PAUD Kemuning, Pembentukan Karakter Sejak Dini Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

Pembentukan Karakter Sejak Dini, Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

  ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11)

Kaki mungil berbalut sepatu kets berwarna pink, berjingkat memilih beberapa bebatuan yang berserak di sepanjang jalan beton di kampung Kemuning. Terik matahari sangat terasa di daerah berbatu itu. Aishya, anak usia tiga tahun dengan rambut pirang itu terpaksa kuajak karena ayahnya sedang berangkat ke Palu untuk menjadi salah satu relawan di sana.

Aishya mencium buah mangga, belajar tentang motorik halus dari alam
(gambar: dok. pribadi)

Berkeliling kampung bersama rombongan Roadshow Kampung Berseri Astra, membuatnya melupakan lelah. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan padanya, Semangatnya mengikuti Roadshow ini tak melemah sedikit pun. Ia hanya tahu semua yang ia temui adalah hal menyenangkan baginya. Menyentuh tanaman Putri malu, melihat sapi memamah rumput, mencium buah mangga yang masih di pohon hanya dengan posisinya berdiri. Adakalanya ia menunjuk jambu air di depan rumah warga, memintaku untuk memetik sekadar untuk melepas keingintahuannya.

Tiba-tiba langkahnya terpaku di depan sebuah bangunan berwarna kuning. Banyak anak seusianya berlarian di sana. Paud Kemuning. Satu-satunya Paud di kampung Kemuning yang menfasilitasi pendidikan anak usia dini bagi anak-anak balita di seluruh pelosok kampung tersebut. Jika biasanya kita mendengar anak yang dititipkan di TPA atau Paud karena ibunya bekerja sebagai karyawan atau pegawai, berbeda dengan Paud ini. Mayoritas, ibu dari anak-anak ini, yang jika lengkap berjumlah 15 orang saja dalam satu sekolahan, adalah petani, atau buruh tani. Beruntung sekali ya, bahkan di pelosok desa sekarang juga digalakkan pendidikan dini untuk menyelamatkan generasi dengan pembentukan karakter yang kuat sebagai pondasi pendidikan anak dijenjang berikutnya.

Salah satu Pilar Program CSR Astra
Gambar: infografis www.healthymomy.com

Pagi belum begitu terang. Namun sepasang kaki kecil sudah harus melangkah menjauh dari pintu rumahnya. Tangan imutnya digandeng oleh ibu yang juga telah bersiap dengan baju kerjanya. Jangan membayangkan baju kerjanya berdasi atau berkemeja, karena kerjanya memang tak di kantoran. Kerjanya di sawah, namun betapa keteguhan hatinya ingin menyamakan anaknya dengan anak-anak lain yang sekolah, agar mengenal kawan, mengenal antre, juga mengenal berbagi itu seperti apa, dapat ia rasakan sejak dini. Meski harus berjalan setiap hari sepanjang 4 km dari rumah, tetap ia lakoni dengan semangat dan bahagia. Rasanya tak ada hal apapun yang lebih berat dari sekadar berjalan setiap hari melewati rute yang sama menuju sekolah sejauh itu.

Karena sekolah dimulai jam 08.00 WIB, maka paling siang jam 06.00 WIB sudah harus bertolak dari rumah menuju sekolah yang berada di pusat kampung. Itu artinya, persiapan pun harus dilakukan jauh sebelum jam keberangkatan. Bu Yeni, Kepala Sekolah PAUD dan TK dengan nama RA. Masyitoh di kampung Kemuning,  menceritakan kisah salah satu warga di kecamatan itu, beberapa tahun yang lalu saat belum ada satu pun motor yang masuk ke sana.

Tangan bu Yeni terus bergerak mengikuti permainan dakon yang ia jalani bersama anak didiknya yang mengenakan jilbab warna merah.

“Dulu, sekolah ini hampir tak layak di sebut sekolah, Bu!” terangnya. Sesekali senyumnya mengembang, merasakan betapa perkembangan yang terjadi selama ini begitu besar. Tak sia-sia ia mendedikasikan sebagian besar waktunya di sekolah itu. Bu Yeni bersama kedua rekannya, Bu Purwanti dan Bu Badriyah, membangun sekolah dengan ikhlas dan bahagia. Berjuang keras agar bisa berkiprah besar dalam membantu mencerdaskan generasi muda Indonesia, meski dari desa paling pelosok dan sukar dijangkau sekali pun.

Tak jarang, karena begitu jauh tempat tinggalnya dari sekolahan, kerap jika pagi diawali dengan hujan deras, maka kegiatan belajar hari itu cukup di rumah masing-masing saja, alias anak-anak diliburkan. Mengingat jika tetap dipaksa berangkat justru akan lebih membahayakan kesehatan anak.

“Semenjak Astra masuk, Alhamdulillah perkembangan kampung ini sangat besar, Bu! Sekolah ini contohnya, dulu sebelum direhab sangat memprihatinkan. Ruangannya rusak, dindingnya reyot, atapnya bocor di sana-sini, juga kursi-kursi siswa belum ada,” lanjutnya. “Juga, sekarang hampit taka da lagi anak PAUD atau TK yang berangkatnya jalan kaki. Karena selain jalan yang sudah bagus, motor pun sudah banyak yang masuk ke kampung. Anak-anak banyak yang diantar naik motor atau naik ojek.” Bu yeni mengakhiri obrolan itu tepat saat tanda jam sekolah berakhir.

(Dulu) Paud & TK Kemuning sebelum direhab oleh Astra
gambar: Kepala Sekolah PAUD &TK RA. Masyitoh
(Kini) Salah satu siswa TK RA. Masyitoh ceria bermain dakon
Gambar: dok. pribadi

Kulihat sekeliling, dinding sudah semi permanen, atap sudah rapi, cat juga cerah berwarna-warni khas sekolah anak-anak balita. Permainan meski sederhana juga sudah lengkap dengan berbagai permainan edukasi seperti puzzle hewan, puzzle tumbuhan, dakon, susun balok dan lain-lain. Meski sederhana, permainan outdoor seperti komedi putar mini, jembatan palet kayu warna-warni nampak menghiasai halaman dan teras PAUD TK RA. Masyitoh Kemuning. Aishya ikut berkerumun di meja kecil berwarna merah di tengah ruangan, rambut poninya sesekali dirapikan saat terbang terknea kipas angin. Ia bersama dengan siswa lain sedang bermain puzzle hewan. Anak itu memang cepat sekali membaur. Gurunya begitu sabar menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sambil sesekali matanya melirik ke arahku, memastikan bunda masih dalam satu lokasi bersamanya.

Bermain Puzzle hewan bersama teman-teman baru
gambar: dok. pribadi

Hebatnya, dengan segala keterbatasan, ternyata PAUD dan TK tersebut cukup berprestasi. Di Antara prestasi yang telah diraih adalah Juara III lomba tahfidz Quran oleh Bu Badriyah, salah satu guru di sana. Juga juara II lomba tari Islami berkelompok. Hal yang semakin membuatku takjub adalah Bu Badriyah, yang kerap menjuarai berbagai lomba tahfidz, ternyata hafal Al Quran. Masya Allah, Bu! Semoga berkah, ya! Mendedikasikan tenaga, waktu dan ilmunya yang mulia di tempat terpencil namun kaya kasih sayang dan semangat ini.

Gunung Kidul dulu dan Kini

Peta Administrasi Gunung Kidul
Sumber:www.gunungkidulkab.go.id

Satu kata tentang Gunung Kidul, tandus! Entah berapa puluh tahun yang lalu kudengar hal itu menjadi trending topik di kota tempatku mencari ilmu ini. Tak ada yang menyangka, hanya selang beberapa tahun dari doktrin yang melekat itu keadaan dibalik oleh Allah.

Sekarang, siapa yang nggak tahu Goa Pindul? Siapa yang nggak kenal Pantai Indrayanti? Air Terjun Sri gethuk? Dan masih banyak lagi destinasi wisata di Gunung Kidul yang hingga kini pengunjungnya semakin meroket. Bahkan tiap akhir pekan, hampir dipastikan akses sepanjang jalan menuju Gunung Kidul selalu dipadati oleh berbagai kendaraan dari berbagai kota. Macet!

Gunung kidul, mengapa diberi nama demikian? Daerah berbatu ini merupakan rangkaian Pegunungan Kapur Selatan yang membentang di selatan Pulau Jawa. Komposisi bebatuan berwarna putih atau sering disebut dengan batu gamping ini menandakan bahwa dahulu kala daerah ini merupakan dasar laut yang mengalami pengangkatan tektonik dan vulkanik. Jadi tak heran jika memang aslinya tempat itu merupakan tempat yang tandus.

Kampung Berseri Astra (KBA)

Logo Kampung Berseri Astra
Gambar: www.satu-indonesia.com

Kemuning, adalah salah satu kampung yang berlokasi di Gunung Kidul. Tepatnya di Desa Bunder Kecamatan Patuk. Kampung ini terpilih menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) yang merupakan salah satu dari 76 kampung bagian Corporate Social Responsibility (CSR) di seluruh Indonesia. Kenapa kampung ini terpilih? Jadi ada beberapa tahap sebuah kampung dapat dipilih untuk menjadi Kampung Berseri Astra:

Dalam menentukan dan memilih calon KBA, terdapat beberapa tahap yang harus dilewati:

  1. Koordinasi perusahaan Group Astra
  2. Pembentukan Tim KBA
  3. Koordinasi dengan pemerintah daerah
  4. Social Mapping
  5. Penentuan lokasi KBA

Apa itu KBA?

Infografis www.healthymomy.com
Sumber: www.satu-indonesia.com

Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pembangunan yang mengintegrasikan 4 pilar program, yaitu: Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

Melalui KBA, masyarakat dan perusahaan bekerjasama untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra.

Jadi, apa yang kamu dengar sekarang tentang Gunung Kidul? Daerah yang kaya destinasi wisata indah. Pantai, Goa, Karst peninggalan kebudayaan purba? Ya begitulah, semua sudah berubah seiring perkembangan zaman, juga seiring dengan semakin cerdasnya masyarakat Gunung kidul di bawah kepemimpinan pemerintahan Bupati dalam membangun rumahnya sendiri.

Sekarang, jika kamu bertanya padaku seperti apa rasanya sekolah TK, pasti kujawab dengan lantang, “Aku tidak tahu!” Dulu, bahkan di desaku sama sekali tidak ada sekolah TK. Aku langsung masuk ke SD saat usiaku menginjak 6 tahun, yang itu artinya 36 tahun yang lalu. Jadi aku pun tak tahu betapa asyiknya bermain di TK, menggambar kupu-kupu, mewarnai, dibacakan cerita. Aku menghabiskan masa balitaku bersama ibuku tercinta sebagai madrasah pertamaku. Aku mengenal Alif-Ba-Ta-Tsa, juga langsung dari mulut ibuku setiap aku mau tidur. Aku juga mengenal jam dari kakekku. Mengenal kasih sayang dan berbagi dari nenekku. Dan, aku mengenal ketegaran serta kesabaran dari bapakku.

Bukti, kenapa pendidikan begitu penting diberikan sedini mungkin. Inilah yang menumbuhkan cita-cita Astra, Sejahtera Bersama Bangsa.

~

ew

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Pewarta Astra 2018. 

 

Warung Omah Sawah Tembi, Tempat Selfie Bersama Sawah Dan Padi

Omah Sawah Tembi. Warung Omah Sawah Tembi tempat selfie bersama sawah dan padi. Kakinya tak sabar meniti pematang sawah yang lebarnya hanya sekitar 20cm. Kanan dan kiri jalan setapak itu tentu saja dipenuhi tanaman padi menghijau. Lalang daunnya melambai hingga menyebrang ke pematang. Membuat tangan juga kakinya terasa geli terseret lembaran lalang daun padi.

Jus Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

“Bunda, aku mau ke sana!” telunjuknya mengarah ke 100 m di belakang saung utama Warung Omah Sawah Tembi. Ah, gadis kecil itu mulai menyukai lingkungan ini. Tak takut ada ulat atau belalang, kah? Sendal jepit mungil berwarna biru dengan gambar Sofia si tokoh kartun dipegangnya erat di tangan kiri. Ia sedikit berlari sambil menjaga keseimbangan. Terkadang tangannya menyentuh kuntum pada yang masih hijau. Padi muda.

Rupanya replika gajah gagah bertengger di tengah hamparan sawah luas. Tiang-tiang lampu listrik berjajar sepanjang pematang menuju ke tempat gajah berdiri. Gadis kecil menuju ke sana.

Hmm, spot selfie yang lumayan keren, pikirku.

Outdoor Omah Sawah tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

Sore itu, memang pas sekali. Bukan Sabtu atau Minggu sore, namun tempat makan tradisional ini dipenuhi pengunjung. Pantes saja, suasananya yang begitu adem, tenang dan nyaman begitu dirindukan, terutama bagi mereka yang sempat merasakan hidup di era pra teknologi hingga kini semua serba online, seperti aku. Merasakan suasana di Omah Sawah Tembi membuat memori kita terlempar berpuluh tahun yang lalu, di mana hidup kita masih serba tradisional belum mengenal kemajuan teknologi. Hiburan hanya berupa makan di gubug di sawah sepulang sekolah. Sambil menunggui tanaman padi dari serbuan burung-burung. Atau sorenya akan berlarian sepanjang pematang untuk menangkap belelang, capung atau mencari belut di sela-sela tanaman padi? Ah, tidak aku biasanya “bruwun” mencari dan memetik batang sayur kangkung di sela-sea rumput di pematang sawah. Itu sangat seru!

Menyeruput wedang jahe sere
Gambar: dokumentasi pribadi

Suasana pedesaan yang hijau dan segar juga aneka menu tradisional melengkapi warung bernuansa sawah ini. Sengaja mendirikan warung tersebut di tengah sawah dengan harapan dapat memberikan fasilitas yang nyaman dan eksotik pada orang-orang yang merindukan semacam rumah desa namun sudah sangat sulit didapatkan di area perkotaan yang semakin padat dengan bangunan hingga jadwal kerja.

Omah Sawah tembi, alternatif pilihan untuk bersantai dan juga melepas penat di siang, sore maupun malam hari bersama teman kerja, keluarga atau sesama anggota arisan emak-emak zaman now. Omah Sawah Tembi, letaknya tak jauh dari Pasar Gabusan di daerah Jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta.

Apa saja yang bisa kita nikmati di sana?

  1. Menu Makan dan MinumTradisional
Ikan Asam Manis Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi

Aku hobi makan, tapi bosan dengan aneka makanan modern. Pas banget! Karena aku lebih suka menu aneka sayur, juga masakan rumahan yang jarang sekali bisa kita temukan di kota. Di sini menu makanan ndeso sangat lengkap. Menu yang selalu bikin lidah kita menyerah untuk berhenti. Sebut saja mangut lele pedas, ada yang nggak suka? Ya bagi yang nggak suka memang susah untuk dibuat suka. Tapi buat yang suka, menu pedas berkuah ini mampu membuat nasi di bakul langsung ludes habis. Belum lagi ikan nila bakar, sambal terasi, oseng bunga papaya, oseng daun pepaya teri, sayur lodeh, tempe garit dan lain-lain. Hmm, baru liat saja sudah bikin perut melonjak-lonjak keroncongan. Selain makanan, Omah Sawah Tembi juga menyediakan berbagai minuman tradisional yang bikin kangen. Ada wedang jahe sere, wedang secang, jus Omah Sawah perpaduan sayuran dan buah yang membuat rasanya semakin segar dan menyehatkan. Gula yang dipakai adalah gula batu, tahu kan nikmatnya minuman yang memakai gula batu? Wedang jahe atau teh, sama nikmatnya. Cobalah, pasti ketagihan!

Oseng Bunga Pepaya
Gambar: dokumentasi pribadi
Wedang Secang
Gambar: dokumentasi pribadi
  1. Suasana Pedesaan yang Asri, Nyaman dan Adem

Pergi pagi pulang petang, melewati berbagai gedung tinggi dan perempatan lampu merah yang padat dan penuh polusi. Begitu seterusnya aktifitas harian kita. Wajar jika kita kerap stress dan tak sabaran saat menghadapi celotehan anak yang menurut kita mengganggu, tapi bagi mereka adalah hal yang luar biasa seru.

Saat itulah kita butuh piknik. Bukan mengenai ke mana lokasi yang mahal dan mewah. Namun sebenarnya adalah kita butuh rileks saja, melihat sesuatu yang beda dari rutinitas. Sawah hijau segar, tanaman padi, bunyi-bunyian burung, jangkrik juga katak di sore hingga malam hari. Hal sepele itu justru jarang terpikirkan oleh kita. Padahal justru hal sepele itu lah yang kerap bisa kita andalakan sebagai mood booster untuk mengobati stress kita.

Di sini, Omah Sawah Tembi aku mendapatkannya semua. Suasana itu, suasana yang romantis buat keluarga.

  1. Spot Selfie Kekinian

Jika dulu kita selalu hunting spot selfie yang berbau modern, mal, bioskop, rumah makan modern. Maka beda lagi dengan sekarang. Sering kita lihat foto-foto teman kita berseliweran di beranda kita? Ada yang di gubug, ada yang di hutan pinus, ada yang di sawah?

Nah, di Omah Sawah Tembi juga mneyediakan semua keunikan spot selfie itu. Sawah luas? Ada. Aneka peralatan makan tradisional? Ada. Tempat duduk dari kayu? Ada, kentongan kayu? Ada. Vespa jadul? Ada. Bahkan replika gajah khusus disediakan untuk anak-anak yang hampir semuanya suka dengan binatang super besar itu pun, ada.

Jadi mau sekadar berlarian di pematang sawah yang hijau sambil disyuting atau difoto? Sangat difasilitasi dan bebas mau berapa lama saja di sana, gratis!

Spot Selfie Omah Sawah Tembi
Gambar: dokumentasi pribadi
  1. Suasana Romantis

Suasana romantis itu yang seperti apa? Bagi aku adalah yang jauh dari hingar-bingar apapun gangguan. Tidak ada deru kendaraan yang mendominasi, tidak ada rutinitas yang membosankan. Suasana adem dan segar dengan suplai oksigen alami tanpa batas juga sangat menyokong keromantisan. Kecukupan oksigen yang kita hirup yang disediakan oleh tumbuhan adalah alasan yang paling masuk akal kenapa kita bisa memperbaiki mood. Saat kebutuhan oksigen kita tercukupi, maka otak kita akan segera optimal bekerja, stress yang membebani pun akan segera lenyap oleh kemampuan kerja otak yang kembali optimal. Pemandangan jauh melintasi hamparan sawah hijau, juga aroma alam yang membuat kita menyatu juga membuat perasaan dan suasana di sekitar kita menjadi romantis.

  1. Sunset Jingga

Omah Sawah Tembi terdiri dari saung utama berukuran besar dengan ke empat sisinya tanpa dinding. Langsung terbuka ke alam. Sehingga pemandangan lingkungan luar yang bersih dan hijau sangat bisa dinikmati dari dalam saung atau pendopo. Sisi barat, hamparan sawah sangat luas, berbatasan dengan kampung yang jaraknya mungkin sekitar satu kilometer. Persawahan luas itu memungkinkan sekali untuk kita melihat langit jingga di sore hari menjelang matahari masuk ke ufuk barat.

Saat matahari perlahan menurun di ufuk barat, langit mulai menunjukkan keindahannya. Gradasi warna mulai dari kuning emas, jingga hingga kemerahan menuju ke satu titik di mana bulatan sempurna matahari mulai tertelan bumi. Semilir angin yang menyertai menambah kesempurnaan sore yang dinanti. Seiring pula bunyi-bunyi jangkrik juga katak dan kodok mulai diperdengarkan untuk memanggil para kawan yang masih saja santai beristirahat. Saatnya bernyanyi! Omah Sawah Tembi begitu alami. Weekend ini mau ke mana?

Secangkir Kopi Robusta Susu Dari Barista Inklusif Jogja

Kulirik lagi penyaji kopi istimewa itu. Kopi Robusta? Bahkan, namanya saja baru kudengar. Mungkin karena aku tak termasuk orang-orang yang gemar nongkrong di café sekadar untuk ngopi bersama di Sabtu sore. Ya, pesan Kopi Robusta pun hanya ikut-ikutan teman yang lebih dulu memesan. Kopi cenderung pahit, namun saat dipadu dengan susu manis akan tercipta rasa baru yang nge-blend, itu penjelasan yang kudapat untuk secangkir kopi Robusta susu. Barista Inklusif, Stand Kopi di acara temu Inklusi 2018, satu di antara bukti lainnya yang menggaungkan inklusi sosial, menyetarakan harkat sesama warga tanpa membedakan maupun mencaci keterbatasan, menuju Indonesia Inklusi, #IDInklusif.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Kopi Robusta Susu dari Barista Inklusif Jogja)

Di stand sebelah kanan panggung utama, Mbak itu sangat cekatan. Menulis, mengambil gelas, menandai dan memindahkannya ke meja sebelah. Hingga entah detik ke berapa, aku terpaku. Kecepatan gerakan tangannya menutupi sesuatu. Tangan kirinya tak sempurna. Masya Allah! Sejenak pandanganku terhenti di satu titik, tangan itu. Telapak tangannya hanya seukuran separuh telapak tangan normal, pun jemarinya hanya terdapat dua atau tiga saja, bukan lima. Aku tak berani lebih jeli menghitung tepat jumlahnya berapa.

Sungguh, keberadaannya yang tak sempurna tak menyusutkan semangat juga kepercayaan diri. Aku masih tertegun saat mbaknya memanggil namaku. Buru-buru kualihkan pandangan, aku takut pandanganku akan membuatnya risau. Aku takut, pandanganku akan menyakiti hatinya, membuatnya tak nyaman, meski aku tak bermaksud begitu.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Seorang perempuan istimewa yang cantik, penuh semangat, juga cekatan dalam melayani pelanggan Kopi Robusta dari Barista Inklusif)

Belum habis decak kagumku, mataku menangkap bayangan lain. Kali ini sosok pria bertubuh gempal. Dia tak kalah cekatannya dengan si mbak. Namun kali ini bukan menulis atau membuat daftar nama di masing-masing gelas plastik single use. Lebih rumit dari itu. Sigap kedua tangannya mengelap meja, menyiapkan cangkir dan meracik biji kopi untuk dimasukkan ke dalam penggilingan kopi mini di atas meja. Juga mengangkat teko panas berisi air mendidih yang kemudian dituangkan perlahan dengan menyusuri tepi penyaringan dari kertas berbentuk kerucut. Air hitam kecoklatan mengalir mengisi gelas ukur berbentuk piala. Dalam sekejap, aroma khas kopi murni yang legit menyeruak, mengusik indera penciuman, dan merangsang otakku untuk memproduksi hormon bahagia. Cafein itu sukses membuatku ingin mencicipinya.

Tak ada jari di sana yang menjaga agar teko tak jatuh. Pun tak ada telapak tangan yang menopang teko panas beralas kain agar panasnya tak melukai. Hatiku mencelos. Melihat betapa orang-orang itu selalu bersemangat. Namanya Eko Sugeng. Nyaris tak terlihat berbeda dengan kecekatan tangan orang normal, selain sepasang tangannya yang hanya sampai pada lengan bawah atau sedikit turun dari siku. Mengerucut khas luka yang sengaja dibuat saat operasi amputasi. Tanpa satu pun jari-jemari. Yah, dia tak punya telapak tangan, bahkan dia tak punya pergelangan tangan. Tapi, Ya Allah, dia begitu cekatan!

Sumber: Dokumentasi Pribadi
(Eko Sugeng, namanya. Orang yang selalu bersemangat belajar dan akhirnya mahir dalam meracik kopi istimewa berbagai rasa)

Allah Yang Maha Baik. Allah mudahkan segala urusan. Eko, yang bahkan tak punya satu pun jari tangan? Gimana caranya mandi? Gimana caranya… Ah, terlalu banyak pertanyaan bodoh yang berkelebat. Pertanyaan yang mungkin tak bernilai sama sekali, dibandingkan keberadaan jiwa yang masih setia pada raga ini. Pertanyaan yang tak seharusnya dipertanyakan. Pertanyaan yang hanya mengurangi rasa syukur kita kepada Allah Swt.

Pahit beradu manis. Kusesap perlahan kopi pesananku. Cuaca masih begitu terik saat kopi Robusta yang pertama kali kukenali ini tinggal separuhnya saja. Aku masih berteduh di bawah atap stand kopi istimewa dari Jogja ini. Kopi #BaristaInklusif ini merupakan tim @Staracoffee, dampingan salah satu mitra Program Peduli yaitu Pusat Rehabilitasi YAKKUM. (Instagram @pryakkum dan Fb: Pusat Rehabilitasi Yakkum). Salah satu Video Program Peduli menceritakan kegiatan pelatihan Kopi yang meruntuhkan dinding pembatas orang normal dengan difabel.

Ya, Gunung kidul. Tepatnya di desa Plembutan, merupakan desa pertama yang mengumumkan dan meresmikan kepeduliannya terhadap keberadaan kelompok rentan masyarakat disabilitas. Desa tersebut memberi peluang dan melibatkan seluruh kelompok masyarakat difabel dalam agenda pembangunan desa. Kiprahnya telah membuktikan bahwa kelompok orang berkebutuhan khusus itu setara dengan orang normal, mampu dengan cerdas dan optimal untuk turut serta aktif dalam pembangunan desa.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (Kepala Desa Plembutan, Bu Edi sedang presentasi mengenai Desa Inklusi)

Desa Plembutan, Playen, Gunungkidul, tempat digelarnya acara Temu Inklusi #3. Pertemuan difabel tingkat nasional baik secara individu, organisasi maupun para pemerhati isu difabel ini dihadiri perwakilan dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua. Forum Diskusi yang dipimpin oleh Pak Suharto, salah satu warga Gunungkidul dengan difabel netra, mengusung tema Menuju Indonesia Inklusi 2030 Melalui Inovasi dan Kolaborasi.

Presentasi pertama oleh Bapak Sutrisna, Kepala Desa Sidoarjo Purworejo. Menurut data yang disajikan, Desa Sidoarjo memiliki 360 jiwa difabel dengan berbagai macam kedifabelan. Angka tersebut diambil dari total sekitar 8.000 jiwa dalam satu desa.

Bahwa tak selamanya orang-orang dengan segala keterbatasan hanya merepotkan saja. orang-orang pilihan itu mampu menunjukkan karya. Mereka mampu sekadar untuk berunding, menyusun strategi pembangunan maupun secara aktif ikut serta dalam setiap kegiatan pembangunan desa.

Mengapa Temu inklusi #3 di Desa Plembutan Kecamatan Playen Kabupaten Gunung kidul? Desa itu yang pertama kali membuat Peraturan desa (Perdes) tentang kesetaraan hak dan kewajiban seluruh warga tanpa melihat perbedaan apapun. Perdes itu digunakan sebagai acuan legalnya kebijakan dalam rangka melibatkan para difabel di setiap kegiatan desa yang berpayung hukum.

Bu Edi, selaku Kepala Desa Plembutan menjelaskan bahwa, mengapa desa tersebut berani mengambil langkah ini lebih dahulu dibanding dengan desa lainnya di Gunung Kidul maupun di daerah lain? Alasannya adalah, karena semua orang tak terkecuali, pada saatnya nanti pasti akan menjadi anggota dari kelompok orang berkebutuhan khusus. Saat orang tersebut penglihatannya sudah berkurang dan harus memakai kacamata misalnya, maka orang tersebut sudah masuk ke dalam kelompok difabel yang mempunyai kebutuhan khusus, paparnya.

Betul juga, ya?

Desa inklusi tidak serta merta hanya memprioritaskan sebuah kegiatan hanya dikhususkan bagi kelompok difabel, namun bagaimana caranya agar setiap aspek pembangunan desa baik fisik maupun dalam bentuk kegiatan akan ramah dan dapat diakses dengan mudah oleh setiap warga, baik yang normal fisiknya maupun warga dengan keterbatasan fisik/difabel.

Temu inklusi ini juga dihadiri oleh Pak Maman, staf ahli dari istana kepresidenan. Pak Maman mewakili presiden Joko Widodo untuk melakukan pendampingan terhadap jalannya acara istimewa tersebut. Menyampaikan segala aspirasi dari pemerintahan tingkat bawah serta memberi masukan mengenai kebijakan-kebijakan dalam rangka meraih cita-cita menuju Indonesia Inklusi 2030.

Ya, rasanya tak muluk-muluk. Jika setiap desa sudah menjadi desa Inklusi, maka target Indonesia Inklusif tahun 2030 akan sangat mudah untuk tercapai. Semoga.

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Selain Barista Inklusif, desa inklusi Plembutan juga memiliki berbagai kelompok difabel dampingan bernama Kelompok Mutiara Plembutan, yang dilatih dengan berbagai macam ketrampilan yang akan meningkatkan kemampuan diri setiap warga difabel. Menyusun manik-manik, membuat bros, memasak aneka panganan, pelatihan IT dan pelatihan lainnya.

Pahit sedikit manis berpadu. Es kopi sudah tak lagi bersisa. Kutenggak tetesan terakhir kopi Robusta sebelum akhirnya kulangkahkan kaki menuju mobil Hiace yang akan mengantarku turun ke Jogja. Rasa kopinya yang original hanya menipis sedikit saja didesak oleh kucuran susu kental manis. Kusesap beberapa kali kopi itu. Pahit namun membuat ingin menyesapnya lagi. Perlahan kulirik penyaji kopi itu lagi. Tak berkurang, justru pengunjung stand Kopi Barista semakin memadat. Wajar saja, wajah ceria penyaji kopi semakin sumringah, meski peluh semakin bercucuran akibat teriknya matahari beradu dengan hawa panas yang dikeluarkan bersama kepulan asap air mendidih penyeduh kopi.

