EGRANG, BUDAYA LOKAL INDONESIA, IKHLAS KAH JIKA KELAK DIAKUI OLEH NEGARA LAIN?

Egrang, Budaya Lokal Indonesia, Ikhlas Jika Kelak Diakui Oleh Negara Lain?

Kalau egrang, permainan sekaligus alat olahraga tradisional kita diakui oleh negara lain, kamu ikhlas nggak? Atau nggak peduli?

Jadi, ini sesuatu banget. Ada seorang bapak sudah berumur, rela menghabiskan waktunya selama 55 hari dengan naik egrang dari Jogja ke Jakarta. Beliau berhasil bertemu muka dan berfoto bersama Presiden kita Joko Widodo. Bayangkan, 55 hari hanya berjalan menyusuri pinggiran jalan raya, melawan panas terik dan juga dinginnya malam demi memperjuangkan agar egrang kembali tenar. Agar egrang kembali dicintai oleh masyarakat Indonesia. Bisa bayangkan lelahnya? Apa nggak lecet-lecet tuh kaki? Ya, bahkan hanya berjalan menggunakan sandal ter-empuk pun kalau untuk berjalan sejauh itu saya rasa pasti akan membuat lecet kaki dan pegal-pegal seluruh tubuh. Iya, kan? Apalagi menggunakan egrang? Tapi itulah upaya Pak Yudi si Raja egrang dari Jogja. Bapak berperwakan tinggi itu ingin kembali membuadayakan egrang sebagai salah satu kekayaan Indonesia.

Sejak aksinya mengenalkan egrang dengan cara unik itu, Pak Yudi makin dikenal dengan Raja Egrang-nya. Pak Yudi melanjutkan dengan membuka stand egrang di Alun-alun Selatan Jogja. Stand yang memberi fasilitas egrang mulai dari egrang bumbung (ruas bambu dengan tali), egrang kecil hingga egrang paling tinggi tersedia di sana. Pak Yudi tidaak mematok harga, hanya infak seikhlasnya untuk pemeliharaan egrang-egrangnya agar selalu diremajakan. Pak Yudi begitu mencintai anak-anak. Siapa pun yang mau belajar bermain egrang di sana dan berhasil meyakinkan bahwa dia mau belajar maksimal dengan membuktikannya bisa naik egrang, akan dapat sepasang egrang sesuai permintaannya, gratis.

Gambar: doc. pribadi

Siapa sangka, banyak sekali anak yang tertarik untuk ikut menaklukkan angkuhnya bambu setinggi 2 meter itu. Hingga sekarang setiap malam tempat itu pasti penuh dengan anak-anak yang bermain egrang. Semua anak kecil itu lihai, ada yang berlari, ada yang sambil duduk dan lainnya. Pak Yudi berhasil membuat anak-anak mencintai egrang sebagai budaya asli Indonesia.

Permainan ini, dulunya merupakan alas kaki yang dipakai oleh kerajaan untuk berjalan. Jadi hanya lingkungan kerajaan yang boleh menggunakan alat egrang ini. Alas kaki itu kini mengalami transformasi menjadi alat olah raga yang cukup digemari. Selain menyehatkan, egrang juga sangat membantu kita menghilangkan stress akibat beban kerja. Ditanggung, seluruh otot tubuhmu bakal gerak dan aktif sehingga bisa menyehatkan raga sekaligus menyehatkan hati. Mulai dari otot betis, otot lengan atas, otot perut, otot jari-jari kaki dan tangan dan juga otot punggung, semua bekerja sama saling bersinergi.

Seperti budaya lainnya, gamelan misalnya, yang sekarang mulai digandrungi oleh para turis mancanegara. Tarian tradisional juga tak ketinggalan, mulai banyak pendatang dari luar negeri yang ingin belajar memperdalam kebudayaan kita yang sering kita lihat sebelah mata. Egrang, juga mulai dilirik oleh para pendatang dari luar negeri. Banyak yang minta kerjasama agar dibuatkan egrang, bahkah mau beli beratus-ratus pasang egrang. Bolehkah? Nanti dulu!

Gambar: doc. pribadi

Pak Yudi sebagai kapten Raja Egrang, punya mimpi kelak egrang yang sedang kembali dibumikan lagi di Indonesia, bisa masuk ke dalam salah satu cabang olah raga yang diakui di Indonesia. Tekadnya mengenalkan egrang terutama pada anak-anak bertujuan agar anak-anak mencintai budaya lokal. Budaya permainan tradisional yang tak hanya mengandalkan keseimbangan namun juga koordinasi antar kerja otot dan otak menjadi titik berat berhasilnya seseorang mampu berjalan dengan egrang.

Tidak hanya itu, dengan egrang juga akan mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget, sehingga aktifitas ini bisa menurunkan angka kecanduan terhadap game, video yotutube dan sajian lainnya dari layar gawai yang kini mulai menjadi momok bagi para orangtua.

Gambar: Doc. Pribadi

Sebut saja Abiyyu, anak usia TK B ini dari awal mengenal egrang tak pernah putus asa belajar. Gawai yang hampir setiap saat digenggamnya semakin bisa dialihkan dengan aktifitas fisik itu. Jatuh bangun sama sekali tak menyurutkan semangatnya dalam menaklukkan batang bambu yang tingginya dua kali lipat dari tinggi badannya itu. Nyalinya berkembang seiring dengan beberapa lecet di jari kaki karena menjepit bambu warna-warni itu. Jera kah dia? Tidak!

Tak sampai seminggu, Abiyyu bisa menaklukkan, mulai dari nol hingga akhirnya mahir menjalankan egrang tanpa dibantu siapa pun juga. Kecuali saat naik egrang yang sangat tinggi, biasanya anak kecil itu akan minta digendong dulu untuk naik ke atas. Baru setelah berhasil nangkring di atas, dengan lihai dia melenggang mengelilingi alun-alun selatan Jogja.

Turis domestik, turis mancanegara semua bisa ikut bermain di sana bersama teman-teman kecil dari Raja Egrang. Meski terhalang bahasa, nyatanya anak-anak kecil dari negara berbeda itu kerap bisa akur dan dekat.

Egrang, permainan tradisional yang sangat pantas untuk kembali kita tenarkan. Tak lagi hanya menjadi permainan kalangan Raja, namun alat sederhana itu kini bisa di akses oleh semua kalangan masyarakat.

 “Maaf, egrang ini tidak dijual, saya hanya akan membuatkan bagi sekolah-sekolah, atau wilayah lain selama masih berada di Indonesia. Dan saya bertekad belum akan membuatkan warga negara lain dulu sebelum permintaan kebutuhan egrang dalam negeri terpenuhi,” jawaban yang selalu Pak Yudi berikan pada pengunjung mancanegara yang minta dibuatkan egrang.

Tuh, kan? Egrang saja mulai dilirik, ikhlas kalau nanti egrang menjadi tenar di luar sana? Yuk peduli dengan semua budaya kita! Kuatkan budaya ini di tangan kita sendiri, agar dunia tahu bahwa egrang milik kita. Bagi siapa saja penduduk Indonesia, sangat terbuka untuk belajar gratis membuat egrang yang kuat, agar egrang membumi di negeri kita Indonesia tercinta. Siap tenarkan egrang? Harus siap!

Gambar: Mixagrip

Seru ya? Sehat dan berbudaya bersama egrang. Ngomong-ngomong sehat, terkadang entah beragam alasan membuat status kesehatan kita terganggu. Sebagai contoh penyakit sepele yang sering tidak kita anggap namun sangat mengganggu aktifitas adalah penyakit flu. Penyakit ini begitu mudah menyerang siapa saja. Penyakit yang cara penularannya sangat mudah ini susah dihindari saat stamina dan kekebalan tubuh kita sedang drop. Nah kondisi seperti itu sangat pas kalau kita punya persediaan obat yang aman, contohnya adalah MIXAGRIP. Kandungan obat ini meliputi beberapa obat yang diindikasikan untuk meringankan gejala flu. Komposisi di dalamnya juga tersusun atas obat yang cenderung aman. Obat ini bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep. Namun, tetap harus mengindahkan hal-hal yang disarankan di dalamnya. Pastikan bahwa kamu tidak mempunyai riwayat alergi terhadap obat apapun sebelum meminumnya. Juga minum obat hanya seperlunya saja saat dibutuhkan. Dan jika setelah 3 hari keluhan tetap ada, segera konsultasi dengan dokter terdekat. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *