NIKMATI KOPI PAPANDAYAN DAN PHOTOGRAPHY HANYA DI GUDANG KOPI

Kopi Papandayan

Orang pinter masak belum tentu sukses di usaha kuliner. Sebaliknya orang yang nggak bisa masak justru sukses di usaha kuliner. Sepakat ya?

Jadi begini, tidak jarang kita makan di tempat umum, bisa warung, resto, café dan lainnya. Kelihatannya tempat makannya sangat ramai, asyik, tapi begitu kita mencicipi makanannya ternyata sangat biasa, atau malah cenderung tidak enak. Sering, kan? trus kepikiran donk seandainya kita yang buka warung itu pasti akan lebih ramai, karena masakan kita lebih enak! Yakin? Itu sih sepertinya hanya ‘wang sinawang’ saja, iya kan? Ternyata sukses bisnis kuliner tak hanya mengandalkan resep unggulan yang kita kuasai, namun da banyak faktor yang berperan di belakangnya.

Mas Hariyanto Owner Gudang Kopi
Mas Hariyanto Owner Gudang Kopi

Salah satu contohnya adalah Café Gudang Kopi. Menurut  Harianto, owner Gudang Digital dan juga Gudang Kopi Café, kunci utama menjalankan bisnis ialah pertemanan, jejaring, networking. Kita tidak bisa begitu saja membuka bisnis kuliner hanya karena kita jago masak. Tentu saja kita harus menguasai skill manajemen perusahaan dan juga melebarkan jangkauan networking dengan berbagai kalangan.

Seperti halnya merintis sebuah usaha, Gudang Digital yang awalnya dirintis sejak tahun 2007 juga mengalami pasang surut. Toko alat-alat perlengkapan digital yang beralamatkan di Jalan Gejayan No. 08 Demangan Yogyakarta awalnya menamakan usahanya dengan Gudang Studio (2010). Mengaku bukan orang asli Jogja, pun tidak berkuliah atau sekolah di Jogja, Harianto merasa tidak berkembangnya usaha tersebut sangat dipengaruhi oleh eksistensi pertemanan di sekitarnya. Pada saat dirinya mulai membangun relasi dan pertemanan, Gudang digital tumbuh semakin berkibar.

Tak hanya bisnis digital, melihat pangsa pasar yang semakin ramai, membuat pemiliknya berpikir keras. Daripada para pelanggannya yang sering datang ke toko mencari tempat kongkow lain, kenapa tidak dibuka saja café di lantai atas ruko tersebut?

Suasana Cafe Gudang Kopi
Suasana Cafe Gudang Kopi

Rupanya dari analisa yang sederhana itulah kemudian muncul Gudang Kopi yang menyediakan aneka minuman kopi. Beda dengan tempat lain, Gudang Kopi mengambil kopinya dari Jakarta, Malang atau kota lain. Bahkan terakhir dari Singapura dan Hongkong.

Sore itu adalah kali keduaku bertandang ke Café yang selain menyediakan minuman aneka blend kopi juga menyediakan makanan untuk sarapan juga makan siang hingga dinner. Berbeda dengan café lainnya yang hanya menyediakan aneka minuman berbahan dasar kopi dan snack, Gudang Kopi menyediakan aneka menu-menu berat. Menu itu bisa mengenyangkan perut para pelanggan yang sudah kadung jatuh cinta dengan nuansa café.

Dari belasan menu makanan, aku berhasil mencicipi dua jenis makanan besar dan satu jenis jajan (snack) dan juga kopi andalan dari Gudang Kopi. Menu-menu itu (yang sudah berhasil aku pesan) antara lain:

  1. Nasi Cumi Hitam

Dasarnya aku sukanya kalau cumi ya harus dimasak putih bersih. Namun di Gudang Kopi ada menu unik satu ini. Kenapa hitam? Karena tinta cumi memang sengaja tidak dibuang. Ada kelompok suka makan cumi masak hitam, dan suka makan cumi masak putih. Hehe kamu gabung yang mana?

Rasanya khas ada pulen-pulennya, meski rasanya daging cuminya tetap sama, kalau masaknya pas bisa lembut dan enak, seperti menu Cumi Hitam di Gudang Kopi ini. Nah, kan nggak perlu repot harus ke daerah pantai hanya sekadar untuk menikmati Nasi Cumi Hitam.

  1. Bakmi Goreng Gudang Kopi

Nah, ini lucu. Bukannya aku fanatik sama Bakmi goreng Jogja. Meski di acara buka bersama teman-teman bloger Jogja bersama Gudang Kopi sore itu menyuguhkan aneka makanan modern, apalah daya ketika si gadis imut Aishya justru milihnya Bakmi goring. Heheh… Asihya yang sedari sore sudah mulai manyun karena lapar langsung memilih menu favoritnya itu. Makanan kekinian juga melengkapi menu yang ditawarkan oleh Café Gudang Kopi, seperti Omurice (Nasi putih berbalut telur dadar yang dikombinasi dengan Chicken Katsu), juga Nasi IKan Dori Dabu-Dabu yang aslinya pengin banget cobain karena sambal Dabu-Dabunya yang segar, juga ada puluhan macam lagi jenis makanan yang pas di lidah kita.

  1. Red Velvet

Untuk snack satu ini, aku kasih dua jempol deh. Rasanya yang lezat, lembut, gurih manis dan creamy di mulut, membuatku tak henti untuk mencoleknya. Pssttt! Yang ini juga Aishya yang request, loh! Harganya wajar meskipun di café. Per slicenya dibanderol 25 ribu saja. Alhamdulillah! Tapi maaf, Red Velvet yang lezatos belum sempat difoto sudah ludes duluan, sama Aishya dan emaknya. Aslik lupa! Maaf ya!

  1. Es Kopi Papandayan Istimewa

Es Kopi Arjuna, Papandayan dan Es Foto Kopi
Es Kopi Arjuna, Papandayan dan Es Foto Kopi

Jangan kaget kalau nanti ada yang kebetulan dapatnya Es Kopi Papandayan, ya! Karena rasa jadi lebih mirip dengan es cendol!

Benar saja, begitu saya cicipi Es Kopi berwarna crem itu, aroma cendolnya dapat banget. Rupanya memang Es Kopi tersbut dikombinasi dengan sirup Coco pandan yang membuat sendiri, bukan beli jadi.

Selain Es Kopi Papandayan, Café Gudang Kopi juga memiliki dua jenis Es Kopi andalan lainnya, ialah Es Kopi Arjuna dan Es Foto Kopi. Hayoo! Penasaran sama rasa ketiga kopi itu kan? Ayo, ngaku!

  1. Es Teh

Enggak di café, warung, resto, atau lesehan, kenikmatan es teh memang tak ada duanya. Dan, lagi-lagi ini juga request Aishya yang tiba-tiba jadi doyan makan dan minum itu. Judulnya pokoknya ngajakin Aishya Buka Bersama dengan teman-temannya Bunda, sambil kita mencari ilmu tentang Foods Influencer langsung dari Mas Andre C selaku Foods Enthusiast di Acara Ngabuburit produktif bersama Kemunitas Bloger Jogja bersama Gudang Kopi. Gudang Kopi because Your PhotoCopy begins here!

Hmm, daripada cuma ngebayangin, mendingan tonton keseruan ngabuburit dan bukber kita dengan aneka menu istimewa dari Gudang Kopi di sini, ya!

KAMERA FUJI XT-100 KAMERA PERTAMA YANG BUATKU JATUH CINTA PADA FOTOGRAFI

Praktek jepret dengan Kamera Fuji XT 100

“Foto burung mah nggak harus di Kotagede. Bagus tapi nggak memperlihatkan tema. Kalau temanya explore Kotagede ya harus memperlihatkan Kotagede itu apa. Banyak bangunan tua, ada gang-gang sempit, abdi dalem dan lain-lain,” paparnya saat menilai hasil foto yang dilombakan antar sesama peserta Arisan Ilmu, 21 April 2019.

Hiks, memang sadis komentarnya, tapi justru dari itulah aku tahu bahwa kemampuanku menganalisa tema kurang tajam. Hal itu membuatku semakin hati-hati dalam mengartikan sebuah tema fotografi.  Sepanjang aku bawa kamera, yang ada di pikiranku adalah gimana caranya memfoto objek bergerak tapi tetep terlihat fokus dan lingkungan di sekitar terlihat blur. Artinya kita bisa mengikuti gerakan objek tersebut dan berhasil menangkap bayangannya dalam waktu seper berapa puluh detik.

Contoh kasusnya adalah saat kita bisa memfoto air terjun di mana air yang sedang jatuh berhasil kita “freez” di tengah perjalanan. Susah banget kan?

Nah, ceritanya beberapa hari yang lalu (pekan dink) saya bersama teman-teman mengikuti acara Arisan Ilmu dengan materi seputar Fotografi yang diisi oleh Gudang Digital. Kemudian hunting foto menggunakan kamera Fuji XT 100.

Kamera Fuji XT 100 tampak depan
Kamera Fuji XT 100 tampak depan

Pagi hingga siang itu penuh dengan sharing materi seputar kamera. Materi diberikan secara lengkap dan runtut oleh Mas Andri tim dari Gudang Digital. Materi yang dibagikan adalah seputar Fotography.

Sebelum kita turun untuk “Nyetrit” bareng di seputaran Kotagede, tentu kami dibekali banyak banget teori tentang fotografi, terutama bagaimana cara menangkap objek yang sangat mainstream dan bakal banyak  dijepret oleh banyak orang yang suka dengan fotografi.

Praktek memotret bersama Fuji XT 100
Praktek memotret bersama Fuji XT 100

Jadi, selain teknik yang harus dikuasai berikut dengan rumus-rumus angka yang wajib diketahui, juga diberikan tips keahlian mengambil angle untuk foto tempat-tempat atau objek yang bakal dikunjungi banyak orang.

Arisan Ilmu ini diadakan oleh KEB (Komunitas Emak Blogger) Jogja. Kebetulan adalah kopdar KEB ke-3 yang kuikuti selama gabung dengan komunitas tersebut.

Sharing Ilmu Fotografi di Arisan Ilmu bersama KEB dan Gudang Digital Menggunakan Kamera Fujifilm XT 100
Sharing Ilmu Fotografi di Arisan Ilmu bersama KEB dan Gudang Digital Menggunakan Kamera Fujifilm XT 100

Jujur, pertama kali memegang kamera beneran baru kali pertamaku. Apalagi tekniknya yang rumit buatku. Mengaktifkan tombol power saja aku nggak bisa, apalagi cara memotret hingga menyimpan atau memindah foto dari kamera ke HP? Gaptek euy! Tapi Alhamdulillah tim Fuji yang meminjamkan kamera keren itu sangat sabar membimbing kami untuk mengetahui lebih dalam tentang kamera kekinian tersebut.

Praktek jepret dengan Kamera Fuji XT 100
Praktek jepret dengan Kamera Fuji XT 100

Pssttt! Diam-diam aku pengin memilikinya! Semoga segera bisa menabung untuk membeli kamera yang harganya jelas beberapa kali lipat dari harga Hp yang sekarang kumiliki.

Oiya, mengenai teknik-teknik mengambil gambar dengan kamera Fuji XT 100 itu kita bahas satu-persatu ya, untuk lebih praktisnya saya ambil teori dasar yang setidaknya harus kita pahami sebelum kita mengoperasikan sebuah kamera:

  1. ANATOMI KAMERA DLSR
Kamera Fuji XT 100 tampak Belakang
Kamera Fuji XT 100 tampak Belakang
  • Dari bagian depan anatomi kamera meliputi: Power switch, mode dial, flash, flash button, lens focus mode switch, lens, card slot, shutter button dan main control dial
  • Sedangkan dari tampak belakang kamera anatominya meliputi: Viewfinder adjustment knob, exposure compensation, AE lock, AF point selection, drive mode, picture style, white balance, metering mode, playback, erase dan autofocus mode.
  1. CREATIVE MODE (MODE DIAL)
  • Mode dial adalah sebuah fitur yang digunakan untuk membantu melakukan setting pada saat melakukan pemotretan. Mode dial pada umumnya terbagi menjadi tiga, yaitu:
  1. Mode Auto

Mode auto dibagi menjadi beberapa mode lain guna menyesuaikan objek yang dipotret.

  • Untuk lebih jelasnya bisa kita pelajari table berikut:
MODE Keterangan
Auto Mode full auto di mana fotografer menyerahkan seluruh kendali pada kamera
PORTRAIT Mode yang disesuaikan untuk memotret wajah. Aperture akan membesar untuk memperoleh kedalaman gambar yang dangkal
LANDSCAPE Mode yang disesuaikan untuk memotret pemandangan. Aperture akan mengecil untuk memperoleh kedalaman gambar dan lebih banyak detail.

2. Semi Auto

Mode ini melibatkan user untuk memilih dan mengatur salah satu elemen dari eksposure. Bisa memilih aperture atau shutter speed, sedang yang lainnya diatur oleh kamera.

3. Manual

Mode manual ini melibatkan user untuk mengatur semua elemen yang menentukan eksposure, baik aperture, shutter speed maupun ISO.

Color Variation by Anodized Coating
Color Variation by Anodized Coating

EXPOSURE

Exposure adalah seberapa banyak cahaya yang dibutuhkan untuk masuk  ke dalam sensor. Setidaknya ada tiga elemen yang disebut dengan Exposure Triangle, yaitu: Aperture, ISO dan Shutterspeed. Merubah salah satu elemen akan berpengaruh pada exposure.

APERTURE

  • Diindikasikan dengan f/stops: (f/2, f/2.8, f/4.0, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22, f/32)
  • Semakin besar angkanya maka semakin kecil bukaan diafragmanya dan semakin sedikit cahaya yang masuk.
  • ISO
  • ISO adalah pengaturan kepekaan sensor terhadap cahaya.
  • Diindikasikan dengan angka 100, 200, 400, 800 dan seterusnya. Sebaiknya gunakan angka yang rendah ketika membutuhkana gambar yang tajam dan memperoleh pencahayaan yang cukup. Angka yang besar dibutuhkan atau digunakan ketika cahaya terbatas (tidak menginginkan pencahayaan tambahan (artificial light), dapat mengakibatkan gambar menjadi grainy (noise).

SHUTTER SPEED

Shutter speed adalah lama waktu shutter membuka dimana akan menentukan seberapa cahaya yang masuk dalam proses perekaman gambar.

  • Diukur dengan satuan second: Super fast 1/4000 seconds sampai 1/30 seconds.
  • Semakin lambat kecepatannya semakin banyak cahaya akan terekspos. Semakin cepat maka makin sedikit cahaya yang akan terekspos.
  • 2, 1, ½, 1/8, 1/15, 1/30 membutuhkan stabilizer. Sedangkan untuk mendapatkan efek pembekuan gerakan membutuhkan shutter speed mulai 1/125, 1/250, 1/500 hingga 1/1000 yang menyebabkan lebh sedikit cahaya yang terekspos.

APERTURE

Aperture (diafragma) adalah salah satu factor yang mempengaruhi kedalaman gambar (Depth Of Filed). DOF (Depth Of field) adalah area di depan dan atau di belakang objek yang terfokus.

EXPOSURE MODE A

Aperture

S

Shutter Speed

ISO

Sensitivity

Automatic

Camera secara otomatis mengatur aperture daan shutter speed untuk mendapatkan eksposure

CAMERA CAMERA USER
Aperture Priority Mode

User memilih aperture yang diinginkan, sedangkan shutter speed ditentukan oleh kamera

USER CAMERA USER
Shutter Priority Mode

User memilih shutter speed, sedangkan aperture secara otomatis ditentukan oleh kamera

CAMERA USER USER
Manual Mode

User bebas memilih aperture, shutter speed dan ISO sesuai yang diinginkan

USER USER USER
Program Auto Mode

User dapat memilih kombinasi aperture dan shutterspeed secara bersamaan untuk memperoleh eksposur

USER USER USER

 

PENGALAMANKU MENGGUNAKAN KAMERA FUJI XT 10

Awalnya bingung menerima instruksi dari tim Fuji untuk men-setting kamera sebelum kita gunakan untuk mengabadikan semua moment di acara Nyetrit bareng bersama KEB, Gudang Digital menggunakan kamera Fuji XT 10.

Praktek memotret Nyetrit Bareng Explore Kotagede
Praktek memotret Nyetrit Bareng Explore Kotagede

Agar memudahkan kami dalam mengoperasikan kamera tersebut maka setting kamera dibuat semi auto dengan pengaturan Shutter speed pada angka 1/125. Tujuan disetting di angka tersebut adalah agar kita juga bisa mengambil gambar dengan objek yang bergerak tanpa hasil yang blur.

Di balik pohon di sebuah sudut Kotagede
Di balik pohon di sebuah sudut Kotagede

Setelah di lapangan kita tinggal atur lensa saja untuk memfokuskan objek yang akan kita bidik. Hasilnya lumayan. Meski secara fotografi foto-foto yang berhsil kuambil amsih sangat jauh dari kesan sempurna setidaknya memakai kamera Fuji XT 10 sudah memecah rekorku selama ini yang belum pernah menggunakan kamera jenis apapun sebelumnya. Tapi aku sempat merasa keren dan suka menggunakan kamera Fuji XT 100. Mungkin setelah ini, rekomendasi buat diri sendiri saat akan membeli kamera adalah kamera Fuji, entah yang seri apa dan berapa. Atau mungkin kamera mirrorless dari Fuji? Doain, ya!

 

Inspirasi Bisnis Dari Telur Gulung Di Gelar Produk UKM Kampus 4 UAD Yogyakarta

Inspirasi Bisnis Dari Sekotak Telur Gulung Di Gelar Produk UKM

Mas Yusuf Penjual Telur Gulung di Gelar Produk Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta
Mas Yusuf Penjual Telur Gulung di Gelar Produk Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta

“Sehari bisa habis berapa kilo telur,Mas?” tanyaku pada laki-laki yang akrab dipanggil Mas Yusuf ini.

“Ya, enggak pasti, Mbak. Rata-rata ya 4 kilo, lah!” jawabnya sambil tersipu.

Sik-sik, bentar, Mas! 4 kilo itu berarti sekitar 60-65 butir telur sehari?” mataku hampir melotot, kagum dan tak mengira bisa segitu banyaknya.

“Iya, sekitar segitu, Mbak!” tuturnya sambil memberikan seulas senyum.

“Masnya kok bisa tahu ada pameran ini?” tanyaku lagi.

“Iya, Mbak, kebetulan saya ikut komunitas bisnis Yogyakarta, jadi pas ada informasi ini saya langsung tahu. Saya juga sudah sering mengikuti pameran semacam ini,” jawabnya yakin.

“Cara daftarnya gimana sih Mas?”

“Kita langsung mendaftar di PLUT-KUMKM DI Yogyakarta Mbak, sekitar sebulan sebelum acara berlangsung,” paparnya.

“Oh, berarti informasinya update terus ya, Mas?”

“Betul, Mbak. Banyak sekali kegiatannya, Alhamdulillah jadi banyak saudara dan bisnis juga semakin lancar.” Dia memungkasi obrolan kami.

Tangannya masih saja sibuk memutar-mutar lidi panjang menggulung adonan telur yang sedang mengapung di permukaan minyak panas di wajan.

Aku menyerahkan satu paket telur gulung yang terbungkus mika ke Aishya. Dia balitaku yang kuajak berkeliling di “Gelar Produk UKM Makanan, Minuman, Craft dan Fashion Istimewa” pada hari Selasa, 30 April 2019 sekira pukul 14.00 WIB di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Ringroad Selatan Yogyakarta. Jajanan yang paling disukainya itu langsung dilahapnya, tanpa saos maupun kecap. Dia lebih suka yang original.

Mas Yusuf termasuk generasi muda pandai membaca situasi dan peluang. Dia sudah melakoni bisnis yang sering digolongkan sepele ini sejak 4 tahun yang lalu. Iya tak pernah malu menjalaninya. Menurutnya, generasi muda yang masih mengutamakan malu untuk melakukan bisnis kecil semacam ini akan ketinggal jauh dengan para pemuda yang lebih cerdas mengambil kesempatan seperti ini.

Selain di pameran-pameran, pemuda yang baru menikah 3 bulan ini mengaku setiap hari berjualan di sekolah-sekolah SD, sedangkan hari Minggu di mana sekolah-sekolah libur, ia akan bergeser mencari tempat yang juga ramai dikunjungi oleh banyak orang. Dia memilih berjualan di lokasi depan JEC (Jogja Expo Center) setiap hari Minggu.

Memang, bisnis ini terlihat sepele namun ternyata sangat digemari oleh masyarakat terutama anak-anak hingga mahasiswa. Dengan harga cukup 5 ribu saja kita sudah bisa mendapatkan sepaket telur gulung berbungkus mika yang berisi 4 pcs telur gulung.

“O, iya Mas, Tanya lagi ya, untuk setiap butirnya bisa disulap menjadi berapa tusuk telur gulung?” pertanyaan saya menyelidik.

“Biasanya untuk 1 butir telur bisa jadi 4 tusuk telur gulung, satu porsi Mbak!” jawabnya menjelaskan.

Hmm, jadi kalau sehari saja mampu menghabiskan 4 kg telur alias 60-65 butir telur, maka pendapatan kotornya bisa mencapai 300.000 hingga 325.000 rupiah. Tuh kan! kalau dilihat dari tusukan telur gulungnya memang kecil tapi begitu menghitung akumulasi pendapatan sehari bisa mencapai 300ribu, ada yang masih berpikir bahwa bisnis ini sepele?

Bisa dimudahkan lagi simulasi penghitungannya. Karena biasanya pendapatan atau income dihitungnyanya per bulan, maka jika sehari 300ribu – 325ribu, untuk sebulan bisa 9 juta – 9.75 juta, loh! Masih menganggapnya remeh?

Pisang Tuman Rasanya Bikin Tuman

Pisang Tuman Selingkuh Aneka Rasa
Pisang Tuman (Sayang, Selingkuh, Baper, Hoax) Aneka Rasa

Selain telur gulung ada banyak sekali pelaku UKM lainnya. Tepat di sebelah kanan telur gulung terdapat stand Pisang Tuman. Tuman diambil dari Bahasa Jawa yang artinya ketagihan. Dari lirikan pertama pandanganku langsung tertuju pada nama masing-masing menu pisang nugget itu. Ada pisang Tuman Sayang, Pisang Tuman Baper, Pisang Tuman Selingkuh, dan Juga Pisang Tuman Hoax.

Pisang Tuman
Pisang Tuman

Menurut Tia, pelaku usaha pisang nugget ini yang sudah menjalani bisnisnya sejak 5 baulan yang lalu, memilih nama-nama tersebut agar mendapat perhatian khusus bagi para calon pelanggannya. Iya sih, sama-sama pisang nugget, rasanya juga sama dengan aneka toping mulai dari cokelat, greentea, oreo, chocochips dan lain-lain, tapi dengan nama yang unik terkadang bisa membuat orang jatuh hati dan lebih memilihnya hanya karena sedang baper, atau sayang atau selingkuh? Jadi, silakan memilih sesuai dengan suasa hati yang kamu rasakan ya! Ada-ada saja ya kreasi anak zaman now!

Di depannya stand telur gulung ada sate cumi yang lagi ngehits. Sate ini dibakar langsung saat kita memesannya. Pembakarannya pun unik, menggunakan api bawah (kompor) dan api atas yang langsung dipantik dari tabung gas kecil. Unik sekali cara masaknya. Makanan ini mungkin ada sekitar 3 atau 4 yang stand dengan menu serupa.

Cao Kelor Pegagan

Mencicipi Cao Kelor Pegagan Bu Fat Yogyakarta
Mencicipi Cao Kelor Pegagan Bu Fat Yogyakarta

Beberapa langkah dari stand Sate Cumi ada produk minuman yang juga cukup unik dan tradisional. Cao kelor Pegagan. Namanya Mbak Shita, penjual minuman sehat ini mengaku sudah sekitar 2 tahunan menjalani bisnis itu. Bisnis yang dijalankan melalui kolaborasi dengan Bu Fat sebagai formulator ini melayani pesanan-pesanan dari ibu-ibu arisan. Juga rutin memasarkannya lewat WA maupun media sosial seperti Instagram.

Cao Daun Kelor dan Daun Pegagan
Cao Daun Kelor dan Daun Pegagan

Selain rasanya yang segar, minuman ini ternyata memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Diantara manfaat daun kelor antara lain,  memiliki kandungan 7 kali vitamin C pada jeruk, 4 kali kandungan calcium pada susu, 4 kali kandungan vitamin A pada wortel, 2 kali kandungan protein dalam susu, serta 3 kali kandungan potasium dalam pisang.

Sedangkan manfaat daun pegagan antara lain: meningkatkan daya ingat dan kecerdasan, mempercepat penyembuhan luka, anti thrombosis, antiseptik dan juga melancarkan peredaran darah.

Ternyata jika kita telusuri lebih dalam, banyak sekali tumbuhan yang bisa kita manfaatkan sebagai bahan makanan atau minuman yang di dalamnya banyak sekali kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita.

Es Jeruk Baby Segar Alami

Jeruk Baby Kaya Serat Anti Sembelit dan Meningkatkan Daya Tahan tubuh
Jeruk Baby Kaya Serat Anti Sembelit dan Meningkatkan Daya Tahan tubuh

Tak jauh dari es Cao Kelor Pegagan, tampak stand minuman lain yang tak kalah segarnya. Es Jeruk Baby Orange Segar Alami. Dari tumpukan butiran jeruk baby terbelah yang segar bisa dibayangkan betapa segar perasan jeruk itu dipadu dengan es batu. Meski cuaca mendung, rupanya es tetap menjadi pilihan untuk menghalau rasa haus yang diakibatkan oleh gerahnya cuaca.

Es Jeruk Baby Orange Segar Alami
Es Jeruk Baby Orange Segar Alami

Pak Indra namanya, mengaku lebih memilih menu minuman ini untuk dijual karena cara menyajikannya simpel dan banyak dicari pembeli. Minuman 100% air jeruk ini sehat karena tidak ditambahkan gula sedikitpun. Bapak ini mengaku sudah mengikuti kegiatan pameran semacam ini sejak 5 tahun yang lalu. Bahkan tak hanya dalam kota Jogja saja, beberapa kali mengikuti pameran serupa di Purwokerto, Wonosobo, Salatiga dan Kebumen.

Tentang jeruk baby ini sebenarnya memang tak asing lagi. Selain rasanya yang segar, manfaatnya untuk kesehatan juga sudah lama saya buktikan. Kandungan vitamin C-nya memang tinggi. Jadi untuk meningkatkan daya tahan tubuh kerap kali saya perlukan saat anggota keluarga sedang menderita flu atau batuk. Abiyyu, anak kedua saya, setiap muncul gejala awal flu langsung saya boom dengan perasan jeruk baby minimal sehari 2 kali. Alhamdulillah gejala flu tak jadi memberat dan seringnya malah langsung hilang dan tidak jadi jatuh sakit.

Selain meningkatkan daya tahan tubuh jeruk baby ini juga banyak mengandung serat yang dibutuhkan untuk melancarkan BAB. Terkait pengalaman ini saya pun telah membuktikannya semenjak Aishya, anak bungsu saya berusia 8 bulan. Semenjak konsumsi makanan pendamping ASI pola defekasi Aishya menjadi keras dan sulit keluar. Saat itu saya disarankan oleh ahli gizi untuk memberikan jeruk baby itu sehari 2 kali. Alhamdulillah semenjak itu BAB-nya lancar dan hingga kini masih dipertahankan untuk mengkonsumsi perasan air jeruk baby ini sehari 2 kali.

Ada banyak lagi makanan dan minuman lain di bazzar produk itu. Mides Pundong, sosis bakar, takoyaki, nasi kuning dan aneka jajan lain yang bergizi dengan harga yang terjangkau.

Selain produk makanan dan minuman, bazzar ini juga menyajikan stand craft dan fashion lokal dari Yogayakarta. Diantara produk craft itu ada batik, tas, juga aneka pernak-pernik hiasan maupun souvenir produk lokal Yogyakarta.

Tentang UMKM dan PLUT-KUMKM Selaku Rumah Bersama dan Pendamping Bersama

Ramainya pengunjung Gelar Produk Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta
Ramainya pengunjung Gelar Produk Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta

Sebagai masyarakat, setiap hari pasti kita berinteraksi dengan pelaku bisnis UMKM, baik untuk membeli produknya atau hanya sekadar melihat sibuknya transaksi mereka di setiap ruas jalan. Dari pengamatan saya, di era modern seperti sekarang ini dunia UMKM memang mulai menggeliat. Dari yang awalnya remeh menjadi sangat bergengsi. Zaman sekarang mahasiswa lebih banyak yang sudah aktif dalam menjalani bisnis. Setidaknya setelah lulus nanti tinggal melanjutkan bisnisnya dengan lebih bisa mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat di bangku kuliah untuk semakin menumbuhkembangkan bisnisnya yang sudah dirintis sejak awal.

Interaksi antusias antara peserta dengan pengunjung pameran gelar produk UKM makanan minuman craft dan fashion istimewa yogyakarta
Interaksi antusias antara peserta dengan pengunjung pameran gelar produk UKM makanan minuman craft dan fashion istimewa yogyakarta

Kemajuan UMKM terutama di Yogyakarta tentu saja tak jauh dari peran serta pemerintah yang aktif mendukung kegiatan UMKM di seluruh pelosok Yogyakarta. Para pelaku UMKM didampingi langsung oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta melalui PLUT-KUMKM DI Yogyakarta. Salah satu bentuk support juga dukungan dari PLUT Jogja kepada UMKM adalah kegiatan Gelar Produk UKM di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan ini yang berlangsung 2 hari mulai tanggal 30 April hingga 1 Mei 2019 pukul 09.00 s/d 16.oo WIB. Jadi masih ada waktu hingga nanti sore. Yuk, ramaikan acaranya. Selain menemukan inspirasi bisnis, kita juga mengajari anak untuk langsung belajar bertransaksi jual beli di sana.

Belajar bertransaksi di Bazzar Makanan Gelar Produk Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta
Belajar bertransaksi di Bazzar Makanan Gelar Produk Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta

Sejalan dengan motto “Melayani Mendampingi Memberi Solusi” PLUT-KUMKM DI Yogyakarta memberikan layanan kepada pelaku bisnis di Yogyakarta secara gratis. Diantara layanan tersebut adalah:

  1. Konsultasi Bisnis KUMKM
  2. Pendampingan / Mentoring BIsnis
  3. Fasilitas Akses Pembiayaan
  4. Pemasaran dan Promosi
  5. Pelatihan Bisnis
  6. Networking
  7. Layanan Pustaka Entrepreuner

PLUT-KUMKM DI Yogyakarta sebagai Rumah Bersama dan Pendamping UMKM siap wujudkan UMKM naik kelas. Dengan pendampingan, support serta berbagai pelatihan bisnis mulai dari pemasaran, pengembangan desain, juga packaging bagi para pelaku UMKM, saya yakin hal ini akan semakin menjamin dan memperkuat perekonomian Indonesia ke depan.

Kamu punya bisnis apa? Segera daftarkan ke PLUT-KUMKM DI Yogyakarta yang beralamatkan di Jalan HOS Cokroaminoto 162 Yogyakarta Telp (0274)552149. Mari maju bersama, semaikan bisnis kita mulai dari kecil hingga nanti bisa menjadi bisnis raksasa  untuk anak cucu kita.

Berkeliling di Bazar Gelar Produk Pelaku Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta
Berkeliling di Bazar Gelar Produk Pelaku Makanan Minuman Craft dan Fashion Istimewa Yogyakarta

Salam,

-Eka Wahyuni-

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba blog Gelar Produk UKM Pelaku Makanan, Minuman, Craft dan Fashion Istimewa yang diadakan oleh PLUT-KUMKM DI Yogyakarta*

Sumber tulisan:

  • Wawancara langsung dengan pelaku usaha
  • Web PLUT-KUMKM DI Yogyakarta

Melanjutkan Pendidikan Di Kota Makassar? Ini Hal Yang Perlu Kamu Tahu!

Melanjutkan pendidikan dikota makassar ? ini hal yang perlu kamu tahu…

Dari pelajar menjadi seorang mahasiswa, perubahan status baru yang tentu akan merubah kebiasaan kamu. Sebelumnya kamu terbiasa dengan apapun sudah dipersiapkan, namun saat menyandang status mahasiswa kamu harus siap untuk hidup mandiri. Tinggal di perantauan jauh dari keluarga tentu butuh untuk beradaptasi. Menjadi seorang perantau yang tinggal di kota lain yang sebelumnya belum pernah dialami memang akan terkesan asing dan bingung tentunya.

Tidak mengenal arah mana saja hanya mengandalkan maps, tak tau referensi tempat makan yang enak dan murah, serta tak tau seperti apa lingkungan di sana sudah pasti dialami setiap perantau. Belum lagi, kamu menemui hal aneh yang belum pernah kamu temui sebelumnya.

Modern saat ini merantau nampaknya sudah menjadi hal yang wajar bagi semua orang. Apalagi untuk menempuh pendidikan yang lebih baik dan maju dari daerah ke kota. Tak diharuskan juga merantau ke luar negeri, karena masih banyak universitas ternama yang bagus di Indonesia. Oleh itu masih banyak masyarakat yang memilih negaranya sendiri untuk menempuh pendidikan yang lebih baik. Banyak kota besar yang sangat maju dan tak kalah dengan negara lain soal pendidikannya.

Salah satunya adalah Kota Makassar yang sedang gencar dengan pembangunan infrastrukturnya. Diantaranya yang nampak adalah pembangunan Smart City Infrastucture, penanggulangan bencana dan tata kotanya. Yaitu pemasangan kamera CCTV di lokasi strategis kota Makassar yang langsung terkoneksi dengan War Room atau pusat kontrol sampai penanggulangan bencana. Kemudian didukung oleh perkembangan wisatanya yang menarik para wisatawan untuk datang kesini. Atas kemajuan inilah, banyak orang yang merantau ke kota ini.

Saat kamu akan merantau ke kota Makassar, pastikan terlebih dahulu kamu sudah mendapatkan kost atau belum. Karena hal ini sangat penting bagi seorang perantau. Tak mungkin juga kamu sudah sampai di Makassar namun kamu bingung akan tinggal dimana. Oleh karena itu carilah referensi kost yang ada di Makassar melalui aplikasi mamikos. Kamu bisa download aplikasi mamikos melalui playstore atau appstore. Data yang tertampil di mamikos akan selalu terupdate sehingga kamu nyaman untuk mencari informasinya. Kost makassar bisa kamu dapatkan dari standart hingga exclusif.

Sebelum merantau, kamu butuh beberapa persiapan agar merantaumu nyaman dan mengesankan. Berikut beberapa hal yang perlu kamu persiapkan :

Siapkan Mental

Keberanian menjadi modal awal seorang perantau. Tanpa keberanian yang kuat kamu akan selalu dibayangi dengan rasa ragu dan takut untuk meninggalkan kampung halaman.

Saat kamu sudah yakin dengan keberanianmu, percayalah merantaumu akan lebih nyaman dan mengesankan.

Berhemat

Hidup berhemat tentu wajib bagi semua orang. Namun, terlebihnya untuk perantau karena memang jauh dari keluarga. Kamu harus tau diri saat menjaga pengeluaranmu, jangan gunakan uang sakumu untuk hal yang tak penting atau sekedar berhura-hura.

Pola hidup yang hemat akan memberikan ketenangan bagi setiap orang melakukannya. Dan lebih baiknya lagi sisihkan uang sakumu untuk menabung. Hal ini sangat dibutuhkan, kamu tak akan pernah tahu tiba-tiba ada kebutuhan mendadak yang harus segera kamu bayarkan.

Belajar Membuka Diri

Menjadi seorang pendiam tentu akan lebih tertutup dari orang lain. Saat kamu menjadi perantau cobalah untuk belajar membuka diri. Mengapa? Merantau tanpa keluarga, tentu kamu butuh orang lain.

Tak mungkin selama kamu merantau, kamu akan makan sendiri, pergi sendiri hingga kamu mempunyai masalah. Pasti kamu butuh teman untuk bisa berbagi cerita.

Bersikaplah Ramah dan Sopan

Menjadi orang baru, kamu tentu harus bisa belajar bersikap ramah dan sopan. Dengan sikap tersebut tentu orang lain akan menghargai kamu pula.

Jangan sampai kamu menjadi orang yang angkuh saat merantau, ingatlah kamu sedang di kota orang jadi bersikaplah ramah dan sopan agar kamu tidak terkucilkan.

 

TAS BOLA BATHOK KELAPA GOES TO JAMAICA? JOGJA MEMANG GUDANGNYA KREATIFITAS ANAK BANGSA

TAS BOLA BATHOK GOES TO JAMAICA? JOGJA MEMANG GUDANGNYA KREATIFITAS!

“Pak, ini serius semua bahan bakunya dari bathok kelapa?” Saya masih tercengang dengan apa yang kulihat. Sejumlah tas cantik berwarna cokelat tua dengan beberapa titik kombinasi warna krem cenderung putih semakin menambah aksen unik dan etnis.

Bapak berpostur ideal menyunggingkan senyum seraya mengangguk membenarkan pertanyaanku. Bapak yang kemudian kuketahui sebagai owner dari sebuah perusahaan kerajinan bernama “Yanti Bathok and Craft” itu dengan cekatan menjelaskan tanpa diminta.

“Betul sekali, Mbak! Ini semua dari bathok kelapa, tas jinjing, tas selempang, dompet, tas bola, sabuk, teko beserta seperangkat cangkir juga terbuat dari batok kelapa kecil.” Laki-laki yang kemudian kuketahui namanya Pak Ahyani itu dengan runtut menjelaskan.

Penampakan tas bola berbahan bathok yang berhasil goes to Jamaica
(doc. pribadi)

Dari caranya menjelaskan saya bisa menebak bahwa, beliau sudah profesional dalam dunia craft lengkap beserta teknik marketing maupun manajemen perusahaannya.

Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Replika unta dan anak-anak di Pyramid Bantul Yogyakarta (doc. pri)

Aku melangkah menaiki anak tangga satu per satu menuju ruangan utama diadakannya acara gelar Produk Craft & Fashion Istimewa. Replika unta terihat di kanan dan kiri tangga seolah menyambut para pengunjung untuk berada dalam suasana yang tenang dan santai. Ya, replika ini melengkapi atmosfer Pyramid menjadi semakin tradisional dan bersahaja.  Mengajak pengunjung untuk pelan-pelan menikmati setiap keistimewaan produk unggulan daerah Yogyakarta yang ditawarkan.

Acara yang digelar di halaman Pyramid Museum History of Java ini diprakarsai oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Sebagai bentuk kepedulian, pendampingan dan pembinaan terpadu kepada para pelaku UKM guna mendukung perkembangan dunia usaha di kalangan masyarakat, mulai dari usaha mikro, kecil hingga usaha menengah. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mendukung tingkat kreatifitas yang harus bisa bersinergi dengan aneka kemajuan teknologi yang semakin cangggih di era revolusi industri 4.0 yang akan kita hadapi.

Mendekati panggung utama, saat itu sedang ada pemaparan materi mengenai Product packaging. Para pelaku usaha tampak antusias memenuhi kursi yang tepat berada di depan panggung utama. Diskusi dan sharing pengalaman begitu seru, terlihat dari komunikasi dua arah antara pemateri dengan para audiens yang mayoritas dari anggota pelaku usaha yang ikut serta meramaikan acara pameran itu.

Bu Yanti adalah salah satu peserta yang aktif bertanya maupun menjawab berbagai pertanyaan terkait dengan packaging. Benar saja, rupanya beliau adalah istri Pak Ahmadi, owner “Yanti Bathok & Craft” yang stand pamerannya berada tepat di sebelah selatan dari deretan kursi di depan panggung.

Pak Ahyani, owner Yanti Bathok and Craft Yogyakarta, tampak sedang berbincang dengan salah satu pengunjung. (doc. pribadi)

Sempat mengikuti beberapa menit, dapat saya simpulkan bahwa materi yang disampaikan oleh anak muda supel yang berbicara di depan, semata untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produk dengan cara pengemasan produk barang yang aman dan menarik.

Ruangan itu luas dan adem, cukup memberikan kenyamanan di tengah pajangan aneka kecantikan produk lokal baik bentuk kerajinan maupun fashion.

Rasanya tak sabar ingin membahas satu per satu produk asli masyarakat Yogyakarta yang mendadak begitu aku kagumi ini. Kita mulai dari kerajinan, ya:

  1. Yanti Bathok and Craft

Stand ini begitu mencolok dan menarik kakiku untuk memilihnya menjadi tujuan pertama. Bukan karena paling dekat, tapi pajangan tas uniknya mengingatkan pada suatu masa di mana saya pernah berjualan tas serupa berbahan dasar bathok kelapa. Bedanya, jika dulu bathok itu disusun dalam potongan ukuran besar sekarang justru ukuran kepingan bathoknya begitu mungil dan rumit. Sampai-sampai saya harus memastikannya bahwa benar itu terbuat dari untaian kepingan bathok berukuran diameter 0.6 cm. Ukuran yang begitu kecil dan membutuhkan kerumitan lebih, namun menghasilkan produk yang lebih elegan dan detail.

Motif rumit dan mungil dari kepingan bathok kelapa yang tersusun dalam bentuk sebuah tas wanita yang cantik.
(doc.pribadi)
Tas dompet wanita two in one tampak dari samping. (doc.pribadi)

Menurut penuturan Pak Ahyani, usahanya sudah dimulai semenjak tahun 2002. Namun, seperti usaha lainnya di area Bantul, Yanti Bathok yang waktu itu masih dalam bentuk badan usaha CV mengalami kerugian besar terkena dampak gempa tektonik yang melanda Bantul dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006.

Ingatanku melayang di tahun yang sama. Memang, saat itu pusat kerajinan yang berada di desa Kasongan semuanya luluh lantak, rata dengan tanah. Semua perabotan tertimbun bangunan rumah yang menyisakan rentetan genteng yang berbaris rapi namun merebah seluruhnya mendekat ke bumi.

Efek gempa sempat membuat UKM yang awalnya hanya memproduksi kancing baju bathok ini mengalami vakum sekian tahun. Hingga akhirnya pada tahun 2012 Yanti Bathok & Craft ditata kembali. Berbenah mulai dari mengerucutkan bentuk usaha menjadi perorangan, Pak Ahyani mengelolanya bersama istri. Ia menambah kreasi produksi tak hanya kancing baju etnis, namun merambah ke kerajinan tas bathhok dan aneka pernak-pernik asesoris yang mampu mempercantik ruang tamu hingga dapur.

Produk termurah yang diproduksi adalah souvenir berupa gantungan kunci cantik dari bathok dalam aneka bentuk lucu dengan finishing menggunakan vernis. Untuk sebuah gantungan kunci mereka membanderolnya dengan harga mulai Rp 2.000,-. Sedangkan produk tas bathok mulai dari harga Rp 200.000,- hingga Rp 350.000,-

Aku bergeser ke bagian kiri meja display. Di sana ada 3 buah tas yang menurutku paling unik. Berbentuk bola dengan bagian tengahnya terpasang resleting untuk membuka tutup tas bola tersebut sehingga mampu menyimpan benda-benda pribadi cukup aman. Bathok separuh utuh itu dihiasi gambar bunga cantik yang semakin membuatnya nyeni.

Indahnya tas bathok bola dari Jogja goes to Jamaica (doc.pribadi)

“Nah, tas itu (saya menyebutnya tas bola, karena memang bentuknya bulat seperti bola) yang paling banyak peminatnya dari luar negeri,” ujar Bapak itu kalem.

“Wow! Luar negeri? Kirim ke mana, Pak?” tanyaku tak bisa sedikit pun menyembunyikan kekagumanku pada sosok yang bersahaja itu.

“Jamaica,” senyum bangganya terlihat begitu kentara.

Luar biasa, sekelas bathok, limbahnya kelapa, saat mendapatkan sentuhan cinta orang-orang kreatif, mampu melipatgandakan nasib baik hingga tak disangka mendapat cinta dari penduduk yang bahkan letak negaranya dalam peta dunia pun entah di mana.

Seolah tak ada habisnya, Pak Ahyani pun terus saja melanjutkan ceritanya tentang perjuangannya mengalami jatuh bangun hingga akhirnya sekarang memetik buah kegigihanya bersama istri.

Orderan tas serupa untuk dikirim ke Jamaica mampu mengisi agenda ekspedisi bahkan dengan frekuensi 3-4 kali pengiriman per bulan.

Selain Jamaica, tas etnis berbahan bathok itu juga pernah satu kali dikirim ke Republik Dominica, namun hingga saat ini belum ada permintaan lagi dari sana.

Tak menyurutkan semangat, karena selain menjual produk, Pak Ahyani dan Bu Yanti juga sering diundang untuk mengisi pelatihan dari berbagai kota maupun daerah mulai dari Sabang hingga Biak, belum Merauke, lanjutnya.

Selain mengisi pelatihan, pasangan suami istri itu juga aktif ikut serta dalam setiap pameran yang diadakan oleh dinas setempat maupun daerah lain. Bahkan sekali waktu, Bu Yanti pernah mengikuti pameran kerajinan di Belanda. Wow!

Menurutnya lagi, bahan baku bathok UKM tersebut sudah mempunyai supplier sendiri dengan kriteria bathok yang tak terlalu rumit. Untuk membuat aneka kerajinan bathok tersebut bisa menggunakan bathok kelapa tua berwarna coklat tua yang bisa langsung diproses, maupun bathok kelapa yang masih putih yang prosesnya mengharuskannya dijemur dahulu hingga kering baru kemudian diproses cetak menggunakan mesin semacam mesin bubut.

Warna coklat tua dan putih disusun sedemikian rupa sehingga saling memberi kombinasi warna yang semakin cantik. Sedangkan limbahnya berupa serpihan bathok, dimanfaatkan untuk dibuat briket arang sebagai bahan bakar.

Kartu nama Yanti Bathok and Craft Yogyakarta (doc. pribadi)

Belakangan, pasangan suami istri ini juga mulai mengembangkan kreasinya tak hanya produk bathok saja, namun segala bentuk produk kelapa mulai dari sabut kelapa hingga akarnya, agar mendapat nilai tambah. Mereka juga berharap bisa menularkan ilmu kreasi tersebut kepada seluruh warga di Indonesia. Biarlah rejeki Allah yang mengatur, yang penting ilmu yang dibagi bisa memberi manfaat dan juga menambah saudara dari berbagai kepulauan Indonesia, pungkasnya.

Aamiin, Pak! Semoga Allah ijabah, ya Pak! Niat bapak mengentaskan banyak masyarakat dengan cara yang indah. Pertahankan selalu dan tingkatkan kreatifitas tanpa batas!

  1. Decoupage Pandan
Mbak Asri dengan aneka produk decoupage anyaman daun pandan andalannya. (doc.pribadi)

Perempuan berjilbab ungu itu lincah memindahkan tas. Namanya Mbak Asri. Dia menuturkan bahwa menggeluti dunia usaha kerajinan tas hampir satu tahun ini. Namun, bukan lagi tas berbahan bathok. Kali ini tas berbahan daun pandan yang dianyam kemudian diberi sentuhan bermacam ornamen gambar floral warna-warni.

Awalnya saya mengira gambar bunga merah mekar dan dedaunan hijau pupus itu adalah sebuah lukisan yang diaplikasikan untuk mempercantik pandan kering yang warnanya putih tulang itu.

Rupanya, itu bukanlah lukisan seperti yang kukira.

“Bukan, itu bukan lukisan, Mbak. Itu adalah gambar motif dari sebuah tissue decoupage yang ditempelkan ke anyaman daun pandan kering (bisa kayu, dauh kering, plastik atau bahan lainnya) kemudian dilem dan diproses deco,” jelas mbak Asri.

“Oh, ya?” aku hanya melongo. “Tempelan tissue?” sekali lagi kupastikan.

Mbak Asri mengangguk tersenyum. Kedua tangannya sibuk mencari sesuatu di layar gawai berwarna putih di tangannya.

“Ini loh, Mbak!” ujarnya menunjukkan sesuatu. Anganku melayang menuju ke suatu peristiwa di mana aku menyaksikan embak-embak yang sedang mempraktekkan teknik decoupage step by step di layar kaca.

“Oh, I see. Masya Allah, bagus banget, Mbak!” pungkasku.

Rupanya Mbak berperawakan tinggi itu mendapatkan semua idenya dari internet. Selain anyaman pandan, proses deco juga dia lakukan pada telenan kayu, botol dan lainnya.

Teknik decoupage pada botol (doc.pribadi)

Mbak Asri membuka usaha ini sejak hampir setahun ini. Meski mengandalkan pemasaran via online dan offline, namun menurut dia pasaran yang lebih menjanjikan justru yang via online.

“Pernah, waktu itu kita mengirimkan orderan ke Papua. Ya, sementara jarak terjauh pemasaran kami memang Papua, belum sampai tahap internasional.” Mbak Astri menjelaskan tanpa keraguan sedikit pun mengenai kualitas yang kini sudah menembus pasar nasional itu.

Kedua matanya optimis. Dara asal Bantul itu mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memfasilitasi daya kreatifitasnya yang mampu menghasilkan sebuah karya, memperkaya sumber daya manusia, juga membuka peluang kerja bagi sekitarnya.

Tak hanya belajar dari internet, usahanya juga dia kembangkan terus melalui pembinaan langsung dari dinas koperasi dan UKM DI Yogyakarta. Berbagai pelatihan yang diadakan oleh dinas tersebut kerap diikutinya. Pelatihan packaging, pelatihan marketing dan juga pelatihan lain yang mendukung berkembangnya usaha-usaha kecil menengah di area DIY.

Dengan aktif berkomunitas yang positif, juga mengikuti berbagai kegiatan, saya pikir tak menunggu lama usaha semacam decoupage tas anyaman pandan ini bisa menembus pasar internasional, semoga!

Kartu nama Asri Pamungkas, decoupage Jogja (doc.pribadi)

Mbak Asri Pamungkas, yang menamai akun facebooknya sama dengan nama lengkapnya dan menandai akun instagramnya dengan nama Gias_olshop membuka stand-nya di Museum Pyramid, jalan Parangtritis, Bantul Yogyakarta.

  1. Kain Jumputan [Bukan] Batik
Kain jumputan dengan pewarnaan alami yang indah (doc.pribadi)

Tepat bersebelahan meja dengan tas pandan. Saya hanya butuh bergeser beberapa langkah saja menuju meja penuh dengan kain berwarna cokelat lembut dengan aneka motif apik itu. Tentu saja, sebagai wanita, saya langsung tertarik dengan kain [bukan] batik jumputan itu.

“Oh, bukan! Ini bukan batik Mbak, kalau batik kan harus melibatkan canting dan malam yang menutupi sebagian permukaan kainnya, baru kemudian diberi warna. Ini namanya kain jumputan,” ibu berkaca mata menjelaskan sambil terus tersenyum.

“Ramah banget, ibu ini!” batin saya.

Keramahan ibu yang bernama Supadmi ini membuatku ingin bertanya lebih mengenai kain indah elegan yang tersampir di beberapa papan display di sampingnya.

“Bu, boleh diceritakan proses pembuatannya?” pinta saya dengan senyum tak kalah manis.

Rupanya saat dua perempuan bertemu membahas sesuatu yang indah pasti akan berujung seru. Beliau mengangguk sambil tangannya mengambil kain jumputan berwarna kuning terang.

“Kalau yang ini pewarnanya sintesis.  Bedanya dengan yang pewarna alami adalah dari hasil pewarnaannya. Kalau sintetis warna yang dihasilkan akan terang dan genjreng, namun pewarna alami dari daun-daun akan menghasilkan warna yang lebih pudar dan kalem, seperti ini!” Bu Supadmi mengambil satu lembar kain berwarna cokelat lembut bermotif bulat dengan tepi bertajuk.

“Wow, masya Allah, ini indah banget, Bu! Manis! Bagus banget dibuat gamis atau rok,” saya meraih kain yang sedang dipegang owner kain jumputan itu dengan hati-hati. Kainnya lembut, cukup tebal untuk membuat sebuah gamis terusan atau atasan bahkan dibuat rok. Kainnya halus dan lembut, juga tidak panas saat dipakai.

Kain jumputan dengan pewarnaan alami menjuntai indah pada papan display di belakang stand (doc.pribadi)

Meski dibanderol antara 200 ribu hingga 350 ribu per lembar, menurut ibu berkaos putih itu kain jumputan warna alami lebih diminati oleh masyarakat. Pewarnaan alami biasanya menggunakan daun Jati, Jambal, Jolawe, Mahoni, Secang, juga daun Mangga dan Alpukat.

Masing-masing daun menghasilkan warna yang berbeda. Untuk warna cenderung merah Bu Supadmi menggunakan daun jati dan secang. Sedang untuk warna coklat bisa menggunakan daun mahoni dan lainnya.

Pewarnaan alami menggunakan daun juga membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pewarna sintetis. Jika pewarna sintetis hanya membutuhkan satu kali proses mewarnai, pewarnaan alami kain jumputan bisa sampai lima kali proses pewarnaan untuk mendapatkan warna yang lebih pekat.

Kain Jumputan yang telah diwarnai dengan pewarna sintetis dan masih dalam keadaan penuh ikatan tali rafia (doc.pribadi)
Ikatan jumputan dari dekat (doc.pribadi)

Sambil mengambil kain berwarna hijau yang masih banyak terdapat ikatan di sana-sini, Bu Padmi menjelaskan beberapa langkah pembuatan kain jumputan secara lengkap dan runtut.

Jadi langkah-langkah membuat kain jumputan antara lain:

  1. Pembuatan pola sesuai yang diinginkan
  2. Pengikatan kain di titik-titik pola menggunakan tali raffia
  3. Pewarnaan dengan cara direbus menggunakan air yang dicampur dengan pewarna baik sintetis atau tumbukan daun
  4. Mengunci warna dengan tunjung dan tawas
  5. Mencuci kain yang sudah terwarnai
  6. Menjemur kain hingga kering tidak di bawah panas matahari langsung
  7. Membuka ikatan tali raffia, dan
  8. Kain indah dengan motif warna aneka bentuk pola sudah kita dapatkan.

Seperti pelaku usaha lain, Bu Padmi juga kerap mengikuti pameran yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM  juga pembinaan dan pendampingan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta secara periodik.

Usaha yang dinamai dengan Mekar Abadi ini terus dikembangkannya sejak tahun 2017 hingga sekarang. Selain memproduksi kain jumputan yang langsung dijual, Bu Padmi juga membuka kelas-kelas pelatihan untuk masyarakat yang ingin bisa membuat kain jumputan tersebut. Pelatihan ini dapat diikuti mulai dengan biaya Rp 50.000,- per orang dengan minimal 25-30 orang per kelas, atau dengan pelatihan privat dengan biaya sekitar 400 ribu – 450 ribu rupiah untuk beberapa teknik jumputan yang akan diajarkan.

Kartu nama Mekar Abadi Jumputan Yogyakarta (doc.pribadi)
Kain jumputan dengan pewarna sintetis.
Kuning: baru saja dilepas dari ikatan tali rafia
Hijau: Masih lengkap dengan tali-tali rafia yang kuat mengikat pola (doc.pribadi)

Duh, jadi pengin ikuti kelasnya nih! Perempuan kalau lihat yang indah-indah memang suka nggak tahan untuk memilikinya. Memiliki ilmu membuat kain jumputan kayaknya menyenangkan, ya! Bisa membuat berbagai motif sesuka hati kita!

Tak hanya kaum muda saja, saat orang yang lebih berusia namun semangat mencari ilmu dan kreatifitas terus dijaga, maka hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Semangat ya, Embak, ibu, Bapak!

Menggeliatnya usaha kecil menengah di tengah masyarakat Yogyakarta yang sangat kita rasakan tidak jauh dari hasil kerja kolaborasi antara pemerintah melalui Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta, PLUT-KUMKM DI Yogyakarta dan juga antusiasme masyarakat untuk bersinergi mengembangkan kreatifitas karya yang kelak akan berhasil eksis di pasar global. Semoga kegiatan positif semacam akan terus diupayakandan mendapat respon yang semakin antusias dari masyarakat. Sehingga akan menghasilkan masyarakat industri yang mandiri dan berkualitas, yang siap untuk ikut berkompetisi di pasar dunia. Insya Allah!

Jogja memang gudangnya kreatifitas!

Pyramid Museum History of Java
Jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta
(doc.pribadi)

Alhamdulillah, sesorean mengunjungi acara Gelar Produk Craft & Fashion di halaman Pyramid Museum History of Java yang berlokasi di jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta pada tanggal 22-23  Maret 2019 ini, membuka mata saya akan pentingnya terus berupaya mengembangkan potensi diri memperkaya kreatifitas yang akan semakin membuat kita berkualitas. Bermanfaat di masyarakat juga bentuk mensyukuri atas diciptakannya kita sebagai manusia yang kaya akal oleh Allah Tuhan Yang Maha Menciptakan segala sesuatu.

JELANG RAMADHAN IBIS MALIOBORO HOTEL LAUNCHING TIGA MENU BARU ISTIMEWA

Breakfast di hotel bersama mama juga bapak serta suami dan anak-anak, dulu kukira hanya bisa dinikmati kalau kita menginap di hotel tersebut. Keterbatasan informasi ini rupanya yang membuatku menutup kemungkinan sepele yang bagiku adalah impian besar. Mama dan bapak adalah orang pertama yang menurutku harus ikut merasakan bahagianya bisa menikmati fasilitas istimewa yang pernah kurasakan. Gimana tidak? Hotel merupakan tempat mewah yang  belum pernah sekalipun kita masuki sebelumnya. Apalagi menginap, bahkan hanya makan di hotel pun kami hampir tidak pernah.

Tidak salah jika hal itu menjadi agenda yang luar biasa yang bisa dirasakan oleh orang kampung sepertiku. Berkat sekolah tinggi yang diperjuangkan merekalah aku bisa mengikuti seminar-seminar di hotel berikut fasilitas restoran yang semenjak kecil belum pernah kulihat.

“Ma, nanti sore kita buka bersama di hotel ini, ya! Siap-siap lebih awal, jam 17.00 WIB sudah harus berangkat dari rumah, ajak bapak dan adik-adik sekalian,” pesan itu kukirim via whatsapp.

Bayangan wajah mama melintas begitu saja saat sebuah iklan baliho yang menawarkan paket bukber (buka bersama) all you can eat di sebuah hotel.

“Alhamdulillah, iya, Mbak!” balasan itu segera kuterima tak sampai satu menit.

Mama memang selalu memanggilku Mbak, sebutan untuk memanggilkan adek-adekku yang berjumlah 5 orang. Keterusan, bahkan saat kami hanya berdua saja, panggilan itu tetap akrab di telingaku. Menurut mama, memanggilku ‘mbak’ merupakan bentuk sayangnya ke anak pertamanya. Aku dan mama begitu dekat dan akrab, meski terkadang berbagai pertengkaran kecil tak luput dari kami. Pertengkaran yang selalu membuat kami semakin dekat, hingga setiap kali aku pulang liburan kuliah, tidak ada malam yang kami lewati dengan tidak menghabiskan waktu untuk ngobrol membicarakan segala hal.

Mama yang masakan oseng nangka mudanya selalu kurindu, yang setiap pulang tidak pernah absen dari meja makan.

“Mbak, ternyata bapak nanti malam kejadwal ngisi kultum di masjid, jadi kayaknya nggak bisa sore ini deh buka bersamanya, gimana? Dijadwal ulang lagi aja, ya!” pintanya. Ada sedikit nada sesal di pesan itu.

Hampir saja aku memesan tempat di hotel yang namanya masih terngiang setelah aku tak sengaja membaca iklan buka bersama di perempatan jalan yang baru saja kulalui. Ah Mama, sulitnya pengin bahagiain mama.

“Ya udah, Ma. Engggak apa-apa, besok insyaallah masih bisa kita atur jadwal lagi, semoga Allah beri rejeki waktu, aamiin.” Aku membalasnya dengan sedikit rasa kecewa.

***

Jelang Ramadhan, all you can eat package Jadi Primadona

Bukber, singkatan dari buka bersama, merupakan tradisi baru di Jogja yang mulai rame diadakan semenjak beberapa tahun belakangan ini. Semua hotel berlomba-lomba menawarkan berbagai menu istimewa all you can eat dengan masing-masing keunggulan dan harga yang bersaing.

Selain tempat strategis, harga yang kompetitif untuk menu andalan juga menjadi daya tarik yang ditawarkan dan memberi iming-iming tersendiri. Rata-rata orang-orang akan memilihnya dalam rangka merayakan hari istimewa berpuasa di bulan Ramadhan bersama orang-orang terkasih. Rekan kerja, sahabat lama, komunitas nongkrong, teman haha hihi atau sekadar reuni dengan teman-teman sekolah yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Momen istimewa ini semakin banyak difasilitasi oleh hampir semua hotel di Jogja.

Ah, sebentar lagi insyaallah bulan Ramadhan kembali menyapa kita. Jauh hari sebelumnya, tepatnya di tanggal 12 Maret 2019, Ibis Malioboro Jogja yang berlokasi tepat di belakang Mal Malioboro, meluncurkan tiga menu baru andalan. Menu tersebut untuk melengkapi menu buffet yang disediakan untuk acara istimewa buka bersama  bulan Ramadhan.

Tiga menu baru yang menurutku istimewa itu dilaunching khusus untuk menyambut bulan Ramadhan tahun ini. Menu-menu tersebut antara lain:

  1. Bebek Manalagi
Bebek Manalagi, ibis Malioboro (Koleksi pribadi)

Dibanderol dengan harga super murah, kita sudah bisa menikmati sepotong bebek goreng gurih dan lembut beserta kremes kriuk, sambal orek dan juga lalapan. Paket lauk ini disajikan dengan segunung nasi putih yang sengaja dibentuk kerucut beratap daun pisang di puncaknya. Wangi daun pisang membuat cita rasa pedesaan yang khas mampu mengobati rindu kita akan nuansa damai alam kampung yang sudah lama ditinggalkan.

Tak hanya itu, dengan harga yang super duper murah tersebut, kita juga sudah tidak perlu memesan lagi minuman untuk menghalau rasa pedas dari sambal orek yang pedasnya level 10 itu. Ada free 1 gelas es teh di setiap satu paket Bebek Manalagi yang kita pesan. Berapakah banderolnya? Kamu hanya perlu merogoh saku seharga 65 K untuk sepaket makanan favoritmu ini.

  1. Sandwich Favorito
Sandwich Favorito ibis Malioboro
(koleksi pribadi)

Sandwich, merupakan makanan modern yang memenuhi kebutuhan asupan nutrisi karbohidrat dari setangkep roti, juga protein dari daging dan bermacam vitamin dari aneka sayuran mentah yang dilapiskan di dalamnya. Semakin gurih dan enak lagi dengan guyuran saus mayonais dan juga saus sambal untuk cita rasa pedas gurih. Pada umumnya satu porsi sandwich hanya bisa memenuhi kebutuhan nutrisi (kenyang) untuk satu orang saja.

Hotel ibis Malioboro ini, membuat satu porsi Sandwich Favorito yang bisa penuhi kebutuhan kenyang dua orang. Selain ukurannya yang jumbo dengan aneka isian daging dan sayuran lengkap, paket sandwich ini juga masih berbonus satu porsi French fries / kentang goring gurih yang juga menambah porsi karbohidratmu. Coba tebak berapa harga yang dipasang untuk sepaket sandwich ini! Kamu pasti nggak percaya. Hotel ibis Malioboro hanya mematok 35K untuk sekian banyak makanan yang bisa mengenyangkan dua orang sekaligus. Ajib, kan?

  1. Milky Yuzu
Milky Yuzu ibis Malioboro
(koleksi pribadi)

Setelah dua menu sebelumnya berupa makanan, tak lengkap rasanya kalau tak dengan minuman istimewanya sekaligus. Milky Yuzu, dari namanya mungkin akan terlintas rasa “eneg” bagi yang tidak suka dengan susu. Namun saat melihat dan mencicipi rasanya, siapa yang menyangka kalau minuman ini mengandung susu? Seandainya namanya tak mengandung unsur “milk”nya mungkin tak ada yang tahu kalau minuman ini mengandung susu.

Yes! Milky Yuzu. Milky berarti susu dan Yuzu merupakan Bahasa Jepang yang berarti orange, citrus Mandarin. Perpaduan perasan utuh jeruk Sunkist segar yang dipadu dengan sedikit susu fermentasi, sedikit soda dan beberapa butir es polar akan memberikan kesegaran tropical mulai dari tegukan pertama hingga tetes terakhir. Sama sekali tidak eneg, justru segar dan segera mengobati rasa haus yang melanda tenggorokan saat berpuasa. Satu porsi Milky Yuzu dipatok dengan harga 25K. Kesegaran tropical yang asli ditawarkan ibis Malioboro dalam bentuk segelas Milky Yuzu.

Menu-menu tersebut tentu saja sudah dapat dinikmati di ibis Malioboro semenjak beberapa hari yang lalu di launching. Selain menu baru, banyak juga menu yang telah ada sebelumnya. Salah satu menu istimewa lainnya adalah paket BBQ lengkap mulai dari sosis, jagung, daging ayam, daging sapi, seafood dll. Tak juga mahal untuk sepaket BBQ di balkon ibis kitchen Malioboro, tidak sampai 100K sudah bisa menikmati indahnya sunset ditemani menu BBQ istimewa.

***

“Ma, buka bersamanya jadinya kapan?” sebuah pesan WA yang harusnya kukirim beberapa tahun yang lalu. Tak pernah terketik, hanya terkonsep dalam hati.

Bahkan balasan pesan WA mu masih jelas sekali mampu kubaca. Kekhawatiranmu tentang anak-anakku. Yang katamu waktu itu tak lagi bisa membantu menjagai.

Balasan WA terakhir, yang tak akan pernah lagi bertambah, sebuah pesan hasil dari tarian jari-jarimu yang lincah di layar gawai itu.

Apalagi sekadar buka bersama yang masih beberapa hari di depan mata. Yang dengannya kita sudah merangkai beberapa rencana. Buka bersama itu tak akan pernah lagi tertunai. Engkau lebih dahulu menghadap Allah, bahkan di hari ke 25 menjelang Ramadhan tahun itu datang. Meski, di setiap akhirnya kamu selalu berdoa, “Semoga kita kembali dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.” Seolah dengan doa itu kita meminta Allah untuk memundurkan ajal, entah sampai kapan?

“Doa yang sama yang engkau ulang di setiap akhir Ramadhan, namun betapa pun menyangkal, kita semua akan menemui juga doa terakhir yang kita ucapkan, namun menurut Allah itu bukan yang terbaik buat kita.”

“Allah menjagamu di sana, Ma. Tersenyumlah selalu, karena aku akan terus berusaha selalu mengirim pahala indah buatmu. Allahumaghfir lii wali wali dayya warhamhumma kama rabbayani shasghira, Aamiin!”

 

Kebun Apel Tanpa Nama #part1

Benar-benar menuju puncak! Jalan kecil beraspal itu begitu sempit. Licinnya permukaan yakin bukan karena hujan biasa. Bahkan tanah di area bahu jalan tampak kering, juga rumput-rumput di sekitarnya. Aspal basah ini karena uap yang mengembun.

“Ini terlalu tinggi!” pekikku dalam hati. Telat! Rupanya piranti gawai yang kupegang dan kupercaya sedari tadi menuju ke titik yang salah!

Bukan, bukan Hp nya yang salah, atau celoteh perempuan yang tak pernah bosan mengarahkan kami untuk belok kanan belok kiri, seolah tak pernah kehilangan power hanya karena tak pernah mendapat jeda minum selama menuntun perjalanan kami di tempat asing ini.

Tapi karena ketidakjelasanku sendiri dalam mengetik destinasi yang kupilih. Bermacam pilihan dan beruntung yang ku klik justru alternative judul yang paling umum, “Kebun Apel Batu”

“Harusnya tadi kupilih saja ‘Wisata Petik Apel’ dengan jarak tempuh terdekat saja’” rutukku dalam hati.

Apa pun itu, tak akan mengubah sedikit pun posisi kami di atas puncak pegunungan Batu. Ada sesuatu hal yang akan Allah tampakkan kepadaku, kepada kami berlima! Entah lah apa itu.

Dari posisi duduk, tiba-tiba kurasakan posisi berubah setengah menengadah. Membuatku sama sekali tak kesulitan menghitung derajat kemiringan tanjakan itu. Mendekati 45 derajat!

Tak sempat ungkap khawatir, atau mengandai-andai sesuatu yang membuat jantung berhenti berdetak sesaat.

Hanya bisa merapal doa keras-keras diiringi,  “Allahu akbar! Allahu akbar!” dari mulut mungil anak-anak yang herannya kini tiba-tiba kompak. Tak seperti sepuluh menit sebelumnya yang saling berteriak keras berebut segala sesuatu di sepanjang jalan.

“Pi, kayaknya salah pilih track, deh!” bahkan kalimat itu pun urung kubisikkan perlahan.

Takut mengubah sedikit saja konsentrasinya memainkan gas, kopling juga rem dan kemudi.

Ya Allah begini kah jalan satu-satunya menuju kebun buah apel yang katanya sangat keren buat petualangan anak-anak itu?

Memetik apel, memakan sepuasnya di bawah pohon, juga memanjatnya di tengah gigil kulit yang semakin menciutkan pori-porinya karena suhu yang begitu rendah itu. Ya, katanya dahan pohon apel yang rendah dan kuat itu sangat mudah dijangkau oleh kaki anak-anak yang belum juga jenjang.

Ah, sudahlah! Seandainya masih jauh, aku hanya bisa berharap Allah masih sudi selamatkan kami.

Gimana bisa memilih? ke depan yang buta berapa jarak lagi jauhnya, sedang mau mundur juga sudah terlanjur begitu jauhnya.

Bismillah! Tak terhitung lagi jumlah kelokan tajam disertai tanjakan terjal. Lembabnya udara begitu tajam tercium disaat jendela harus kami turunkan demi mematikan penyejuk udara.

Kekuatan mobil harus dimaksimalkan hanya berkonsentrasi pada keterjalan lajur berwarna hitam mengkilap itu. Kamu tahu? Poster-poster bergambar nenek-nenek bergigi satu dengan wajah berlumur darah lebih menakutkanku ketimbang suara deru mobil bercampur decit roda yang mencengkeram kuat pada licinnya aspal.

Bahkan tanpa tulisan, “Gunakan gigi satu demi keselamatan Anda!” aku pun sudah begitu paham dengan gambar gigi si nenek yang sengaja di highlight.

Lapar terlupa sudah, kebelet pipis? Ah entah ke mana rasa itu. Pandanganku hanya meraba-raba berapa puluh meter ke depan. Masihkah ada gambaran pohon yang menjulang jauh di atas kepala? Yang berarti tanjakan belum lah berakhir? Atau berganti dengan gambaran putih bersih yang bergerak perlahan mengikuti arah angin yang berembus sepoi di atas lembah atau ngarai di sekeliling kami? Awan?

Allahu Rabb! Belum berkurang kewaspadaanku, kami dikagetkan dengan teriakan si bungsu, “Monyeeet!”

Masya Allah! Sekawanan monyet kecil berkerumun di tengah jalan beraspal yang kini melelehkan air di setiap jengkal permukaannya. Monyet-monyet itu celingak celinguk sambil memamerkan gigi geliginya yang putih.

“Tutup jendelaaa!” suamiku berteriak lebih keras. Sontak tanpa sedikit pun minta penjelasan, kututup kaca yang sedari tadi terbuka lebar. Anak-anak juga refleks menutup semua jendela belakang.

“Bundaa! Kenapa? Kenapa ditutup jendelanya? Monyetnya kasihan! Bapak ibunya lagi pergi,” Si bungsu mulai bingung juga sedih. Bukannya monyet itu lucu? Bukannya monyet itu tidak jahat? Dia mencoba mengingat beberapa cerita pengantar tidur yang sering kuperdengarkan. Tentang monyet yang suka pisang, juga tentang singa si raja hutan.

“Pelan, Pi! Minggir ke kanan!” Teriakku tercekat! Kulihat gerombolan monyet itu tak beranjak sedikit pun. Beberapa hanya berjingkrak-jingkrak. Tiba-tiba dari arah berlawanan melaju kencang mobil berwarna hitam, seolah di terjalnya jalan yang turun mengarah ke kami tak sedikit pun rem nya dipijak.

“Awas, Pi!” Teriakku saat sekejap melintas di sebelah monyet-monyet yang kini mulai panik.

-bersambung-

 

PAUD Kemuning, Pembentukan Karakter Sejak Dini Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

Pembentukan Karakter Sejak Dini, Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

  ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11)

Kaki mungil berbalut sepatu kets berwarna pink, berjingkat memilih beberapa bebatuan yang berserak di sepanjang jalan beton di kampung Kemuning. Terik matahari sangat terasa di daerah berbatu itu. Aishya, anak usia tiga tahun dengan rambut pirang itu terpaksa kuajak karena ayahnya sedang berangkat ke Palu untuk menjadi salah satu relawan di sana.

Aishya mencium buah mangga, belajar tentang motorik halus dari alam
(gambar: dok. pribadi)

Berkeliling kampung bersama rombongan Roadshow Kampung Berseri Astra, membuatnya melupakan lelah. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan padanya, Semangatnya mengikuti Roadshow ini tak melemah sedikit pun. Ia hanya tahu semua yang ia temui adalah hal menyenangkan baginya. Menyentuh tanaman Putri malu, melihat sapi memamah rumput, mencium buah mangga yang masih di pohon hanya dengan posisinya berdiri. Adakalanya ia menunjuk jambu air di depan rumah warga, memintaku untuk memetik sekadar untuk melepas keingintahuannya.

Tiba-tiba langkahnya terpaku di depan sebuah bangunan berwarna kuning. Banyak anak seusianya berlarian di sana. Paud Kemuning. Satu-satunya Paud di kampung Kemuning yang menfasilitasi pendidikan anak usia dini bagi anak-anak balita di seluruh pelosok kampung tersebut. Jika biasanya kita mendengar anak yang dititipkan di TPA atau Paud karena ibunya bekerja sebagai karyawan atau pegawai, berbeda dengan Paud ini. Mayoritas, ibu dari anak-anak ini, yang jika lengkap berjumlah 15 orang saja dalam satu sekolahan, adalah petani, atau buruh tani. Beruntung sekali ya, bahkan di pelosok desa sekarang juga digalakkan pendidikan dini untuk menyelamatkan generasi dengan pembentukan karakter yang kuat sebagai pondasi pendidikan anak dijenjang berikutnya.

Salah satu Pilar Program CSR Astra
Gambar: infografis www.healthymomy.com

Pagi belum begitu terang. Namun sepasang kaki kecil sudah harus melangkah menjauh dari pintu rumahnya. Tangan imutnya digandeng oleh ibu yang juga telah bersiap dengan baju kerjanya. Jangan membayangkan baju kerjanya berdasi atau berkemeja, karena kerjanya memang tak di kantoran. Kerjanya di sawah, namun betapa keteguhan hatinya ingin menyamakan anaknya dengan anak-anak lain yang sekolah, agar mengenal kawan, mengenal antre, juga mengenal berbagi itu seperti apa, dapat ia rasakan sejak dini. Meski harus berjalan setiap hari sepanjang 4 km dari rumah, tetap ia lakoni dengan semangat dan bahagia. Rasanya tak ada hal apapun yang lebih berat dari sekadar berjalan setiap hari melewati rute yang sama menuju sekolah sejauh itu.

Karena sekolah dimulai jam 08.00 WIB, maka paling siang jam 06.00 WIB sudah harus bertolak dari rumah menuju sekolah yang berada di pusat kampung. Itu artinya, persiapan pun harus dilakukan jauh sebelum jam keberangkatan. Bu Yeni, Kepala Sekolah PAUD dan TK dengan nama RA. Masyitoh di kampung Kemuning,  menceritakan kisah salah satu warga di kecamatan itu, beberapa tahun yang lalu saat belum ada satu pun motor yang masuk ke sana.

Tangan bu Yeni terus bergerak mengikuti permainan dakon yang ia jalani bersama anak didiknya yang mengenakan jilbab warna merah.

“Dulu, sekolah ini hampir tak layak di sebut sekolah, Bu!” terangnya. Sesekali senyumnya mengembang, merasakan betapa perkembangan yang terjadi selama ini begitu besar. Tak sia-sia ia mendedikasikan sebagian besar waktunya di sekolah itu. Bu Yeni bersama kedua rekannya, Bu Purwanti dan Bu Badriyah, membangun sekolah dengan ikhlas dan bahagia. Berjuang keras agar bisa berkiprah besar dalam membantu mencerdaskan generasi muda Indonesia, meski dari desa paling pelosok dan sukar dijangkau sekali pun.

Tak jarang, karena begitu jauh tempat tinggalnya dari sekolahan, kerap jika pagi diawali dengan hujan deras, maka kegiatan belajar hari itu cukup di rumah masing-masing saja, alias anak-anak diliburkan. Mengingat jika tetap dipaksa berangkat justru akan lebih membahayakan kesehatan anak.

“Semenjak Astra masuk, Alhamdulillah perkembangan kampung ini sangat besar, Bu! Sekolah ini contohnya, dulu sebelum direhab sangat memprihatinkan. Ruangannya rusak, dindingnya reyot, atapnya bocor di sana-sini, juga kursi-kursi siswa belum ada,” lanjutnya. “Juga, sekarang hampit taka da lagi anak PAUD atau TK yang berangkatnya jalan kaki. Karena selain jalan yang sudah bagus, motor pun sudah banyak yang masuk ke kampung. Anak-anak banyak yang diantar naik motor atau naik ojek.” Bu yeni mengakhiri obrolan itu tepat saat tanda jam sekolah berakhir.

(Dulu) Paud & TK Kemuning sebelum direhab oleh Astra
gambar: Kepala Sekolah PAUD &TK RA. Masyitoh
(Kini) Salah satu siswa TK RA. Masyitoh ceria bermain dakon
Gambar: dok. pribadi

Kulihat sekeliling, dinding sudah semi permanen, atap sudah rapi, cat juga cerah berwarna-warni khas sekolah anak-anak balita. Permainan meski sederhana juga sudah lengkap dengan berbagai permainan edukasi seperti puzzle hewan, puzzle tumbuhan, dakon, susun balok dan lain-lain. Meski sederhana, permainan outdoor seperti komedi putar mini, jembatan palet kayu warna-warni nampak menghiasai halaman dan teras PAUD TK RA. Masyitoh Kemuning. Aishya ikut berkerumun di meja kecil berwarna merah di tengah ruangan, rambut poninya sesekali dirapikan saat terbang terknea kipas angin. Ia bersama dengan siswa lain sedang bermain puzzle hewan. Anak itu memang cepat sekali membaur. Gurunya begitu sabar menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sambil sesekali matanya melirik ke arahku, memastikan bunda masih dalam satu lokasi bersamanya.

Bermain Puzzle hewan bersama teman-teman baru
gambar: dok. pribadi

Hebatnya, dengan segala keterbatasan, ternyata PAUD dan TK tersebut cukup berprestasi. Di Antara prestasi yang telah diraih adalah Juara III lomba tahfidz Quran oleh Bu Badriyah, salah satu guru di sana. Juga juara II lomba tari Islami berkelompok. Hal yang semakin membuatku takjub adalah Bu Badriyah, yang kerap menjuarai berbagai lomba tahfidz, ternyata hafal Al Quran. Masya Allah, Bu! Semoga berkah, ya! Mendedikasikan tenaga, waktu dan ilmunya yang mulia di tempat terpencil namun kaya kasih sayang dan semangat ini.

Gunung Kidul dulu dan Kini

Peta Administrasi Gunung Kidul
Sumber:www.gunungkidulkab.go.id

Satu kata tentang Gunung Kidul, tandus! Entah berapa puluh tahun yang lalu kudengar hal itu menjadi trending topik di kota tempatku mencari ilmu ini. Tak ada yang menyangka, hanya selang beberapa tahun dari doktrin yang melekat itu keadaan dibalik oleh Allah.

Sekarang, siapa yang nggak tahu Goa Pindul? Siapa yang nggak kenal Pantai Indrayanti? Air Terjun Sri gethuk? Dan masih banyak lagi destinasi wisata di Gunung Kidul yang hingga kini pengunjungnya semakin meroket. Bahkan tiap akhir pekan, hampir dipastikan akses sepanjang jalan menuju Gunung Kidul selalu dipadati oleh berbagai kendaraan dari berbagai kota. Macet!

Gunung kidul, mengapa diberi nama demikian? Daerah berbatu ini merupakan rangkaian Pegunungan Kapur Selatan yang membentang di selatan Pulau Jawa. Komposisi bebatuan berwarna putih atau sering disebut dengan batu gamping ini menandakan bahwa dahulu kala daerah ini merupakan dasar laut yang mengalami pengangkatan tektonik dan vulkanik. Jadi tak heran jika memang aslinya tempat itu merupakan tempat yang tandus.

Kampung Berseri Astra (KBA)

Logo Kampung Berseri Astra
Gambar: www.satu-indonesia.com

Kemuning, adalah salah satu kampung yang berlokasi di Gunung Kidul. Tepatnya di Desa Bunder Kecamatan Patuk. Kampung ini terpilih menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) yang merupakan salah satu dari 76 kampung bagian Corporate Social Responsibility (CSR) di seluruh Indonesia. Kenapa kampung ini terpilih? Jadi ada beberapa tahap sebuah kampung dapat dipilih untuk menjadi Kampung Berseri Astra:

Dalam menentukan dan memilih calon KBA, terdapat beberapa tahap yang harus dilewati:

  1. Koordinasi perusahaan Group Astra
  2. Pembentukan Tim KBA
  3. Koordinasi dengan pemerintah daerah
  4. Social Mapping
  5. Penentuan lokasi KBA

Apa itu KBA?

Infografis www.healthymomy.com
Sumber: www.satu-indonesia.com

Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pembangunan yang mengintegrasikan 4 pilar program, yaitu: Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

Melalui KBA, masyarakat dan perusahaan bekerjasama untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra.

Jadi, apa yang kamu dengar sekarang tentang Gunung Kidul? Daerah yang kaya destinasi wisata indah. Pantai, Goa, Karst peninggalan kebudayaan purba? Ya begitulah, semua sudah berubah seiring perkembangan zaman, juga seiring dengan semakin cerdasnya masyarakat Gunung kidul di bawah kepemimpinan pemerintahan Bupati dalam membangun rumahnya sendiri.

Sekarang, jika kamu bertanya padaku seperti apa rasanya sekolah TK, pasti kujawab dengan lantang, “Aku tidak tahu!” Dulu, bahkan di desaku sama sekali tidak ada sekolah TK. Aku langsung masuk ke SD saat usiaku menginjak 6 tahun, yang itu artinya 36 tahun yang lalu. Jadi aku pun tak tahu betapa asyiknya bermain di TK, menggambar kupu-kupu, mewarnai, dibacakan cerita. Aku menghabiskan masa balitaku bersama ibuku tercinta sebagai madrasah pertamaku. Aku mengenal Alif-Ba-Ta-Tsa, juga langsung dari mulut ibuku setiap aku mau tidur. Aku juga mengenal jam dari kakekku. Mengenal kasih sayang dan berbagi dari nenekku. Dan, aku mengenal ketegaran serta kesabaran dari bapakku.

Bukti, kenapa pendidikan begitu penting diberikan sedini mungkin. Inilah yang menumbuhkan cita-cita Astra, Sejahtera Bersama Bangsa.

~

ew

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Pewarta Astra 2018. 

 

Warung Omah Sawah Tembi, Tempat Selfie Bersama Sawah Dan Padi

Omah Sawah Tembi. Warung Omah Sawah Tembi tempat selfie bersama sawah dan padi. Kakinya tak sabar meniti pematang sawah yang lebarnya hanya sekitar 20cm. Kanan dan kiri jalan setapak itu tentu saja dipenuhi tanaman padi menghijau. Lalang daunnya melambai hingga menyebrang ke pematang. Membuat tangan juga kakinya terasa geli terseret lembaran lalang daun padi.

Jus Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

“Bunda, aku mau ke sana!” telunjuknya mengarah ke 100 m di belakang saung utama Warung Omah Sawah Tembi. Ah, gadis kecil itu mulai menyukai lingkungan ini. Tak takut ada ulat atau belalang, kah? Sendal jepit mungil berwarna biru dengan gambar Sofia si tokoh kartun dipegangnya erat di tangan kiri. Ia sedikit berlari sambil menjaga keseimbangan. Terkadang tangannya menyentuh kuntum pada yang masih hijau. Padi muda.

Rupanya replika gajah gagah bertengger di tengah hamparan sawah luas. Tiang-tiang lampu listrik berjajar sepanjang pematang menuju ke tempat gajah berdiri. Gadis kecil menuju ke sana.

Hmm, spot selfie yang lumayan keren, pikirku.

Outdoor Omah Sawah tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

Sore itu, memang pas sekali. Bukan Sabtu atau Minggu sore, namun tempat makan tradisional ini dipenuhi pengunjung. Pantes saja, suasananya yang begitu adem, tenang dan nyaman begitu dirindukan, terutama bagi mereka yang sempat merasakan hidup di era pra teknologi hingga kini semua serba online, seperti aku. Merasakan suasana di Omah Sawah Tembi membuat memori kita terlempar berpuluh tahun yang lalu, di mana hidup kita masih serba tradisional belum mengenal kemajuan teknologi. Hiburan hanya berupa makan di gubug di sawah sepulang sekolah. Sambil menunggui tanaman padi dari serbuan burung-burung. Atau sorenya akan berlarian sepanjang pematang untuk menangkap belelang, capung atau mencari belut di sela-sela tanaman padi? Ah, tidak aku biasanya “bruwun” mencari dan memetik batang sayur kangkung di sela-sea rumput di pematang sawah. Itu sangat seru!

Menyeruput wedang jahe sere
Gambar: dokumentasi pribadi

Suasana pedesaan yang hijau dan segar juga aneka menu tradisional melengkapi warung bernuansa sawah ini. Sengaja mendirikan warung tersebut di tengah sawah dengan harapan dapat memberikan fasilitas yang nyaman dan eksotik pada orang-orang yang merindukan semacam rumah desa namun sudah sangat sulit didapatkan di area perkotaan yang semakin padat dengan bangunan hingga jadwal kerja.

Omah Sawah tembi, alternatif pilihan untuk bersantai dan juga melepas penat di siang, sore maupun malam hari bersama teman kerja, keluarga atau sesama anggota arisan emak-emak zaman now. Omah Sawah Tembi, letaknya tak jauh dari Pasar Gabusan di daerah Jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta.

Apa saja yang bisa kita nikmati di sana?

  1. Menu Makan dan MinumTradisional
Ikan Asam Manis Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

Aku hobi makan, tapi bosan dengan aneka makanan modern. Pas banget! Karena aku lebih suka menu aneka sayur, juga masakan rumahan yang jarang sekali bisa kita temukan di kota. Di sini menu makanan ndeso sangat lengkap. Menu yang selalu bikin lidah kita menyerah untuk berhenti. Sebut saja mangut lele pedas, ada yang nggak suka? Ya bagi yang nggak suka memang susah untuk dibuat suka. Tapi buat yang suka, menu pedas berkuah ini mampu membuat nasi di bakul langsung ludes habis. Belum lagi ikan nila bakar, sambal terasi, oseng bunga papaya, oseng daun pepaya teri, sayur lodeh, tempe garit dan lain-lain. Hmm, baru liat saja sudah bikin perut melonjak-lonjak keroncongan. Selain makanan, Omah Sawah Tembi juga menyediakan berbagai minuman tradisional yang bikin kangen. Ada wedang jahe sere, wedang secang, jus Omah Sawah perpaduan sayuran dan buah yang membuat rasanya semakin segar dan menyehatkan. Gula yang dipakai adalah gula batu, tahu kan nikmatnya minuman yang memakai gula batu? Wedang jahe atau teh, sama nikmatnya. Cobalah, pasti ketagihan!

Oseng Bunga Pepaya
Gambar: dokumentasi pribadi
Wedang Secang
Gambar: dokumentasi pribadi
  1. Suasana Pedesaan yang Asri, Nyaman dan Adem

Pergi pagi pulang petang, melewati berbagai gedung tinggi dan perempatan lampu merah yang padat dan penuh polusi. Begitu seterusnya aktifitas harian kita. Wajar jika kita kerap stress dan tak sabaran saat menghadapi celotehan anak yang menurut kita mengganggu, tapi bagi mereka adalah hal yang luar biasa seru.

Saat itulah kita butuh piknik. Bukan mengenai ke mana lokasi yang mahal dan mewah. Namun sebenarnya adalah kita butuh rileks saja, melihat sesuatu yang beda dari rutinitas. Sawah hijau segar, tanaman padi, bunyi-bunyian burung, jangkrik juga katak di sore hingga malam hari. Hal sepele itu justru jarang terpikirkan oleh kita. Padahal justru hal sepele itu lah yang kerap bisa kita andalakan sebagai mood booster untuk mengobati stress kita.

Di sini, Omah Sawah Tembi aku mendapatkannya semua. Suasana itu, suasana yang romantis buat keluarga.

  1. Spot Selfie Kekinian

Jika dulu kita selalu hunting spot selfie yang berbau modern, mal, bioskop, rumah makan modern. Maka beda lagi dengan sekarang. Sering kita lihat foto-foto teman kita berseliweran di beranda kita? Ada yang di gubug, ada yang di hutan pinus, ada yang di sawah?

Nah, di Omah Sawah Tembi juga mneyediakan semua keunikan spot selfie itu. Sawah luas? Ada. Aneka peralatan makan tradisional? Ada. Tempat duduk dari kayu? Ada, kentongan kayu? Ada. Vespa jadul? Ada. Bahkan replika gajah khusus disediakan untuk anak-anak yang hampir semuanya suka dengan binatang super besar itu pun, ada.

Jadi mau sekadar berlarian di pematang sawah yang hijau sambil disyuting atau difoto? Sangat difasilitasi dan bebas mau berapa lama saja di sana, gratis!

Spot Selfie Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi
  1. Suasana Romantis

Suasana romantis itu yang seperti apa? Bagi aku adalah yang jauh dari hingar-bingar apapun gangguan. Tidak ada deru kendaraan yang mendominasi, tidak ada rutinitas yang membosankan. Suasana adem dan segar dengan suplai oksigen alami tanpa batas juga sangat menyokong keromantisan. Kecukupan oksigen yang kita hirup yang disediakan oleh tumbuhan adalah alasan yang paling masuk akal kenapa kita bisa memperbaiki mood. Saat kebutuhan oksigen kita tercukupi, maka otak kita akan segera optimal bekerja, stress yang membebani pun akan segera lenyap oleh kemampuan kerja otak yang kembali optimal. Pemandangan jauh melintasi hamparan sawah hijau, juga aroma alam yang membuat kita menyatu juga membuat perasaan dan suasana di sekitar kita menjadi romantis.

  1. Sunset Jingga

Omah Sawah Tembi terdiri dari saung utama berukuran besar dengan ke empat sisinya tanpa dinding. Langsung terbuka ke alam. Sehingga pemandangan lingkungan luar yang bersih dan hijau sangat bisa dinikmati dari dalam saung atau pendopo. Sisi barat, hamparan sawah sangat luas, berbatasan dengan kampung yang jaraknya mungkin sekitar satu kilometer. Persawahan luas itu memungkinkan sekali untuk kita melihat langit jingga di sore hari menjelang matahari masuk ke ufuk barat.

Saat matahari perlahan menurun di ufuk barat, langit mulai menunjukkan keindahannya. Gradasi warna mulai dari kuning emas, jingga hingga kemerahan menuju ke satu titik di mana bulatan sempurna matahari mulai tertelan bumi. Semilir angin yang menyertai menambah kesempurnaan sore yang dinanti. Seiring pula bunyi-bunyi jangkrik juga katak dan kodok mulai diperdengarkan untuk memanggil para kawan yang masih saja santai beristirahat. Saatnya bernyanyi! Omah Sawah Tembi begitu alami. Weekend ini mau ke mana?

Secangkir Kopi Robusta Susu Dari Barista Inklusif Jogja

Kulirik lagi penyaji kopi istimewa itu. Kopi Robusta? Bahkan, namanya saja baru kudengar. Mungkin karena aku tak termasuk orang-orang yang gemar nongkrong di café sekadar untuk ngopi bersama di Sabtu sore. Ya, pesan Kopi Robusta pun hanya ikut-ikutan teman yang lebih dulu memesan. Kopi cenderung pahit, namun saat dipadu dengan susu manis akan tercipta rasa baru yang nge-blend, itu penjelasan yang kudapat untuk secangkir kopi Robusta susu. Barista Inklusif, Stand Kopi di acara temu Inklusi 2018, satu di antara bukti lainnya yang menggaungkan inklusi sosial, menyetarakan harkat sesama warga tanpa membedakan maupun mencaci keterbatasan, menuju Indonesia Inklusi, #IDInklusif.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Kopi Robusta Susu dari Barista Inklusif Jogja)

Di stand sebelah kanan panggung utama, Mbak itu sangat cekatan. Menulis, mengambil gelas, menandai dan memindahkannya ke meja sebelah. Hingga entah detik ke berapa, aku terpaku. Kecepatan gerakan tangannya menutupi sesuatu. Tangan kirinya tak sempurna. Masya Allah! Sejenak pandanganku terhenti di satu titik, tangan itu. Telapak tangannya hanya seukuran separuh telapak tangan normal, pun jemarinya hanya terdapat dua atau tiga saja, bukan lima. Aku tak berani lebih jeli menghitung tepat jumlahnya berapa.

Sungguh, keberadaannya yang tak sempurna tak menyusutkan semangat juga kepercayaan diri. Aku masih tertegun saat mbaknya memanggil namaku. Buru-buru kualihkan pandangan, aku takut pandanganku akan membuatnya risau. Aku takut, pandanganku akan menyakiti hatinya, membuatnya tak nyaman, meski aku tak bermaksud begitu.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Seorang perempuan istimewa yang cantik, penuh semangat, juga cekatan dalam melayani pelanggan Kopi Robusta dari Barista Inklusif)

Belum habis decak kagumku, mataku menangkap bayangan lain. Kali ini sosok pria bertubuh gempal. Dia tak kalah cekatannya dengan si mbak. Namun kali ini bukan menulis atau membuat daftar nama di masing-masing gelas plastik single use. Lebih rumit dari itu. Sigap kedua tangannya mengelap meja, menyiapkan cangkir dan meracik biji kopi untuk dimasukkan ke dalam penggilingan kopi mini di atas meja. Juga mengangkat teko panas berisi air mendidih yang kemudian dituangkan perlahan dengan menyusuri tepi penyaringan dari kertas berbentuk kerucut. Air hitam kecoklatan mengalir mengisi gelas ukur berbentuk piala. Dalam sekejap, aroma khas kopi murni yang legit menyeruak, mengusik indera penciuman, dan merangsang otakku untuk memproduksi hormon bahagia. Cafein itu sukses membuatku ingin mencicipinya.

Tak ada jari di sana yang menjaga agar teko tak jatuh. Pun tak ada telapak tangan yang menopang teko panas beralas kain agar panasnya tak melukai. Hatiku mencelos. Melihat betapa orang-orang itu selalu bersemangat. Namanya Eko Sugeng. Nyaris tak terlihat berbeda dengan kecekatan tangan orang normal, selain sepasang tangannya yang hanya sampai pada lengan bawah atau sedikit turun dari siku. Mengerucut khas luka yang sengaja dibuat saat operasi amputasi. Tanpa satu pun jari-jemari. Yah, dia tak punya telapak tangan, bahkan dia tak punya pergelangan tangan. Tapi, Ya Allah, dia begitu cekatan!

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Eko Sugeng, namanya. Orang yang selalu bersemangat belajar dan akhirnya mahir dalam meracik kopi istimewa berbagai rasa)

Allah Yang Maha Baik. Allah mudahkan segala urusan. Eko, yang bahkan tak punya satu pun jari tangan? Gimana caranya mandi? Gimana caranya… Ah, terlalu banyak pertanyaan bodoh yang berkelebat. Pertanyaan yang mungkin tak bernilai sama sekali, dibandingkan keberadaan jiwa yang masih setia pada raga ini. Pertanyaan yang tak seharusnya dipertanyakan. Pertanyaan yang hanya mengurangi rasa syukur kita kepada Allah Swt.

Pahit beradu manis. Kusesap perlahan kopi pesananku. Cuaca masih begitu terik saat kopi Robusta yang pertama kali kukenali ini tinggal separuhnya saja. Aku masih berteduh di bawah atap stand kopi istimewa dari Jogja ini. Kopi #BaristaInklusif ini merupakan tim @Staracoffee, dampingan salah satu mitra Program Peduli yaitu Pusat Rehabilitasi YAKKUM. (Instagram @pryakkum dan Fb: Pusat Rehabilitasi Yakkum). Salah satu Video Program Peduli menceritakan kegiatan pelatihan Kopi yang meruntuhkan dinding pembatas orang normal dengan difabel.

Ya, Gunung kidul. Tepatnya di desa Plembutan, merupakan desa pertama yang mengumumkan dan meresmikan kepeduliannya terhadap keberadaan kelompok rentan masyarakat disabilitas. Desa tersebut memberi peluang dan melibatkan seluruh kelompok masyarakat difabel dalam agenda pembangunan desa. Kiprahnya telah membuktikan bahwa kelompok orang berkebutuhan khusus itu setara dengan orang normal, mampu dengan cerdas dan optimal untuk turut serta aktif dalam pembangunan desa.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (Kepala Desa Plembutan, Bu Edi sedang presentasi mengenai Desa Inklusi)

Desa Plembutan, Playen, Gunungkidul, tempat digelarnya acara Temu Inklusi #3. Pertemuan difabel tingkat nasional baik secara individu, organisasi maupun para pemerhati isu difabel ini dihadiri perwakilan dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. Forum Diskusi yang dipimpin oleh Pak Suharto, salah satu warga Gunungkidul dengan difabel netra, mengusung tema Menuju Indonesia Inklusi 2030 Melalui Inovasi dan Kolaborasi.

Presentasi pertama oleh Bapak Sutrisna, Kepala Desa Sidoarjo Purworejo. Menurut data yang disajikan, Desa Sidoarjo memiliki 360 jiwa difabel dengan berbagai macam kedifabelan. Angka tersebut diambil dari total sekitar 8.000 jiwa dalam satu desa.

Bahwa tak selamanya orang-orang dengan segala keterbatasan hanya merepotkan saja. orang-orang pilihan itu mampu menunjukkan karya. Mereka mampu sekadar untuk berunding, menyusun strategi pembangunan maupun secara aktif ikut serta dalam setiap kegiatan pembangunan desa.

Mengapa Temu inklusi #3 di Desa Plembutan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung kidul? Desa itu yang pertama kali membuat Peraturan desa (Perdes) tentang kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga tanpa melihat perbedaan apapun. Perdes itu digunakan sebagai acuan legalnya kebijakan dalam rangka melibatkan para difabel di setiap kegiatan desa yang berpayung hukum.

Bu Edi, selaku Kepala Desa Plembutan menjelaskan bahwa, mengapa desa tersebut berani mengambil langkah ini lebih dahulu dibanding dengan desa lainnya di Gunung Kidul maupun di daerah lain? Alasannya adalah, karena semua orang tak terkecuali, pada saatnya nanti pasti akan menjadi anggota dari kelompok orang berkebutuhan khusus. Saat orang tersebut penglihatannya sudah berkurang dan harus memakai kacamata misalnya, maka orang tersebut sudah masuk ke dalam kelompok difabel yang mempunyai kebutuhan khusus, paparnya.

Betul juga, ya?

Desa inklusi tidak serta merta hanya memprioritaskan sebuah kegiatan hanya dikhususkan bagi kelompok difabel, namun bagaimana caranya agar setiap aspek pembangunan desa baik fisik maupun dalam bentuk kegiatan akan ramah dan dapat diakses dengan mudah oleh setiap warga, baik yang normal fisiknya maupun warga dengan keterbatasan fisik/difabel.

Temu inklusi ini juga dihadiri oleh Pak Maman, staf ahli dari istana kepresidenan. Pak Maman mewakili presiden Joko Widodo untuk melakukan pendampingan terhadap jalannya acara istimewa tersebut. Menyampaikan segala aspirasi dari pemerintahan tingkat bawah serta memberi masukan mengenai kebijakan-kebijakan dalam rangka meraih cita-cita menuju Indonesia Inklusi 2030.

Ya, rasanya tak muluk-muluk. Jika setiap desa sudah menjadi desa Inklusi, maka target Indonesia Inklusif tahun 2030 akan sangat mudah untuk tercapai. Semoga.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Selain Barista Inklusif, desa inklusi Plembutan juga memiliki berbagai kelompok difabel dampingan bernama Kelompok Mutiara Plembutan, yang dilatih dengan berbagai macam ketrampilan yang akan meningkatkan kemampuan diri setiap warga difabel. Menyusun manik-manik, membuat bros, memasak aneka panganan, pelatihan IT dan pelatihan lainnya.

Pahit sedikit manis berpadu. Es kopi sudah tak lagi bersisa. Kutenggak tetesan terakhir kopi Robusta sebelum akhirnya kulangkahkan kaki menuju mobil Hiace yang akan mengantarku turun ke Jogja. Rasa kopinya yang original hanya menipis sedikit saja didesak oleh kucuran susu kental manis. Kusesap beberapa kali kopi itu. Pahit namun membuat ingin menyesapnya lagi. Perlahan kulirik penyaji kopi itu lagi. Tak berkurang, justru pengunjung stand Kopi Barista semakin memadat. Wajar saja, wajah ceria penyaji kopi semakin sumringah, meski peluh semakin bercucuran akibat teriknya matahari beradu dengan hawa panas yang dikeluarkan bersama kepulan asap air mendidih penyeduh kopi.

Sekelumit waktu yang berkualitas, menghadiri acara nasional Temu Inklusi #3 mengajarkanku berjuta rasa, ilmu juga kesetaraan karsa. Bahwa, di sekitar kita ada banyak warga dengan segala keterbatasannya, ingin diperlakukan setara bahkan hanya untuk berbagi rasa dan cinta. Mereka sama dengan kita, butuh bicara, butuh cinta, juga butuh berbagi kasih sayang dalam setiap karya. Mari saling mengisi tangki cinta juga menyalurkannya ke sesama tanpa melihat perbedaan dalam setiap keterbatasan.