis, sehingga pembaca tidak lagi mersa digurui, pun dinasihati. Latar belakang penulis yang memang alumni pesantren, membuatnya piawai menjelaskan apapun dengan gamblang dan mudah dimengerti, meski berlandaskan Al-Quran dan hadis yang begitu berat dipahami oleh kita orang awam.

Tak ada pelajaran khusus yang membahasnya, namun semua orang tahu, bahwa yang menentukan seluruh sendi kehidupan ini akan berfungsi normal, jika kedua unsur ini dapat seimbang. kebahagiaan dan penderitaan. Dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, akan selalu berjalan beriringan. Dimana satu sebagai penawar, satunya sebagai penyeimbang.

Keadaan negative itu dapat berupa kegagalan, kekecewaan, kesengsaraan hidup, maupun penderitaan menjalani hidup yang kadang tidak sesuai dengan harapan kita.

  • Aku sudah berdoa, tapi kenapa belum juga dikabulkan?
  • Aku sudah bersedekah, tapi kenapa belum juga kaya?
  • Aku sudah berbakti kepada orang tua, tapi kenapa rezeki masih seret?
  • Dan masalah kehidupan lainnya, yang bila dibiarkan justru akan membawa kita ke dalam bentuk durhaka kepada Allah.

Protes(mengeluh)àberprasangka buruk kepada AllahàDurhaka (Hal. 35)

Ada seorang perempuan yang dia senang sekali makan bakso, suatu ketika dia ditraktir oleh temannya, maka dengan suka cita ia habiskan semangkuk bakso itu. Tak puas, temannya tambah lagi traktirannya pada mangkuk ke dua, perempuan itu sudah mulai pelan makannya, tak lagi semangat seperti sedianya, bahkan pada mangkuk ke tiga, perempuan itu sudah tak lagi mampu mengunyah bakso, alih-alih malah pengin muntah, hanya melihat bakso tersebut. Begitulah kesenangan. Maka setiap ditumpuknya dengan kesenangan yang lebih banyak, justru akan membuatnya tersiksa.

Beda lagi, dengan perempuan satunya, dia memberikan sekedar uang dua ribuan, kepada seorang pengemis, setelahnya dia merasakan kebahagiaan tak terkira, kemudian dia ulangi lagi memberikannya uang 2 ribu lagi, begitu seterusnya, maka kebahagiaan yang dirasakan akan semakin bertambah. Ketenangan akan selalu menghampirinya. Bahkan, dia akan menambah nominal uang yang akan dibaginya bersama pengemis tersebut. Disinilah arti bahagia.

Dua kata yang hampir mirip maknanya, adalah kesenangan dan kebahagiaan.

Kesenangan, merupakan hal sesuatu yang membuat hati kita merasa berbunga-bunga saat menerimanya, namun jika kita tumpuk kesenangan dalam jumlah banyak justru akan membuat kita tegang dan sengsara.

Sedangkan, bahagia, hal yang sama yang membuat hati kita merasa berbunga-bunga, namun jika ditumpuk sesuatu itu akan membuat kita semakin bahagia.

Sudah mulai bisa membedakan antar bahagia dan senang? Maka, bahagia akan lebih tinggi levelnya dibanding dengan senang. Bahagia juga merupakan impian semua manusia yang hidup di dunia ini. Meski tak diminta, justru kadang derita yang kerap menyambangi kehidupan kita. Hampir tak bisa kita menghindar dari sesuatu derita, sesuatu yang bila kita rasakan dengan negative justru akan semakin membuat kita terpuruk, bahkan tak jarang berputus asa.

Apabila orang dihujani berbagai kenikmatan dan kemudahan, kemudian orang tersebut menjalaninya dengan hati gembira, menikmatinya juga mensyukurinya, akan menjadi sangat biasa jadinya. Namun, berbeda hal jika sebuah kesengsaraan yang dijalani dengan ikhlas, kemudian menikmati penderitaan yang diterimanya, serta mampu mensyukuri setiap kegagalan yang merundungnya, baru bisa dikatakan luar biasa orang tersebut.

Sejatinya, kondisi kenyataan sebagian besar orang tidak pernah luput dari yang namanya kesengsaraan. Akan lebih indah jika kita menitikberatkan semuanya berdasarkan ketidak enakan dahulu, ketimbang keenakan yang sudah lazim kita sambut dengan hati gembira ria.

Jika kita mampu menjalani kesengsaraan, ketidakenakan, menikmati penderitaan, juga mensyukuri setiap kegagalan, maka kita akan menempati pada level tertinggi kebahagiaan. Dan, setiap kehidupan akan ada bahagia dan derita, bila derita saja bisa kita sikapi menjadi bahagia, maka hanya akan ada bahagia dalam seluruh aspek kehidupan kita, Dunia akhirat insyaAllah! Pokoknya, recomended banget deh! Bagi kamu yang lagi galau, kecewa, merasa selalu sial, selalu gagal dan seabreg kondisi tak beruntung lainnya!

Buku ini nyaris sempurna, namun kembali lagi, kesempurnaan memang hanya kepunyaan Allah Yang Maha Sempurna. Dari sekian banyaknya keunggulan buku yang sudah kukupas satu-persatu, ada sedikit saja kelemahan yang dapat kutangkap dari secara keseluruhan. Dan yakin, kelemahan itu sama sekali tak mempengaruhi kualitas pesan dari tulisan istimewa yang wajib kamu beli ini.

Mengenai kelemahan buku yang kebanyakan sifatnya teknis, masih ada beberapa yang ku temui, meski secara umum sama sekali tidak berpengaruh terhadap nilai dan konten buku itu sendiri. Beberapa kelemahan itu, antara lain:

  1. Kesalahan teknis pada penulisan, “ … tidak hanya membahagiakan kita di surga, tetapi juga kelak di akhirat.(Hal:92)

Mungkin yang dimaksud penulis adalah “ … tidak hanya membahagiakan kita di dunia, tetapi juga kelak di akhirat. (semoga aku yang salah)

  1. Kalimat ambigu, terdapat pada halaman 256, poin 9, “Rasa bahagia akan kita hadir di hati bila kita merelakan seseorang …” agak sulit dimengerti apa yang dimaksud penulis.

 

-Sesungguhnya, kesedihan itu hanya sementara-

2 Replies to “Menjalani kesengsaraan, Menikmati Penderitaan, Mensyukuri Kegagalan adalah Kunci Kebahagiaan yang Sempurna”

  1. Menjalani Kesengsaraan Menikmati Penderitaan Mensyukuri Kegagalan adalah Kunci Kebahagiaan yang Sempurna. Lantas apasajakah yang harus saya persiapkan agar hati saya mampu menerima semua hal tersebut?

    1. hati selalu dipenuhi keyakinan, bahwa apapun yang terjadi dalam hiduo kita atas kehendak-Nya. dan itu udah yang terbaik bagi kita, meski menurut kita saat itu pahit, dengan sabar kita bisa lulus melewatinya tanpa menyakiti hati kita, saat kita bisa menerima setiap kegagalan, maka tak ada sisa lagi selain keberhasilan, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *