GUDEG JOGJA, MAKANAN MANIS YANG LEGENDARIS

Pertama Kali Ke Jogja

Laki-laki kurus itu menepuk-nepuk dadanya, juga punggungnya. Debu beterbangan berhamburan dari kaos lusuh yang dikenakan. Lega, ia hela napasnya berkali-kali. Tangannya masih saja gemetar. Baru saja, ia tergopoh menyelamatkan penumpangnya yang terperangkap di dalam becaknya yang menelungkup.

Entah sebab apa, semenjak dari terminal baik-baik saja, tetapi begitu membelok di perempatan itu ia merasakan tiba-tiba becak yang dikendalikannya terasa berat sebelah, oleng. Becak pun terbalik tepat di perempatan jalan. Beruntung, lampu merah berfungsi dengan baik, sehingga kendaraan yang lewat pun memang belum sepenuhnya kencang. Dan, di kota ini adab berkendara masih sangat baik, teratur dan menjunjung tinggi sopan santun terhadap pengendara lain.

***

“Ya Allah, Ma! Kok, bisa?” mataku terbelalak saat mama dengan polosnya menceritakan semua. Entah dongkol, sedih atau geli ekspresi yang berusaha mama tunjukkan. Mama bersandar di kasur single yang dilapisi sprei berwarna biru muda. Gambar bunga hijau pupus berukuran besar tampak berserak di atasnya. Kesan empuk dan nyaman.

Pandangannya berkeliling ruangan yang hanya berukuran 3×3 m. Ya, kamar kostku selama ini. Ia menidurkan bayi, adalah adikku yang baru saja kulihat sejak lahir, yang waktu aku berangkat masih meringkuk hangat di perut mama. Sedangkan Mbak Nur, sepupuku yang menemani mama ke sini, tampak merapikan beberapa tas yang tadi siang sempat berserakan di jalan raya.

Ini adalah kunjungan pertama kali mama semenjak aku kuliah di Jogja. Bukan kenapa, waktu itu memang mama sedang hamil tua. Aku harus mendaftar hingga tes seleksi masuk perguruan tinggi di kota gudeg ini, ya hanya ditemani bapak. Orang desa yang sekolahnya bahkan nggak lulus SD.

Fakultas kedokteran. Entah ide dari mana yang membuat pasangan tak lulus SD itu bermimpi. Mimpi yang begitu tinggi. Bukan, kami bukan orang berada. Bahkan saat pembayaran kuliah pertama bapak harus meminjam uang dari bos mi soun di desa kami. Ah, bapak.

Antre

Pagi yang dingin. Lalu lalang kendaraan masih bisa dihitung pakai jari. Aku menghirup napas dalam-dalam. Segar. Lampu-lampu masih belum dimatikan oleh sinar matahari.

“Mbak, urutan nomor berapa?” lenganku disenggol oleh ibu-ibu di sebelahku.

“Eh eh, ini Bu, saya habis mba ini!” Jawabku gagap. Jarang sekali menggunakan nomor antri meskipun yang beli berjubel. Hehe, demi apa coba, pagi buta seperti ini sudah mengantri beli gudeg basah? Demi apa lagi kalau bukan buat sarapan mama yang paling suka sama makanan khas Jogja ini. Satu-satunya alasan mama berkunjung ke Jogja ya karena kangen makan gudeg saja, katanya. Eh, bilang saja karena kangen sama anak perempuan yang setiap hari diajak berantem ini!

Heemm, kami memang setiap hari bertengkar. Entah ada saja alasan yang bisa dibuat untuk memulai pertikaian. Tapi seperti biasa, bahkan tanpa ucapan minta maaf, tiba-tiba kami sudah akur dan kangen-kangenan lagi. Terus saja setiap hari seperti itu. Tengkar terus, tapi paling dikangeni.

“Mbak, pesen apa?” tiba-tiba penjual gudeg menjawil lengan saya.

“Eh, loh sudah ya, Mbak?” jawabku.

“Belum Mbak, belum! Baru habis ini giliran Mbak, ya!”

“Hehe, baik Mbak. Pesan gudeg sayap 2 bungkus, balungan 2 bungkus, sama kepala 1 bungkus, ya! Semua pakai nasi, jangan lupa sayuran hijau dan ceplusan cabe rawitnya, ya!”

Nasi putihnya masih panas. Terlihat dari asap putih yang mengepul di rinjing, tempat nasi besar yang terbuat dari anyaman bambu. Setiap kali centong batok kelapa itu digunakan untuk membolak-balik nasi yang mau diambil agar tidak menggumpal. Nasi itu dimasukkan ke dalam lipatan kertas minyak. Aroma khas muncul dari daun pisang yang melapisi kertas minyak yang terkena panasnya nasi.

Kini potongan sayap ayam kampung berwarna cokelat muda diletakkan di atas nasi. Permukaannya yang mengkilap diselimuti bumbu areh santan kental yang beraroma manis. Ah, meski tertutup masker tebal, aroma gudeg selalu membuat perutku berkerucukan. Apalagi saat ditambahkan sayur pedas sambal goreng krecek (kerupuk kulit sapi) yang dicampur irisan tempe dan tahu. Areh yang kental berwarna coklat menyempurnakan rasa gudeg basah ini.

Sebenarnya selain gudeg basah yang kuah arehnya encer, ada  juga gudeg kering. Gudeg kering ini lebih awet karena bertahan hingga 24 jam, berbeda dengan gudeg basah yang hanya kuat paling lama 12 jam semenjak masak.

Karena lebih tahan lama, Gudeg kering inilah yang sering digunakan untuk oleh-oleh saudara atau teman yang berkunjung ke Jogja. Hanya saja, gudeg kering rasanya jauh lebih manis dan waktu untuk memasaknya juga lebih lama.

Jenis gudeg lainnya ada juga gudeg manggar, menggunakan manggar atau bunga kelapa sebagai bahan dasarnya menggantikan nangka muda. Namun, dibandingkan dengan gudeg nangka muda, gudeg manggar ini lebih sulit dijumpai karena keterbatasan bahan baku untuk membuatnya.

Sejarah Gudeg

Makanan favorit mama semenjak pertama kali kukenalin sudah ada sejak abad 16 M. Menurut cerita turun temurun, awalnya prajurit kerajaan Mataram melewati hutan yang dipenuhi oleh pohon nangka dan kelapa. Saat itu para prajurit kelaparan, lalu mereka mencoba memasak nangka dan santan kelapa yang dimasukkan ke dalam panci besar.

Mereka bahkan mengaduknya menggunakan sekop besar seperti dayung perahu. Mereka mengaduk-aduk lama hingga akhirnya jadilah masakan nangka muda yang rasanya manis. Proses memasaknya yang menggunakan gerakan “Mangudeg” atau mengaduk itulah yang membuat nama masakan itu lebih mudah disebut gudeg.

Awalnya hanya berupa nangka muda yang dimasak dengan santan dengan rasa manis yang dominan. Berangsur-angsur mengalami perubahan. Tak lagi hanya dikenal di lingkungan prajurit saja, masyarakat umum pun mulai mengenalnya. Perlahan ada yang memadukan dengan tempe dan tahu, lau menambahkan krecek pedas untuk mengimbangi selera masyarakat luas yang kurang begitu suka dengan rasa yang terlalu manis. Kemudian untuk golongan darah biru dan orang-orang kaya, mereka menambahkan ayam juga telur sebagai pelengkap gudeg itu.

“Mbak, sudah ya, totalnya enam puluh lima ribu, Mbak!” kata Mbaknya.

“Eh, iya, Mbak. Maaf! ini, ya!” aku meninggalkan kerumunan di pagi yang sudah terang.

Sampai di rumah, aku membuka dan menata sedemikian rupa bungkusan gudeg itu. Mama paling suka yang balungan, pikirku.

“Yuk, pi sarapan mumpung masih panas. Mama….” aku memanggil suamiku yang masih beradadi dapur.

“Bund, sudahlah, iya papa tahu mama suka gudeg balungan ini, tapi tolong, Mama sudah nggak ada, yuk jangan terlalu sering membahasnya. Kasihan! Kita doakan saja, ya!” Aku tercenung. Sudah terlalu lama. Mama sudah dipanggil Allah empat tahun lalu. Tapi, kenangan gudeg itu terus mengiang. Saat kami berebut cabe rawit, daun singkong, atau apa saja setiap kita makan bersama. Tak ada menu istimewa selain gudeg di antara mama dan aku.

Mama yang meski tak berpengalaman selalu update informasi. Mama yang keukeuh memintaku untuk kuliah di fakultas kedokteran. Dan, ternyata meski aku mendaftar tepat di hari terakhir gelombang 3 pendaftaran, siapa sangka semuanya dimudahkan? Semuanya bermula dari ridlo orang tua, ridlo mama.

Nah, sepertinya sekarang musim pendaftaran kuliah, ya? Jangan sampai ketinggalan, loh! segera cari informasi universitas mana yang kamu impikan, juga fakultas apa yang hendak diambil. Persiapkan semuanya dengan maksimal. Sebagai informasi, Universitas EsaUnggul memiliki banyak sekali pilihan fakultas dan program studi, termasuk di antaranya program studi kesehatan. Jangan lupa, minta ridlo orang tua, ridlo mama, insyaallah semuanya dipermudah oleh-Nya.

#inikotaku #esaunggul

Written by

78   Posts

Eka Wahyuni Tinggal di Jogja, Bunda dari 3 bocah hebat shaleh dan shaleha ini mempunyai kepribadian hangat dan supel. Selain aktif di sebuah klinik di Jogja, juga aktif berkomunitas dengan sesama penulis dan Blogger di Jogja. Senang sekali berbagi, ilmu, pengalaman, motivasi juga hal-hal positif lainnya. Kontak dan kerjasama bisa dihubungi melalui: Email: ekabyan@gmail.com
View All Posts

48 thoughts on “GUDEG JOGJA, MAKANAN MANIS YANG LEGENDARIS

  1. Gudeg ini makanan yang ga bikin bosan sih mbak untuk saya. Dulu mertua saya suka banget masak gudeg. sayang skrng jarang mgkin udh sepuh juga sih. Sekarang sudah ada gudeg kemasan kaleng jadi saya bisa makan gudeg tanpa harus pergi jauh jauh ke Yogya nih. Ah kangen Yogya

  2. Mungkin kalau ada variasi foto gudeg dan sayap ayam kampung maupun foto lainnya (ilustrasi) bisa menambah lapar hehe. Sebab deskripsi ceritanya udah dapat.

  3. Waktu aku ke Yogya langsung ta cobain gudegnya, rasanya emang beda sama yang biasa ada di Bandung. Kalau yang di Yogya manis banget, tapi sukaa

  4. Mbaaak akupun merasakan Hal yang sama… Bertahun-tahun aku kadang nyiapin piring lebih di meja makan, atau kadang sengaja nggak menghabiskan nasi Dan sayur buat makan Almarhum Bapak. Kalau nggak gitu nggak sampai hati memakannya.
    .
    Gudeg pun bisa menjadi Makanan favorite buat sarapan… Terakhir menikmati makan pagi gudeg di bandara jogja … *Ngetik ini sambil nahan-nahan rasa sedih…

  5. Seperti lirik lagu “Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja” , Jogja selalin wisata bersejarah juga dengan kulinernyayangselalumenggoda lidahya mbak. Humgggg next time ke Jogja pengencoba ini juga.

  6. Saya pernah sempat akan kuliah di Jogja juga. Kala itu aku ingin mengambil jurusan management informatika. Tapi, sayangnya kedua orang tua tidak memberi restu. Meski bapak kala itu sempat mengantarkanku melihat situasi dan kondisi di Jogja yang memang terasa jauh dari Madura, tempat kami tinggal.

    Kami sempat mencicipi gudeg. Tapi dasar lidah kami yang Madura banget, jadi agak nggak toleran dengan makanan manis. Jadi, kami merasa nggak ingin makan masakan itu lagi.

    Terlepas dari masalah selera lidah kami, sebenarnya gudeg itu enak kok.

  7. Kalau Gudeg aku belum pernah nyoba sih ya, tapi keknga setelah melihat postingan ini kok jadi ngiker yak hahaha..

  8. Gudeg, aku juga cintaaaa banget sama makanan satu ini. Kalau ke jogja, selalu mampir buat beli gudeg. Rasanya itu kok ya bisa legit, manis, pedas jadi satu. Nagih banget!

    Buat mamanya, semoga husnul khotimah ya, semoga mama kamu dan ibuku bertemu di surga. Hehe… Amin.

  9. Siaapp kak, kabar2 kalau ke Jogja, kita makan gudeg bareng nanti, semoga pandemi segera berkahir dan kita mampu bertahan semua dalam keadaan sehat dan selamat, Aamiin Yaa rabbal’alamin

  10. Iyaaa…eh tapi aku malah belum pernah cobain yang kaleng, semoga rasanya gak berubah ya!
    Ilmu bikin gudegnya bisa tu diturunin ke menantu, nanti di share ke mari 😉 yaa

  11. Ekwkwk…galerinya kuubek2 cuma yang itu adanya. Padahal di dalam artikel udah ditambahin gambar satu lagi Lo selian hang dicover itu, sayangnya entah kenapa nggak mau muncul 🙁

  12. Iya Kak, yang gudeg kering manis banget, kl mau yang nggak terlalu manis cari yang gudeg basah pagi2 biasanya banyak yang jualan di pinggir jalan

  13. Ya Allah…mbak. hanya yang pernah ngalami hal serupa yang ngerti rasanya ya.. meski diucapin atau diceritain sama yang Uda lebih dulu kehilangan ortu, tetep gak bisa sedalam yang udah ngrasain, sedihnya. Semoga bapak di sana sedang bahagia ya, Mbak

  14. Baru tau kalau sejarah guded jogja kayak gitu.
    Selama ini sering lihat ada yang jual gudeg jogja, tapi saya belum pernah coba.
    Gara-gara baca di blog ini, kok jadi laper dan pengen coba. hehe

  15. Huhuhu aku kangen banget ke Jogja, kebetulan kampung suami di Gunungkidul, tapi semenjak pandemi kita gak pernah pulang lagi. Jogja tuh emang istimewa banget ya apalagi kulinernya. Gudeg ini udah jadi identitas Jogja banget.

  16. Hehehe harus tinggal dulu di sini kak biar jadi suka 🙂 semoga kelak ada rezeki tinggal di sini ya, Kak! Sekitarku banyak orang Madura juga

  17. Tosss!!! Iya gudeg dimasak ya lama banget jadi legit karena santan dan gula merah bener2 menyatu.

    Aamiin Yaa rabbal’alamin, semoga di sana bisa bahagia semua ya

  18. Hehe cobain, Kak. Kl nggak suka manisnya coba deh ceplusan cabe rawit ya ikut digigit dan dimakan bareng 🙂

  19. Banget mbak, ayo semoga pandemi segera berakhir ya mbak, kita sehat terus, bisa beraktifitas lagi seperti semula dengan aman

  20. Waktu ke Malioboro aku pernah makan gudeg sekali. Lumayan enak. Seposi cuma 15 ribu. Kalau gudeg ia warnanya agak item gitu ya. Kalau di tempat saya mirip santan ketewel.

  21. Aku kira dulu gudeg ya gitu aja rasa gudeg. Ternyata seeeevariasi itu. Sebulan aku tinggal di Jogja, ternyata ada gudeg kering dan basah. Model rasanya juga macam-macam. Aku suka gudeg Tekluk

  22. Iyaa…kl di pinggir jalan mungkin harganya gak segitu, Bang. Banyak banget penjual gudeg pagi yang harganya murah tapi rasanya enak, gudegnya nggak terlalu manis. Kl gudeg hang coklat tua -kehitaman itu memang, yang warnanya kuning biasa namanya gule nangka 🙂

  23. Iyaa…gudeg Basah biasanya disukai orang2 pendatang karena nggak terlalu manis rasanya. Kalo gudeg kering lebih manis tapi awet, biasanya buat oleh2 luar kota

  24. Aku jatuh cinta dengan Kota Jogja ini sudah lama. Kota yang banyak sekali menjual aneka buku-buku bacaan menarik dan salah satu kota yang menjaga ketat kearifan budaya nya.

    tidak hanya itu, kata teman ku yang mengenyam pendidikan tinggi disini juga pernah bilang bahwa jogja itu salah satu raja nya kuliner. jadi makin tertarik aku pergi kesana.

  25. Kalau ke Jogja gak lengkap kalau belum coba kuliner yang satu ini ya mba, Gudeg.
    Dengan harga yang bersahabat ditambah lagi rasanya yang enak, pasti para wisatawan yang kesana selalu memburu makanan yang satu ini.

  26. Yes betul sekali. Rajanya kuliner, rajanya injvasi pariwisata. Yang pernah kuliah di sini pasti bakal pengin tinggal di sini.

  27. gudeg jogja memang legendaris. obat kangen kalo lagi ke jogja. memang rasanya ada manisnya, jadi bagi yg gak suka makanan manis katanya kurang cocok.

  28. Jogja istimewa. Setahun kuliah di Jogja ngerasain banget keistimewaannya. Beda dari kota besar lainnya yang sudah kental individualis nya. Jogja masih selalu ramah. Ah….kangen Jogja.

    Walaupun saya gak terlalu suka gudeg karena kemanisan untuk lidah Sulawesi tapi gudeg ini memang luar biasa. Masakan tradisional, legendaris, dan tetap bertahan jadi favorit banyak orang ditengah maraknya makanan cepat saji.

  29. Aku termasuk penyuka gudeg. Kalau gudeg Jogja, ya beberapa kali merasakan. Simbah kami di Bantul. kalau pas ke sana ya kadang merasakan gudeg spesial dan makin mahal aja sekarang ini. Hehe.. rasanya emang khas..legit. apalagi ada ceplusan rawit…hm…ngeces!

  30. Iya, gudeg pasti manis, bagi yang nggak suka bisa pilih gudeg Basah, pagi banyak banget yang jualan. Atau bisa makan pake sambal kreceknya aja yang pedes, gudegnya dikit2 aja 🙂

  31. Wah sempatbkuliah di Jogja ya, Kak?
    Meski cuma setahun pasti banyak memory indah di sini.
    Iya gak bisa dikalahin makanan cepat saji, beda aja 🙂

  32. Kwkwk iya makin mahal, etapi yang pinggir jalan masih harga 10rb per porsi kok, lauknya pake suwir daging ayam atau telur 🙂
    Kl yang gudeg kering, apalagi terkenal wah mahal memang, sesuai dengan legendarisnya 🙂

  33. asli. aku baru satu kali ke Yogyakarta dan pada waktu itu cuma ngumpet di asrama, dan satu malam diajak ke Malioboro. rasanya kurang bangeeeeet. semoga ada kesempatan ke sana lagi huhu.

  34. Baruuuu aja nih makan gudeg beli di gofood siang tadi. Suami paling suka banget sama kreceknya. Itu kalo beli gudeg, pasti beli tambahan gule krecek terpisah.

    Setiap meeting ke Jogja, pulangnya juga pasti bawa oleh-oleh gudeg, mulai dari yang kemasan besek sampai yg kalengan. Pokoknya bawaan wajib itu.

  35. Baca ini saya jadi ngiler, betulan. Apalagi gambarnya yang super besar. Hehe…
    Saya asli Jogja, jelas sudah lama makan gudeg beginian. Rasanya memang manis dan kata orang, makin manis saja sekarang.
    Ada pengalaman lucu. Saya memberikan gudeg ke teman saya di Bombana sini. Dia asli orang Bugis. Waktu makan gudeg itu, rasanya dia mual dan enek banget. Sama sekali tidak suka dengan rasanya. Terasa aneh banget di lidah orang Bugis. Haha…

  36. Pernah makan sama gudeg waktu itu di Jogja. Tepatnya di emperan malioboro. Murah sih cuma 15 ribu. Entah kalau sekarang. Kalau di pinggiran desa kayaknya lebih murah ya ketimbang di pusat kota.

  37. Waahhh..sebelum pandemi kan? Kenapa ngumpet di asrama? Iya, sehari belum bisa ke mana-mana kl ke Jogja harus 3 hari minimal 🙂

  38. Wkwkwk dulu pernah tinggal di Jogja ya, Mbak? Biasanya gitu, gak bisa move on dari citarasanya 🙂
    Sering ke Jogja?
    Semoga next kalau pandemi Uda kelar dan kita sehat, bisa meet up an kita ya!

  39. Wkwk iya…banyak orang luar Jogja hang nyebut gudeg itu kayak manisan nangka muda atau kolak nangka muda? 🙂

  40. Iyaa, jangan di pinggiran desa lah, karang kl di desa yang jual. Di pusat kota tapi yang jalan-jalan arteri banyak yang jual pagi

  41. Saya bukan orang Jogja belum pernah ke Jogja juga tapi gudeg ini salah satu favorit makanan saya. Suka banget kalau ada temannya mama saya yang orang jawa kasih makanan ini pasti saya lahap dengan nikmat dan sampai habis. Hehe mau coba bikin gudeg sendiri tapi belum bisa hehe..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: