MALIOBORO, DESTINASI WISATA JOGJA YANG KINI TIBA-TIBA BERUBAH SEPI

Kalau kamu ditanya:

Kamu suka Malioboro yang super ramai? Kanan-kiri penuh sesak penjual dan berjubel para pembeli, dimana-mana tersedia pilihan cinderamata, makanan, batik dan lain sebagainya? Atau kamu justru lebih suka Malioboro yang sepi, lengang dari transaksi penjual maupun pembeli?

Semua lorong kosong, tak terkecuali deretan andong yang biasanya parkir manis di sepanjang sisi kanan jalan Malioboro Jogja. Ada apa ini?  Tanyaku dalam hati, begitu memasuki kawasan Maliobro mulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali yang terletak di ujung utara Malioboro. Tak satupun kulihat, rentetan pedagang kaki lima yang sudah puluhan tahun meramaikan kota ini. Kemana gerangan mereka?

Belum terjawab pertanyaan yang tiba-tiba bergelayut itu, kupaksa otak ini mengingat, apa-apa saja yang biasanya nongkrong dengan sesukanya, mulai dari tukang bakso, lesehan Malioboro siang-malam, para penjual baju batik, tas batik, aneka gelang&kalung lucu, makanan, ah entahlah berapa ratus bahkan ribu jenis dagangan lain yang belum bisa kusebut satu-persatu. Belum pernah sekalipun hal ini terjadi. Bahkan andong, dengan para kusirnya yang selalu rapi dengan belangkon dan baju beskap khas Jogja,  yang sering kali membuat perasaanku nyaman dan selalu mengingatkan aku, bahwa aku tinggal di Jogja. Sebuah kota, dimana banyak sekali orang yang bermimpi ingin sekadar singgah, berselfie maupun hunting makanan khasnya, gudeg.

Lanjut menyusuri panjangnya jalan Malioboro, masih saja lengang dengan para penjual kaki lima, yang setiap hari bergelut berlomba mencari nafkah. Tak terasa, kangen juga dengan hiruk-pikuknya Malioboro yang banyak menjadi destinasi para pelancong, baik dalam maupun luar negeri. Terlihat hanya berderet toko-toko yang tetap saja beraktifitas seperti biasanya, seolah tak terganggu dengan perubahan yang ada. Hanya saja, mereka jauh lebih terekspos dibanding hari-hari biasanya yang cenderung selalu tertutup oleh pajangan dagangan para pemburu rejeki, iya, pedagang kaki lima Malioboro.

Menginjakkan kaki di bagian selatan Malioboro, pasar Beringharjo, juga tak satupun penjual makanan yang biasanya berderet rapi dengan payung besar warna-warninya. Pecel, bakpia, klepon dan seabreg makanan tradisional lainnya, yang kerap membuat kangen. Sebenarnya, bukan mengenai rasanya yang memang enak, tapi keberadaan warung-warung beserta menu andalannya itu, yang seringkali mengajak pengunjungnya berkelana melewati waktu, menuju saat dimana banyak terekam suasana manis, yang sekarang tinggal menetap di memori terdalam, menjadi kenangan.

Semua tampak kosong. Memang, semua padagang pasar tetap saja buka, tetap saja berjualan seperti biasanya. Kejanggalan ini belum juga menemukan jawabnya. Hingga, seseorang yang kebetulan kutemui menjelaskan panjang lebar, perihal sepinya Malioboro hari ini. Beliau adalah pak Agus, pedagang batik yang sudah berpuluh tahun menjalani bisnisnya, mulai harga batik yang hanya puluhan rupiah hingga kini batik bisa bernilai jutaan rupiah. Menurut keterangan beliau, sekarang pemerintah Jogja sedang menerapkan peraturan Jogja (Malioboro) bebas pedagang kaki lima. Hal ini, menuai beberapa respon baik bagi para penjual kaki lima maupun bagi para wisatawan yang berkunjung. Bagaimanapun, tujuan dari sebuah peraturan dibentuk adalah untuk ditaati. Meski merubah banyak keadaan maupun kondisi, namun kebijakan ini banyak bermanfaat bagi masyarakat. Ditinjau dari segi kebersihan tata kota, tentu saja kondisi Malioboro bebas kaki lima akan memberikan suasana yang berbeda bagi wisatawan yang datang. Malioboro kelihatan lebih rapi dan bersih, apalagi jadwal yang dirutinkan untuk kegiatan kerja bakti ini sudah mulai diterapkan, bersamaan dengan hari Malioboro bebas pedagang kaki lima, yaitu setiap Selasa wage yang jatuh setiap 36 hari sekali atau dikenal dengan sebutan selapanan. Ya, bahkan sekarang, para pedagang kaki lima itu mempunyai waktu “libur” yang bisa digunakan sekadar untuk menenangkan hati maupun sekadar melemaskan otot yang selama ini kaku, efek dari kerja keras yang tak pernah ada ujungnya. Untuk segenap pedagang kaki lima Malioboro,  Selamat berlibur kawan, semoga besok bisa lanjut menjemput rejeki halal dengan lebih semangat lagi. Oiya, sekedar catatan, bahwa jumlah pedagang kaki lima yang setiap hari menjajakan dagangannya di Malioboro, ternyata mempunyai jumlah yang fantastis loh, yaitu lebih dari 3000. Lapak mereka berjajar memenuhi sisi kanan dan kiri Malioboro, mulai dari ujung utara hingga sampai ke perempatan titik nol Jogja.

Nah, bagaimana, kamu suka yang mana?? Malioboro ramai, penuh sesak, tapi kamu bisa temukan apa saja yang kamu inginkan di sisi kanan kiri sepanjang jalan Malioboro? Atau lebih memilih Malioboro yang bersih dan rapi dimana kamu bisa bebas ber selfie namun kehilangan berbagai pilihan tempat belanja yang murah hingga mahal hanya dengan sekali jalan?? Kalau aku sih, pilih dua-duanya, kadang pengin sepi menyendiri, kadang pengin rame-rame seru. 🙂

-EW-

Written by

65   Posts

Eka Wahyuni Tinggal di Jogja, Bunda dari 3 bocah hebat shaleh dan shaleha ini mempunyai kepribadian hangat dan supel. Selain aktif di sebuah klinik di Jogja, juga aktif berkomunitas dengan sesama penulis dan Blogger di Jogja. Senang sekali berbagi, ilmu, pengalaman, motivasi juga hal-hal positif lainnya. Kontak dan kerjasama bisa dihubungi melalui: Email: ekabyan@gmail.com
View All Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: