KREASI INKLUSI MELAMBUNGKAN IMPIAN TANPA BATAS DI PAMERAN HARNAS 2019 DISKOPUKM DIY

Keterbatasan mereka, melangitkan impian dan semangat hingga ke Pencipta segala kemungkinan di dunia ini”

Keceriaan Anak Bersama Pak Waluyo Pengusaha Madu Inklusi
Keceriaan Anak Bersama Pak Waluyo Pengusaha Madu Inklusi

Siang ini kembali saya ajak dua anak manis yang memutuskan untuk memilih homeschooling. Yah, pameran #HariNasionalUMKM219 di Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta ini akan memperkaya pengetahuan mereka tentang segala hal di dalamnya. Bertransaksi, menghargai hasil karya, juga berkreasi yang akan memberi nilai lebih terhadap hal-hal kecil.

Sedianya, kita mengawali menyusuri setiap satnd pameran tersebut dari depan hingga belakang. Namun, satu insiden kecil terjadi, si Kakak kebelet pipis yang mengharuskan kita menuju ke bagian belakang terlebih dahulu mencari toilet.

Sembari menunggu kakak ke toilet, saya sempatkan untuk mampir ke stand yang ditunggu oleh Mbak berkerudung yang belakangan saya tahu namanya adalah Endang Sundayani. Tak ada yang aneh, kami ngobrol ngalor-ngidul mengenai apa saja yang berhubungan dengan produk aneka kerajinan berupa tas rajut, dompet, madu asli, aneka puzzle kayu yang berjajar rapi di meja yang memisahkan kami berdua.

Karena obrolan yang nyaman dan enak, jsutru saya pun jadi betah di sana.

“Belum lama, Mbak. Baru 2 tahun ini,” Jawab ibu dua anak itu menjawab pertanyaan saya tentang awal usahanya.

Produk tas yang lucu berwarna-warni berbahan dasar nilon yang dirajut cantik dengan aneka ukuran dan model memenuhi meja.  Kulirik ibu itu masih terus duduk sembari tangannya merapikan dagangan.

“Oh, lumayan lama juga, ya! Ibu dari mana belajarnya?”

“Saya belajar otodidak, Mbak! Waktu  itu diajak sama ibu-ibu di sebuah acara pelatihan rajut, terus kami belajar dan latihan sendiri. Dari yang pletat-pletot membuat dompet kecil sampai akhirnya bisa bikin tas sebanyak ini!”

“Serius?” hampir tak percaya. Dalam waktu dua tahun, yang itu sama dengan saya belajar rajut otodidak juga dari Youtube, namun hanya berhasil membuat baju kecil yang sekarang pun lupa gimana caranya. Sedangkan ibu yang juga berprofesi sebagai pembawa acara Kita Bisa di TVRI Jogja ini justru semakin berkibar rajutnya hingga akhirnya dibisniskan!

Ibu itu masih duduk di kursinya yang tadi, tanpa sedikit pun beranjak. Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh, “Dek, tolong ambilkan itu, ya!” Abiyyu, anak saya yang laki-laki segera berlari untuk mengambilkannya.

“Terima kasih. Maaf merepotkan, ya!” ujarnya.

“Jadi ini semua produknya dihasilkan oleh orang-orang berkebutuhan khusus yang tergabung dalam IKPIN (Ikatan Pengusaha Inklusi Jogja, Mbak!” lanjutnya.

“Masya Allah, Bu, semua ini dihasilkan oleh orang berkebutuhan khusus?” kuusap wajah yang tak basah ini. Hatiku terkesiap seketika. Orang-orang hebat itu tak pernah menganggap keterbatasannya sebagai kekurangan.

Perlahan kususuri satu persatu produk yang ada di meja itu sembari sesekali kutahan untuk tidak merinding membayangkan betapa hebat semangat mereka menaklukkan semua keterbatasan yang menurut mereka justru kelebihan.

SRED – TAS RAJUT

Berasal dari singkatan nama beliau Bu Endang Sundayani juga suami dan dua anaknya, Bu Sundayani menamakan produknya dengan sebutan SRED. Memiliki kepanjangan Sofie, Radit, Endang dan Didin sang suami. Bu Endang yang sering juga disapa dengan Bu Sund berkolaborasi dengan suami yang sudah lebih dahulu mendalami dunia jahit tas kulit. Pak Didin, yang juga memiliki keterbatan dua kakinya diamputasi karena kecelakaan, mengawali karirnya dengan cara otodidak seperti istrinya.

Selama dua tahun ini ada saja yang membeli tas hasil karyanya. Meski secara harga untuk kualitas sebagus itu memang tergolong cukup mahal, nyatanya memang tas jenis rajut ini sedang banyak digandrungi oleh kaum hawa di mana saja, khususnya yang tinggal atau singgah ke Jogja.

Mereka berharap agar senantiasa diberi kesehatan dan semangat tinggi untuk terus menikmati kehidupan yang sudah dijatahkan oleh Allah kepada keluarga kecilnya.

Bu endang dan suaminya dikaruniai dua orang anak, Sofie kelas 1 SD dan Radit kelas 5 SD yang semuanya selalu bersyukur memiliki kedua orangtua yang super hebat. Semoga terus menginpsirasi ya, Bu!

PUZZLE KAYU JOKO-RUSTI

Bisa ditebak, anak-anak langsung berlarian menuju meja yang berserak di atasnya puzzle kayu. Tak membutuhkan banyak waktu, si kecil Aishya langsung menetukan pilihannya ke puzzle rumah berbahan kayu dengan aneka bentuk bangunan yang berwarna-warni.

“Aku mau yang ini!” katanya tegas. Tak bisa diganti dengan yang lainnya. Meski dengan bujukan atau pilihan gambar kupu-kupu juga gajah berwarna-warni.

Keputusannya tegas. Saya mengizinkan dia untuk memilih itu agar mengajarinya memutuskan sesuatu dan bertanggungjawab setelahnya. Sebenarnya aneka puzzle lainnya juga cantik dan bermacam bentuk dan warna, tapi puzzle rumah itu yang keukeuh dipilihnya, mungkin karena ukurannya yang berbeda-beda, tak hanya berdimensi gambar saja namun membentuk sebuah bangunan, yang membutnya lebih tertarik.

“Ini, berapa, Bu?’

“Yang itu tujuh puluh lima ribu, Mbak. Punya teman saya yang belum bisa datang karena sedang menghadiri acara undangan dari Kemdikbud. Kebetulan orangnya sibuk banget. Sudah banyak sekolahan yang mengajak kerjasama untuk produk-produk mainan edukatif berbahan kayu itu.

“Waah!” kagum saya semakin bertambah pada orang-orang itu. Mereka kini tak lagi mengenal istilah minder apalagi berputus asa! Mereka kini kreatif berkarya. Selain itu, merka juga memiliki hubungan social yang tinggi, setiakawan dan kompak saling membantu satu sama lain.

MADU HUTAN RAYA

Tak mau kalah dengan adiknya yang sudah memilih produk untuk dibeli. Dengan mata bulatnya, Abiyyu segera memindai semua barang yang ada di meja sebelah kanan, tepat di depan ibu Endang.

“Abiyyu mau yang ini!” sama! Dia memilih produk yang tak bisa ditawar. Madu sarang lebah yang meleleh menggiurkan didalam box plastik.

Sengaja tak beranjak dari stand itu. Dari rasa kagum inilah rasanya saya mendapat banyak inspirasi.

Pak Waluyo, pemilik madu yang berada satu stand dengan teman-teman inklusinya baru saja datang mengendarai sepeda motor yang sudah diadaptasi sedemikian rupa menjadi ramah difabel. Gerobaknya penuh dengan botol madu juga madu sarang. Orangnya sangat bersemangat dan positif. Beberapa madu yang rapi terkemas siap untuk dikirimkan ke seluruh Indonesia berjajar manis di gerobak sebelah kiri.

Madu meiliki kandungan nutrisi yang sangat banyak. Tak hera banyaks ekali orang yang mencarinya untuk konsumsi sehari-hari. Bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh, stamina dan daya tahan tubuh. Baik dikonsumsi oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Dibandingkan madu kemasan botol, memang Abiyyu memilih madu sarang yang masih lengkap dengan malam sarang lebah. Kemasan dan bentuknya yang unik membuatnya penasaran untuk mencicipinya.

Makan madu! Katanya. Biasanya kan madu itu diminum, ya? Kali ini dia pengin makan madu, lengkap dengan rumah lebahnya. Seperti apa ya rasanya?

Sesiangan berkeliling pameran membuat letihnya mulai terasa. Yang tadinya lari berkejaran mulai loyo dan minta pulang.

Senang sekali bisa mengunjungi pameran yang diadakan untuk memperingati Hari Nasional UMKM 2019 ini di halaman gedung Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Pameran yang sangat menginpirasi juga mendukung perkembangan UMKM Yogyakarta ini diikuti lebih dari 25 stand dari produk makanan / minuman / fashion dan craft. Semuanya produk lokal yang high quality! Entah, mungkin suatu saat saya tak hanya menjadi pengunjung di acara seperti ini. Bisa jadi kan event yang akan datang justru saya menjadi peserta pameran? Hmm produksi apa ya kira-kira?

Salam,

-EW-

Sumber Informasi: Wawancara langsung dengan peserta pameran

Web Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta

Kreasi Inklusi Melambungkan Impian Tanpa Batas Di Pameran Harnas 2019 DisKopUKM DI Yogyakarta

Aishya bersama Bu Endang Sundayani pengrajin tas rajut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *