TAS BOLA BATHOK KELAPA GOES TO JAMAICA? JOGJA MEMANG GUDANGNYA KREATIFITAS ANAK BANGSA

TAS BOLA BATHOK GOES TO JAMAICA? JOGJA MEMANG GUDANGNYA KREATIFITAS!

“Pak, ini serius semua bahan bakunya dari bathok kelapa?” Saya masih tercengang dengan apa yang kulihat. Sejumlah tas cantik berwarna cokelat tua dengan beberapa titik kombinasi warna krem cenderung putih semakin menambah aksen unik dan etnis.

Bapak berpostur ideal menyunggingkan senyum seraya mengangguk membenarkan pertanyaanku. Bapak yang kemudian kuketahui sebagai owner dari sebuah perusahaan kerajinan bernama “Yanti Bathok and Craft” itu dengan cekatan menjelaskan tanpa diminta.

“Betul sekali, Mbak! Ini semua dari bathok kelapa, tas jinjing, tas selempang, dompet, tas bola, sabuk, teko beserta seperangkat cangkir juga terbuat dari batok kelapa kecil.” Laki-laki yang kemudian kuketahui namanya Pak Ahyani itu dengan runtut menjelaskan.

Penampakan tas bola berbahan bathok yang berhasil goes to Jamaica
(doc. pribadi)

Dari caranya menjelaskan saya bisa menebak bahwa, beliau sudah profesional dalam dunia craft lengkap beserta teknik marketing maupun manajemen perusahaannya.

Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Replika unta dan anak-anak di Pyramid Bantul Yogyakarta (doc. pri)

Aku melangkah menaiki anak tangga satu per satu menuju ruangan utama diadakannya acara gelar Produk Craft & Fashion Istimewa. Replika unta terihat di kanan dan kiri tangga seolah menyambut para pengunjung untuk berada dalam suasana yang tenang dan santai. Ya, replika ini melengkapi atmosfer Pyramid menjadi semakin tradisional dan bersahaja.  Mengajak pengunjung untuk pelan-pelan menikmati setiap keistimewaan produk unggulan daerah Yogyakarta yang ditawarkan.

Acara yang digelar di halaman Pyramid Museum History of Java ini diprakarsai oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Sebagai bentuk kepedulian, pendampingan dan pembinaan terpadu kepada para pelaku UKM guna mendukung perkembangan dunia usaha di kalangan masyarakat, mulai dari usaha mikro, kecil hingga usaha menengah. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mendukung tingkat kreatifitas yang harus bisa bersinergi dengan aneka kemajuan teknologi yang semakin cangggih di era revolusi industri 4.0 yang akan kita hadapi.

Mendekati panggung utama, saat itu sedang ada pemaparan materi mengenai Product packaging. Para pelaku usaha tampak antusias memenuhi kursi yang tepat berada di depan panggung utama. Diskusi dan sharing pengalaman begitu seru, terlihat dari komunikasi dua arah antara pemateri dengan para audiens yang mayoritas dari anggota pelaku usaha yang ikut serta meramaikan acara pameran itu.

Bu Yanti adalah salah satu peserta yang aktif bertanya maupun menjawab berbagai pertanyaan terkait dengan packaging. Benar saja, rupanya beliau adalah istri Pak Ahmadi, owner “Yanti Bathok & Craft” yang stand pamerannya berada tepat di sebelah selatan dari deretan kursi di depan panggung.

Pak Ahyani, owner Yanti Bathok and Craft Yogyakarta, tampak sedang berbincang dengan salah satu pengunjung. (doc. pribadi)

Sempat mengikuti beberapa menit, dapat saya simpulkan bahwa materi yang disampaikan oleh anak muda supel yang berbicara di depan, semata untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produk dengan cara pengemasan produk barang yang aman dan menarik.

Ruangan itu luas dan adem, cukup memberikan kenyamanan di tengah pajangan aneka kecantikan produk lokal baik bentuk kerajinan maupun fashion.

Rasanya tak sabar ingin membahas satu per satu produk asli masyarakat Yogyakarta yang mendadak begitu aku kagumi ini. Kita mulai dari kerajinan, ya:

  1. Yanti Bathok and Craft

Stand ini begitu mencolok dan menarik kakiku untuk memilihnya menjadi tujuan pertama. Bukan karena paling dekat, tapi pajangan tas uniknya mengingatkan pada suatu masa di mana saya pernah berjualan tas serupa berbahan dasar bathok kelapa. Bedanya, jika dulu bathok itu disusun dalam potongan ukuran besar sekarang justru ukuran kepingan bathoknya begitu mungil dan rumit. Sampai-sampai saya harus memastikannya bahwa benar itu terbuat dari untaian kepingan bathok berukuran diameter 0.6 cm. Ukuran yang begitu kecil dan membutuhkan kerumitan lebih, namun menghasilkan produk yang lebih elegan dan detail.

Motif rumit dan mungil dari kepingan bathok kelapa yang tersusun dalam bentuk sebuah tas wanita yang cantik.
(doc.pribadi)
Tas dompet wanita two in one tampak dari samping. (doc.pribadi)

Menurut penuturan Pak Ahyani, usahanya sudah dimulai semenjak tahun 2002. Namun, seperti usaha lainnya di area Bantul, Yanti Bathok yang waktu itu masih dalam bentuk badan usaha CV mengalami kerugian besar terkena dampak gempa tektonik yang melanda Bantul dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006.

Ingatanku melayang di tahun yang sama. Memang, saat itu pusat kerajinan yang berada di desa Kasongan semuanya luluh lantak, rata dengan tanah. Semua perabotan tertimbun bangunan rumah yang menyisakan rentetan genteng yang berbaris rapi namun merebah seluruhnya mendekat ke bumi.

Efek gempa sempat membuat UKM yang awalnya hanya memproduksi kancing baju bathok ini mengalami vakum sekian tahun. Hingga akhirnya pada tahun 2012 Yanti Bathok & Craft ditata kembali. Berbenah mulai dari mengerucutkan bentuk usaha menjadi perorangan, Pak Ahyani mengelolanya bersama istri. Ia menambah kreasi produksi tak hanya kancing baju etnis, namun merambah ke kerajinan tas bathhok dan aneka pernak-pernik asesoris yang mampu mempercantik ruang tamu hingga dapur.

Produk termurah yang diproduksi adalah souvenir berupa gantungan kunci cantik dari bathok dalam aneka bentuk lucu dengan finishing menggunakan vernis. Untuk sebuah gantungan kunci mereka membanderolnya dengan harga mulai Rp 2.000,-. Sedangkan produk tas bathok mulai dari harga Rp 200.000,- hingga Rp 350.000,-

Aku bergeser ke bagian kiri meja display. Di sana ada 3 buah tas yang menurutku paling unik. Berbentuk bola dengan bagian tengahnya terpasang resleting untuk membuka tutup tas bola tersebut sehingga mampu menyimpan benda-benda pribadi cukup aman. Bathok separuh utuh itu dihiasi gambar bunga cantik yang semakin membuatnya nyeni.

Indahnya tas bathok bola dari Jogja goes to Jamaica (doc.pribadi)

“Nah, tas itu (saya menyebutnya tas bola, karena memang bentuknya bulat seperti bola) yang paling banyak peminatnya dari luar negeri,” ujar Bapak itu kalem.

“Wow! Luar negeri? Kirim ke mana, Pak?” tanyaku tak bisa sedikit pun menyembunyikan kekagumanku pada sosok yang bersahaja itu.

“Jamaica,” senyum bangganya terlihat begitu kentara.

Luar biasa, sekelas bathok, limbahnya kelapa, saat mendapatkan sentuhan cinta orang-orang kreatif, mampu melipatgandakan nasib baik hingga tak disangka mendapat cinta dari penduduk yang bahkan letak negaranya dalam peta dunia pun entah di mana.

Seolah tak ada habisnya, Pak Ahyani pun terus saja melanjutkan ceritanya tentang perjuangannya mengalami jatuh bangun hingga akhirnya sekarang memetik buah kegigihanya bersama istri.

Orderan tas serupa untuk dikirim ke Jamaica mampu mengisi agenda ekspedisi bahkan dengan frekuensi 3-4 kali pengiriman per bulan.

Selain Jamaica, tas etnis berbahan bathok itu juga pernah satu kali dikirim ke Republik Dominica, namun hingga saat ini belum ada permintaan lagi dari sana.

Tak menyurutkan semangat, karena selain menjual produk, Pak Ahyani dan Bu Yanti juga sering diundang untuk mengisi pelatihan dari berbagai kota maupun daerah mulai dari Sabang hingga Biak, belum Merauke, lanjutnya.

Selain mengisi pelatihan, pasangan suami istri itu juga aktif ikut serta dalam setiap pameran yang diadakan oleh dinas setempat maupun daerah lain. Bahkan sekali waktu, Bu Yanti pernah mengikuti pameran kerajinan di Belanda. Wow!

Menurutnya lagi, bahan baku bathok UKM tersebut sudah mempunyai supplier sendiri dengan kriteria bathok yang tak terlalu rumit. Untuk membuat aneka kerajinan bathok tersebut bisa menggunakan bathok kelapa tua berwarna coklat tua yang bisa langsung diproses, maupun bathok kelapa yang masih putih yang prosesnya mengharuskannya dijemur dahulu hingga kering baru kemudian diproses cetak menggunakan mesin semacam mesin bubut.

Warna coklat tua dan putih disusun sedemikian rupa sehingga saling memberi kombinasi warna yang semakin cantik. Sedangkan limbahnya berupa serpihan bathok, dimanfaatkan untuk dibuat briket arang sebagai bahan bakar.

Kartu nama Yanti Bathok and Craft Yogyakarta (doc. pribadi)

Belakangan, pasangan suami istri ini juga mulai mengembangkan kreasinya tak hanya produk bathok saja, namun segala bentuk produk kelapa mulai dari sabut kelapa hingga akarnya, agar mendapat nilai tambah. Mereka juga berharap bisa menularkan ilmu kreasi tersebut kepada seluruh warga di Indonesia. Biarlah rejeki Allah yang mengatur, yang penting ilmu yang dibagi bisa memberi manfaat dan juga menambah saudara dari berbagai kepulauan Indonesia, pungkasnya.

Aamiin, Pak! Semoga Allah ijabah, ya Pak! Niat bapak mengentaskan banyak masyarakat dengan cara yang indah. Pertahankan selalu dan tingkatkan kreatifitas tanpa batas!

  1. Decoupage Pandan
Mbak Asri dengan aneka produk decoupage anyaman daun pandan andalannya. (doc.pribadi)

Perempuan berjilbab ungu itu lincah memindahkan tas. Namanya Mbak Asri. Dia menuturkan bahwa menggeluti dunia usaha kerajinan tas hampir satu tahun ini. Namun, bukan lagi tas berbahan bathok. Kali ini tas berbahan daun pandan yang dianyam kemudian diberi sentuhan bermacam ornamen gambar floral warna-warni.

Awalnya saya mengira gambar bunga merah mekar dan dedaunan hijau pupus itu adalah sebuah lukisan yang diaplikasikan untuk mempercantik pandan kering yang warnanya putih tulang itu.

Rupanya, itu bukanlah lukisan seperti yang kukira.

“Bukan, itu bukan lukisan, Mbak. Itu adalah gambar motif dari sebuah tissue decoupage yang ditempelkan ke anyaman daun pandan kering (bisa kayu, dauh kering, plastik atau bahan lainnya) kemudian dilem dan diproses deco,” jelas mbak Asri.

“Oh, ya?” aku hanya melongo. “Tempelan tissue?” sekali lagi kupastikan.

Mbak Asri mengangguk tersenyum. Kedua tangannya sibuk mencari sesuatu di layar gawai berwarna putih di tangannya.

“Ini loh, Mbak!” ujarnya menunjukkan sesuatu. Anganku melayang menuju ke suatu peristiwa di mana aku menyaksikan embak-embak yang sedang mempraktekkan teknik decoupage step by step di layar kaca.

“Oh, I see. Masya Allah, bagus banget, Mbak!” pungkasku.

Rupanya Mbak berperawakan tinggi itu mendapatkan semua idenya dari internet. Selain anyaman pandan, proses deco juga dia lakukan pada telenan kayu, botol dan lainnya.

Teknik decoupage pada botol (doc.pribadi)

Mbak Asri membuka usaha ini sejak hampir setahun ini. Meski mengandalkan pemasaran via online dan offline, namun menurut dia pasaran yang lebih menjanjikan justru yang via online.

“Pernah, waktu itu kita mengirimkan orderan ke Papua. Ya, sementara jarak terjauh pemasaran kami memang Papua, belum sampai tahap internasional.” Mbak Astri menjelaskan tanpa keraguan sedikit pun mengenai kualitas yang kini sudah menembus pasar nasional itu.

Kedua matanya optimis. Dara asal Bantul itu mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memfasilitasi daya kreatifitasnya yang mampu menghasilkan sebuah karya, memperkaya sumber daya manusia, juga membuka peluang kerja bagi sekitarnya.

Tak hanya belajar dari internet, usahanya juga dia kembangkan terus melalui pembinaan langsung dari dinas koperasi dan UKM DI Yogyakarta. Berbagai pelatihan yang diadakan oleh dinas tersebut kerap diikutinya. Pelatihan packaging, pelatihan marketing dan juga pelatihan lain yang mendukung berkembangnya usaha-usaha kecil menengah di area DIY.

Dengan aktif berkomunitas yang positif, juga mengikuti berbagai kegiatan, saya pikir tak menunggu lama usaha semacam decoupage tas anyaman pandan ini bisa menembus pasar internasional, semoga!

Kartu nama Asri Pamungkas, decoupage Jogja (doc.pribadi)

Mbak Asri Pamungkas, yang menamai akun facebooknya sama dengan nama lengkapnya dan menandai akun instagramnya dengan nama Gias_olshop membuka stand-nya di Museum Pyramid, jalan Parangtritis, Bantul Yogyakarta.

  1. Kain Jumputan [Bukan] Batik
Kain jumputan dengan pewarnaan alami yang indah (doc.pribadi)

Tepat bersebelahan meja dengan tas pandan. Saya hanya butuh bergeser beberapa langkah saja menuju meja penuh dengan kain berwarna cokelat lembut dengan aneka motif apik itu. Tentu saja, sebagai wanita, saya langsung tertarik dengan kain [bukan] batik jumputan itu.

“Oh, bukan! Ini bukan batik Mbak, kalau batik kan harus melibatkan canting dan malam yang menutupi sebagian permukaan kainnya, baru kemudian diberi warna. Ini namanya kain jumputan,” ibu berkaca mata menjelaskan sambil terus tersenyum.

“Ramah banget, ibu ini!” batin saya.

Keramahan ibu yang bernama Supadmi ini membuatku ingin bertanya lebih mengenai kain indah elegan yang tersampir di beberapa papan display di sampingnya.

“Bu, boleh diceritakan proses pembuatannya?” pinta saya dengan senyum tak kalah manis.

Rupanya saat dua perempuan bertemu membahas sesuatu yang indah pasti akan berujung seru. Beliau mengangguk sambil tangannya mengambil kain jumputan berwarna kuning terang.

“Kalau yang ini pewarnanya sintesis.  Bedanya dengan yang pewarna alami adalah dari hasil pewarnaannya. Kalau sintetis warna yang dihasilkan akan terang dan genjreng, namun pewarna alami dari daun-daun akan menghasilkan warna yang lebih pudar dan kalem, seperti ini!” Bu Supadmi mengambil satu lembar kain berwarna cokelat lembut bermotif bulat dengan tepi bertajuk.

“Wow, masya Allah, ini indah banget, Bu! Manis! Bagus banget dibuat gamis atau rok,” saya meraih kain yang sedang dipegang owner kain jumputan itu dengan hati-hati. Kainnya lembut, cukup tebal untuk membuat sebuah gamis terusan atau atasan bahkan dibuat rok. Kainnya halus dan lembut, juga tidak panas saat dipakai.

Kain jumputan dengan pewarnaan alami menjuntai indah pada papan display di belakang stand (doc.pribadi)

Meski dibanderol antara 200 ribu hingga 350 ribu per lembar, menurut ibu berkaos putih itu kain jumputan warna alami lebih diminati oleh masyarakat. Pewarnaan alami biasanya menggunakan daun Jati, Jambal, Jolawe, Mahoni, Secang, juga daun Mangga dan Alpukat.

Masing-masing daun menghasilkan warna yang berbeda. Untuk warna cenderung merah Bu Supadmi menggunakan daun jati dan secang. Sedang untuk warna coklat bisa menggunakan daun mahoni dan lainnya.

Pewarnaan alami menggunakan daun juga membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pewarna sintetis. Jika pewarna sintetis hanya membutuhkan satu kali proses mewarnai, pewarnaan alami kain jumputan bisa sampai lima kali proses pewarnaan untuk mendapatkan warna yang lebih pekat.

Kain Jumputan yang telah diwarnai dengan pewarna sintetis dan masih dalam keadaan penuh ikatan tali rafia (doc.pribadi)
Ikatan jumputan dari dekat (doc.pribadi)

Sambil mengambil kain berwarna hijau yang masih banyak terdapat ikatan di sana-sini, Bu Padmi menjelaskan beberapa langkah pembuatan kain jumputan secara lengkap dan runtut.

Jadi langkah-langkah membuat kain jumputan antara lain:

  1. Pembuatan pola sesuai yang diinginkan
  2. Pengikatan kain di titik-titik pola menggunakan tali raffia
  3. Pewarnaan dengan cara direbus menggunakan air yang dicampur dengan pewarna baik sintetis atau tumbukan daun
  4. Mengunci warna dengan tunjung dan tawas
  5. Mencuci kain yang sudah terwarnai
  6. Menjemur kain hingga kering tidak di bawah panas matahari langsung
  7. Membuka ikatan tali raffia, dan
  8. Kain indah dengan motif warna aneka bentuk pola sudah kita dapatkan.

Seperti pelaku usaha lain, Bu Padmi juga kerap mengikuti pameran yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM  juga pembinaan dan pendampingan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta secara periodik.

Usaha yang dinamai dengan Mekar Abadi ini terus dikembangkannya sejak tahun 2017 hingga sekarang. Selain memproduksi kain jumputan yang langsung dijual, Bu Padmi juga membuka kelas-kelas pelatihan untuk masyarakat yang ingin bisa membuat kain jumputan tersebut. Pelatihan ini dapat diikuti mulai dengan biaya Rp 50.000,- per orang dengan minimal 25-30 orang per kelas, atau dengan pelatihan privat dengan biaya sekitar 400 ribu – 450 ribu rupiah untuk beberapa teknik jumputan yang akan diajarkan.

Kartu nama Mekar Abadi Jumputan Yogyakarta (doc.pribadi)
Kain jumputan dengan pewarna sintetis.
Kuning: baru saja dilepas dari ikatan tali rafia
Hijau: Masih lengkap dengan tali-tali rafia yang kuat mengikat pola (doc.pribadi)

Duh, jadi pengin ikuti kelasnya nih! Perempuan kalau lihat yang indah-indah memang suka nggak tahan untuk memilikinya. Memiliki ilmu membuat kain jumputan kayaknya menyenangkan, ya! Bisa membuat berbagai motif sesuka hati kita!

Tak hanya kaum muda saja, saat orang yang lebih berusia namun semangat mencari ilmu dan kreatifitas terus dijaga, maka hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Semangat ya, Embak, ibu, Bapak!

Menggeliatnya usaha kecil menengah di tengah masyarakat Yogyakarta yang sangat kita rasakan tidak jauh dari hasil kerja kolaborasi antara pemerintah melalui Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta, PLUT-KUMKM DI Yogyakarta dan juga antusiasme masyarakat untuk bersinergi mengembangkan kreatifitas karya yang kelak akan berhasil eksis di pasar global. Semoga kegiatan positif semacam akan terus diupayakandan mendapat respon yang semakin antusias dari masyarakat. Sehingga akan menghasilkan masyarakat industri yang mandiri dan berkualitas, yang siap untuk ikut berkompetisi di pasar dunia. Insya Allah!

Jogja memang gudangnya kreatifitas!

Pyramid Museum History of Java
Jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta
(doc.pribadi)

Alhamdulillah, sesorean mengunjungi acara Gelar Produk Craft & Fashion di halaman Pyramid Museum History of Java yang berlokasi di jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta pada tanggal 22-23  Maret 2019 ini, membuka mata saya akan pentingnya terus berupaya mengembangkan potensi diri memperkaya kreatifitas yang akan semakin membuat kita berkualitas. Bermanfaat di masyarakat juga bentuk mensyukuri atas diciptakannya kita sebagai manusia yang kaya akal oleh Allah Tuhan Yang Maha Menciptakan segala sesuatu.

JELANG RAMADHAN IBIS MALIOBORO HOTEL LAUNCHING TIGA MENU BARU ISTIMEWA

Breakfast di hotel bersama mama juga bapak serta suami dan anak-anak, dulu kukira hanya bisa dinikmati kalau kita menginap di hotel tersebut. Keterbatasan informasi ini rupanya yang membuatku menutup kemungkinan sepele yang bagiku adalah impian besar. Mama dan bapak adalah orang pertama yang menurutku harus ikut merasakan bahagianya bisa menikmati fasilitas istimewa yang pernah kurasakan. Gimana tidak? Hotel merupakan tempat mewah yang  belum pernah sekalipun kita masuki sebelumnya. Apalagi menginap, bahkan hanya makan di hotel pun kami hampir tidak pernah.

Tidak salah jika hal itu menjadi agenda yang luar biasa yang bisa dirasakan oleh orang kampung sepertiku. Berkat sekolah tinggi yang diperjuangkan merekalah aku bisa mengikuti seminar-seminar di hotel berikut fasilitas restoran yang semenjak kecil belum pernah kulihat.

“Ma, nanti sore kita buka bersama di hotel ini, ya! Siap-siap lebih awal, jam 17.00 WIB sudah harus berangkat dari rumah, ajak bapak dan adik-adik sekalian,” pesan itu kukirim via whatsapp.

Bayangan wajah mama melintas begitu saja saat sebuah iklan baliho yang menawarkan paket bukber (buka bersama) all you can eat di sebuah hotel.

“Alhamdulillah, iya, Mbak!” balasan itu segera kuterima tak sampai satu menit.

Mama memang selalu memanggilku Mbak, sebutan untuk memanggilkan adek-adekku yang berjumlah 5 orang. Keterusan, bahkan saat kami hanya berdua saja, panggilan itu tetap akrab di telingaku. Menurut mama, memanggilku ‘mbak’ merupakan bentuk sayangnya ke anak pertamanya. Aku dan mama begitu dekat dan akrab, meski terkadang berbagai pertengkaran kecil tak luput dari kami. Pertengkaran yang selalu membuat kami semakin dekat, hingga setiap kali aku pulang liburan kuliah, tidak ada malam yang kami lewati dengan tidak menghabiskan waktu untuk ngobrol membicarakan segala hal.

Mama yang masakan oseng nangka mudanya selalu kurindu, yang setiap pulang tidak pernah absen dari meja makan.

“Mbak, ternyata bapak nanti malam kejadwal ngisi kultum di masjid, jadi kayaknya nggak bisa sore ini deh buka bersamanya, gimana? Dijadwal ulang lagi aja, ya!” pintanya. Ada sedikit nada sesal di pesan itu.

Hampir saja aku memesan tempat di hotel yang namanya masih terngiang setelah aku tak sengaja membaca iklan buka bersama di perempatan jalan yang baru saja kulalui. Ah Mama, sulitnya pengin bahagiain mama.

“Ya udah, Ma. Engggak apa-apa, besok insyaallah masih bisa kita atur jadwal lagi, semoga Allah beri rejeki waktu, aamiin.” Aku membalasnya dengan sedikit rasa kecewa.

***

Jelang Ramadhan, all you can eat package Jadi Primadona

Bukber, singkatan dari buka bersama, merupakan tradisi baru di Jogja yang mulai rame diadakan semenjak beberapa tahun belakangan ini. Semua hotel berlomba-lomba menawarkan berbagai menu istimewa all you can eat dengan masing-masing keunggulan dan harga yang bersaing.

Selain tempat strategis, harga yang kompetitif untuk menu andalan juga menjadi daya tarik yang ditawarkan dan memberi iming-iming tersendiri. Rata-rata orang-orang akan memilihnya dalam rangka merayakan hari istimewa berpuasa di bulan Ramadhan bersama orang-orang terkasih. Rekan kerja, sahabat lama, komunitas nongkrong, teman haha hihi atau sekadar reuni dengan teman-teman sekolah yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa. Momen istimewa ini semakin banyak difasilitasi oleh hampir semua hotel di Jogja.

Ah, sebentar lagi insyaallah bulan Ramadhan kembali menyapa kita. Jauh hari sebelumnya, tepatnya di tanggal 12 Maret 2019, Ibis Malioboro Jogja yang berlokasi tepat di belakang Mal Malioboro, meluncurkan tiga menu baru andalan. Menu tersebut untuk melengkapi menu buffet yang disediakan untuk acara istimewa buka bersama  bulan Ramadhan.

Tiga menu baru yang menurutku istimewa itu dilaunching khusus untuk menyambut bulan Ramadhan tahun ini. Menu-menu tersebut antara lain:

  1. Bebek Manalagi
Bebek Manalagi, ibis Malioboro (Koleksi pribadi)

Dibanderol dengan harga super murah, kita sudah bisa menikmati sepotong bebek goreng gurih dan lembut beserta kremes kriuk, sambal orek dan juga lalapan. Paket lauk ini disajikan dengan segunung nasi putih yang sengaja dibentuk kerucut beratap daun pisang di puncaknya. Wangi daun pisang membuat cita rasa pedesaan yang khas mampu mengobati rindu kita akan nuansa damai alam kampung yang sudah lama ditinggalkan.

Tak hanya itu, dengan harga yang super duper murah tersebut, kita juga sudah tidak perlu memesan lagi minuman untuk menghalau rasa pedas dari sambal orek yang pedasnya level 10 itu. Ada free 1 gelas es teh di setiap satu paket Bebek Manalagi yang kita pesan. Berapakah banderolnya? Kamu hanya perlu merogoh saku seharga 65 K untuk sepaket makanan favoritmu ini.

  1. Sandwich Favorito
Sandwich Favorito ibis Malioboro
(koleksi pribadi)

Sandwich, merupakan makanan modern yang memenuhi kebutuhan asupan nutrisi karbohidrat dari setangkep roti, juga protein dari daging dan bermacam vitamin dari aneka sayuran mentah yang dilapiskan di dalamnya. Semakin gurih dan enak lagi dengan guyuran saus mayonais dan juga saus sambal untuk cita rasa pedas gurih. Pada umumnya satu porsi sandwich hanya bisa memenuhi kebutuhan nutrisi (kenyang) untuk satu orang saja.

Hotel ibis Malioboro ini, membuat satu porsi Sandwich Favorito yang bisa penuhi kebutuhan kenyang dua orang. Selain ukurannya yang jumbo dengan aneka isian daging dan sayuran lengkap, paket sandwich ini juga masih berbonus satu porsi French fries / kentang goring gurih yang juga menambah porsi karbohidratmu. Coba tebak berapa harga yang dipasang untuk sepaket sandwich ini! Kamu pasti nggak percaya. Hotel ibis Malioboro hanya mematok 35K untuk sekian banyak makanan yang bisa mengenyangkan dua orang sekaligus. Ajib, kan?

  1. Milky Yuzu
Milky Yuzu ibis Malioboro
(koleksi pribadi)

Setelah dua menu sebelumnya berupa makanan, tak lengkap rasanya kalau tak dengan minuman istimewanya sekaligus. Milky Yuzu, dari namanya mungkin akan terlintas rasa “eneg” bagi yang tidak suka dengan susu. Namun saat melihat dan mencicipi rasanya, siapa yang menyangka kalau minuman ini mengandung susu? Seandainya namanya tak mengandung unsur “milk”nya mungkin tak ada yang tahu kalau minuman ini mengandung susu.

Yes! Milky Yuzu. Milky berarti susu dan Yuzu merupakan Bahasa Jepang yang berarti orange, citrus Mandarin. Perpaduan perasan utuh jeruk Sunkist segar yang dipadu dengan sedikit susu fermentasi, sedikit soda dan beberapa butir es polar akan memberikan kesegaran tropical mulai dari tegukan pertama hingga tetes terakhir. Sama sekali tidak eneg, justru segar dan segera mengobati rasa haus yang melanda tenggorokan saat berpuasa. Satu porsi Milky Yuzu dipatok dengan harga 25K. Kesegaran tropical yang asli ditawarkan ibis Malioboro dalam bentuk segelas Milky Yuzu.

Menu-menu tersebut tentu saja sudah dapat dinikmati di ibis Malioboro semenjak beberapa hari yang lalu di launching. Selain menu baru, banyak juga menu yang telah ada sebelumnya. Salah satu menu istimewa lainnya adalah paket BBQ lengkap mulai dari sosis, jagung, daging ayam, daging sapi, seafood dll. Tak juga mahal untuk sepaket BBQ di balkon ibis kitchen Malioboro, tidak sampai 100K sudah bisa menikmati indahnya sunset ditemani menu BBQ istimewa.

***

“Ma, buka bersamanya jadinya kapan?” sebuah pesan WA yang harusnya kukirim beberapa tahun yang lalu. Tak pernah terketik, hanya terkonsep dalam hati.

Bahkan balasan pesan WA mu masih jelas sekali mampu kubaca. Kekhawatiranmu tentang anak-anakku. Yang katamu waktu itu tak lagi bisa membantu menjagai.

Balasan WA terakhir, yang tak akan pernah lagi bertambah, sebuah pesan hasil dari tarian jari-jarimu yang lincah di layar gawai itu.

Apalagi sekadar buka bersama yang masih beberapa hari di depan mata. Yang dengannya kita sudah merangkai beberapa rencana. Buka bersama itu tak akan pernah lagi tertunai. Engkau lebih dahulu menghadap Allah, bahkan di hari ke 25 menjelang Ramadhan tahun itu datang. Meski, di setiap akhirnya kamu selalu berdoa, “Semoga kita kembali dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.” Seolah dengan doa itu kita meminta Allah untuk memundurkan ajal, entah sampai kapan?

“Doa yang sama yang engkau ulang di setiap akhir Ramadhan, namun betapa pun menyangkal, kita semua akan menemui juga doa terakhir yang kita ucapkan, namun menurut Allah itu bukan yang terbaik buat kita.”

“Allah menjagamu di sana, Ma. Tersenyumlah selalu, karena aku akan terus berusaha selalu mengirim pahala indah buatmu. Allahumaghfir lii wali wali dayya warhamhumma kama rabbayani shasghira, Aamiin!”

 

Kebun Apel Tanpa Nama #part1

Benar-benar menuju puncak! Jalan kecil beraspal itu begitu sempit. Licinnya permukaan yakin bukan karena hujan biasa. Bahkan tanah di area bahu jalan tampak kering, juga rumput-rumput di sekitarnya. Aspal basah ini karena uap yang mengembun.

“Ini terlalu tinggi!” pekikku dalam hati. Telat! Rupanya piranti gawai yang kupegang dan kupercaya sedari tadi menuju ke titik yang salah!

Bukan, bukan Hp nya yang salah, atau celoteh perempuan yang tak pernah bosan mengarahkan kami untuk belok kanan belok kiri, seolah tak pernah kehilangan power hanya karena tak pernah mendapat jeda minum selama menuntun perjalanan kami di tempat asing ini.

Tapi karena ketidakjelasanku sendiri dalam mengetik destinasi yang kupilih. Bermacam pilihan dan beruntung yang ku klik justru alternative judul yang paling umum, “Kebun Apel Batu”

“Harusnya tadi kupilih saja ‘Wisata Petik Apel’ dengan jarak tempuh terdekat saja’” rutukku dalam hati.

Apa pun itu, tak akan mengubah sedikit pun posisi kami di atas puncak pegunungan Batu. Ada sesuatu hal yang akan Allah tampakkan kepadaku, kepada kami berlima! Entah lah apa itu.

Dari posisi duduk, tiba-tiba kurasakan posisi berubah setengah menengadah. Membuatku sama sekali tak kesulitan menghitung derajat kemiringan tanjakan itu. Mendekati 45 derajat!

Tak sempat ungkap khawatir, atau mengandai-andai sesuatu yang membuat jantung berhenti berdetak sesaat.

Hanya bisa merapal doa keras-keras diiringi,  “Allahu akbar! Allahu akbar!” dari mulut mungil anak-anak yang herannya kini tiba-tiba kompak. Tak seperti sepuluh menit sebelumnya yang saling berteriak keras berebut segala sesuatu di sepanjang jalan.

“Pi, kayaknya salah pilih track, deh!” bahkan kalimat itu pun urung kubisikkan perlahan.

Takut mengubah sedikit saja konsentrasinya memainkan gas, kopling juga rem dan kemudi.

Ya Allah begini kah jalan satu-satunya menuju kebun buah apel yang katanya sangat keren buat petualangan anak-anak itu?

Memetik apel, memakan sepuasnya di bawah pohon, juga memanjatnya di tengah gigil kulit yang semakin menciutkan pori-porinya karena suhu yang begitu rendah itu. Ya, katanya dahan pohon apel yang rendah dan kuat itu sangat mudah dijangkau oleh kaki anak-anak yang belum juga jenjang.

Ah, sudahlah! Seandainya masih jauh, aku hanya bisa berharap Allah masih sudi selamatkan kami.

Gimana bisa memilih? ke depan yang buta berapa jarak lagi jauhnya, sedang mau mundur juga sudah terlanjur begitu jauhnya.

Bismillah! Tak terhitung lagi jumlah kelokan tajam disertai tanjakan terjal. Lembabnya udara begitu tajam tercium disaat jendela harus kami turunkan demi mematikan penyejuk udara.

Kekuatan mobil harus dimaksimalkan hanya berkonsentrasi pada keterjalan lajur berwarna hitam mengkilap itu. Kamu tahu? Poster-poster bergambar nenek-nenek bergigi satu dengan wajah berlumur darah lebih menakutkanku ketimbang suara deru mobil bercampur decit roda yang mencengkeram kuat pada licinnya aspal.

Bahkan tanpa tulisan, “Gunakan gigi satu demi keselamatan Anda!” aku pun sudah begitu paham dengan gambar gigi si nenek yang sengaja di highlight.

Lapar terlupa sudah, kebelet pipis? Ah entah ke mana rasa itu. Pandanganku hanya meraba-raba berapa puluh meter ke depan. Masihkah ada gambaran pohon yang menjulang jauh di atas kepala? Yang berarti tanjakan belum lah berakhir? Atau berganti dengan gambaran putih bersih yang bergerak perlahan mengikuti arah angin yang berembus sepoi di atas lembah atau ngarai di sekeliling kami? Awan?

Allahu Rabb! Belum berkurang kewaspadaanku, kami dikagetkan dengan teriakan si bungsu, “Monyeeet!”

Masya Allah! Sekawanan monyet kecil berkerumun di tengah jalan beraspal yang kini melelehkan air di setiap jengkal permukaannya. Monyet-monyet itu celingak celinguk sambil memamerkan gigi geliginya yang putih.

“Tutup jendelaaa!” suamiku berteriak lebih keras. Sontak tanpa sedikit pun minta penjelasan, kututup kaca yang sedari tadi terbuka lebar. Anak-anak juga refleks menutup semua jendela belakang.

“Bundaa! Kenapa? Kenapa ditutup jendelanya? Monyetnya kasihan! Bapak ibunya lagi pergi,” Si bungsu mulai bingung juga sedih. Bukannya monyet itu lucu? Bukannya monyet itu tidak jahat? Dia mencoba mengingat beberapa cerita pengantar tidur yang sering kuperdengarkan. Tentang monyet yang suka pisang, juga tentang singa si raja hutan.

“Pelan, Pi! Minggir ke kanan!” Teriakku tercekat! Kulihat gerombolan monyet itu tak beranjak sedikit pun. Beberapa hanya berjingkrak-jingkrak. Tiba-tiba dari arah berlawanan melaju kencang mobil berwarna hitam, seolah di terjalnya jalan yang turun mengarah ke kami tak sedikit pun rem nya dipijak.

“Awas, Pi!” Teriakku saat sekejap melintas di sebelah monyet-monyet yang kini mulai panik.

-bersambung-

 

PAUD Kemuning, Pembentukan Karakter Sejak Dini Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

Pembentukan Karakter Sejak Dini, Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

  ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11)

Kaki mungil berbalut sepatu kets berwarna pink, berjingkat memilih beberapa bebatuan yang berserak di sepanjang jalan beton di kampung Kemuning. Terik matahari sangat terasa di daerah berbatu itu. Aishya, anak usia tiga tahun dengan rambut pirang itu terpaksa kuajak karena ayahnya sedang berangkat ke Palu untuk menjadi salah satu relawan di sana.

Aishya mencium buah mangga, belajar tentang motorik halus dari alam
(gambar: dok. pribadi)

Berkeliling kampung bersama rombongan Roadshow Kampung Berseri Astra, membuatnya melupakan lelah. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan padanya, Semangatnya mengikuti Roadshow ini tak melemah sedikit pun. Ia hanya tahu semua yang ia temui adalah hal menyenangkan baginya. Menyentuh tanaman Putri malu, melihat sapi memamah rumput, mencium buah mangga yang masih di pohon hanya dengan posisinya berdiri. Adakalanya ia menunjuk jambu air di depan rumah warga, memintaku untuk memetik sekadar untuk melepas keingintahuannya.

Tiba-tiba langkahnya terpaku di depan sebuah bangunan berwarna kuning. Banyak anak seusianya berlarian di sana. Paud Kemuning. Satu-satunya Paud di kampung Kemuning yang menfasilitasi pendidikan anak usia dini bagi anak-anak balita di seluruh pelosok kampung tersebut. Jika biasanya kita mendengar anak yang dititipkan di TPA atau Paud karena ibunya bekerja sebagai karyawan atau pegawai, berbeda dengan Paud ini. Mayoritas, ibu dari anak-anak ini, yang jika lengkap berjumlah 15 orang saja dalam satu sekolahan, adalah petani, atau buruh tani. Beruntung sekali ya, bahkan di pelosok desa sekarang juga digalakkan pendidikan dini untuk menyelamatkan generasi dengan pembentukan karakter yang kuat sebagai pondasi pendidikan anak dijenjang berikutnya.

Salah satu Pilar Program CSR Astra
Gambar: infografis www.healthymomy.com

Pagi belum begitu terang. Namun sepasang kaki kecil sudah harus melangkah menjauh dari pintu rumahnya. Tangan imutnya digandeng oleh ibu yang juga telah bersiap dengan baju kerjanya. Jangan membayangkan baju kerjanya berdasi atau berkemeja, karena kerjanya memang tak di kantoran. Kerjanya di sawah, namun betapa keteguhan hatinya ingin menyamakan anaknya dengan anak-anak lain yang sekolah, agar mengenal kawan, mengenal antre, juga mengenal berbagi itu seperti apa, dapat ia rasakan sejak dini. Meski harus berjalan setiap hari sepanjang 4 km dari rumah, tetap ia lakoni dengan semangat dan bahagia. Rasanya tak ada hal apapun yang lebih berat dari sekadar berjalan setiap hari melewati rute yang sama menuju sekolah sejauh itu.

Karena sekolah dimulai jam 08.00 WIB, maka paling siang jam 06.00 WIB sudah harus bertolak dari rumah menuju sekolah yang berada di pusat kampung. Itu artinya, persiapan pun harus dilakukan jauh sebelum jam keberangkatan. Bu Yeni, Kepala Sekolah PAUD dan TK dengan nama RA. Masyitoh di kampung Kemuning,  menceritakan kisah salah satu warga di kecamatan itu, beberapa tahun yang lalu saat belum ada satu pun motor yang masuk ke sana.

Tangan bu Yeni terus bergerak mengikuti permainan dakon yang ia jalani bersama anak didiknya yang mengenakan jilbab warna merah.

“Dulu, sekolah ini hampir tak layak di sebut sekolah, Bu!” terangnya. Sesekali senyumnya mengembang, merasakan betapa perkembangan yang terjadi selama ini begitu besar. Tak sia-sia ia mendedikasikan sebagian besar waktunya di sekolah itu. Bu Yeni bersama kedua rekannya, Bu Purwanti dan Bu Badriyah, membangun sekolah dengan ikhlas dan bahagia. Berjuang keras agar bisa berkiprah besar dalam membantu mencerdaskan generasi muda Indonesia, meski dari desa paling pelosok dan sukar dijangkau sekali pun.

Tak jarang, karena begitu jauh tempat tinggalnya dari sekolahan, kerap jika pagi diawali dengan hujan deras, maka kegiatan belajar hari itu cukup di rumah masing-masing saja, alias anak-anak diliburkan. Mengingat jika tetap dipaksa berangkat justru akan lebih membahayakan kesehatan anak.

“Semenjak Astra masuk, Alhamdulillah perkembangan kampung ini sangat besar, Bu! Sekolah ini contohnya, dulu sebelum direhab sangat memprihatinkan. Ruangannya rusak, dindingnya reyot, atapnya bocor di sana-sini, juga kursi-kursi siswa belum ada,” lanjutnya. “Juga, sekarang hampit taka da lagi anak PAUD atau TK yang berangkatnya jalan kaki. Karena selain jalan yang sudah bagus, motor pun sudah banyak yang masuk ke kampung. Anak-anak banyak yang diantar naik motor atau naik ojek.” Bu yeni mengakhiri obrolan itu tepat saat tanda jam sekolah berakhir.

(Dulu) Paud & TK Kemuning sebelum direhab oleh Astra
gambar: Kepala Sekolah PAUD &TK RA. Masyitoh
(Kini) Salah satu siswa TK RA. Masyitoh ceria bermain dakon
Gambar: dok. pribadi

Kulihat sekeliling, dinding sudah semi permanen, atap sudah rapi, cat juga cerah berwarna-warni khas sekolah anak-anak balita. Permainan meski sederhana juga sudah lengkap dengan berbagai permainan edukasi seperti puzzle hewan, puzzle tumbuhan, dakon, susun balok dan lain-lain. Meski sederhana, permainan outdoor seperti komedi putar mini, jembatan palet kayu warna-warni nampak menghiasai halaman dan teras PAUD TK RA. Masyitoh Kemuning. Aishya ikut berkerumun di meja kecil berwarna merah di tengah ruangan, rambut poninya sesekali dirapikan saat terbang terknea kipas angin. Ia bersama dengan siswa lain sedang bermain puzzle hewan. Anak itu memang cepat sekali membaur. Gurunya begitu sabar menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sambil sesekali matanya melirik ke arahku, memastikan bunda masih dalam satu lokasi bersamanya.

Bermain Puzzle hewan bersama teman-teman baru
gambar: dok. pribadi

Hebatnya, dengan segala keterbatasan, ternyata PAUD dan TK tersebut cukup berprestasi. Di Antara prestasi yang telah diraih adalah Juara III lomba tahfidz Quran oleh Bu Badriyah, salah satu guru di sana. Juga juara II lomba tari Islami berkelompok. Hal yang semakin membuatku takjub adalah Bu Badriyah, yang kerap menjuarai berbagai lomba tahfidz, ternyata hafal Al Quran. Masya Allah, Bu! Semoga berkah, ya! Mendedikasikan tenaga, waktu dan ilmunya yang mulia di tempat terpencil namun kaya kasih sayang dan semangat ini.

Gunung Kidul dulu dan Kini

Peta Administrasi Gunung Kidul
Sumber:www.gunungkidulkab.go.id

Satu kata tentang Gunung Kidul, tandus! Entah berapa puluh tahun yang lalu kudengar hal itu menjadi trending topik di kota tempatku mencari ilmu ini. Tak ada yang menyangka, hanya selang beberapa tahun dari doktrin yang melekat itu keadaan dibalik oleh Allah.

Sekarang, siapa yang nggak tahu Goa Pindul? Siapa yang nggak kenal Pantai Indrayanti? Air Terjun Sri gethuk? Dan masih banyak lagi destinasi wisata di Gunung Kidul yang hingga kini pengunjungnya semakin meroket. Bahkan tiap akhir pekan, hampir dipastikan akses sepanjang jalan menuju Gunung Kidul selalu dipadati oleh berbagai kendaraan dari berbagai kota. Macet!

Gunung kidul, mengapa diberi nama demikian? Daerah berbatu ini merupakan rangkaian Pegunungan Kapur Selatan yang membentang di selatan Pulau Jawa. Komposisi bebatuan berwarna putih atau sering disebut dengan batu gamping ini menandakan bahwa dahulu kala daerah ini merupakan dasar laut yang mengalami pengangkatan tektonik dan vulkanik. Jadi tak heran jika memang aslinya tempat itu merupakan tempat yang tandus.

Kampung Berseri Astra (KBA)

Logo Kampung Berseri Astra
Gambar: www.satu-indonesia.com

Kemuning, adalah salah satu kampung yang berlokasi di Gunung Kidul. Tepatnya di Desa Bunder Kecamatan Patuk. Kampung ini terpilih menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) yang merupakan salah satu dari 76 kampung bagian Corporate Social Responsibility (CSR) di seluruh Indonesia. Kenapa kampung ini terpilih? Jadi ada beberapa tahap sebuah kampung dapat dipilih untuk menjadi Kampung Berseri Astra:

Dalam menentukan dan memilih calon KBA, terdapat beberapa tahap yang harus dilewati:

  1. Koordinasi perusahaan Group Astra
  2. Pembentukan Tim KBA
  3. Koordinasi dengan pemerintah daerah
  4. Social Mapping
  5. Penentuan lokasi KBA

Apa itu KBA?

Infografis www.healthymomy.com
Sumber: www.satu-indonesia.com

Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pembangunan yang mengintegrasikan 4 pilar program, yaitu: Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

Melalui KBA, masyarakat dan perusahaan bekerjasama untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra.

Jadi, apa yang kamu dengar sekarang tentang Gunung Kidul? Daerah yang kaya destinasi wisata indah. Pantai, Goa, Karst peninggalan kebudayaan purba? Ya begitulah, semua sudah berubah seiring perkembangan zaman, juga seiring dengan semakin cerdasnya masyarakat Gunung kidul di bawah kepemimpinan pemerintahan Bupati dalam membangun rumahnya sendiri.

Sekarang, jika kamu bertanya padaku seperti apa rasanya sekolah TK, pasti kujawab dengan lantang, “Aku tidak tahu!” Dulu, bahkan di desaku sama sekali tidak ada sekolah TK. Aku langsung masuk ke SD saat usiaku menginjak 6 tahun, yang itu artinya 36 tahun yang lalu. Jadi aku pun tak tahu betapa asyiknya bermain di TK, menggambar kupu-kupu, mewarnai, dibacakan cerita. Aku menghabiskan masa balitaku bersama ibuku tercinta sebagai madrasah pertamaku. Aku mengenal Alif-Ba-Ta-Tsa, juga langsung dari mulut ibuku setiap aku mau tidur. Aku juga mengenal jam dari kakekku. Mengenal kasih sayang dan berbagi dari nenekku. Dan, aku mengenal ketegaran serta kesabaran dari bapakku.

Bukti, kenapa pendidikan begitu penting diberikan sedini mungkin. Inilah yang menumbuhkan cita-cita Astra, Sejahtera Bersama Bangsa.

~

ew

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Pewarta Astra 2018. 

 

Warung Omah Sawah Tembi, Tempat Selfie Bersama Sawah Dan Padi

Omah Sawah Tembi. Warung Omah Sawah Tembi tempat selfie bersama sawah dan padi. Kakinya tak sabar meniti pematang sawah yang lebarnya hanya sekitar 20cm. Kanan dan kiri jalan setapak itu tentu saja dipenuhi tanaman padi menghijau. Lalang daunnya melambai hingga menyebrang ke pematang. Membuat tangan juga kakinya terasa geli terseret lembaran lalang daun padi.

Jus Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

“Bunda, aku mau ke sana!” telunjuknya mengarah ke 100 m di belakang saung utama Warung Omah Sawah Tembi. Ah, gadis kecil itu mulai menyukai lingkungan ini. Tak takut ada ulat atau belalang, kah? Sendal jepit mungil berwarna biru dengan gambar Sofia si tokoh kartun dipegangnya erat di tangan kiri. Ia sedikit berlari sambil menjaga keseimbangan. Terkadang tangannya menyentuh kuntum pada yang masih hijau. Padi muda.

Rupanya replika gajah gagah bertengger di tengah hamparan sawah luas. Tiang-tiang lampu listrik berjajar sepanjang pematang menuju ke tempat gajah berdiri. Gadis kecil menuju ke sana.

Hmm, spot selfie yang lumayan keren, pikirku.

Outdoor Omah Sawah tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

Sore itu, memang pas sekali. Bukan Sabtu atau Minggu sore, namun tempat makan tradisional ini dipenuhi pengunjung. Pantes saja, suasananya yang begitu adem, tenang dan nyaman begitu dirindukan, terutama bagi mereka yang sempat merasakan hidup di era pra teknologi hingga kini semua serba online, seperti aku. Merasakan suasana di Omah Sawah Tembi membuat memori kita terlempar berpuluh tahun yang lalu, di mana hidup kita masih serba tradisional belum mengenal kemajuan teknologi. Hiburan hanya berupa makan di gubug di sawah sepulang sekolah. Sambil menunggui tanaman padi dari serbuan burung-burung. Atau sorenya akan berlarian sepanjang pematang untuk menangkap belelang, capung atau mencari belut di sela-sela tanaman padi? Ah, tidak aku biasanya “bruwun” mencari dan memetik batang sayur kangkung di sela-sea rumput di pematang sawah. Itu sangat seru!

Menyeruput wedang jahe sere
Gambar: dokumentasi pribadi

Suasana pedesaan yang hijau dan segar juga aneka menu tradisional melengkapi warung bernuansa sawah ini. Sengaja mendirikan warung tersebut di tengah sawah dengan harapan dapat memberikan fasilitas yang nyaman dan eksotik pada orang-orang yang merindukan semacam rumah desa namun sudah sangat sulit didapatkan di area perkotaan yang semakin padat dengan bangunan hingga jadwal kerja.

Omah Sawah tembi, alternatif pilihan untuk bersantai dan juga melepas penat di siang, sore maupun malam hari bersama teman kerja, keluarga atau sesama anggota arisan emak-emak zaman now. Omah Sawah Tembi, letaknya tak jauh dari Pasar Gabusan di daerah Jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta.

Apa saja yang bisa kita nikmati di sana?

  1. Menu Makan dan MinumTradisional
Ikan Asam Manis Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

Aku hobi makan, tapi bosan dengan aneka makanan modern. Pas banget! Karena aku lebih suka menu aneka sayur, juga masakan rumahan yang jarang sekali bisa kita temukan di kota. Di sini menu makanan ndeso sangat lengkap. Menu yang selalu bikin lidah kita menyerah untuk berhenti. Sebut saja mangut lele pedas, ada yang nggak suka? Ya bagi yang nggak suka memang susah untuk dibuat suka. Tapi buat yang suka, menu pedas berkuah ini mampu membuat nasi di bakul langsung ludes habis. Belum lagi ikan nila bakar, sambal terasi, oseng bunga papaya, oseng daun pepaya teri, sayur lodeh, tempe garit dan lain-lain. Hmm, baru liat saja sudah bikin perut melonjak-lonjak keroncongan. Selain makanan, Omah Sawah Tembi juga menyediakan berbagai minuman tradisional yang bikin kangen. Ada wedang jahe sere, wedang secang, jus Omah Sawah perpaduan sayuran dan buah yang membuat rasanya semakin segar dan menyehatkan. Gula yang dipakai adalah gula batu, tahu kan nikmatnya minuman yang memakai gula batu? Wedang jahe atau teh, sama nikmatnya. Cobalah, pasti ketagihan!

Oseng Bunga Pepaya
Gambar: dokumentasi pribadi
Wedang Secang
Gambar: dokumentasi pribadi
  1. Suasana Pedesaan yang Asri, Nyaman dan Adem

Pergi pagi pulang petang, melewati berbagai gedung tinggi dan perempatan lampu merah yang padat dan penuh polusi. Begitu seterusnya aktifitas harian kita. Wajar jika kita kerap stress dan tak sabaran saat menghadapi celotehan anak yang menurut kita mengganggu, tapi bagi mereka adalah hal yang luar biasa seru.

Saat itulah kita butuh piknik. Bukan mengenai ke mana lokasi yang mahal dan mewah. Namun sebenarnya adalah kita butuh rileks saja, melihat sesuatu yang beda dari rutinitas. Sawah hijau segar, tanaman padi, bunyi-bunyian burung, jangkrik juga katak di sore hingga malam hari. Hal sepele itu justru jarang terpikirkan oleh kita. Padahal justru hal sepele itu lah yang kerap bisa kita andalakan sebagai mood booster untuk mengobati stress kita.

Di sini, Omah Sawah Tembi aku mendapatkannya semua. Suasana itu, suasana yang romantis buat keluarga.

  1. Spot Selfie Kekinian

Jika dulu kita selalu hunting spot selfie yang berbau modern, mal, bioskop, rumah makan modern. Maka beda lagi dengan sekarang. Sering kita lihat foto-foto teman kita berseliweran di beranda kita? Ada yang di gubug, ada yang di hutan pinus, ada yang di sawah?

Nah, di Omah Sawah Tembi juga mneyediakan semua keunikan spot selfie itu. Sawah luas? Ada. Aneka peralatan makan tradisional? Ada. Tempat duduk dari kayu? Ada, kentongan kayu? Ada. Vespa jadul? Ada. Bahkan replika gajah khusus disediakan untuk anak-anak yang hampir semuanya suka dengan binatang super besar itu pun, ada.

Jadi mau sekadar berlarian di pematang sawah yang hijau sambil disyuting atau difoto? Sangat difasilitasi dan bebas mau berapa lama saja di sana, gratis!

Spot Selfie Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi
  1. Suasana Romantis

Suasana romantis itu yang seperti apa? Bagi aku adalah yang jauh dari hingar-bingar apapun gangguan. Tidak ada deru kendaraan yang mendominasi, tidak ada rutinitas yang membosankan. Suasana adem dan segar dengan suplai oksigen alami tanpa batas juga sangat menyokong keromantisan. Kecukupan oksigen yang kita hirup yang disediakan oleh tumbuhan adalah alasan yang paling masuk akal kenapa kita bisa memperbaiki mood. Saat kebutuhan oksigen kita tercukupi, maka otak kita akan segera optimal bekerja, stress yang membebani pun akan segera lenyap oleh kemampuan kerja otak yang kembali optimal. Pemandangan jauh melintasi hamparan sawah hijau, juga aroma alam yang membuat kita menyatu juga membuat perasaan dan suasana di sekitar kita menjadi romantis.

  1. Sunset Jingga

Omah Sawah Tembi terdiri dari saung utama berukuran besar dengan ke empat sisinya tanpa dinding. Langsung terbuka ke alam. Sehingga pemandangan lingkungan luar yang bersih dan hijau sangat bisa dinikmati dari dalam saung atau pendopo. Sisi barat, hamparan sawah sangat luas, berbatasan dengan kampung yang jaraknya mungkin sekitar satu kilometer. Persawahan luas itu memungkinkan sekali untuk kita melihat langit jingga di sore hari menjelang matahari masuk ke ufuk barat.

Saat matahari perlahan menurun di ufuk barat, langit mulai menunjukkan keindahannya. Gradasi warna mulai dari kuning emas, jingga hingga kemerahan menuju ke satu titik di mana bulatan sempurna matahari mulai tertelan bumi. Semilir angin yang menyertai menambah kesempurnaan sore yang dinanti. Seiring pula bunyi-bunyi jangkrik juga katak dan kodok mulai diperdengarkan untuk memanggil para kawan yang masih saja santai beristirahat. Saatnya bernyanyi! Omah Sawah Tembi begitu alami. Weekend ini mau ke mana?

Secangkir Kopi Robusta Susu Dari Barista Inklusif Jogja

Kulirik lagi penyaji kopi istimewa itu. Kopi Robusta? Bahkan, namanya saja baru kudengar. Mungkin karena aku tak termasuk orang-orang yang gemar nongkrong di café sekadar untuk ngopi bersama di Sabtu sore. Ya, pesan Kopi Robusta pun hanya ikut-ikutan teman yang lebih dulu memesan. Kopi cenderung pahit, namun saat dipadu dengan susu manis akan tercipta rasa baru yang nge-blend, itu penjelasan yang kudapat untuk secangkir kopi Robusta susu. Barista Inklusif, Stand Kopi di acara temu Inklusi 2018, satu di antara bukti lainnya yang menggaungkan inklusi sosial, menyetarakan harkat sesama warga tanpa membedakan maupun mencaci keterbatasan, menuju Indonesia Inklusi, #IDInklusif.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Kopi Robusta Susu dari Barista Inklusif Jogja)

Di stand sebelah kanan panggung utama, Mbak itu sangat cekatan. Menulis, mengambil gelas, menandai dan memindahkannya ke meja sebelah. Hingga entah detik ke berapa, aku terpaku. Kecepatan gerakan tangannya menutupi sesuatu. Tangan kirinya tak sempurna. Masya Allah! Sejenak pandanganku terhenti di satu titik, tangan itu. Telapak tangannya hanya seukuran separuh telapak tangan normal, pun jemarinya hanya terdapat dua atau tiga saja, bukan lima. Aku tak berani lebih jeli menghitung tepat jumlahnya berapa.

Sungguh, keberadaannya yang tak sempurna tak menyusutkan semangat juga kepercayaan diri. Aku masih tertegun saat mbaknya memanggil namaku. Buru-buru kualihkan pandangan, aku takut pandanganku akan membuatnya risau. Aku takut, pandanganku akan menyakiti hatinya, membuatnya tak nyaman, meski aku tak bermaksud begitu.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Seorang perempuan istimewa yang cantik, penuh semangat, juga cekatan dalam melayani pelanggan Kopi Robusta dari Barista Inklusif)

Belum habis decak kagumku, mataku menangkap bayangan lain. Kali ini sosok pria bertubuh gempal. Dia tak kalah cekatannya dengan si mbak. Namun kali ini bukan menulis atau membuat daftar nama di masing-masing gelas plastik single use. Lebih rumit dari itu. Sigap kedua tangannya mengelap meja, menyiapkan cangkir dan meracik biji kopi untuk dimasukkan ke dalam penggilingan kopi mini di atas meja. Juga mengangkat teko panas berisi air mendidih yang kemudian dituangkan perlahan dengan menyusuri tepi penyaringan dari kertas berbentuk kerucut. Air hitam kecoklatan mengalir mengisi gelas ukur berbentuk piala. Dalam sekejap, aroma khas kopi murni yang legit menyeruak, mengusik indera penciuman, dan merangsang otakku untuk memproduksi hormon bahagia. Cafein itu sukses membuatku ingin mencicipinya.

Tak ada jari di sana yang menjaga agar teko tak jatuh. Pun tak ada telapak tangan yang menopang teko panas beralas kain agar panasnya tak melukai. Hatiku mencelos. Melihat betapa orang-orang itu selalu bersemangat. Namanya Eko Sugeng. Nyaris tak terlihat berbeda dengan kecekatan tangan orang normal, selain sepasang tangannya yang hanya sampai pada lengan bawah atau sedikit turun dari siku. Mengerucut khas luka yang sengaja dibuat saat operasi amputasi. Tanpa satu pun jari-jemari. Yah, dia tak punya telapak tangan, bahkan dia tak punya pergelangan tangan. Tapi, Ya Allah, dia begitu cekatan!

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Eko Sugeng, namanya. Orang yang selalu bersemangat belajar dan akhirnya mahir dalam meracik kopi istimewa berbagai rasa)

Allah Yang Maha Baik. Allah mudahkan segala urusan. Eko, yang bahkan tak punya satu pun jari tangan? Gimana caranya mandi? Gimana caranya… Ah, terlalu banyak pertanyaan bodoh yang berkelebat. Pertanyaan yang mungkin tak bernilai sama sekali, dibandingkan keberadaan jiwa yang masih setia pada raga ini. Pertanyaan yang tak seharusnya dipertanyakan. Pertanyaan yang hanya mengurangi rasa syukur kita kepada Allah Swt.

Pahit beradu manis. Kusesap perlahan kopi pesananku. Cuaca masih begitu terik saat kopi Robusta yang pertama kali kukenali ini tinggal separuhnya saja. Aku masih berteduh di bawah atap stand kopi istimewa dari Jogja ini. Kopi #BaristaInklusif ini merupakan tim @Staracoffee, dampingan salah satu mitra Program Peduli yaitu Pusat Rehabilitasi YAKKUM. (Instagram @pryakkum dan Fb: Pusat Rehabilitasi Yakkum). Salah satu Video Program Peduli menceritakan kegiatan pelatihan Kopi yang meruntuhkan dinding pembatas orang normal dengan difabel.

Ya, Gunung kidul. Tepatnya di desa Plembutan, merupakan desa pertama yang mengumumkan dan meresmikan kepeduliannya terhadap keberadaan kelompok rentan masyarakat disabilitas. Desa tersebut memberi peluang dan melibatkan seluruh kelompok masyarakat difabel dalam agenda pembangunan desa. Kiprahnya telah membuktikan bahwa kelompok orang berkebutuhan khusus itu setara dengan orang normal, mampu dengan cerdas dan optimal untuk turut serta aktif dalam pembangunan desa.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (Kepala Desa Plembutan, Bu Edi sedang presentasi mengenai Desa Inklusi)

Desa Plembutan, Playen, Gunungkidul, tempat digelarnya acara Temu Inklusi #3. Pertemuan difabel tingkat nasional baik secara individu, organisasi maupun para pemerhati isu difabel ini dihadiri perwakilan dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. Forum Diskusi yang dipimpin oleh Pak Suharto, salah satu warga Gunungkidul dengan difabel netra, mengusung tema Menuju Indonesia Inklusi 2030 Melalui Inovasi dan Kolaborasi.

Presentasi pertama oleh Bapak Sutrisna, Kepala Desa Sidoarjo Purworejo. Menurut data yang disajikan, Desa Sidoarjo memiliki 360 jiwa difabel dengan berbagai macam kedifabelan. Angka tersebut diambil dari total sekitar 8.000 jiwa dalam satu desa.

Bahwa tak selamanya orang-orang dengan segala keterbatasan hanya merepotkan saja. orang-orang pilihan itu mampu menunjukkan karya. Mereka mampu sekadar untuk berunding, menyusun strategi pembangunan maupun secara aktif ikut serta dalam setiap kegiatan pembangunan desa.

Mengapa Temu inklusi #3 di Desa Plembutan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung kidul? Desa itu yang pertama kali membuat Peraturan desa (Perdes) tentang kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga tanpa melihat perbedaan apapun. Perdes itu digunakan sebagai acuan legalnya kebijakan dalam rangka melibatkan para difabel di setiap kegiatan desa yang berpayung hukum.

Bu Edi, selaku Kepala Desa Plembutan menjelaskan bahwa, mengapa desa tersebut berani mengambil langkah ini lebih dahulu dibanding dengan desa lainnya di Gunung Kidul maupun di daerah lain? Alasannya adalah, karena semua orang tak terkecuali, pada saatnya nanti pasti akan menjadi anggota dari kelompok orang berkebutuhan khusus. Saat orang tersebut penglihatannya sudah berkurang dan harus memakai kacamata misalnya, maka orang tersebut sudah masuk ke dalam kelompok difabel yang mempunyai kebutuhan khusus, paparnya.

Betul juga, ya?

Desa inklusi tidak serta merta hanya memprioritaskan sebuah kegiatan hanya dikhususkan bagi kelompok difabel, namun bagaimana caranya agar setiap aspek pembangunan desa baik fisik maupun dalam bentuk kegiatan akan ramah dan dapat diakses dengan mudah oleh setiap warga, baik yang normal fisiknya maupun warga dengan keterbatasan fisik/difabel.

Temu inklusi ini juga dihadiri oleh Pak Maman, staf ahli dari istana kepresidenan. Pak Maman mewakili presiden Joko Widodo untuk melakukan pendampingan terhadap jalannya acara istimewa tersebut. Menyampaikan segala aspirasi dari pemerintahan tingkat bawah serta memberi masukan mengenai kebijakan-kebijakan dalam rangka meraih cita-cita menuju Indonesia Inklusi 2030.

Ya, rasanya tak muluk-muluk. Jika setiap desa sudah menjadi desa Inklusi, maka target Indonesia Inklusif tahun 2030 akan sangat mudah untuk tercapai. Semoga.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Selain Barista Inklusif, desa inklusi Plembutan juga memiliki berbagai kelompok difabel dampingan bernama Kelompok Mutiara Plembutan, yang dilatih dengan berbagai macam ketrampilan yang akan meningkatkan kemampuan diri setiap warga difabel. Menyusun manik-manik, membuat bros, memasak aneka panganan, pelatihan IT dan pelatihan lainnya.

Pahit sedikit manis berpadu. Es kopi sudah tak lagi bersisa. Kutenggak tetesan terakhir kopi Robusta sebelum akhirnya kulangkahkan kaki menuju mobil Hiace yang akan mengantarku turun ke Jogja. Rasa kopinya yang original hanya menipis sedikit saja didesak oleh kucuran susu kental manis. Kusesap beberapa kali kopi itu. Pahit namun membuat ingin menyesapnya lagi. Perlahan kulirik penyaji kopi itu lagi. Tak berkurang, justru pengunjung stand Kopi Barista semakin memadat. Wajar saja, wajah ceria penyaji kopi semakin sumringah, meski peluh semakin bercucuran akibat teriknya matahari beradu dengan hawa panas yang dikeluarkan bersama kepulan asap air mendidih penyeduh kopi.

Sekelumit waktu yang berkualitas, menghadiri acara nasional Temu Inklusi #3 mengajarkanku berjuta rasa, ilmu juga kesetaraan karsa. Bahwa, di sekitar kita ada banyak warga dengan segala keterbatasannya, ingin diperlakukan setara bahkan hanya untuk berbagi rasa dan cinta. Mereka sama dengan kita, butuh bicara, butuh cinta, juga butuh berbagi kasih sayang dalam setiap karya. Mari saling mengisi tangki cinta juga menyalurkannya ke sesama tanpa melihat perbedaan dalam setiap keterbatasan.

TERBANGKAN MIMPI MENJADI TRAVEL BLOGGER KECE DENGAN LAPTOP IDAMAN

Oh my God! Rasanya pengin turun saja dari mobil, ajak anak-anak untuk berjalan kaki. Entah di depan atau di belakang mobil yang disetir sama suami, sendirian. Tapi, tidak mungkin, toh kalau misalnya pikiran buruk itu terjadi, kasihan suami sendirian mengalaminya. Na’udzubillah, jangan sampai! Allah lindungi kami!

Namun untuk berhenti dan berputar balik arah agar tidak melewati jalur itu? Itu sama halnya mengulang perjalanan yang entah berapa puluh jam yang lalu kita awali. Sebenarnya bukan karena dikejar waktu atau harus buru-buru, kita semua bisa enjoy sepanjang perjalanan karena seluruh anggota keluarga jelas sudah ikut menikmati serunya perjalanan itu. Jadi mau terlambat atau mau cepat, sudah tak ada lagi yang menjadi alasan untuk panik.

Ok, kita lanjut! Dan aku harus tetap bertahan di dalam mobil ini, di dalam entah hutan apa namanya, di pedalaman Purworejo yang baru sekali itu kami lewati. Napas rasanya tak mampu kuhela saat perlahan suami mulai mengarahkan kemudinya menyusuri setengah ruas jalan yang masih disisakan oleh longsor beberapa waktu sebelumnya. Apapun yang terjadi, bismillah. Dan tiba-tiba aku ingat tentang satu hal,

“Pedang yang sudah di arahkan ke lehermu pun tak bisa mematikanmu kalau Allah tidak meng”iya” kan.”

Itu artinya, ruas separuh jalan berbatu bekas longsor yang terlanjur kami pilih ini tidak akan menggelincirkan untuk mati konyol hanya karena menghindari jalur macet lebaran. Kulirik anak-anak yang tertidur pulas di belakang. Perlahan kuarahkan pandanganku ke arah suami yang sedari tadi menunggu anggukan kepalaku. Bismillah! jalan longsong dengan sebelah tebing dan sebelah lainnya jurang terjal! Aaaggrrhh!

Berhasilkah?

Alhamdulillah, jika tak berhasil, maka tulisan ini insyaallah tidak akan pernah ada. Allah masih melindungi kami semua, dan anak-anak tak satu pun yang terbangun untuk menyaksikan kengerian berpacu dengan adrenalin kami.

Travelling memang sudah menjadi hobi kami yang tak pernah menjemukan. Minimal setahun sekali kita semua pasti melakukan perjalanan jauh yang sering kita sebut dengan istilah travelling. Bagi yang sudah berkeluarga di mana mertua dan orang tua berjauhan tempat tinggal meski masih dalam satu pulau, membuat aktifitas rutin tahunan ini wajib banget untuk selalu dapat ditunaikan. Birrulwalidain-lah sebutannya. Berbakti kepada kedua orang tua. Seperti aku, ujung barat Jawa tengah menuju ujung timur Jawa Tengah. Setiap tahun minimal sekali melewati rute yang berbeda. Jadi meski tiap tahun tujuannya sama, namun kita selalu menemukan jalur baru yang selalu berbeda dari tahun ke tahun.

Hal unik yang ditemui sepanjang jalan selalu menarik untuk kubagi dengan semua orang. Hal unik yang membuat kita selalu semangat meniti hari bersama keluarga. Sayang sekali kan hobi ini jika dibiarkan terendap begitu saja di dalam memori kita? Makanya mulai beberapa bulan ini seiring dengan tumbuhnya minat untuk belajar menulis, aku ingin selalu membagi semua hal, terutama mengenai travelling, dan lebih keren sekarang dengan sebutan travel blogger. Minimal berbagi informasi yang bermanfaat terkait semua hal.

Produktif Menulis dengan ASUS
Gambar: Doc. Pribadi

Tuh kan, menulis adalah hal baru (lagi) yang membuatku terus semakin bersemangat. Bersemangat memasuki dunia baru yang menurutku makin berwarna di dalamnya. Ya, memang menulis termasuk salah satu terapi untuk membarukan semangat dalam jiwa.

Laptop ASUS
Gambar: Doc. Pribadi

Alhamdulillah berbekal laptop ASUS X541U aku mulai produktif menulis. Menulis apa saja yang ada di dalam kepalaku. Tak terasa semua hal bisa menjadi ide segar buatku, meski cara menuangkannya belum semulus yang dibayangkan. Menulis menjadi rutinitas baru yang begitu menyenangkan bagiku.

ASUS, merk laptop terkenal di Indonesia yang menurutku sudah paling canggih, rupanya selalu mengeluarkan seri baru untuk lebih memberi fasilitas unggul demi memfasilitai para pecandu menulis.

Sebut saja ASUS ZenBook 13 UX331UAL yang saat ini sudah masuk pasaran Indonesia.

Sepertinya itulah laptop impianku, laptop lembut, ringan namun powerfull. Kabarnya laptop ini sudah diuji kekuatannya oleh artis beken Raditya Dika.

Berikut sedikit spesifikasi ASUS ZenBook 13 UX331UAL :

ZenBook 13 UX331UAL memiliki ketebalan yang sama seperti saudaranya, ZenBook UX331UN yakni hanya 13,9 milimeter. Tetapi ia berhasil menembus angka di bawah 1 kilogram untuk bobot keseluruhan. Tepatnya, hanya 985 gram saja.

ASUS ZenBook 13 UX331UAL Yang Super Tipis dan Ringan
Gambar: Channel.asus.com
Gambar: Channel.asus.com

Masya Allah, ini si ringan banget! nggak bakal membuat punggung kita bungkuk seharian menggendong laptop ini mah! meski dibawa keliling Indonesia. Duh, makin mupeng kan jadinya?

Dibanding ZenBook 13 sebelumnya yang menggunakan aluminium chassis, konstruksi berbasis magnesium alloy pada ZenBook 13 UX331UAL membuatnya sangat tangguh.

Bahkan ia memenuhi standar military-grade MIL-STD 810G dan lolos uji daya tahan untuk memastikan kemampuannya beroperasi dalam berbagai kondisi.

Meskipun punya tampilan yang sangat lembut, ZenBook 13 UX331UAL telah lolos pengujian berat standar daya tahan military-grade MIL-STD 810G. serius ini? Hmm, pantesan di channel Raditya Dika, laptop ini mah masih bertengger meski dilindas oleh motor, amazing!

Trus, masih banyak lagi keunggulan ZenBokk 13 UX331UAL. Dibawah ini alasan kenapa laptop ini menjadi laptop impian sobat traveler:

Laptop tipis, ringan dan powerfull

Saat bepergian, pastinya kita menginginkan laptop yang paling tipis, paling ringan, dan paling ringkas. Inilah yang ditawarkan ZenBook UX331UAL dengan bobotnya yang hanya 985g (kurang dari berat rata-rata sepasang sepatu!) ketipisan 13.9mm, sehingga sangat nyaman saat bepergian. Desain bingkai NanoEdge juga sangat ringkas untuk laptop ukuran 13 inchi: ZenBook UX331UAL ini tentunya adalah teman perjalanan Anda yang setia, ke mana pun Anda pergi!

Wi-Fi Master

Dengan aplikasi ini, laptop mampu mendapat kecepatan transfer yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dibanding laptop lain pada umumnya. Dari jarak 300 meter atau lebih masih bisa mengakses Wi-Fi yang meski mendapat interferensi dari perangkat USB 3.0. Jarak ini 65 meter lebih jauh dibandingkan dengan laptop lain pada umumnya yang tidak memiliki Wi-Fi Master.

Kinerja Laptop Mumpuni

Meskipun desainnya yang ringkas dan ultraportabel, ZenBook UX331UAL ini tidak berkompromi dengan kinerjanya: Prosesor Intel® Core™ i5 Generasi ke-8 yang supercepat, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCIe® memungkinkan kita untuk menyelesaikan seluruh tugas dengan mudah. Plus, system audio Harman Kardon-nya juga memberikan suara imersif yang kencang dan kuat. Keren kan!

Baterai Yang Super Awet

ZenBook UX331UAL ini memang dirancang untuk mereka yang memiliki gaya hidup non-stop, karena ZenBook ini menawarkan kebebasan pemakaian baterai sepanjang hari. Ohoho, laptop ini dilengkapi dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang dirancang khusus untuk memberikan ZenBook UX331UAL daya tahan baterai hingga 15 jam.

Sensor Sidik Jari dengan Windows Hello

Mengakses ZenBook UX331UAL menjadi lebih aman lagi berkat sensor sidik jari yang ada di touchpad dan Windows Hello. Nggak perlu lagi mengetikkan kata sandi setiap kali masuk: Cukup satu sentuhan saja. Cepat dan praktis!

Kenyamanan Saat Mengetik

ZenBook UX331UAL ini dilengkapi dengan keyboard backlit ukuran penuh dengan desain yang kokoh, memberi pengguna pengalaman mengetik yang luar biasa dalam segala kondisi pencahayaan. Boleh dibilang ini adalah mahakarya ergonomi, dengan jarak penekanan tombol keyboard 1,4 mm yang dioptimalkan untuk kenyamanan saat mengetik. Laptop ini juga didukung dengan teknologi palm-rejection dan mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan. Yes, kenyamanan mengetik mempertahankan kita dalam posisi yang sama dalam waktu lebih lama. Itu artinya apa? Artinya kita akan semakin produktif menulis kawan!

Kenyamanan Mengetik dengan ASUS ZenBook 13 UX331UAL
Gambar: Channel.asus.com

Duh, mimpi apa ya aku, kalau tahun ini mendapat laptop idaman se-keren ZenBook 13 UX331UAL? Allahuakbar, Shalawatin dulu! Allahummashalli’ala Muhammad! Bismillah!

NAIK BUS MEWAH INI, HANYA MEMBAYAR DENGAN 3 BUAH SAMPAH! AH, MASA?

Ada bus kota yang naiknya hanya dibayar dengan sampah? Ini gokil banget! Semoga bukan karena akunya saja yang kudet alias kurang update. Bus dengan fasilitas modern super lengkap, ramah anak, ramah bumil (Ibu hamil, red), ramah lansia(lanjut usia) juga ramah difabel ini sangat memanjakan fasilitasnya. Dan, biaya naiknya hanya dengan menukarkan sampah plastik berupa botol bekas saja! Percaya? Aku berkali-kali mengulang kalimat itu di sebuah media sosial Instagram resmi dari Dinas Perhubungan kota Surabaya. Serius bayarnya hanya pakai botol plastik bekas? Kalau bener, amazing pakai banget! Benar-benar langkah baru dalam upaya mencintai lingkungan. Langkah pionir yang berani mengambil keberanian yang luar biasa. Apakah di daerah lain sudah ada yang menggunakan metode pembayaran bus dengan menukarnya dengan sampah?

Gambar: Detik.com

Namanya Suroboyo Bus. Sesuai dengan namanya, tentu saja bus ini beroperasi di kota Surabaya. Yah, kota yang akhir-akhir ini sedang galak melakukan kegiatan dalam rangka mengelola lingkungan secara sehat dan bertanggungjawab. Asli, aku memang belum pernah sekali pun menginjakkan kaki ke daerah Surabaya. Tapi begitu ada informasi ini, jadi sangat antusias pengin mencoba ke sana juga.

Berkat Kerjasama Antar Dinas dan Tata Kota Surabaya

Dinas Perhubungan Kota Surabaya bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Tata Ruang Kota, bersama-sama mencetuskan untuk pertama kalinya di Indonesia dalam mengoptimalkan pemanfaatan dan pemilahan sampah pada sektor transportasi. Memberikan layanan publik sekaligus mengupayakan peningkatan kebersihan lingkungan dalam waktu yang bersamaan.

Suroboyo Bus yang menjadi ikon transportasi di kota Surabaya ini di launching pada hari Sabtu tanggal 07 April 2018 lalu. Bus bermesin matic ini semenjak awal beroperasi sangat dinantikan oleh para penumpangnya yang antusias. Sampai-sampai bus yang seharusnya menjadi alat transportasi publik ini beralih menjadi city tour bus. Beberapa penumpang sengaja mengajak anak-anaknya untuk berputar-putar keliling kota Surabaya dengan naik Suroboyo Bus.

Gambar: instagram Suroboyobus

Meskipun halte masih memanfaatkan yang lama karena masih membutuhkan waktu yang cukup untuk membangun halte baru, namun secara lengkap pengoperasian moda transportasi baru di kta Surabaya ini terbilang sempurna. Halte baru yang lebih bagus dan aman bagi penumpang, segera dibangunn. Halte yang melindungi penumpang dari kehujanan.

Fasilitas modern dan lengkap begitu memanjakan warga kota Surabaya atau warga daerah lain yang sedang berkunjung ke kota Surabaya. Design bus yang mewah, nyaman juga terdapatnya jendela kaca yang lebar sangat memberi kepuasan bagi penumpangnya untuk menikmati keindahan kota Surabaya. Duh, sudah mirip banget dengan bus-bus di luar negeri kan? Makin pengin ke sana, deh, jadinya.

Bus Nyaman dan Aman

Paling seru saat naik bus adalah rasa nyaman yang dijamin. Bukannya was-was seperti kita naik bus pada umumnya. Pencopet, pencuri, penjambret dan lainnya bisa bebas berkeliaran di dalamnya. Bahkan tak jarang, kondektur bus yang tahu kejadian itu pun tak bisa berkutik lantaran lebih takut sama tampang dan perilaku pencopet itu.

Lain halnya dengan bus modern satu ini. Bus bertingkat ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan keunggulan sebagai berikut:

CCTV sebanyak 12 buah untuk menjamin keamanan

Delapan buah CCTV berada di dalam bus, dan 4 sisanya berada di luar bus. CCTV ini akan terpantau dari darat sehingga bila di dalam perjalan bus itu terdapat tindakan perampokan, penjambretan, atau pencurian, makan tindakan itu akan segera terlacak dan pelakunya akan tertangkap di halte berikutnya.

Low Deck

Pijakan tangga untuk masuk ke dalam bus yang pendek ini akan memudahkan penumpang untuk turun langsung di area pedestrian kota Surabaya. Konsep ini juga begitu memudahkan bagi penumpang perempuan yang hamil, membawa anak kecil, orang dengan disabilitas, lansia juga bagi mereka yang menggunakan kursi roda untuk masuk ke dalam bus.

Kursi warna-warni

Gambar: instagram Suroboyobus
Gambar: instagram Suroboyobus

Suroboyo Bus di-design dengan kursi single seat warna-warni yang ramah terhadap perempuan maupun kaum lansia juga disabilitas. Masing-masing kursi mempunyai warna sesuai dengan penempatan penumpang:

Kursi Pink: Khusus bagi perempuan

Kursi Merah: Untuk Ibu hamil dan Lansia

Kursi Oren: Untuk penumpang umum, laki-laki atau perempuan.

Selain kursi, bus ini juga memfasilitasi bagi penumpang yang sehat untuk berdiri selama perjalanan, dengan berpegangan pada pegangan yang tersedia bergelantung di atap bus.

Sedangkan ruang khusus untuk disabilitas dengan kursi roda ditempatkan di bagian tengah bus dengan fasilitas pengaman kursi roda secara khusus yang telah disiapkan.

Panic button

Bus dengan konsep modern ini juga dilengkapi dengan “Panic Button” atau tombol darurat. Tombol ini bisa dipencet saat terjadi kebakaran di dalam bus. Jika tombol ini dipencet, maka bus akan berhenti, mesin mati dan pintu segera membuka secara otomatis.

Jendela kaca yang lebar

Jendela ini memberi keleluasaan bagi penumpang untuk menikmati indahnya kota Surabaya.

Jalan bebas hambatan

Bus ini melaju bebas hambatan karena tidak pernah terkendala dengan lampu traffic light yang menyala merah.

Petugas Yang Super Ramah

Gambar: instagram Suroboyobus

Petugas Suroboyo bus selalu siap membantu penumpang dengan senang hati, demi terciptanya kenyamanan dalam perjalanan.

Oh iya, untuk cara penukaran sampah plastik botol air mineral bekas, begini mekanismenya:

Gambar: instagram Suroboyo bus
  1. Penumpang membawa sampah plastik yang sudah dibersihkan ke halte terdekat atau bank-bank sampah.
  2. Sampah plastik yang sudah dibersihkan diserahkan kepada petugas yang ada di halte.
  3. Petugas akan memberikan satu tiket naik untuk ditukarkan dengan 3 buah botol plastik besar atau 6 botol plastik kecil atau 10 gelas plastik.
  4. Satu tiket berlaku untuk satu kali perjalanan dengan penghitungan waktu maksimal 2 jam untuk setiap tiketnya. Batas waktu berlakunya tiket tertera pada tiket.
Kartu tukar sampah Suroboyo Bus
Gambar: instagram Suroboyobus

Meski, pembayaran dengan sampah sifatnya tidak permanen, namun langkah ini begitu menggembirakan warga. Langkah ini jelas akan memberi perubahan pada perilaku warga terhadap pengelolaan sampah plastik pada khususnya. Setelah nanti sistem lebih dimatangkan, maka akan berlaku tarif sama jauh dekat, yaitu sekitar Rp 6.000,- saja sekali jalan. Tentu saja itu masih saja terjangkau untuk semua fasilitas yang ditawarkan.

Bus Berteknologi Modern

Bus berukuran panjang 12 meter dan lebar 2.4 m ini ternyata harganya fantastis. Per unit bus seharga 2.4 M. Luar biasa! Bus ini memiliki koneksi langsung dengan Surabaya Intelijen Transportasi System (SiTS). Koneksi ini mampu mengatur traffic light yang ada di depannya. Dalam jarak beberapa meter, koneksi ini akan dengan otomatis mengatur traffic light akan menyala hijau sedangkan traffic light di seberangnya akan mernyala merah. Sehingga Suroboyo bus akan dapat terus melaju tanpa ada hambatan lampu merah. Sampainya bus dari satu halte berjarak sekitar 20 menit saja dengan sistem pengendali traffic light ini.

Duh, kebayang nggak sih, naik bus serasa naik kereta yang bebas hambatan? Seru banget nih!

Hanya saja jumlah unit yang disediakan masih terbatas, yaitu baru terdapat sekitar 8 unit bus saja, sehingga jadwal keberangkatan masih lumayan jarang. Dari awal launching, pemerintah kota Surabaya sudah bertekad bahwa ada atau tidak ada penumpang, Suroboyo Bus akan terus melaju sesuai dengan jadwal keberangkatan yang telah diatur. Pada kenyataannya bus ini semenjak awal peluncuran selalu dipenuhi penumpang, baik yang memang berkepentingan untuk bepergian atau hanya sekadar jalan-jalan saja.

Dari 8 unit yang sudah berjalan, masih terlalu kurang dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ingin naik. Penumpang membludak dari prediksi. Banyak yang menyesalkan dengan jumlah unit yang terlalu sedikit. Dinas Perhubungan Kota Surabaya pun memberikan jawaban yang menggembirakan. Masih di tahun ini juga, rencananya jumlah armada Suroboyo Bus mau ditambah sekitar 10 unit lagi, memenuhi permintaan para penumpang yang sudah antusias berlangganan.

Hmm, benera ya, baru kali ini ada bus dengan fasilitas yang luar biasa. Setidaknya jika konsep ini bisa berlangsung sempurna, akan memberikan banyak manfaat besar bagi kota Surabaya pada khususnya, antara lain:

Suroboyo Bus dan Kemacetannya
Gambar: instagram Suroboyobus
  1. Mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas karena banyak penumpang yang lebih memilih naik bus dari pada mengendarai kendaraan pribadi.
  2. Menurunkan angka kemacetan lalu lintas. Bayangkan jika satu unit bus ini saja mampu membawa lebih dari 60 penumpang, hitung berapa penyusutan penggunaan motor maupun mobil pribadi dalam satu kali jalan? Sangat signifikan!
  3. Meningkatkan kebersihan lingkungan, terutama dari sampah plastik yang sekarang menjadi masalah tersendiri bagi lingkungan yang semakin rusak.
  4. Mengurangi angka polusi udara. Berkurangnya jumlah kendaraan bermotor karena banyaknya penumpang yang lebih memilih naik bus, akan memberi dampak positif terhadap jumlah asap kendaraan yang mengotori atmosfer kota Surabaya.
  5. Meningkatkan jumlah kunjungan wisata baik dari dalam negeri mau pun luar negeri. Kebersihan dan apiknya tata ruang kota Surabaya memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Mereka akan semakin betah dan semakin banyak merekomendasikan ke teman dan saudaranya karena kota Surabaya kini menjadi kota yang sangat bersih, aman dan nyaman.

Duh, harus segera bikin resolusi nih, minimal tahun depan harus bisa berkunjung dan merasakan serunya naik bus bergambar ikan Suro (Hiu) dan Boyo ini di kota Surabaya. Untuk pertama kalinya. InsyaAllah!

 

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

Liburan selalu identik dengan perjalanan jauh yang menyenangkan. Bertamasya ke suatu lokasi wisata bersama keluarga. Pun demikian dengan liburan tanggal 17 Agustus 2018, liburan kali ini sangat berbeda. Bersahabat dalam hitungan menit bersama tukik lucu nan menggemaskan.

Tak tahu kah mereka? Sayangnya, gigi-gigi tajam menyeringai, menunggunya berenang tanpa pendamping.

“Pelepasan Tukik? Wow, seruuu! Mau… mauu… mauuu!!” Anak laki-laki itu berjingkrak-jingkrak. Senyum merekah lebar, matanya membulat antusias.

“Eh, bentar, emang udah tahu tukik itu apa?” tanyaku.

“Hahahah… beluum!” Jawabnya polos sambil tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Emangnya, tukik itu apa, Bund?” tambahnya.

“Kamu tahu penyu? Tukik itu bayi penyu,” kataku.

“Penyu?” dahinya berkerut.

“Iya, penyu, semacam kura-kura…” kulihat wajahnya seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Ah, aku tahu! Aku mau… aku mauuu… ayok kita ikut melepas tukik Bund!” aku tersenyum.

***

Liburan 17 Agustus 2018 lalu kami isi dengan mengikuti acara Pelepasan Tukik di Pantai Goa Cemara Bantul Yogyakarta. Sesuai dengan perayaan hari kemerdekaan, acara pun diisi dengan memerdekakan tukik, si bayi penyu yang imut.

Belum memiliki kendaraan pribadi bukan menjadi penghalang kami untuk berbahagia. Ya, memang kami belum mampu untuk membeli mobil dengan cara cash. Namun, hal itu tak menyurutkan niat kami untuk membahagiakan anak-anak. Bukan kah di zaman sekarang banyak sekali perusahaan rental kendaraan yang terjangkau. Salah satunya adalah www.automo.com perusahaan rental ini menawarkan berbagai macam kendaraan yang bisa disewa sepuasnya untuk berwisata atau keperluan lain. Tak hanya mobil, mulai dari sepeda motor, truk bahkan hingga pesawat dan kapal pun bisa dicarter. Sistem sewa dihitung per hari atau per malam. Sangat membantu keluarga bahagia seperti kita untuk tetap memberi kebahagiaan sederhana bagi anak-anak. Perusahaan tersebut mempunyai beberapa cabang di Jakarta, Bali dan Yogyakarta.

Kenapa harus sewa mobil atau kendaraan lain? Tentu saja dengan menyewa mobil kita terhindar dari biaya perawatan, juga terhindar dari biaya setoran (kredit), tapi kadang tak bisa terhindar dari kemacetan haha, ya kan semua orang butuh piknik! Nggak punya mobil pun masih bisa jalan-jalan, bisa ganti-ganti mobil semau kita. Tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan budget, iya kan? Seru mana coba?

Kenapa sih semua anak-anak suka piknik? Perjalanan jauh? Anak-anak terlihat antusias setiap kali melakukan perjalanan jauh? Bahkan baru disampaikan niat piknik saja sudah membuat mereka tak bisa tidur saking senangnya. Seolah waktu yang panjang dan medan yang berganti-ganti menjadikan hiburan tersendiri di antara rutinitas harian yang membosankan. Sekolah.

Siang itu berpacu dengan matahari yang berada tepat di atas kepala. Dari kota menuju bagian selatan Jogja. Ke arah pantai. Pantai Goa Cemara. Pantai ini berlokasi di sebelah barat pantai Samas, Bantul. Melewati sawah-sawah dan pedesaan membuat anak-anak melihat banyak hal. Kambing yang sedang digembala, tanaman padi yang mulai menguning, jagung yang sudah siap panen. Banyak sekali pemandangan alam yang tidak dapat dijumpai di kota. Pemandangan yang menyegarkan memori anak. Kebahagiaan pun mulai merangkak menguasai anak-anak. Bernyanyi dan terkadang ngemil makanan mengisi perjalanan yang tak pernah membosankan.

Karena terhadang beberapa kali oleh pawai karnaval kemerdekaan, kemacetan pun tak dapat dielakkan. Kami baru tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 wib. Persis saat jadwal acara pelepasan tukik dimulai. Panitia segera membuka acara meski pengunjung masih belum penuh. Pengunjung hanya dibatasi sebanyak 300 anak (yang semuanya jelas didampingi oleh orangtua mereka).

Acara di awali dengan penjelasan seekor penyu yang ditemukan bertelur di tepi pantai. Hingga akhirnya menetas dan dalam usia beberapa puluh hari siap untuk dilepas, dikembalikan ke habitat aslinya, yaitu laut. Tragisnya, dari 300 ekor tukik, kelak 20 tahun lagi hanya 6 ekor saja yang bertahan hidup. Sisanya? Mati dimakan ikan besar atau mati karena makan sampah plastik yang dikira ubur-ubur oleh tukik. Ya, tukik dan penyu makannya ubur-ubur. Tahu kan ubur-ubur? Bentuknya yang bulat berwarna putih transparan, mengapung, sangat mirip dengan plastik. Tak heran jika banyak tukik yang salah menerka.

Plastik itu kenapa sampai di lautan? Itu lah akibat kesombongan kita. Kesombongan tak mau membuang sampah di tempatnya. Perilaku membuang sampah sembarangan oleh manusia terhadap sampah terutama plastic sangat merugikan regenerasi penyu. Bayangkan, kita menyumbang berapa puluh persen sendiri terhadap kontribusi membunuh penyu dan bayi-bayinya dengan plastic yang kita buang sembarangan? Duh, jangan diulangi lagi ya!

Setengah jam pelajaran tukik dijelaskan panjang lebar. Apakah anak-anak mendengarkan? Ya, setidaknya 10 menit pertama mereka anteng, mendengarkan kisah tukik yang belum pernah mereka lihat. Selebihnya?? Mereka bubar sendiri-sendiri. Ada yang bermain pasir, ada yang kejar-kejaran. Ada yang naik-naik pohon cemara. Namanya anak-anak, saat mereka dilepas ditempat luas rasanya sungguh riang tak ada tandingannya. Mungkin terbebas dari “penjara” peraturan membuat mereka melakukan apapun sesuka mereka.

Setelah hari menjelang sore dan sejarah tukik selesai, semua anak diajak ke tempat penangkaran penyu, tempat ratusan tukik imut dipelihara sementara. Anak-anak berebut mengambil batok kelapa untuk membawa tukik ke pantai. Mereka berjeritan begitu menerima tukiknya masing-masing. Tukik itu terus saja berusaha mendaki tepian batok, tak sabar ingin berlari menuju pantai yang dirindukannya selama ini.

Pantai itu sangat bersih, debur ombaknya besar namun begitu menyentuh kaki berubah menjadi riak kecil yang hangat di telapak. Pelataran pantai yang begitu luas membuat anak-anak bebas berlarian, berkejaran, juga bergulingan. Berebut tempat terbaik untuk melepas tukik. Matahari mendampingi keharuan di sore yang memesona. Ya, matahari seolah memberitahu bahwa di jauh sana, banyak sekali bahaya. Hati-hati anak-anak!

Dengan hitungan 1,2 ,3, semua tukik dilepas bersamaan di tepi pantai. Tukik saling berebut menuju debur ombak yang menjadi genderang semangat di depan mereka. Angin sore pantai menambah birunya perasaan anak-anak melepas sahabat barunya.

“Tukiknya kasihan ya, Kak?” tangis Aishya si gadis kecil hampir pecah, matanya berkaca-kaca. Tukik yang baru merayap di tangannya kini harus terseok-seok berlari menuju tepi pantai yang dingin. Tukik yang terus saja berlomba menuju belaian bundanya yang sekarang entah di mana.

“Tukik nggak takut ya, Bund?”

“Enggak sayang, tukik bahagia, tukik mau ketemu bundanya, kan?”

Gadis kecil itu tersenyum, memeluk bunda yang juga ikut terpana melihat semangat tukik menuju laut lepas. Mereka tak tahu, di sana banyak pemangsa yang sigap menunggu mereka berenang-renang, menari menyambut kematian mereka sendiri. Ah, teganya para predator itu, tak tahu apa kalau mereka begitu rindu kepada bunda dan juga rumah asli mereka? Itu lah kehidupan, meski pahit, terus dijalani dengan penuh senyum kebahagiaan.

Jangan kalah sama tukik! Semangat menjemput bahagia, meski banyak mara bahaya menghadang di depan sana!

HOMESTAY MEWAH HARGA MURAH PALING RECOMENDED DI JOGJA

HOMESTAY MEWAH HARGA MURAH PALING RECOMENDED DI JOGJA.

Cocok buat traveller sejati kayak kamu. hehe. Buat kamu yang suka travelling, nih. Pasti carinya tempat menginap yang bagus, nyaman, murah dan dekat dengan berbagai tempat destinasi wisata yang update. Kalau aku sih, pengennya cari di tempat yang cukup “kota” artinya selain kita bisa untuk berkunjung ke destinasi utama yang kebanyakan berada di luar kota, kita juga bisa donk menambah pengalaman dengan mengisi waktu senggangnya dengan jalan-jalan mengeksplor kota tujuan kita.

Terutama bagi yang lagi pengen berkunjung ke kota Jogja, kali ini aku mau coba ulas sekaligus merekomendasikan tempat menginap yang super nyaman namun harga sangat ramah di kantong. Mengingat beberapa kali ke luar kota aku mengalami kesulitan cari penginapan yang oke punya, maka kali ini aku coba sharing tempatku menginap beberapa hari terakhir ini biar kamu sedikit punya referensi. aku tahu kamu seneng bacanya ini, seperti aku juga bakal suka sekali kalau mau berangkat ke luar kota sudah mengantongi informasi penginapan yang rekomended.

Oke, kita mulai dari fasilitas homestay. Selain sebagai tempat bersih-bersih , homestay juga tempat untuk istirahat. Tentunya harus bisa memfasilitasi kita dengan senyaman mungkin. Nah, mengenai fasilitas penginapan yang mau aku share, yakin sekali kamu juga bakal tercengang sepertiku saat membandingkan antara harga dengan fasilitas yang ditawarkan.

Kamar Mandi

Kenapa fasilitas ini kuulas di nomor satu? Baik, jadi kualitas suatu hotel, homestay atau penginapan menurutku harus dilihat dari kamar mandinya dulu. Karena saat kamar mandi ok pasti yang lainnya juga ok. Secara, kamar mandi biasanya letaknya di paling belakang dari suatu ruangan kan? bisa jadi sebagian orang menganggap ini nggak penting, namun bagiku justru ini sangat penting. Saat kamar mandi yang ditawarkan bagus, maka otomatis yang lainnya juga pasti bagus. Bisa dibuktikan. Nah, di penginapan ini kamar mandinya sangat Ok! Air hangat, shower besar anti macet, dibatasi oleh dinding kaca yang semakin memperlihatkan betapa lux kamar mandi ini. Toilet duduk yang cakep dan bersih. Yah, ini hanya bisa dijelaskan dengan kenyataan di lapangan, setidaknya closet yang dipakai di penginapan ini bermerk, yang jika digunakan pasti sangat nyaman. Ukuran kamar mandi juga cukup besar, leluasa untuk menikmati mandi berlama-lama.

Kamar tidur utama

Nah, poin yang kedua yang musti dipertimbangkan setelah kamar mandi . Adalah bed/ tempat tidur utama. Penginapan ini jelas menggunakan bed bertingkat (dua bed yang disusun hingga ukuran tinggi yang nyaman untuk duduk maupun berbaring santai. Dilengkapi dengan sprei dan bed cover warna putih yang halus, lembut dan bersih ini jelas akan memanjakanmu berlama-lama di atasnya. Sangat nyaman!

doc. pribadi

Lobi / tempat santai

Ruangan untuk menerima tamu sekaligus untuk makan breakfast yang disiapkan setiap pagi dengan menu bervariasi. Ruangan santai ini begitu hommy, layak rumah sendiri yang di design begitu rupa  terlihat nyaman berlama di ruang umum ini. Halaman depan dan lorong samping menuju kamar-kamar juga begitu hidup dengan pepohonan kecil yang tertata apik mempercantik dan memberi suasana segar.

doc. pribadi

Breakfast

Meski tak selengkap menu di hotel berbintang, menu yang disediakan di penginapan ini begitu menggiurkan dan membuat sarapan kita sempurna. Tentu saja masih bervariasi juga, ada roti tawar lengkap dengan toping sesuai selera, ada nasi prasmanan dengan sayur, lauk juga sambal dan kerupuk yang akan memberimu rasa kenyang dan siap beraktifitas seharian, juga buah dan minuman kopi&teh yang bisa kamu seduh sendiri sepuasnya.

Fasilitas pendukung lain

Tak lengkap rasanya saat menginap tanpa fasilitas pendukung yang tenyata cukup crusial kedudukannya. Di antaranya adalah TV kabel, AC, meja rias dan juga lemari baju. Pokoknya disediakan lengkap. Kurang apa lagi untuk menuju kenyamanan yang sempurna?

doc. pribadi

Dekat sekali dengan fasilitas umum

Sebut saja alun-alun, baik selatan yang malamnya selalu bercahaya dan hingar-bingar atau alun-alun utara yang merupakan halaman utama kraton Yogyakarta. Alun-alun ini juga kerap dijadikan sebagai destinsai wisata, terutama buat pasangan yang sedang dimabuk cinta atau yang sudah mempunyai anak kecil. Di alun-alun bisa ikut wisata tradisional bermain egrang, atau mengayuh sepeda lampu yang tiap malam membuatnya menyala. Selain alun-alun, penginapan ini juga sangat dekat dengan wisata Taman Sari (Water Castle) hanya berjarak sekitar 300 m dari lokasi homestay. selain itu semua, di sekitar alun-alun selatan juga banyak sekali tersebar cafe-cafe modern yang sangat nyaman untuk bersantai.

Wifi gratis

Nah, fasilitas satu ini sekarang begitu pentingnya. Hampir semua urusan dapat diselelsaikan dengan cara online. Mencari makan misalnya, pesan ojek online atau mau buka-buka segala informasi melalui internet saat sedang santai di penginapan. Semua bisa dilakukan dengan mudah.

Nah, ulasan yang cukup lengkap ini semoga membantumu menemukan tempat penginapan yang sesuai harapanmu ya. Oiya, belum afdol jika belum dilengkapi informasi harga sewa kamar per malamnya. Karena dari awal saya sudah excited sekali untuk sharing informasi homestay mewah murah dan paling recomended, maka akan saya bocorkan harga sewa homestay ini.

kamu bisa menginap di sini hanya dengan membayar 200k hingga 275k saja per malam. Penghitungan check in check out sama dengan peraturan di mana saja. Sedikit beda saat ketemu dengan hari Raya Idul Fitri lebaran yang bisa naik dua kali lipat (Ssst! jangan keras-keras, tapi bisa jadi saat lebaran pun kamu bisa tetep dapetin harga normal loh, meski kemungkinannya sangat kecil hehe) secara saat lebaran sebagian besar harga pasti meroket, termasuk sewa penginapan maupun sewa kendaraan, ya kan?

Serius? Untuk semua fasilitas di atas hanya dibandrol 200k hingga 275k? Yes! Bener pakai banget. Selain fasilitas fisik yang mengagumkan, fasilitas lainnya juga cukup memuaskan, adalah keramahan petugasnya. Mereka sangat ramah juga cekatan. Pokoknya over all, semuanya luar biasa, pastinya kamu bakal pulang dengan hati berbunga-bunga, karena bisa menghemat sekian rupiah dari perjalanan yang mungkin awalnya diperkirakan akan habis banyak.

Gimana? kurang apalagi coba? Seru kan? oiya, nama penginapannya itu PURI LANGENARJAN. Beralamat di Jalan Langenarjan Lor no 11A. Siap beraksi? Semoga liburanmu mendatang semakin membuatmu semangat dan merefresh segala kegalauan ya! Selamat jalan-jalan, kawan!