Sekelumit waktu yang berkualitas, menghadiri acara nasional Temu Inklusi #3 mengajarkanku berjuta rasa, ilmu juga kesetaraan karsa. Bahwa, di sekitar kita ada banyak warga dengan segala keterbatasannya, ingin diperlakukan setara bahkan hanya untuk berbagi rasa dan cinta. Mereka sama dengan kita, butuh bicara, butuh cinta, juga butuh berbagi kasih sayang dalam setiap karya. Mari saling mengisi tangki cinta juga menyalurkannya ke sesama tanpa melihat perbedaan dalam setiap keterbatasan.

TERBANGKAN MIMPI MENJADI TRAVEL BLOGGER KECE DENGAN LAPTOP IDAMAN

Oh my God! Rasanya pengin turun saja dari mobil, ajak anak-anak untuk berjalan kaki. Entah di depan atau di belakang mobil yang disetir sama suami, sendirian. Tapi, tidak mungkin, toh kalau misalnya pikiran buruk itu terjadi, kasihan suami sendirian mengalaminya. Na’udzubillah, jangan sampai! Allah lindungi kami!

Namun untuk berhenti dan berputar balik arah agar tidak melewati jalur itu? Itu sama halnya mengulang perjalanan yang entah berapa puluh jam yang lalu kita awali. Sebenarnya bukan karena dikejar waktu atau harus buru-buru, kita semua bisa enjoy sepanjang perjalanan karena seluruh anggota keluarga jelas sudah ikut menikmati serunya perjalanan itu. Jadi mau terlambat atau mau cepat, sudah tak ada lagi yang menjadi alasan untuk panik.

Ok, kita lanjut! Dan aku harus tetap bertahan di dalam mobil ini, di dalam entah hutan apa namanya, di pedalaman Purworejo yang baru sekali itu kami lewati. Napas rasanya tak mampu kuhela saat perlahan suami mulai mengarahkan kemudinya menyusuri setengah ruas jalan yang masih disisakan oleh longsor beberapa waktu sebelumnya. Apapun yang terjadi, bismillah. Dan tiba-tiba aku ingat tentang satu hal,

“Pedang yang sudah di arahkan ke lehermu pun tak bisa mematikanmu kalau Allah tidak meng”iya” kan.”

Itu artinya, ruas separuh jalan berbatu bekas longsor yang terlanjur kami pilih ini tidak akan menggelincirkan untuk mati konyol hanya karena menghindari jalur macet lebaran. Kulirik anak-anak yang tertidur pulas di belakang. Perlahan kuarahkan pandanganku ke arah suami yang sedari tadi menunggu anggukan kepalaku. Bismillah! jalan longsong dengan sebelah tebing dan sebelah lainnya jurang terjal! Aaaggrrhh!

Berhasilkah?

Alhamdulillah, jika tak berhasil, maka tulisan ini insyaallah tidak akan pernah ada. Allah masih melindungi kami semua, dan anak-anak tak satu pun yang terbangun untuk menyaksikan kengerian berpacu dengan adrenalin kami.

Travelling memang sudah menjadi hobi kami yang tak pernah menjemukan. Minimal setahun sekali kita semua pasti melakukan perjalanan jauh yang sering kita sebut dengan istilah travelling. Bagi yang sudah berkeluarga di mana mertua dan orang tua berjauhan tempat tinggal meski masih dalam satu pulau, membuat aktifitas rutin tahunan ini wajib banget untuk selalu dapat ditunaikan. Birrulwalidain-lah sebutannya. Berbakti kepada kedua orang tua. Seperti aku, ujung barat Jawa tengah menuju ujung timur Jawa Tengah. Setiap tahun minimal sekali melewati rute yang berbeda. Jadi meski tiap tahun tujuannya sama, namun kita selalu menemukan jalur baru yang selalu berbeda dari tahun ke tahun.

Hal unik yang ditemui sepanjang jalan selalu menarik untuk kubagi dengan semua orang. Hal unik yang membuat kita selalu semangat meniti hari bersama keluarga. Sayang sekali kan hobi ini jika dibiarkan terendap begitu saja di dalam memori kita? Makanya mulai beberapa bulan ini seiring dengan tumbuhnya minat untuk belajar menulis, aku ingin selalu membagi semua hal, terutama mengenai travelling, dan lebih keren sekarang dengan sebutan travel blogger. Minimal berbagi informasi yang bermanfaat terkait semua hal.

Produktif Menulis dengan ASUS
Gambar: Doc. Pribadi

Tuh kan, menulis adalah hal baru (lagi) yang membuatku terus semakin bersemangat. Bersemangat memasuki dunia baru yang menurutku makin berwarna di dalamnya. Ya, memang menulis termasuk salah satu terapi untuk membarukan semangat dalam jiwa.

Laptop ASUS
Gambar: Doc. Pribadi

Alhamdulillah berbekal laptop ASUS X541U aku mulai produktif menulis. Menulis apa saja yang ada di dalam kepalaku. Tak terasa semua hal bisa menjadi ide segar buatku, meski cara menuangkannya belum semulus yang dibayangkan. Menulis menjadi rutinitas baru yang begitu menyenangkan bagiku.

ASUS, merk laptop terkenal di Indonesia yang menurutku sudah paling canggih, rupanya selalu mengeluarkan seri baru untuk lebih memberi fasilitas unggul demi memfasilitai para pecandu menulis.

Sebut saja ASUS ZenBook 13 UX331UAL yang saat ini sudah masuk pasaran Indonesia.

Sepertinya itulah laptop impianku, laptop lembut, ringan namun powerfull. Kabarnya laptop ini sudah diuji kekuatannya oleh artis beken Raditya Dika.

Berikut sedikit spesifikasi ASUS ZenBook 13 UX331UAL :

ZenBook 13 UX331UAL memiliki ketebalan yang sama seperti saudaranya, ZenBook UX331UN yakni hanya 13,9 milimeter. Tetapi ia berhasil menembus angka di bawah 1 kilogram untuk bobot keseluruhan. Tepatnya, hanya 985 gram saja.

ASUS ZenBook 13 UX331UAL Yang Super Tipis dan Ringan
Gambar: Channel.asus.com
Gambar: Channel.asus.com

Masya Allah, ini si ringan banget! nggak bakal membuat punggung kita bungkuk seharian menggendong laptop ini mah! meski dibawa keliling Indonesia. Duh, makin mupeng kan jadinya?

Dibanding ZenBook 13 sebelumnya yang menggunakan aluminium chassis, konstruksi berbasis magnesium alloy pada ZenBook 13 UX331UAL membuatnya sangat tangguh.

Bahkan ia memenuhi standar military-grade MIL-STD 810G dan lolos uji daya tahan untuk memastikan kemampuannya beroperasi dalam berbagai kondisi.

Meskipun punya tampilan yang sangat lembut, ZenBook 13 UX331UAL telah lolos pengujian berat standar daya tahan military-grade MIL-STD 810G. serius ini? Hmm, pantesan di channel Raditya Dika, laptop ini mah masih bertengger meski dilindas oleh motor, amazing!

Trus, masih banyak lagi keunggulan ZenBokk 13 UX331UAL. Dibawah ini alasan kenapa laptop ini menjadi laptop impian sobat traveler:

Laptop tipis, ringan dan powerfull

Saat bepergian, pastinya kita menginginkan laptop yang paling tipis, paling ringan, dan paling ringkas. Inilah yang ditawarkan ZenBook UX331UAL dengan bobotnya yang hanya 985g (kurang dari berat rata-rata sepasang sepatu!) ketipisan 13.9mm, sehingga sangat nyaman saat bepergian. Desain bingkai NanoEdge juga sangat ringkas untuk laptop ukuran 13 inchi: ZenBook UX331UAL ini tentunya adalah teman perjalanan Anda yang setia, ke mana pun Anda pergi!

Wi-Fi Master

Dengan aplikasi ini, laptop mampu mendapat kecepatan transfer yang lebih tinggi dan jarak yang lebih jauh dibanding laptop lain pada umumnya. Dari jarak 300 meter atau lebih masih bisa mengakses Wi-Fi yang meski mendapat interferensi dari perangkat USB 3.0. Jarak ini 65 meter lebih jauh dibandingkan dengan laptop lain pada umumnya yang tidak memiliki Wi-Fi Master.

Kinerja Laptop Mumpuni

Meskipun desainnya yang ringkas dan ultraportabel, ZenBook UX331UAL ini tidak berkompromi dengan kinerjanya: Prosesor Intel® Core™ i5 Generasi ke-8 yang supercepat, RAM 8GB, dan SSD 256GB PCIe® memungkinkan kita untuk menyelesaikan seluruh tugas dengan mudah. Plus, system audio Harman Kardon-nya juga memberikan suara imersif yang kencang dan kuat. Keren kan!

Baterai Yang Super Awet

ZenBook UX331UAL ini memang dirancang untuk mereka yang memiliki gaya hidup non-stop, karena ZenBook ini menawarkan kebebasan pemakaian baterai sepanjang hari. Ohoho, laptop ini dilengkapi dengan baterai lithium-polymer 50Wh yang dirancang khusus untuk memberikan ZenBook UX331UAL daya tahan baterai hingga 15 jam.

Sensor Sidik Jari dengan Windows Hello

Mengakses ZenBook UX331UAL menjadi lebih aman lagi berkat sensor sidik jari yang ada di touchpad dan Windows Hello. Nggak perlu lagi mengetikkan kata sandi setiap kali masuk: Cukup satu sentuhan saja. Cepat dan praktis!

Kenyamanan Saat Mengetik

ZenBook UX331UAL ini dilengkapi dengan keyboard backlit ukuran penuh dengan desain yang kokoh, memberi pengguna pengalaman mengetik yang luar biasa dalam segala kondisi pencahayaan. Boleh dibilang ini adalah mahakarya ergonomi, dengan jarak penekanan tombol keyboard 1,4 mm yang dioptimalkan untuk kenyamanan saat mengetik. Laptop ini juga didukung dengan teknologi palm-rejection dan mendukung gerakan multi-jari dan tulisan tangan. Yes, kenyamanan mengetik mempertahankan kita dalam posisi yang sama dalam waktu lebih lama. Itu artinya apa? Artinya kita akan semakin produktif menulis kawan!

Kenyamanan Mengetik dengan ASUS ZenBook 13 UX331UAL
Gambar: Channel.asus.com

Duh, mimpi apa ya aku, kalau tahun ini mendapat laptop idaman se-keren ZenBook 13 UX331UAL? Allahuakbar, Shalawatin dulu! Allahummashalli’ala Muhammad! Bismillah!

NAIK BUS MEWAH INI, HANYA MEMBAYAR DENGAN 3 BUAH SAMPAH! AH, MASA?

Ada bus kota yang naiknya hanya dibayar dengan sampah? Ini gokil banget! Semoga bukan karena akunya saja yang kudet alias kurang update. Bus dengan fasilitas modern super lengkap, ramah anak, ramah bumil (Ibu hamil, red), ramah lansia(lanjut usia) juga ramah difabel ini sangat memanjakan fasilitasnya. Dan, biaya naiknya hanya dengan menukarkan sampah plastik berupa botol bekas saja! Percaya? Aku berkali-kali mengulang kalimat itu di sebuah media sosial Instagram resmi dari Dinas Perhubungan kota Surabaya. Serius bayarnya hanya pakai botol plastik bekas? Kalau bener, amazing pakai banget! Benar-benar langkah baru dalam upaya mencintai lingkungan. Langkah pionir yang berani mengambil keberanian yang luar biasa. Apakah di daerah lain sudah ada yang menggunakan metode pembayaran bus dengan menukarnya dengan sampah?

Gambar: Detik.com

Namanya Suroboyo Bus. Sesuai dengan namanya, tentu saja bus ini beroperasi di kota Surabaya. Yah, kota yang akhir-akhir ini sedang galak melakukan kegiatan dalam rangka mengelola lingkungan secara sehat dan bertanggungjawab. Asli, aku memang belum pernah sekali pun menginjakkan kaki ke daerah Surabaya. Tapi begitu ada informasi ini, jadi sangat antusias pengin mencoba ke sana juga.

Berkat Kerjasama Antar Dinas dan Tata Kota Surabaya

Dinas Perhubungan Kota Surabaya bekerjasama dengan Dinas Kebersihan dan Tata Ruang Kota, bersama-sama mencetuskan untuk pertama kalinya di Indonesia dalam mengoptimalkan pemanfaatan dan pemilahan sampah pada sektor transportasi. Memberikan layanan publik sekaligus mengupayakan peningkatan kebersihan lingkungan dalam waktu yang bersamaan.

Suroboyo Bus yang menjadi ikon transportasi di kota Surabaya ini di launching pada hari Sabtu tanggal 07 April 2018 lalu. Bus bermesin matic ini semenjak awal beroperasi sangat dinantikan oleh para penumpangnya yang antusias. Sampai-sampai bus yang seharusnya menjadi alat transportasi publik ini beralih menjadi city tour bus. Beberapa penumpang sengaja mengajak anak-anaknya untuk berputar-putar keliling kota Surabaya dengan naik Suroboyo Bus.

Gambar: instagram Suroboyobus

Meskipun halte masih memanfaatkan yang lama karena masih membutuhkan waktu yang cukup untuk membangun halte baru, namun secara lengkap pengoperasian moda transportasi baru di kta Surabaya ini terbilang sempurna. Halte baru yang lebih bagus dan aman bagi penumpang, segera dibangunn. Halte yang melindungi penumpang dari kehujanan.

Fasilitas modern dan lengkap begitu memanjakan warga kota Surabaya atau warga daerah lain yang sedang berkunjung ke kota Surabaya. Design bus yang mewah, nyaman juga terdapatnya jendela kaca yang lebar sangat memberi kepuasan bagi penumpangnya untuk menikmati keindahan kota Surabaya. Duh, sudah mirip banget dengan bus-bus di luar negeri kan? Makin pengin ke sana, deh, jadinya.

Bus Nyaman dan Aman

Paling seru saat naik bus adalah rasa nyaman yang dijamin. Bukannya was-was seperti kita naik bus pada umumnya. Pencopet, pencuri, penjambret dan lainnya bisa bebas berkeliaran di dalamnya. Bahkan tak jarang, kondektur bus yang tahu kejadian itu pun tak bisa berkutik lantaran lebih takut sama tampang dan perilaku pencopet itu.

Lain halnya dengan bus modern satu ini. Bus bertingkat ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan keunggulan sebagai berikut:

CCTV sebanyak 12 buah untuk menjamin keamanan

Delapan buah CCTV berada di dalam bus, dan 4 sisanya berada di luar bus. CCTV ini akan terpantau dari darat sehingga bila di dalam perjalan bus itu terdapat tindakan perampokan, penjambretan, atau pencurian, makan tindakan itu akan segera terlacak dan pelakunya akan tertangkap di halte berikutnya.

Low Deck

Pijakan tangga untuk masuk ke dalam bus yang pendek ini akan memudahkan penumpang untuk turun langsung di area pedestrian kota Surabaya. Konsep ini juga begitu memudahkan bagi penumpang perempuan yang hamil, membawa anak kecil, orang dengan disabilitas, lansia juga bagi mereka yang menggunakan kursi roda untuk masuk ke dalam bus.

Kursi warna-warni

Gambar: instagram Suroboyobus
Gambar: instagram Suroboyobus

Suroboyo Bus di-design dengan kursi single seat warna-warni yang ramah terhadap perempuan maupun kaum lansia juga disabilitas. Masing-masing kursi mempunyai warna sesuai dengan penempatan penumpang:

Kursi Pink: Khusus bagi perempuan

Kursi Merah: Untuk Ibu hamil dan Lansia

Kursi Oren: Untuk penumpang umum, laki-laki atau perempuan.

Selain kursi, bus ini juga memfasilitasi bagi penumpang yang sehat untuk berdiri selama perjalanan, dengan berpegangan pada pegangan yang tersedia bergelantung di atap bus.

Sedangkan ruang khusus untuk disabilitas dengan kursi roda ditempatkan di bagian tengah bus dengan fasilitas pengaman kursi roda secara khusus yang telah disiapkan.

Panic button

Bus dengan konsep modern ini juga dilengkapi dengan “Panic Button” atau tombol darurat. Tombol ini bisa dipencet saat terjadi kebakaran di dalam bus. Jika tombol ini dipencet, maka bus akan berhenti, mesin mati dan pintu segera membuka secara otomatis.

Jendela kaca yang lebar

Jendela ini memberi keleluasaan bagi penumpang untuk menikmati indahnya kota Surabaya.

Jalan bebas hambatan

Bus ini melaju bebas hambatan karena tidak pernah terkendala dengan lampu traffic light yang menyala merah.

Petugas Yang Super Ramah

Gambar: instagram Suroboyobus

Petugas Suroboyo bus selalu siap membantu penumpang dengan senang hati, demi terciptanya kenyamanan dalam perjalanan.

Oh iya, untuk cara penukaran sampah plastik botol air mineral bekas, begini mekanismenya:

Gambar: instagram Suroboyo bus
  1. Penumpang membawa sampah plastik yang sudah dibersihkan ke halte terdekat atau bank-bank sampah.
  2. Sampah plastik yang sudah dibersihkan diserahkan kepada petugas yang ada di halte.
  3. Petugas akan memberikan satu tiket naik untuk ditukarkan dengan 3 buah botol plastik besar atau 6 botol plastik kecil atau 10 gelas plastik.
  4. Satu tiket berlaku untuk satu kali perjalanan dengan penghitungan waktu maksimal 2 jam untuk setiap tiketnya. Batas waktu berlakunya tiket tertera pada tiket.
Kartu tukar sampah Suroboyo Bus
Gambar: instagram Suroboyobus

Meski, pembayaran dengan sampah sifatnya tidak permanen, namun langkah ini begitu menggembirakan warga. Langkah ini jelas akan memberi perubahan pada perilaku warga terhadap pengelolaan sampah plastik pada khususnya. Setelah nanti sistem lebih dimatangkan, maka akan berlaku tarif sama jauh dekat, yaitu sekitar Rp 6.000,- saja sekali jalan. Tentu saja itu masih saja terjangkau untuk semua fasilitas yang ditawarkan.

Bus Berteknologi Modern

Bus berukuran panjang 12 meter dan lebar 2.4 m ini ternyata harganya fantastis. Per unit bus seharga 2.4 M. Luar biasa! Bus ini memiliki koneksi langsung dengan Surabaya Intelijen Transportasi System (SiTS). Koneksi ini mampu mengatur traffic light yang ada di depannya. Dalam jarak beberapa meter, koneksi ini akan dengan otomatis mengatur traffic light akan menyala hijau sedangkan traffic light di seberangnya akan mernyala merah. Sehingga Suroboyo bus akan dapat terus melaju tanpa ada hambatan lampu merah. Sampainya bus dari satu halte berjarak sekitar 20 menit saja dengan sistem pengendali traffic light ini.

Duh, kebayang nggak sih, naik bus serasa naik kereta yang bebas hambatan? Seru banget nih!

Hanya saja jumlah unit yang disediakan masih terbatas, yaitu baru terdapat sekitar 8 unit bus saja, sehingga jadwal keberangkatan masih lumayan jarang. Dari awal launching, pemerintah kota Surabaya sudah bertekad bahwa ada atau tidak ada penumpang, Suroboyo Bus akan terus melaju sesuai dengan jadwal keberangkatan yang telah diatur. Pada kenyataannya bus ini semenjak awal peluncuran selalu dipenuhi penumpang, baik yang memang berkepentingan untuk bepergian atau hanya sekadar jalan-jalan saja.

Dari 8 unit yang sudah berjalan, masih terlalu kurang dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ingin naik. Penumpang membludak dari prediksi. Banyak yang menyesalkan dengan jumlah unit yang terlalu sedikit. Dinas Perhubungan Kota Surabaya pun memberikan jawaban yang menggembirakan. Masih di tahun ini juga, rencananya jumlah armada Suroboyo Bus mau ditambah sekitar 10 unit lagi, memenuhi permintaan para penumpang yang sudah antusias berlangganan.

Hmm, benera ya, baru kali ini ada bus dengan fasilitas yang luar biasa. Setidaknya jika konsep ini bisa berlangsung sempurna, akan memberikan banyak manfaat besar bagi kota Surabaya pada khususnya, antara lain:

Suroboyo Bus dan Kemacetannya
Gambar: instagram Suroboyobus
  1. Mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas karena banyak penumpang yang lebih memilih naik bus dari pada mengendarai kendaraan pribadi.
  2. Menurunkan angka kemacetan lalu lintas. Bayangkan jika satu unit bus ini saja mampu membawa lebih dari 60 penumpang, hitung berapa penyusutan penggunaan motor maupun mobil pribadi dalam satu kali jalan? Sangat signifikan!
  3. Meningkatkan kebersihan lingkungan, terutama dari sampah plastik yang sekarang menjadi masalah tersendiri bagi lingkungan yang semakin rusak.
  4. Mengurangi angka polusi udara. Berkurangnya jumlah kendaraan bermotor karena banyaknya penumpang yang lebih memilih naik bus, akan memberi dampak positif terhadap jumlah asap kendaraan yang mengotori atmosfer kota Surabaya.
  5. Meningkatkan jumlah kunjungan wisata baik dari dalam negeri mau pun luar negeri. Kebersihan dan apiknya tata ruang kota Surabaya memberikan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Mereka akan semakin betah dan semakin banyak merekomendasikan ke teman dan saudaranya karena kota Surabaya kini menjadi kota yang sangat bersih, aman dan nyaman.

Duh, harus segera bikin resolusi nih, minimal tahun depan harus bisa berkunjung dan merasakan serunya naik bus bergambar ikan Suro (Hiu) dan Boyo ini di kota Surabaya. Untuk pertama kalinya. InsyaAllah!

 

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

Liburan selalu identik dengan perjalanan jauh yang menyenangkan. Bertamasya ke suatu lokasi wisata bersama keluarga. Pun demikian dengan liburan tanggal 17 Agustus 2018, liburan kali ini sangat berbeda. Bersahabat dalam hitungan menit bersama tukik lucu nan menggemaskan.

Tak tahu kah mereka? Sayangnya, gigi-gigi tajam menyeringai, menunggunya berenang tanpa pendamping.

“Pelepasan Tukik? Wow, seruuu! Mau… mauu… mauuu!!” Anak laki-laki itu berjingkrak-jingkrak. Senyum merekah lebar, matanya membulat antusias.

“Eh, bentar, emang udah tahu tukik itu apa?” tanyaku.

“Hahahah… beluum!” Jawabnya polos sambil tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Emangnya, tukik itu apa, Bund?” tambahnya.

“Kamu tahu penyu? Tukik itu bayi penyu,” kataku.

“Penyu?” dahinya berkerut.

“Iya, penyu, semacam kura-kura…” kulihat wajahnya seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Ah, aku tahu! Aku mau… aku mauuu… ayok kita ikut melepas tukik Bund!” aku tersenyum.

***

Liburan 17 Agustus 2018 lalu kami isi dengan mengikuti acara Pelepasan Tukik di Pantai Goa Cemara Bantul Yogyakarta. Sesuai dengan perayaan hari kemerdekaan, acara pun diisi dengan memerdekakan tukik, si bayi penyu yang imut.

Belum memiliki kendaraan pribadi bukan menjadi penghalang kami untuk berbahagia. Ya, memang kami belum mampu untuk membeli mobil dengan cara cash. Namun, hal itu tak menyurutkan niat kami untuk membahagiakan anak-anak. Bukan kah di zaman sekarang banyak sekali perusahaan rental kendaraan yang terjangkau. Salah satunya adalah www.automo.com perusahaan rental ini menawarkan berbagai macam kendaraan yang bisa disewa sepuasnya untuk berwisata atau keperluan lain. Tak hanya mobil, mulai dari sepeda motor, truk bahkan hingga pesawat dan kapal pun bisa dicarter. Sistem sewa dihitung per hari atau per malam. Sangat membantu keluarga bahagia seperti kita untuk tetap memberi kebahagiaan sederhana bagi anak-anak. Perusahaan tersebut mempunyai beberapa cabang di Jakarta, Bali dan Yogyakarta.

Kenapa harus sewa mobil atau kendaraan lain? Tentu saja dengan menyewa mobil kita terhindar dari biaya perawatan, juga terhindar dari biaya setoran (kredit), tapi kadang tak bisa terhindar dari kemacetan haha, ya kan semua orang butuh piknik! Nggak punya mobil pun masih bisa jalan-jalan, bisa ganti-ganti mobil semau kita. Tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan budget, iya kan? Seru mana coba?

Kenapa sih semua anak-anak suka piknik? Perjalanan jauh? Anak-anak terlihat antusias setiap kali melakukan perjalanan jauh? Bahkan baru disampaikan niat piknik saja sudah membuat mereka tak bisa tidur saking senangnya. Seolah waktu yang panjang dan medan yang berganti-ganti menjadikan hiburan tersendiri di antara rutinitas harian yang membosankan. Sekolah.

Siang itu berpacu dengan matahari yang berada tepat di atas kepala. Dari kota menuju bagian selatan Jogja. Ke arah pantai. Pantai Goa Cemara. Pantai ini berlokasi di sebelah barat pantai Samas, Bantul. Melewati sawah-sawah dan pedesaan membuat anak-anak melihat banyak hal. Kambing yang sedang digembala, tanaman padi yang mulai menguning, jagung yang sudah siap panen. Banyak sekali pemandangan alam yang tidak dapat dijumpai di kota. Pemandangan yang menyegarkan memori anak. Kebahagiaan pun mulai merangkak menguasai anak-anak. Bernyanyi dan terkadang ngemil makanan mengisi perjalanan yang tak pernah membosankan.

Karena terhadang beberapa kali oleh pawai karnaval kemerdekaan, kemacetan pun tak dapat dielakkan. Kami baru tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 wib. Persis saat jadwal acara pelepasan tukik dimulai. Panitia segera membuka acara meski pengunjung masih belum penuh. Pengunjung hanya dibatasi sebanyak 300 anak (yang semuanya jelas didampingi oleh orangtua mereka).

Acara di awali dengan penjelasan seekor penyu yang ditemukan bertelur di tepi pantai. Hingga akhirnya menetas dan dalam usia beberapa puluh hari siap untuk dilepas, dikembalikan ke habitat aslinya, yaitu laut. Tragisnya, dari 300 ekor tukik, kelak 20 tahun lagi hanya 6 ekor saja yang bertahan hidup. Sisanya? Mati dimakan ikan besar atau mati karena makan sampah plastik yang dikira ubur-ubur oleh tukik. Ya, tukik dan penyu makannya ubur-ubur. Tahu kan ubur-ubur? Bentuknya yang bulat berwarna putih transparan, mengapung, sangat mirip dengan plastik. Tak heran jika banyak tukik yang salah menerka.

Plastik itu kenapa sampai di lautan? Itu lah akibat kesombongan kita. Kesombongan tak mau membuang sampah di tempatnya. Perilaku membuang sampah sembarangan oleh manusia terhadap sampah terutama plastic sangat merugikan regenerasi penyu. Bayangkan, kita menyumbang berapa puluh persen sendiri terhadap kontribusi membunuh penyu dan bayi-bayinya dengan plastic yang kita buang sembarangan? Duh, jangan diulangi lagi ya!

Setengah jam pelajaran tukik dijelaskan panjang lebar. Apakah anak-anak mendengarkan? Ya, setidaknya 10 menit pertama mereka anteng, mendengarkan kisah tukik yang belum pernah mereka lihat. Selebihnya?? Mereka bubar sendiri-sendiri. Ada yang bermain pasir, ada yang kejar-kejaran. Ada yang naik-naik pohon cemara. Namanya anak-anak, saat mereka dilepas ditempat luas rasanya sungguh riang tak ada tandingannya. Mungkin terbebas dari “penjara” peraturan membuat mereka melakukan apapun sesuka mereka.

Setelah hari menjelang sore dan sejarah tukik selesai, semua anak diajak ke tempat penangkaran penyu, tempat ratusan tukik imut dipelihara sementara. Anak-anak berebut mengambil batok kelapa untuk membawa tukik ke pantai. Mereka berjeritan begitu menerima tukiknya masing-masing. Tukik itu terus saja berusaha mendaki tepian batok, tak sabar ingin berlari menuju pantai yang dirindukannya selama ini.

Pantai itu sangat bersih, debur ombaknya besar namun begitu menyentuh kaki berubah menjadi riak kecil yang hangat di telapak. Pelataran pantai yang begitu luas membuat anak-anak bebas berlarian, berkejaran, juga bergulingan. Berebut tempat terbaik untuk melepas tukik. Matahari mendampingi keharuan di sore yang memesona. Ya, matahari seolah memberitahu bahwa di jauh sana, banyak sekali bahaya. Hati-hati anak-anak!

Dengan hitungan 1,2 ,3, semua tukik dilepas bersamaan di tepi pantai. Tukik saling berebut menuju debur ombak yang menjadi genderang semangat di depan mereka. Angin sore pantai menambah birunya perasaan anak-anak melepas sahabat barunya.

“Tukiknya kasihan ya, Kak?” tangis Aishya si gadis kecil hampir pecah, matanya berkaca-kaca. Tukik yang baru merayap di tangannya kini harus terseok-seok berlari menuju tepi pantai yang dingin. Tukik yang terus saja berlomba menuju belaian bundanya yang sekarang entah di mana.

“Tukik nggak takut ya, Bund?”

“Enggak sayang, tukik bahagia, tukik mau ketemu bundanya, kan?”

Gadis kecil itu tersenyum, memeluk bunda yang juga ikut terpana melihat semangat tukik menuju laut lepas. Mereka tak tahu, di sana banyak pemangsa yang sigap menunggu mereka berenang-renang, menari menyambut kematian mereka sendiri. Ah, teganya para predator itu, tak tahu apa kalau mereka begitu rindu kepada bunda dan juga rumah asli mereka? Itu lah kehidupan, meski pahit, terus dijalani dengan penuh senyum kebahagiaan.

Jangan kalah sama tukik! Semangat menjemput bahagia, meski banyak mara bahaya menghadang di depan sana!

HOMESTAY MEWAH HARGA MURAH PALING RECOMENDED DI JOGJA

HOMESTAY MEWAH HARGA MURAH PALING RECOMENDED DI JOGJA.

Cocok buat traveller sejati kayak kamu. hehe. Buat kamu yang suka travelling, nih. Pasti carinya tempat menginap yang bagus, nyaman, murah dan dekat dengan berbagai tempat destinasi wisata yang update. Kalau aku sih, pengennya cari di tempat yang cukup “kota” artinya selain kita bisa untuk berkunjung ke destinasi utama yang kebanyakan berada di luar kota, kita juga bisa donk menambah pengalaman dengan mengisi waktu senggangnya dengan jalan-jalan mengeksplor kota tujuan kita.

Terutama bagi yang lagi pengen berkunjung ke kota Jogja, kali ini aku mau coba ulas sekaligus merekomendasikan tempat menginap yang super nyaman namun harga sangat ramah di kantong. Mengingat beberapa kali ke luar kota aku mengalami kesulitan cari penginapan yang oke punya, maka kali ini aku coba sharing tempatku menginap beberapa hari terakhir ini biar kamu sedikit punya referensi. aku tahu kamu seneng bacanya ini, seperti aku juga bakal suka sekali kalau mau berangkat ke luar kota sudah mengantongi informasi penginapan yang rekomended.

Oke, kita mulai dari fasilitas homestay. Selain sebagai tempat bersih-bersih , homestay juga tempat untuk istirahat. Tentunya harus bisa memfasilitasi kita dengan senyaman mungkin. Nah, mengenai fasilitas penginapan yang mau aku share, yakin sekali kamu juga bakal tercengang sepertiku saat membandingkan antara harga dengan fasilitas yang ditawarkan.

Kamar Mandi

Kenapa fasilitas ini kuulas di nomor satu? Baik, jadi kualitas suatu hotel, homestay atau penginapan menurutku harus dilihat dari kamar mandinya dulu. Karena saat kamar mandi ok pasti yang lainnya juga ok. Secara, kamar mandi biasanya letaknya di paling belakang dari suatu ruangan kan? bisa jadi sebagian orang menganggap ini nggak penting, namun bagiku justru ini sangat penting. Saat kamar mandi yang ditawarkan bagus, maka otomatis yang lainnya juga pasti bagus. Bisa dibuktikan. Nah, di penginapan ini kamar mandinya sangat Ok! Air hangat, shower besar anti macet, dibatasi oleh dinding kaca yang semakin memperlihatkan betapa lux kamar mandi ini. Toilet duduk yang cakep dan bersih. Yah, ini hanya bisa dijelaskan dengan kenyataan di lapangan, setidaknya closet yang dipakai di penginapan ini bermerk, yang jika digunakan pasti sangat nyaman. Ukuran kamar mandi juga cukup besar, leluasa untuk menikmati mandi berlama-lama.

Kamar tidur utama

Nah, poin yang kedua yang musti dipertimbangkan setelah kamar mandi . Adalah bed/ tempat tidur utama. Penginapan ini jelas menggunakan bed bertingkat (dua bed yang disusun hingga ukuran tinggi yang nyaman untuk duduk maupun berbaring santai. Dilengkapi dengan sprei dan bed cover warna putih yang halus, lembut dan bersih ini jelas akan memanjakanmu berlama-lama di atasnya. Sangat nyaman!

doc. pribadi

Lobi / tempat santai

Ruangan untuk menerima tamu sekaligus untuk makan breakfast yang disiapkan setiap pagi dengan menu bervariasi. Ruangan santai ini begitu hommy, layak rumah sendiri yang di design begitu rupa  terlihat nyaman berlama di ruang umum ini. Halaman depan dan lorong samping menuju kamar-kamar juga begitu hidup dengan pepohonan kecil yang tertata apik mempercantik dan memberi suasana segar.

doc. pribadi

Breakfast

Meski tak selengkap menu di hotel berbintang, menu yang disediakan di penginapan ini begitu menggiurkan dan membuat sarapan kita sempurna. Tentu saja masih bervariasi juga, ada roti tawar lengkap dengan toping sesuai selera, ada nasi prasmanan dengan sayur, lauk juga sambal dan kerupuk yang akan memberimu rasa kenyang dan siap beraktifitas seharian, juga buah dan minuman kopi&teh yang bisa kamu seduh sendiri sepuasnya.

Fasilitas pendukung lain

Tak lengkap rasanya saat menginap tanpa fasilitas pendukung yang tenyata cukup crusial kedudukannya. Di antaranya adalah TV kabel, AC, meja rias dan juga lemari baju. Pokoknya disediakan lengkap. Kurang apa lagi untuk menuju kenyamanan yang sempurna?

doc. pribadi

Dekat sekali dengan fasilitas umum

Sebut saja alun-alun, baik selatan yang malamnya selalu bercahaya dan hingar-bingar atau alun-alun utara yang merupakan halaman utama kraton Yogyakarta. Alun-alun ini juga kerap dijadikan sebagai destinsai wisata, terutama buat pasangan yang sedang dimabuk cinta atau yang sudah mempunyai anak kecil. Di alun-alun bisa ikut wisata tradisional bermain egrang, atau mengayuh sepeda lampu yang tiap malam membuatnya menyala. Selain alun-alun, penginapan ini juga sangat dekat dengan wisata Taman Sari (Water Castle) hanya berjarak sekitar 300 m dari lokasi homestay. selain itu semua, di sekitar alun-alun selatan juga banyak sekali tersebar cafe-cafe modern yang sangat nyaman untuk bersantai.

Wifi gratis

Nah, fasilitas satu ini sekarang begitu pentingnya. Hampir semua urusan dapat diselelsaikan dengan cara online. Mencari makan misalnya, pesan ojek online atau mau buka-buka segala informasi melalui internet saat sedang santai di penginapan. Semua bisa dilakukan dengan mudah.

Nah, ulasan yang cukup lengkap ini semoga membantumu menemukan tempat penginapan yang sesuai harapanmu ya. Oiya, belum afdol jika belum dilengkapi informasi harga sewa kamar per malamnya. Karena dari awal saya sudah excited sekali untuk sharing informasi homestay mewah murah dan paling recomended, maka akan saya bocorkan harga sewa homestay ini.

kamu bisa menginap di sini hanya dengan membayar 200k hingga 275k saja per malam. Penghitungan check in check out sama dengan peraturan di mana saja. Sedikit beda saat ketemu dengan hari Raya Idul Fitri lebaran yang bisa naik dua kali lipat (Ssst! jangan keras-keras, tapi bisa jadi saat lebaran pun kamu bisa tetep dapetin harga normal loh, meski kemungkinannya sangat kecil hehe) secara saat lebaran sebagian besar harga pasti meroket, termasuk sewa penginapan maupun sewa kendaraan, ya kan?

Serius? Untuk semua fasilitas di atas hanya dibandrol 200k hingga 275k? Yes! Bener pakai banget. Selain fasilitas fisik yang mengagumkan, fasilitas lainnya juga cukup memuaskan, adalah keramahan petugasnya. Mereka sangat ramah juga cekatan. Pokoknya over all, semuanya luar biasa, pastinya kamu bakal pulang dengan hati berbunga-bunga, karena bisa menghemat sekian rupiah dari perjalanan yang mungkin awalnya diperkirakan akan habis banyak.

Gimana? kurang apalagi coba? Seru kan? oiya, nama penginapannya itu PURI LANGENARJAN. Beralamat di Jalan Langenarjan Lor no 11A. Siap beraksi? Semoga liburanmu mendatang semakin membuatmu semangat dan merefresh segala kegalauan ya! Selamat jalan-jalan, kawan!

Daun Puteri Malu Mampu Melindungi Diri Dengan Menguncupkan Daunnya

Sudah pernah dengar kan ada tanaman yang namanya Puteri Malu? Daun yang tiba-tiba menguncup saat di sentuh ini begitu terkenal di kalangan anak sekolah, terutama SD dan TK. Bagi yang duduk di sekolah dasar pasti pernah mendengar nama tanaman ini. Nah, ingat kan? itu loh tanaman yang bisa melindungi dirinya dari serangan dengan cara menguncupkan daunnya. Dia pura-pura mati untuk mengelabui lawannya.

Daun Puteri Malu (Dokumentasi Pribadi)

Saat daun tersebut disentuh, secara otomatis akan menguncup dan menundukkan tangkai daunnya. Persis seperti daun yang layu.

Bunga dari Puteri Malu berwarna pink-ungu entuknya bulat terdiri dari serabut-serabut lembut. Buah atau biji dari Daun Puteri Malu mirip dengan pete dalam ukuran yang sangat kecil. Biasa untuk pete-petean oleh anak-anak yang sedang bermain pasar-pasaran.

Buah / biji daun puteri malu (Dokumentasi Pribadi)

Tanaman ini mudah sekali ditemukan di daerah pedesaan yang masih banyak terdapat kebun maupun semak-semak. Di kota kita akan sedikit kesulitan mendapatkannya.

Untuk memudahkan mencari, berikut ini ada video seperti apa sih bentuk dan rupa Daun Puteri Malu itu? Klik di sini untuk melihat bentuk dan gerak daun Puteri Malu saat disentuh.

Di Jogja masih dapat dengan mudah ditemukan. Terutama di daerah yang masih banyak terdapat sawah dan kebun seperti di Bantul, Sleman, Kulonprogo maupun Gunung kidul. Di kota sendiri masih bisa kita temukan tanaman unik satu ini. Di tengah kota misalnya, kita masih bisa menemukannya di tepian alun-alun kidul seperti pada gambar. Selamat berburu daun Puteri Malu buat teman-teman yang masih bingung. Anak sekarang di usia TK pun sudah mengenal tanaman satu ini. Beda sekali dengan generasi emaknya di zaman lampau ya? rata-rata baru mengenal tanaman satu ini di kelas, ya kalau enggak kelas tiga ya kelas empat SD kira-kira.

SPOT SELFIE TERBARU DI JOGJA, KEMBALIKAN SEMANGAT JUANG PAHLAWAN KEMERDEKAAN PADA GENERASI ZAMAN NOW

Belum juga genap hitungan satu bulan, para pahlawan raksasa ini mencuri perhatian semua orang yang melewatinya. Posisinya memang begitu eyecathcing. Berbaris gagah di pojok utara alun-alun besar kota Jogja. Besar dan tinggi. Bahkan, tinggi badanku saja, hampir tak sampai tinggi lutut orang-orang kekar dalam bentuk patung itu.

Setidaknya, cara unik ini akan lebih mudah diterima, memberi kesan kepada para generasi muda zaman now, terhadap keberadaan para pejuang kemerdekaan, yang selama ini hanya dapat dibaca di dalam buku sejarah. Dapat mengenal lebih jauh, betapa gagah dan tangkasnya para prajurit Indonesia tercinta. Pantas saja,  jika pasukan lawan yang bersenjata modern&canggih, dapat dengan mudah dibuat gentar, menghadapi orang-orang penuh kekuatan itu. Cerdas, tangkas, dan setia, itulah patriot bangsa, kebanggaan Indonesia.

Tak terkecuali aku, yang hampir setiap hari melewatinya. Namun, baru sore ini berhasil membelokkan langkah kaki ke depan barisan rombongan prajurit pemberani ini.

Percaya, nggak percaya, berdiri sendirian di depan pahlawan raksasa ini, membuat lututku gemetar. Meski, logika ini berkali-kali mengingatkan, itu patung! Nggak bakal bisa ngapa-ngapain, namun tetap saja rasanya ingin segera lari. Begitu membuncah, bahkan hanya dengan melihat kegarangan para patriot ini memegang senjata.

Ada rasa bangga yang tiba-tiba menyeruak, ada rasa rindu yang menyelinap perlahan. Inikah sosok para pejuang itu? Yang dengan gagah berani menghadang lawan, merebut kemerdekaan yang tercabik. Hingga akhirnya, kini aku bisa bebas berekspresi mengisi hari-hari merdeka. Tanpa takut apapun juga. Atas ijin Allah, melalui tangan-tangan para pejuang itu,  hanya dengan modal bersatu padu, bahu-membahu, dan dengan peralatan seadanya.

Tiba-tiba ada rasa malu yang mendesir, apa yang telah kuperbuat untuk negeri ini? Bahkan dengan tubuh yang begitu sehat, kuat dengan situasi yang aman damai. Ah, malu sekali sama pahlawan di depanku, yang bahkan berjalan saja sudah tidak mampu, terlalu lemah karena penyakit yang saat itu menggerogoti kekuatannya.
Jendral Soedirman, begitu tinggi wibawamu, begitu kuat tekadmu. Di dalam tandu, kau berseru, kau kobarkan api berjihad kepada semua prajuritmu. Para prajurit yang gagah berani. Bahkan dalam keadaan sakit, kau pimpin pasukan untuk merebut kembali kemerdekaan negeri kita. Indonesia.

Kembali tersadar, setelah beberapa saat berasa keluar dari hiruk pikuk, merasakan aura amis berdarah yang dihembuskan oleh sekelompok pahlawan kemerdekaan Indonesia tercinta. Amis darah dari tubuh para penjajah, yang telah mereka halalkan, demi merebut kembali negeri.

Terimakasih para seniman seniwati Jogja, yang telah kembali mengobarkan semangat berjuang, berjuang membangun Indonesia dengan cara kami. Berkarya dengan kemampuan kami. Sulut semangat kami, agar selalu terpacu untuk tak kenal menyerah, tak kenal lelah, mencerdaskan kehidupan bangsa.

#Dipersilakan bagi para spot-selfie hunter , untuk berselfie ria dengan para pejuang tersebut, dengan catatan tetap menjaga keberadaannya dan menjaganya agar tetap indah, dengan tidak masuk ke area pahlawan atau naik ke panggung barisan.

Bagi yang belum melihat dan sekarang penasaran, silahkan berkunjung ke Jogja, agendakan dalam waktu dekat ya. Lokasi ada di alun-alun utara kota Jogja. Pojok timur laut dari alun-alun ini.

Selamat berlibur.

Semoga bermanfaat,

-ew-

MALIOBORO, DESTINASI WISATA JOGJA YANG KINI TIBA-TIBA BERUBAH SEPI

Kalau kamu ditanya:

Kamu suka Malioboro yang super ramai? Kanan-kiri penuh sesak penjual dan berjubel para pembeli, dimana-mana tersedia pilihan cinderamata, makanan, batik dan lain sebagainya? Atau kamu justru lebih suka Malioboro yang sepi, lengang dari transaksi penjual maupun pembeli?

Semua lorong kosong, tak terkecuali deretan andong yang biasanya parkir manis di sepanjang sisi kanan jalan Malioboro Jogja. Ada apa ini?  Tanyaku dalam hati, begitu memasuki kawasan Maliobro mulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali yang terletak di ujung utara Malioboro. Tak satupun kulihat, rentetan pedagang kaki lima yang sudah puluhan tahun meramaikan kota ini. Kemana gerangan mereka?

Belum terjawab pertanyaan yang tiba-tiba bergelayut itu, kupaksa otak ini mengingat, apa-apa saja yang biasanya nongkrong dengan sesukanya, mulai dari tukang bakso, lesehan Malioboro siang-malam, para penjual baju batik, tas batik, aneka gelang&kalung lucu, makanan, ah entahlah berapa ratus bahkan ribu jenis dagangan lain yang belum bisa kusebut satu-persatu. Belum pernah sekalipun hal ini terjadi. Bahkan andong, dengan para kusirnya yang selalu rapi dengan belangkon dan baju beskap khas Jogja,  yang sering kali membuat perasaanku nyaman dan selalu mengingatkan aku, bahwa aku tinggal di Jogja. Sebuah kota, dimana banyak sekali orang yang bermimpi ingin sekadar singgah, berselfie maupun hunting makanan khasnya, gudeg.

Lanjut menyusuri panjangnya jalan Malioboro, masih saja lengang dengan para penjual kaki lima, yang setiap hari bergelut berlomba mencari nafkah. Tak terasa, kangen juga dengan hiruk-pikuknya Malioboro yang banyak menjadi destinasi para pelancong, baik dalam maupun luar negeri. Terlihat hanya berderet toko-toko yang tetap saja beraktifitas seperti biasanya, seolah tak terganggu dengan perubahan yang ada. Hanya saja, mereka jauh lebih terekspos dibanding hari-hari biasanya yang cenderung selalu tertutup oleh pajangan dagangan para pemburu rejeki, iya, pedagang kaki lima Malioboro.

Menginjakkan kaki di bagian selatan Malioboro, pasar Beringharjo, juga tak satupun penjual makanan yang biasanya berderet rapi dengan payung besar warna-warninya. Pecel, bakpia, klepon dan seabreg makanan tradisional lainnya, yang kerap membuat kangen. Sebenarnya, bukan mengenai rasanya yang memang enak, tapi keberadaan warung-warung beserta menu andalannya itu, yang seringkali mengajak pengunjungnya berkelana melewati waktu, menuju saat dimana banyak terekam suasana manis, yang sekarang tinggal menetap di memori terdalam, menjadi kenangan.

Semua tampak kosong. Memang, semua padagang pasar tetap saja buka, tetap saja berjualan seperti biasanya. Kejanggalan ini belum juga menemukan jawabnya. Hingga, seseorang yang kebetulan kutemui menjelaskan panjang lebar, perihal sepinya Malioboro hari ini. Beliau adalah pak Agus, pedagang batik yang sudah berpuluh tahun menjalani bisnisnya, mulai harga batik yang hanya puluhan rupiah hingga kini batik bisa bernilai jutaan rupiah. Menurut keterangan beliau, sekarang pemerintah Jogja sedang menerapkan peraturan Jogja (Malioboro) bebas pedagang kaki lima. Hal ini, menuai beberapa respon baik bagi para penjual kaki lima maupun bagi para wisatawan yang berkunjung. Bagaimanapun, tujuan dari sebuah peraturan dibentuk adalah untuk ditaati. Meski merubah banyak keadaan maupun kondisi, namun kebijakan ini banyak bermanfaat bagi masyarakat. Ditinjau dari segi kebersihan tata kota, tentu saja kondisi Malioboro bebas kaki lima akan memberikan suasana yang berbeda bagi wisatawan yang datang. Malioboro kelihatan lebih rapi dan bersih, apalagi jadwal yang dirutinkan untuk kegiatan kerja bakti ini sudah mulai diterapkan, bersamaan dengan hari Malioboro bebas pedagang kaki lima, yaitu setiap Selasa wage yang jatuh setiap 36 hari sekali atau dikenal dengan sebutan selapanan. Ya, bahkan sekarang, para pedagang kaki lima itu mempunyai waktu “libur” yang bisa digunakan sekadar untuk menenangkan hati maupun sekadar melemaskan otot yang selama ini kaku, efek dari kerja keras yang tak pernah ada ujungnya. Untuk segenap pedagang kaki lima Malioboro,  Selamat berlibur kawan, semoga besok bisa lanjut menjemput rejeki halal dengan lebih semangat lagi. Oiya, sekedar catatan, bahwa jumlah pedagang kaki lima yang setiap hari menjajakan dagangannya di Malioboro, ternyata mempunyai jumlah yang fantastis loh, yaitu lebih dari 3000. Lapak mereka berjajar memenuhi sisi kanan dan kiri Malioboro, mulai dari ujung utara hingga sampai ke perempatan titik nol Jogja.

Nah, bagaimana, kamu suka yang mana?? Malioboro ramai, penuh sesak, tapi kamu bisa temukan apa saja yang kamu inginkan di sisi kanan kiri sepanjang jalan Malioboro? Atau lebih memilih Malioboro yang bersih dan rapi dimana kamu bisa bebas ber selfie namun kehilangan berbagai pilihan tempat belanja yang murah hingga mahal hanya dengan sekali jalan?? Kalau aku sih, pilih dua-duanya, kadang pengin sepi menyendiri, kadang pengin rame-rame seru. 🙂

-EW-