LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

Liburan selalu identik dengan perjalanan jauh yang menyenangkan. Bertamasya ke suatu lokasi wisata bersama keluarga. Pun demikian dengan liburan tanggal 17 Agustus 2018, liburan kali ini sangat berbeda. Bersahabat dalam hitungan menit bersama tukik lucu nan menggemaskan.

Tak tahu kah mereka? Sayangnya, gigi-gigi tajam menyeringai, menunggunya berenang tanpa pendamping.

“Pelepasan Tukik? Wow, seruuu! Mau… mauu… mauuu!!” Anak laki-laki itu berjingkrak-jingkrak. Senyum merekah lebar, matanya membulat antusias.

“Eh, bentar, emang udah tahu tukik itu apa?” tanyaku.

“Hahahah… beluum!” Jawabnya polos sambil tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Emangnya, tukik itu apa, Bund?” tambahnya.

“Kamu tahu penyu? Tukik itu bayi penyu,” kataku.

“Penyu?” dahinya berkerut.

“Iya, penyu, semacam kura-kura…” kulihat wajahnya seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Ah, aku tahu! Aku mau… aku mauuu… ayok kita ikut melepas tukik Bund!” aku tersenyum.

***

Liburan 17 Agustus 2018 lalu kami isi dengan mengikuti acara Pelepasan Tukik di Pantai Goa Cemara Bantul Yogyakarta. Sesuai dengan perayaan hari kemerdekaan, acara pun diisi dengan memerdekakan tukik, si bayi penyu yang imut.

Belum memiliki kendaraan pribadi bukan menjadi penghalang kami untuk berbahagia. Ya, memang kami belum mampu untuk membeli mobil dengan cara cash. Namun, hal itu tak menyurutkan niat kami untuk membahagiakan anak-anak. Bukan kah di zaman sekarang banyak sekali perusahaan rental kendaraan yang terjangkau. Salah satunya adalah www.automo.com perusahaan rental ini menawarkan berbagai macam kendaraan yang bisa disewa sepuasnya untuk berwisata atau keperluan lain. Tak hanya mobil, mulai dari sepeda motor, truk bahkan hingga pesawat dan kapal pun bisa dicarter. Sistem sewa dihitung per hari atau per malam. Sangat membantu keluarga bahagia seperti kita untuk tetap memberi kebahagiaan sederhana bagi anak-anak. Perusahaan tersebut mempunyai beberapa cabang di Jakarta, Bali dan Yogyakarta.

Kenapa harus sewa mobil atau kendaraan lain? Tentu saja dengan menyewa mobil kita terhindar dari biaya perawatan, juga terhindar dari biaya setoran (kredit), tapi kadang tak bisa terhindar dari kemacetan haha, ya kan semua orang butuh piknik! Nggak punya mobil pun masih bisa jalan-jalan, bisa ganti-ganti mobil semau kita. Tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan budget, iya kan? Seru mana coba?

Kenapa sih semua anak-anak suka piknik? Perjalanan jauh? Anak-anak terlihat antusias setiap kali melakukan perjalanan jauh? Bahkan baru disampaikan niat piknik saja sudah membuat mereka tak bisa tidur saking senangnya. Seolah waktu yang panjang dan medan yang berganti-ganti menjadikan hiburan tersendiri di antara rutinitas harian yang membosankan. Sekolah.

Siang itu berpacu dengan matahari yang berada tepat di atas kepala. Dari kota menuju bagian selatan Jogja. Ke arah pantai. Pantai Goa Cemara. Pantai ini berlokasi di sebelah barat pantai Samas, Bantul. Melewati sawah-sawah dan pedesaan membuat anak-anak melihat banyak hal. Kambing yang sedang digembala, tanaman padi yang mulai menguning, jagung yang sudah siap panen. Banyak sekali pemandangan alam yang tidak dapat dijumpai di kota. Pemandangan yang menyegarkan memori anak. Kebahagiaan pun mulai merangkak menguasai anak-anak. Bernyanyi dan terkadang ngemil makanan mengisi perjalanan yang tak pernah membosankan.

Karena terhadang beberapa kali oleh pawai karnaval kemerdekaan, kemacetan pun tak dapat dielakkan. Kami baru tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 wib. Persis saat jadwal acara pelepasan tukik dimulai. Panitia segera membuka acara meski pengunjung masih belum penuh. Pengunjung hanya dibatasi sebanyak 300 anak (yang semuanya jelas didampingi oleh orangtua mereka).

Acara di awali dengan penjelasan seekor penyu yang ditemukan bertelur di tepi pantai. Hingga akhirnya menetas dan dalam usia beberapa puluh hari siap untuk dilepas, dikembalikan ke habitat aslinya, yaitu laut. Tragisnya, dari 300 ekor tukik, kelak 20 tahun lagi hanya 6 ekor saja yang bertahan hidup. Sisanya? Mati dimakan ikan besar atau mati karena makan sampah plastik yang dikira ubur-ubur oleh tukik. Ya, tukik dan penyu makannya ubur-ubur. Tahu kan ubur-ubur? Bentuknya yang bulat berwarna putih transparan, mengapung, sangat mirip dengan plastik. Tak heran jika banyak tukik yang salah menerka.

Plastik itu kenapa sampai di lautan? Itu lah akibat kesombongan kita. Kesombongan tak mau membuang sampah di tempatnya. Perilaku membuang sampah sembarangan oleh manusia terhadap sampah terutama plastic sangat merugikan regenerasi penyu. Bayangkan, kita menyumbang berapa puluh persen sendiri terhadap kontribusi membunuh penyu dan bayi-bayinya dengan plastic yang kita buang sembarangan? Duh, jangan diulangi lagi ya!

Setengah jam pelajaran tukik dijelaskan panjang lebar. Apakah anak-anak mendengarkan? Ya, setidaknya 10 menit pertama mereka anteng, mendengarkan kisah tukik yang belum pernah mereka lihat. Selebihnya?? Mereka bubar sendiri-sendiri. Ada yang bermain pasir, ada yang kejar-kejaran. Ada yang naik-naik pohon cemara. Namanya anak-anak, saat mereka dilepas ditempat luas rasanya sungguh riang tak ada tandingannya. Mungkin terbebas dari “penjara” peraturan membuat mereka melakukan apapun sesuka mereka.

Setelah hari menjelang sore dan sejarah tukik selesai, semua anak diajak ke tempat penangkaran penyu, tempat ratusan tukik imut dipelihara sementara. Anak-anak berebut mengambil batok kelapa untuk membawa tukik ke pantai. Mereka berjeritan begitu menerima tukiknya masing-masing. Tukik itu terus saja berusaha mendaki tepian batok, tak sabar ingin berlari menuju pantai yang dirindukannya selama ini.

Pantai itu sangat bersih, debur ombaknya besar namun begitu menyentuh kaki berubah menjadi riak kecil yang hangat di telapak. Pelataran pantai yang begitu luas membuat anak-anak bebas berlarian, berkejaran, juga bergulingan. Berebut tempat terbaik untuk melepas tukik. Matahari mendampingi keharuan di sore yang memesona. Ya, matahari seolah memberitahu bahwa di jauh sana, banyak sekali bahaya. Hati-hati anak-anak!

Dengan hitungan 1,2 ,3, semua tukik dilepas bersamaan di tepi pantai. Tukik saling berebut menuju debur ombak yang menjadi genderang semangat di depan mereka. Angin sore pantai menambah birunya perasaan anak-anak melepas sahabat barunya.

“Tukiknya kasihan ya, Kak?” tangis Aishya si gadis kecil hampir pecah, matanya berkaca-kaca. Tukik yang baru merayap di tangannya kini harus terseok-seok berlari menuju tepi pantai yang dingin. Tukik yang terus saja berlomba menuju belaian bundanya yang sekarang entah di mana.

“Tukik nggak takut ya, Bund?”

“Enggak sayang, tukik bahagia, tukik mau ketemu bundanya, kan?”

Gadis kecil itu tersenyum, memeluk bunda yang juga ikut terpana melihat semangat tukik menuju laut lepas. Mereka tak tahu, di sana banyak pemangsa yang sigap menunggu mereka berenang-renang, menari menyambut kematian mereka sendiri. Ah, teganya para predator itu, tak tahu apa kalau mereka begitu rindu kepada bunda dan juga rumah asli mereka? Itu lah kehidupan, meski pahit, terus dijalani dengan penuh senyum kebahagiaan.

Jangan kalah sama tukik! Semangat menjemput bahagia, meski banyak mara bahaya menghadang di depan sana!

Written by

69   Posts

Eka Wahyuni Tinggal di Jogja, Bunda dari 3 bocah hebat shaleh dan shaleha ini mempunyai kepribadian hangat dan supel. Selain aktif di sebuah klinik di Jogja, juga aktif berkomunitas dengan sesama penulis dan Blogger di Jogja. Senang sekali berbagi, ilmu, pengalaman, motivasi juga hal-hal positif lainnya. Kontak dan kerjasama bisa dihubungi melalui: Email: ekabyan@gmail.com
View All Posts

4 thoughts on “LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

  1. Iya, biasanya ada informasi pendaftaran jauh hari sebelumnya kok, nanti insyaallah kalau ada info saya posting juga di sini. Semoga event depan rejeki ya, salam kenal!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: