HAMIL KE LIMA ANAK KE EMPAT HARUSKAN AKU MELAHIRKAN DENGAN SC

Sirine meraung-raung. Suaranya sungguh memekakkan telinga. Ambulance melesat melaju membelah kepadatan kota Jogja. Beberapa pengendara sepeda motor yang sedang menunggu di lampu merah, menyibak memberi jalan.

Kalau saja posisiku sekarang sebagai dokter pendamping rujukan pasien seperti biasanya, mungkin nggak akan setakut ini. Sayangnya, justru aku sendiri yang sedang terbaring tak berdaya di bed berwarna oranye ini. Ya, sebagai pasien dengan rencana tindakan operasi SC (Sectio Caesaria) Emergency. Operasi untuk mengakhiri kehamilan darurat dikarenakan keracunan kehamilan. SC emergency berbeda dengan yang direncanakan yang membutuhkan persiapan khusus melahirkan dengan caesar. Kali ini nyaris tidak ada persiapan yang dilakukan karena semuanya mendadak. Hanya membutuhkan satu persiapan saja, mental!

***

Haruskah Induksi Lagi?

Ini adalah hari terakhirku diberi kesempatan untuk menunggu. Yah, aku maunya spontan normal per vaginam saja seperti kelahiran 3 anak pertamaku. Kelahiran mereka semua mundur dari HPL (Hari Perkiraan Lahir), sesuai dengan siklus haidku selama ini. Spontan normal artinya bayi lahir sendiri dengan proses alami kontraksi rahim, tanpa adanya manipulasi pemberian obat stimulasi atau penggunaan alat bantu lahir seperti vaccum, forceps dan lainnya.

Sudah lima hari berlalu dari HPL, tapi kontraksi rahim yang kutunggu belum juga muncul. Meski sudah dipacu dengan hormon alami dari suami, nyatanya mulas yang datang selalu saja hilang setelah beberapa jam berselang. His palsu, kata dosenku dulu.

Tiba juga hari yang ditunggu. Hari di mana posisiku harus menjadi pasien, dengan semua prosedur tindakan yang mungkin nanti diperlukan. Bukan lagi sebagai dokter jaga yang dengan santai dan percaya diri berjalan menyusuri setiap koridor rumah sakit. Apa artinya? Artinya aku akan menyusuri setiap lorong dengan menatap langit-langitnya dari sudut yang berbeda, sebagai pasien. Ini membuatku mulai merasa ciut. Yah, ciut nyali! Aaarrgghhh! Dokter juga manusia, kan?

Allah, aku suka hamil, aku suka menimang dan mengurus bayi, aku juga bangga banget saat menyusui, tapi kenapa setiap mau menghadapi momen melahirkan selalu saja nervous? Grogi? Takut? Khawatir?

Ah, apa nggak bisa disulap saja tiba-tiba bayi sudah tidur manis di kasur kamar kita? Gemes, terkadang pemikiran yang jelas imposible itu kerap menggoda.

Apapun proses yang dilalui oleh perempuan yang melahirkan, semua membutuhkan perjuangan! Mau operasi SC atau normal per vaginam (lewat jalan lahir), semuanya mempertaruhkan nyawa. Benar-benar membuktikan bahwa ibu melahirkan pahalanya setara dengan pahala jihad di jalan Allah.

***

Finally Sectio Caesaria… Aku Harus Siap, Bismillah!

Aku hanya bisa pasrah memandangi langit-langit mobil ambulance. Badanku terjerat sabuk pengaman yang terbalut kencang di bagian bawah perut besarku. Aku melirik ke bagian kanan dinding, selain tabung oksigen ada beberapa tombol berwarna dan juga kabel-kabel. Refleks kuangkat tanganku yang tiba-tiba terasa begitu pegal, aku tak suka rasa ini.

Seorang perawat sedang berupaya menarik selang, kemudian melepasnya, menghalau sumbatan dalam selang. Rupanya cairan infus yang tadi dipasang macet. Cairan bening itu kini mulai menetes lancar. Selang infus itu berukuran lebih besar, juga bagian atasnya terdapat saringan. Aku tahu ini bukan selang infus biasa. Tapi selang infus yang biasa dipakai untuk transfusi darah. Selang infus yang sama yang dipasang pada pasien-pasien dengan rencana tindakan operasi.

Huuffttt! Udara di sini tiba-tiba terasa begitu panas. Aku berusaha keras untuk memejamkan mata. Melupakan semua kekhawatiran. Melupakan semua teori tentang keracunan kehamilan yang pernah aku pelajari. Ah, ada Allah!

Lindungilah aku dan bayiku, selamatkan kami, ya Allah!

Mulutku komat-kamit merapal doa. Tak henti merayu Allah, memohon kasih sayangnya, juga karsa-Nya, agar melancarkan semua tahapan prosedur tindakan yang sudah terencana begitu tiba-tiba. Aku sendirian, hanya ditemani seorang perawat yang dari tadi menyemangatiku.

“Mbak, suami dan anak-anakku, mana?” tanyaku. Semenjak diputuskan untuk dirujuk ke Rumah sakit lain yang lebih besar dan memiliki fasilitas lengkap, aku tak lagi melihat suamiku, juga ketiga anakku. Mereka pasti sangat khawatir.

“Maafkan aku, Pi. Aku tak mungkin menjelaskan semuanya secara vulgar. Bahkan saat resiko apapun yang bisa terjadi pada kasus yang kualami ini. Biarlah menjadi urusanku dan ada Allah yang menjagaku.” Aku bergidik membayangkan semua risiko yang bisa saja terjadi tanpa ada aba-aba sebelumnya. Resiko yang bisa saja fatal baik buatku atau buat bayiku. Na’udzubillah!

“Suami dan anak-anak nanti menyusul, Bu. Tidak jauh kok, di belakang kita! Yang paling penting ibu sampai dulu di Rumah sakit rujukan, agar segera dilakukan persiapan,” sabar, perawat yang mengenakan kerudung putih itu menjelaskan.

Di rumah sakit sebelumnya memang bisa dilakukan tindakan operasi SC (Secsio Caesaria), tapi hanya untuk operasi SC tanpa resiko. Jika kondisi pasien, ibu dan janin semua dalam keadaan baik. Sedangkan aku? Selain hipertensi sejak pertengahan kehamilan, hasil laboratorium urine-ku baru saja menyatakan aku mengalami keracunan kehamilan.

Ya, baru saja, saat beberapa puluh menit berselang dari kami menikmati luasnya ruang rawat inap yang kami pilih. Karena hasil pemantauan jantung dan gerakan janin masih bagus, maka direncanakan tindakan induksi atau perangsangan kontraksi rahim menggunakan obat sublingual (obat yang diletakkan di bawah lidah). Kami harus segera berkemas lagi, tak hanya pindah ruangan, tapi pindah rumah sakit dengan fasilitas ICU (Intensive Care Unit) dan NICU (Neonatal Intensive Care Unit) untuk bayi bila diperlukan. Protein urin menunjukkan positif dua (+2), sangat beresiko jika persalinan ditunda lebih lama.

***

SC Emergency …!

Dipasang infus menggunakan transfusi set untuk persiapan operasi

Kluntang… klunting… cekrikk… sring… sring…!” Ramai, bunyi peralatan stenlis beradu satu sama lain.

Mataku masih terbuka meski kedua kakiku mulai terasa kesemutan. Semakin lama semakin berat. Celekat-celekit tak jarang aku rasakan di seluruh permukaan perut turun hingga ke kaki. Rasanya semuanya mengambang di atas kulit perutku.

“Kakinya sudah terasa kesemutan, Bu?”

“Sudah, Mbak!” jawabku ke arah suara perempuan yang bahkan posisinya di mana aku tidak tahu.

“Coba diangkat kaki kanannya ya, sekarang!” Perintahnya.

“Sudah, Mbak!” Kujawab sekenaku sambil berusaha mengangkat kaki kananku. Anehnya, aku tidak bisa merasakan sesuatu di bawah sana. Aku tak bisa merasakan apakah sudah terangkat atau masih nempel di meja operasi. Bahkan aku juga kesulitan merasakan jari-jemariku yang kukait-kaitkan satu sama lain.

“Sekarang yang kiri ya, Bu!” Pintanya lagi.

“Sebentar, Mbak. Kakiku nggak bisa diapa-apain, kayak berat tapi kok nggak terasa, kayak ringan tapi juga nggak bisa kuangkat. Rasanya entah ada atau tidak.”

“Ok, Sip! Nah, beberapa waktu ke depan yang dirasakan hanya akan seperti ini ya, Bu!” Pungkasnya.

Sampun (sudah), Dok!” suara itu kini tak lagi berbicara padaku.

Bismillah, berdoa, yuk, Mbak Eka!” Kini suara lembut dokter obgyn langgananku yang terdengar. Dokter baik yang tadi sempat aku cium tangannya begitu masuk ke ruangan dingin yang didisain tanpa sudut ini. Beliau adalah dosenku sewaktu masih duduk di bangku kuliah.

Aku tak lagi menjawab. Segera kuucapkan, “Bismillahirrahmanirrohim,” mata kupejamkan.

Sesaat. Ya, Hanya sesaat saja. Aku tak mau bermacam imajinasi justru nampak jelas saat mataku terpejam.

Perlahan aku membuka mataku. Lampu sorot tepat di atas perutku seolah melotot. Mengerahkan seluruh sinarnya untuk bertemu di satu titik di bagian bawah perut besarku. Aku tak bisa melihatnya, bahkan sekadar mengintipnya. Kain yang digunakan untuk menutup batas antara dada dan perutku begitu tebal. Tubuhku bergoyang-goyang. Bunyi peralatan masih terdengar riuh.

Sekali lagi, aku hanya merasakan semua gerakan di atas perutku seolah mengambang, selembut kapas, namun tak menyentuh sama sekali. Hanya saja, celekat celekit itu bagaikan ribuan aliran listrik lembut namun tak sampai menyakiti, sedang berlomba menari di seluruh permukaanya.

Aku melirik ke atas, tepat ke arah dudukan lampu sorot berbahan stenlis. Perlahan kupicingkan mataku. Bukan cermin, namun bayangan di sana begitu jelas.

Darah keluar seiring bunyi, “Sroott… sroottt… sroottoottt… srot… sroott!”  suction atau alat penyedot darah yang dipegang oleh asisten operator menyedot semua darah yang keluar.

“Allahu akbar! Masya Allah!” aku hampir memekik. Perutku sudah berdarah-darah, namun sama sekali aku tak merasakan sesuatu pun menyentuh kulitku.

Ya Allah, Yang Maha pemurah, Maha memberi ilmu pada siapa saja yang mau mencarinya. Tentu saja semuanya dengan kuasa-Mu. Ilmu kedokteran yang kami dapat seberapa lah dibandingkan dengan kuasamu menghilangkan semua rasa. Semua sensor saraf hilang hanya dengan perantara obat yang disuntikkan ke dalam sumsum tulang belakangku.

Oeekk… ooeeekkk…oeeeekkk!” Suara itu lantang. Tangisan bayi perempuan.

“Masya Allah, perempuan, Mbak!” kata dokterku. Alhamdulillah, betul ternyata, seperti yang terbaca di hasil USG (Ultra Sonografi) tempo hari.

“Oohh!! Maryamku! Alhamdulillah, Nak! Kamu menangis keras sekali. Itu yang kami tunggu, Nak, kamu sehat, Alhamdulillah!” Mataku memanas. Air hangat di sana berdesakan, berlomba hendak keluar.

Rasanya berjuta cerita mau kusampaikan ke suamiku. Tapi dia di sana, di balik pintu berat yang memisahkan ruang steril dan tidak steril. Laki-laki itu menunggu di luar, sendirian dengan semua ketidaktahuan, juga kekhawatiran terhadap anak dan istrinya.

Belum genap helaan napas legaku, bayi mungil berkulit merah sudah mengerjap-erjapkan mata bulatnya di dadaku. Bibirnya merah mencucu. Kulitnya hangat, lembut bagaikan sutera. Kepalanya kini bergerak-gerak mencari sesuatu di atas dadaku. Belum juga berhasil. Tangan kiriku memeluknya, menyemangatinya mendapatkan puting susu yang dia cari.

Entahlah, tak ada yang mengajarinya. Mulut mungilnya mengikuti setiap sentuhan. Routing reflex, namanya. Saat pipi dekat area mulut bayi disentuh, maka kepala bayi akan segera menoleh ke arah sentuhan sembari membuka mulut. Hal inilah yang kemudian membantunya menemukan puting payudara, jika berhasil kemudian menyusu.

Lagi-lagi kuasa Allah-lah. Kami melakukan IMD, Inisiasi Menyusu Dini. Gerakan bibirnya begitu lembut. Ya Allah, rasa ini datang lagi. Rasa di mana aku pertama kali bertemu dengan papanya dulu. Jatuh cinta. Cinta yang mulai merekah tumbuh.

Sejenak aku lupa, lupa bahwa aku sedang takut. Tiba-tiba ulu hatiku memanas. Perlahan namun memberat, dan sesak!

Aku menatap perawat di sebelahku dengan kembali tak berdaya,

“Dadaku panas, Mbak, sesak!”

“Mbak, IMD-nya stop dulu, ambil bayinya!” sigap dokter yang mendengar suaraku memberi instruksi. Memasukkan beberapa obat suntikan melalui selang infus. Aku memejamkan mataku.

Bermacam bayangan mulai menyerangku kembali, berlarian di depan mataku.

“Allah, aku tak tahu apa yang akan terjadi, perasaan seperti apalagi yang musti aku rasakan, selamatkan aku, ya Allah!”

Welcome world, Baby! Assalamu’alaikum!

HAMIL KE LIMA ANAK KE EMPAT

Mahal, ini adalah peristiwa termahalku mengenai kehamilan. Bukan hanya biaya, namun dengan segala kondisi dan resiko yang kemungkinan bisa terjadi begitu berat. Ya, ini adalah kehamilan ke lima ku, namun merupakan kelahiran anak ke empatku. Satu kali aku mengalami keguguran, yaitu pada kehamilan keduaku di usia 12 minggu kehamilan. Sepuluh tahun yang lalu.

Sadar akan usiaku yang tak lagi muda, aku seharusnya lebih taat untuk periksa. Namun pandemi Covid-19 yang berlangsung semenjak bulan Maret 2020 membuatku khawatir untuk berkunjung ke Rumah Sakit. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kontrol ANC (Ante Natal Care) rutin saat kehamilanku menginjak usia 22 minggu, awal bulan Juli 2020.

Ya, kehamilanku kali ini memang tidak baik-baik saja. Aku mengalami pre eklamsia berat. Istilah awam menyebutnya dengan keracunan kehamilan. Kehamilan yang meracuni orang yang sedang hamil. Tandanya apa saja? Tanda utama yang paling sering adalah tensi darah yang tinggi meskipun sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat serupa. Selain itu, hasil pemeriksaan laboratorium protein urine-nya positif dua (+2).

Sering disertai dengan gejala lain berupa sakit kepala, mual atau tengkuk terasa kaku. Sebenarnya tidak terduga juga. Memang, kehamilanku di usia 39 tahun memiliki resiko yang tinggi. Meskipun ketiga persalianan anakku sebelumnya dengan persalinan pervaginam, nyatanya di kehamilan ke lima justru aku harus sesar untuk yang pertama kalinya.

Apa penyebab Pre Eklamsi Berat?

Secara pasti penyebab  pre eklamsi belum diketahui. Hanya saja beberapa faktor memang memperberat resiko terjadinya hal tersebut. Di antaranya adalah, faktor usia, tekanan darah yang tinggi menjadi hal yang patut diwaspadai sejak dini.

Aku melahirkan Maryam di usia 39 tahun, usia di mana masuk ke dalam faktor resiko tinggi hamil. Maryam Asma Ashofiyya, si bayi cantik yang lahirnya bertepatan dengan hari Pahlawan, Alhamdulillah Allah sehatkan.

SELAMA HAMIL

Saat kita dipilih Allah untuk hamil, ada beberapa hal yang harus kita tempuh dalam upaya memaksimalkan ikhtiar agar semua berjalan lancer dan sehat.

Upaya tersebut terangkum dalam beberapa poin di bawah ini:

  1. ANC (Ante Natal Care) atau Kontrol Kesehatan rutin segera

Meskipun masa pandemi, upayakan segera melakukan pemeriksaan kehamilan jika diketahui kita hamil. Bagi perempuan yang memiliki siklus haid yang rutin, kehamilan sangat mudah ditebak, yaitu saat kita mengalami terlambat haid di bulan berikutnya. Meskipun belum terasa ada gejala hamil, namun terlambat haid beberapa hari saja biasanya sudah bisa dilakukan pemeriksaan air kecing menggunakan test peck.

Tes-pack (Alat test kehamilan)

Jika memang hamil, stik test pack akan muncul dua garis samar di awal siklus kita terlambat haid. Berangsur menguat garisnya jika kadar hormon hCG (human chorionic gonadotropin) meningkat, yaitu saat telat haid sudah mencapai paling tidak 2 minggu. Pada saat itu kehamilan kita sudah mencapai usia 6 minggu kehamilan meskipun terlambatnya baru 2 minggu. Kok, bisa? Usia kehamilan dihitung sejak sel telur yang berhasil dibuahi mulai terbentuk, yaitu pada saat hari pertama kita datang bulan di bulan sebelumnya. Bukan dihitung semenjak kita telat haid.

Kehamilan ke berapa pun sangat penting untuk mengetahui perkembangan janin yang ada di dalam rahim kita. Dengan memantaunya, maka kita akan mengetahui sejak dini apakah kehamilan kita bermasalah atau tidak.

Apa saja yang dipantau saat ANC?

Penambahan Berat Badan

Setiap kita datang untuk periksa, kita pasti akan diminta menimbang badan. Ini penting sekali, selain untuk memastikan kecukupan gizi yang ditransfer ke janin, status berat badan juga penting untuk menentukan jenis tindakan persalinan yang dibutuhkan kelak. Penambahan berat badan ibu hamil optimal yang disarankan adalah 12-15 kg selama periode kehamilan.

Tensi Darah

Tensi darah pada ibu hamil sangat penting. Ibu hamil dengan hipertensi akan mendapat perhatian khusus. Pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam perut. Hal ini juga menentukan bagaimana ibu hamil tersebut kelak melahirkan. Apakah bisa normal atau harus SC?

Keluhan selama kehamilan

Pada awal kehamilan, mayoritas ibu hamil akan memiliki keluhan yang hampir sama, yaitu pusing dan mual muntah. Hanya saja pada beberapa kasus keluhan tersebut sangat parah sehingga membutuhkan penanganan khusus. Kasus hyperemesis gravidarum, misalnya. Kasus ini sangat berbahaya jika berlebihan, jika mual muntah terjadi terus-menerus sehingga makanan tidak bisa masuk sama sekali. Akhirnya harus ditangani dengan infus agar tidak membahayakan janin maupun ibunya.

Kondisi Janin

Untuk melihat dan memantau kondisi janin di dalam rahim, dokter akan memeriksa kita menggunakan USG (Ultra Sonografi). Bukan, USG tak hanya untuk melihat jenis kelamin janin kita saja. Lebih dari itu, ada yang lebih urgent diketahui di sana, di antaranya adalah: Berat janin apakah sesuai dengan usianya, kelengkapan organ janin, detak jantung janin, adakah lilitan tali pusat, apakah tali pusat bagus atau mengalami pengapuran, kondisi cairan ketuban jernih atau tidak, dan lainnya.

Pemeriksaan Laboratorium
Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan laboratorium menjelang persalinan

Selain pemeriksaan darah rutin untuk mengetahui status kecukupan Hb (Haemoglobin) untuk persalinan, di masa pandemi ini juga ada pemeriksaan laborat tambahan, yaitu rapid test covid-19. Pemeriksaan laboratorium biasanya dilakukan satu bulan atau dua minggu menjelang hari perkiraan lahir. Jika kurang bisa diupayakan untuk persiapan transfusi sebelum persalinan agar optimal sebagai syarat persalinan normal. Selain darah, urin kita juga diperiksa untuk mengetahui apakah ada tanda keracunan kehamilan? Terutama jika tensi darah kita selama kehamilan tinggi.

Planning Persalinan

Ini adalah poin penting yang harus kita tentukan di depan. Sebaiknya sejak awal kita melakukan pemeriksaan ANC, kita sudah bisa menentukan dengan dokter siapa yang kelak kita pilih untuk menolong persalinan kita. Boleh satu dua kali melakukan second opinion, mencoba periksa ke dokter lain terutama saat ada hal-hal yang bersifat krusial dan berhubungan dengan keputusan besar. Jangan sampai setiap control justru kita selalu mencari dokter yang berbeda. Keuntungannya, dokter yang kita pilih dan rasa cocok untuk periksa akan mengetahui kronologis bahkan riwayat kehamilan kita dari awal. Saat itu terjadi, planning persalinan pun akan lebih mudah dibuat dan dilaksanakan. Normal atau sesar, semuanya akan terencana dengan meminimalkan resiko, baik untuk ibu maupun janin yang dikandungnya.

  1. Persiapan penunjang

Tak kalah penting dari menyiapkan kondisi kesehatan menjelang persalinan, persipan penunjang ini pun begitu vital perannya. Antara lain:

Biaya Persalinan

Baik normal maupun SC, kita harus sudah mempersiapkan pembiayaannya. Hal ini bisa dirundingkan berdua dengan pasangan sejak awal. Mau menggunakan pembiayaan umum atau menggunakan jaminan kesehatan. Menabung atau mengalokasikan anggaran khusus, sebaiknya dipersiapkan jauh hari sebelum perkiraan lahir. Kita bisa mengumpulkan informasi biaya persalinan di beberapa rumah sakit yang kita pilih. Berkonsultasi dengan bagian administrasi rumah sakit tersebut juga akan membuat kita leluasa memilih rumah sakit mana yang cocok untuk melahirkan. Beberapa rumah sakit mungkin menerapkan biaya paket persalinan yang nominalnya sudah jelas rentang harganya.

Perlengakapan Bayi dan Ibu

Seperti halnya biaya, perlengkapan bayi dan ibu menjelang persalinan juga perlu dipersiapkan sebaik mungkin. Buat daftar perlengkapan bayi yang dibutuhkan saat baru lahir dan masih di rumah sakit. Semakin detil daftar list-nya semakin baik. Baju bayi, selimut bayi, popok, diapers new born, minyak telon, pembalut nifas, baju menyusui, selendang, bedong bayi, topi bayi dan lainnya.

Jangan lupa cuci dan bersihkan dulu semua yang berbahan kain, kemudian masukkan dalam tas khusus (boleh gabung antara bayi dan ibu atau sendiri-sendiri) dan simpan di tempat yang mudah diingat dan dijangkau saat waktu melahirkan tiba-tiba datang. Usahakan hal ini sudah beres sejak sebulan menjelang persalinan.

Menitipkan anak yang lebih besar saat persalinan?

Mau dititipkan atau diajak ke rumah sakit? Jika ada anak yang lebih besar, tentunya kita harus memikirkannya juga nanti mau bagaimana? Jika diajak, saat pasangan harus mendampingi kita melahirkan maka anak-anak akan terlantar di ruangan hingga kapan entah waktunya tiba. Jika anak yang lebih besar sudah bukan balita, masih bisa dikondisikan dengan memberinya pengertian. Namun, jika anak yang lebih besar masih balita dan kita khawatir berbahaya saat ditinggal, maka sebaiknya libatkan anggota keluarga lain untuk kita mintai tolong menjaga mereka selama kita akan melahirkan adik bayi.

Pengalamanku, untuk tiga anak pertamaku masih ada ibu untuk dimintai tolong menjaga di rumah sakit. Tak hanya itu sebenarnya, karena kedatangan dan restu ibu melalui elusan tangannya selama ini selalu memberiku kelancaran untuk melahirkan normal. Semua anakku lahir beberapa menit setelah kedatangan ibu di sampingku. Baru di kehamilan ke lima inilah, aku melahirkan tanpa kehadirannya di sampingku. Allah telah memanggil beliau 4 tahun lalu. Rupanya Allah memberi jalan yang berbeda, aku harus sendirian menghadapinya. Suamiku harus memastikan anak-anakku yang lainnya aman selama aku melahirkan adik mereka, dengan cara operasi Sesar.

Hamil dan melahirkan terasa sangat menyenangkan, bagi semua perempuan, tanpa kecuali. Karena mereka tahu, di dalam sana ada makhluk mungil yang lucu, yang dikirim langsung oleh Allah untuk kita.

Bagi pasangan yang belum dititipi momongan sama Allah, Insya Allah akan datang saatnya. Jangan pernah menyerah kalah! Juga buat yang berencana menambah buah hati, semoga juga Allah segerakan, ya!

Sebagai persiapan awal, kita bisa memperkaya pengetahuan kita mengenai hamil dan melahirkan. Salah satunya dari ibupedia. Informasi, fakta, tips dan masih banyak lagi bahasan seputar dunia perempuan yang terus up to date. Jangan sampai ketinggalan informasi penting, yuk terus belajar! Selamat menantikan buah hati yang lucu-lucu buat semua sahabatku, juga semua yang membaca tulisanku ini. Terima kasih!

 

Written by

78   Posts

Eka Wahyuni Tinggal di Jogja, Bunda dari 3 bocah hebat shaleh dan shaleha ini mempunyai kepribadian hangat dan supel. Selain aktif di sebuah klinik di Jogja, juga aktif berkomunitas dengan sesama penulis dan Blogger di Jogja. Senang sekali berbagi, ilmu, pengalaman, motivasi juga hal-hal positif lainnya. Kontak dan kerjasama bisa dihubungi melalui: Email: ekabyan@gmail.com
View All Posts

17 thoughts on “HAMIL KE LIMA ANAK KE EMPAT HARUSKAN AKU MELAHIRKAN DENGAN SC

  1. Alhamdulillah, proses SC berjalan dg lancar. Lahir dengan selamat dan sehat. Jadi ingat istri ketika melahirkan dg cara Cesar. Cemas dan khawatir. Karena tidak bisa mendampinginya saat berjuang saat proses melahirkan

  2. Mba, terima kasih sharingnya. Bermanfaat banget buat yang menanti momongan seperti saya. Kemarin udah sempet konsultasi ke dokter juga. Semoga segera garis dua.
    Selamat ya mba, sudah lulus ujian persalinan yang luar biasa! Stay healthy and safe ya 🙂

  3. MasyaAllah, begitulah luar biasanya perjuangan seorang ibu mau hamil keberapa kalipun perjuangan dan cintanya tetap sama besarnya. Semoga diberikan kesehatan selalu ya mbak sekeluarga. Terima kasih atas sharing pengalamannya.

  4. Memang melewati masa persalinan tidak mudah… antara hidup dan mati… namun apa mau dikata..persalinan adalah sebuah proses yang harus dilewati…

  5. Masya Allah, tiga kali melahirkan normal. Duuuh mba, aku 2x sesar jadi baca ini ngilu lagi perutku. Wkwkwk. Pake dicontohin lagi suara suctionnya.

    Sehat selalu untuk mba dan kelima putra-putri hebat. Juga tentunya sang suami yang siaga membersamai istri serta anak-anaknya.

  6. Alhamdulillah, iya. Operasi SC suami di luar ruang, biar tim operasi bisa fokus menangani sitri dan debay 🙂 sehat sehat ya, Kak. Salam buat anak dan istri kesayangan 🙂

  7. Masyaallah, semoga segera Allah jawab doa-doanya ya, Mbak. Semoga bisa segera dapat amanah hamil dan melahirkan yang lancar dan sehat, Aamiin. Thanks, Mbak.

  8. Aamiin Yaa rabbal’alamin. Doa yang sama buat Mbak sekeluarga juga ya, semoga sehat selalu dan bahagian, Aamiin Yaa rabbal’alamin

  9. Masyaallah, iya Mbak. Lihat anak-anak lucu, pinter, menggemaskan kadang bikin harus mengukur sabar, bahagia banget mbak!
    Bismillah insyaallah semoga kelak bisa jadi syafaat buat kita , anak-anak yang Sholeh sholeha 🙂

  10. Nah, betul sekali. Hal yang bikin grogi, tapi harus dilewati, dan setelah melewatinya bisa segera lupa lagi saat lihat anak-anak sehat, lucu. Masyaallah, titipan Allah, semoga kelak jadi syafaat bagi kita anak-anak Sholeh sholeha

  11. Alhamdulillah ya, selamat semoga menjadi ibu yang paling dicintai sama anak-anak dunia akhirat. Anak-anak Sholeh Sholeha kita, insyaallah memberi syafa’at kelak

  12. Membaca ini saya jadi punya sedikit gambaran bagaimana suasana saat operasi caesar. Alhamdulillah walau ada drama-drama semua sudah terlewati yang mbak.

    Eh saya juga pengen punya anak banyak kalau tiba-tiba si bayi mungil udah bobok manis dikamar, tanpa harus saya merasakan kontraksi berulangkali yang bikin pinggang serasa mau copot

  13. Jadi ingat kelahiran anakku juga. Tegang banget. Mana cuma berduaan aja di rumah sakit. Karena dapet RSnya emang di luar kota. Jadi gak ada keluarga lain yg pada bisa ikut.
    Tapi Alhamdulillah jadi pengalaman yang mengesankan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: