NUSSA DAN RARA, VIDEO ANIMASI ISLAMI KEREN PENGOBAT KEKHAWATIRAN EMAK ZAMAN NOW

NUSSA DAN RARA, VIDEO KEREN PENGOBAT KEKHAWATIRAN EMAK ZAMAN NOW

“Yak, pas!” terlihat boneka kartun yang bisa bergerak-gerak itu mundur teratur sambil sedikit membungkuk. Berusaha agar kepala masih terlihat dalam bingkai kamera. Mataya bulat, memperlihatkan seorang anak cerdas yang percaya diri.

Matanya bergerak memfokuskan pandangan, diikuti ekspresi bibir dan wajah yang terlihati serius.

“Hai, Guys, Assalamu’alaikum! Namaku Nusa, dan ini adikku, Rara… Ra…Ra…Ra…Raraaa… Iih, kamu gimana sih? Kan sudah kubilang jangan ke mana-mana,” celingak celinguk tak juga menemukan sosok adiknya yang lucu.

“Aku di sini! Xixixi… Halo Assalamu’alaikum. Namaku Rara, umurku lima tahun. Aku sukaa mobil balap dan suka main air, dan juga berenaaang! Kata Uma, aku anaknya cantiiik dan sholeha!” anak imut itu tiba-tiba nongol dari pojok layar sebelah kiri bawah, matanya bulat, rambutnya terbalut kerudung rapi. Anaknya usil dan suka bercanda. kalau sudah dibolehin ngomong, dia akan ngomong terus tanpa berhenti. Ya dia memang cerewet banget.

“Udah ya, Gaes! Segini dulu, Assalamu’alaikum!” tiba-tiba Nusa menggeser keberadaan Rara di depan kamera dan mengambil alih fokus kamera, dan mengakhiri perekaman video itu.

“Ya ampun! Xixiix…” ekspresi kedua bocah dalam kartun menggambarkan kelucuan yang tidak bisa dibayangkan.

Rebutan kamera saat swa-syuting, tapi tak ada pertengkaran di dalamnya. Sangat lucu dan menggemaskan.

Kamu pasti setuju jika aku bilang bagian mana yang paling lucu dan menggemaskan! Ya, hal lucu dan termenggemaskan dari video pertama Nusa dan Rara itu adalah saat tiba-tiba Nusa memotong bicaranya Rara saat menjelaskan dirinya. Trus suara dan celoteh, “Ya, ampun xixixi…!” itulah yang paling menggemaskan, menurut versiku.

Video ini dirilis pada tanggal 20 November 2018, bertepatan dengan hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah, channel ini didukung penuh oleh ustadz-ustadz kenamaan di Indonesia. ya, mau tidak mau, dakwah pun harus seiring berjalan dengan kemajuan teknologi. Ayo dukung para kreatif muslim untuk semakin berkarya, menyampaikan pesan moral dengan cara yang disukai anak-anak!

Untuk video asli Nussa official-nya bisa kamu tonton di bawah ini, oiya jangan lupa like, komen dan subscribenya ke channel officialnya, ya! Yuk dukung mereka yang udah kreatif semakin kreatif mengeluarkan video yang bermanfaat bagi anak kita! daripada nonton video yang mengajari anak marah-marah, mengajari mereka bohong, mending video ini banget, ngajari moral anak-anak, semoga anak-anak kita segera beralih mengidolakan video Nussa dan Rara!

Ini videonya yang Official, Mak!

Aku penasaran banget, Mak! Siapa sih yang udah sedetil itu memikirkan setiap adegan yang menurutku update banget dengan keseharian anak zaman now? Detil ekspresi dan celotehnya pas banget. Terlihat simple, Mak, tapi percayalah, membuatnya tak sesimple itu. Mencari ekspresi alami yang manusiawi dari suatu adegan yang terbebas dari kesan frame panggung, sangatlah rumit.

Sangat simple. Video yang penuh manfaat ini jawaban dari doa seluruh emak di Indonesia. Kenapa pasal? Tahu sendiri kan permasalahan emak atas bocah-bocahnya zaman now ini? Hampir setiap hari atau maksimal weekend-lah, semua anak tak terkecuali pasti menonton youtube.

Dan, semua tahu juga kan? video-video youtube, terutama video anak-anak dari luar negeri kebanyakan bukannya mendidik malah mengajari hal yang kurang baik. Berbohong, memukul, membuang makanan dan mengacak-acaknya kalau tidak suka. Juga banyak video yang mengajari pertengkaran atau bertindak curang, sangat meresahkan.

Apalagi ya, Mak. Anak kita itu pinter-pinternya nggak nanggung. Setiap adegan dan setiap ucapan hampir dihafalnya, sesulit apa pun dialog itu. Kebayang kan, Mak? Efek dari menonton video itu pastilah akan terbawa hingga ke dunia nyata.

Anak mudah marah, anak mengacak-acak makanan, anak membantah, dan masih banyak lagi contoh kerugian jika kita tidak memantau aktifitas anak dalam menonton youtube.

Nusa dan Rara, setidaknya merupakan pertolongan siaga teknologi zaman now yang masih mengatasnamakan pendidikan anak berbasis Islam. Kalau boleh, aku sangat mengapresiasi dimunculkannya video serupa ini. Berharap kreatifitasnya semakin berkembang mengikuti kecerdasan anak yang mudah bosan.

Hanya sayangnya, entah diberlakukan izin atau tidak, sejak muncul video itu, banyak sekali channel-channel (Lebih dari 60 channel tanpa izin) yang me-reupload video yang sama persis tanpa ada embel-embel apapun di dalamnya. Sayang banget jika tindakan ini merugikan pihak Nusa dan Rara Official-nya. Karena begini-begini, emak ini tahu betapa video orisinal kita yang ecek-ecek diakui dan diupload oleh orang lain itu menyakitkan. Apalagi video sekern Nusa dan Rara coba? Semoga banyak menyusul yang kreatif untuk memproduksi video youtube yang semakin ke sini semakin menguasai.

Betul kan, Mak? Mari kita dukung tim kreatif dari Nusa dan Rara Official untuk lebih banyak memproduksi video Islami yang menginspirasi anak-anak.

Insyaallah, keberadaan video ini di Youtube sedikit menggeser kebiasaan anak untuk menonton video tak jelas seperti sebelumnya.

O, iya, alhamdulillah anak-anakku juga mulai bergeser nonton videonya, dan mereka antusias membuat video cover di kehidupan nyata Nussa dan Rara. Tak menyangka, rupanya dialog detil dengan gaya bahasa tubuhnya bisa mirip! Hmm suara anak-anak memang menggemaskan!

Terima kasih Nussa dan Rara Official!

 

Allah Hadir Di Seberapa Kuat Doa Ibu

Allah hadir di seberapa kuat doa ibu

Aku masih belum percaya jika melahirkan dengan dipacu akan memberikan rasa sakit yang luar biasa. Menurutku kala itu, nyeri kontraksi ya memang seperti itu, sakitnya legit. Pun, karena ternyata sudah dua kali obat pacu lewat jalan lahir sudah berhasil kulewati dengan lancar. Nyerinya masih sama saja dengan melahirkan dua jagoanku tempo hari.

“Mbak, bukaan berapa?” tanyaku ke bidan yang baru saja memeriksa.

“Masih sama, Mbak,” jawabnya singkat.

“Sama berapa, Mbak?” kejarku lagi.

“Sama seperti tadi bu dokter yang meriksa jam enam,” jelasnya kemudian. Dia buru-buru pamitan.

Ok, aku menghela napas. Bukan apa-apa, rasa nyeri di perut bagian bawahku yang menjalar ke seluruh pinggang rasanya sudah puluhan kali lipat disbanding sebelumnya. Sekuat tenaga aku mencoba berbaik sangka, Allah Maha tahu yang terbaik. Setelah 24 jam melewati mules-mules tak jelas yang disebabkan oleh perangsang mules berupa obat pacu, tepat sejak jam 12.00 (yang itu artinya 6 jam yang lalu) bidan menyampaikan hasil konsulnya yang memberikanku dua pilihan, istirahat (tanpa pemberian obat pacu) atau segera memilih prosedur lain untuk melahirkan, yaitu operasi bedah sesar? Aku terpaku pada dua pilihan itu. Memang taka da satu pilihan mana yang lebih berat,dua-duanya begitu berat. Satu sisi aku maunya memang istirahat saja, artinya membiarkan dan mengharapkan semua proses terjadi secara alami dengan lancar. Tapi dilain sisi, aku lebih takut dengan risiko yang lebih buruk akan terjadi pada bayi perempuan di dalam rahimku.

Baik, beri kami waktu untuk berpikir, Mbak. Hanya itu yang kusampaikan kepada bidan jaga yang cantik itu. Waktu untuk berpikir, bukankah itu juga menghabiskan beberapa ribu detik terbuang tanpa action? Allah, semoga memang apa pun langkahku, itulah yang sudah Engkau pilihkan buat kebaikan kami, aku dan calon anakku.

Akhirnya kami memilih istirahat saja. sitirahat dari pemberian obat berupa tablet yang dibelah 4 yang dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk merangsang munculnya kontraksi yang membaut perut terasa mulas. Kehamilan ini tak seperti dua kehamilan sebelumnya yang meski terlambat atpi masih bisa berjalan dengan lancar tanpa campur tangan obat pemacu kontraksi.

“Mbak, ini udah mau lahir,” ucap mama sambil mengusap peluh yang membasahi kening juga tengkukku. Meski sekuat tenaga aku menahan nyeri yang teramat sangat, mama tetap bisa mencuri tahu. Mama ku bukan “orang pintar”, apalagi dukun. Tapi pengalamannya melahirkan 6 orang anak dari rahimnya dengan cara normal cukup memintarkannya mengenali tanda-tanda melahirkan.

Mama baru saja masuk ke kamar tempatku berada. Di ruang lantai 3 sebuah rumah sakit di Jogja. Mama memang baru bisa datang setelah lebih dari 24 jam aku mulai kesakitan. Bukan karena apa-apa, kebetulan mama baru ke luar kota menjenguk bude.

Benar saja, tak selang sepuluh menit dari kedatangan mama, bidan-bidan cantik itu berlomba membawaku ke ruang persalinan. Aku panik. Rasanya perut ini sudah waktunya untuk mengeluarkan segala yang ada di dalamnya. Aku pengin sekalii mengejan! Tapi tak boleh!

“Nanti, tunggu dokternya datang, tahan, belum lengkap!” bidan itu tetap saja tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.

“Aku mau ngejaaan!” teriakku saat kudengar suara dokter memasuki ruangan bersalin.

“Tunggu! Dokternya pakai sarung tangan dulu!” teriak bidan itu.

Dan aku pun tak mendengar lagi apa kata bidan itu.

“Oek… oek…!” bersamaan dengan tangan dokter yang sudah lengkap dengan handscoend, kepala bayi disusul badannya segera meluncur ke kedua telapak dokter cantik yang sedari kemarin siang sudah menunggu bayi itu.

Kesayangan mama

Entahlah, itu kenanganku bersama ibuku. Perempuan yang selalu menjemput kelahiran cucunya dengan kasih sayangnya, bahkan meski sudah berkali-kali obat pacu dimasukkan. Rupanya suara, kelembutan tangan mama tetap yang ditunggu. Allah ridlo pada keikhlasan mama. Keikhlasan untuk menyaksikan putri pertamanya melahirkan cucu-cucu imutnya.

Aku baru ingat, ternyata ketiga anakku memang semuanya mundur dari HPL, tapi satu yang menyamakan ketiganya, adalah kedatangan mama di sampingku yang seolah menjadi kekuatan tak terlihat dari Allah untuk melancarkan semuanya. Ridlo Allah ada di ridlo mama. Mama, begitu cintanya engkau terhadapku yang sering durhaka. Izinkan aku jadi anak shalehamu yang kelak doaku akan selalu engkau terima di sana.

Satu setengah tahun dari kejadian itu, engkau dipanggil Allah, tanpa sebab, tanpa sakit, tanpa tanda apapun sebelumnya. Bahkan kita menyisakan janji untuk melakukan senam bersama Ahad pagi di alun-alun. Janji yang pernah terucap namun tak pernah tertunaikan.

Kalau menurutmu kenangan itu hanya untuk dikenang, kamu salah. Kenangan itu menjadi sumber kekuatan. Kenangan itu menjadi sumber harapan, untuk kembali berkumpul bersamanya di surge. Kenangan indah ikatan ibu anak yang tak pernah lekang dimakan waktu bahkan kematian.

Kenangan itu menumbuhkan harapan-harapan baru untukku menjadi wanita shaleha yang membanggakanmu.

Kenanganku tak akan mungkin kutemukan lagi, kecuali hanya tempat-tempatnya saja. Dan, kenangan yang selalu menumbuhkan harapan baru akan selalu kuingat, terutama agar aku menjadi perempuan yang semakin shaleha, produktif dan mampu berkarya untuk kepentingan dunia dan akhirat.

GENERASI ALFA PENGUASA MASA DEPAN YANG HARUS MELEK TEKNOLOGI SUPER CANGGIH

GENERASI ALFA PENGUASA MASA DEPAN YANG HARUS MELEK TEKNOLOGI SUPER CANGGIH

Adakah yang merasakan bahwa hari berjalan terlalu cepat? Baru kemarin hari Sabtu sekarang sudah Sabtu lagi. Manusia semakin sibuk dengan segala hal yang menyenangkan. Kemajuan teknologi semakin memanjakan. Tak bisa dipungkiri, kecepatan teknologi terus saja bergulir setiap saat tanpa peduli mampukah kita mengikutinya? Ataukah kita termasuk pengguna teknologi yang kalah cerdas dibanding dengan perangkat gawai kita?

Kelak, bisa saja kita telah tiada atau mungkin kita masih ada namun kemampuan kita sudah tak segesit seperti sekarang? Kemajuan teknologi yang belum mampu kita bayangkan sekarang apakah masih mungkin kita rasakan? Ibarat bola salju, teknologi juga akan terus saja bergulir sepanjang masa di mana pun tempat. Semakin bergulir, semakin besar dan semakin kuat teknologi itu.

Mau tidak mau, suka tidak suka kita akan terus saja masuk dan ikut bergulir di dalamnya. Nggak mungkin kan kita kembali ke masa lampau, sehebat apapun kita mencegah anak-anak untuk mengenal teknologi? Masihkah kita berpikiran bahwa teknologi merupakan perusak generasi?

Baik, kita akan sedikit membahas mengenai gimana caranya kita bersahabat teknologi. Apa manfaatnya saat kita ikut mengembangkan diri menjajari kecepatan perkembangan teknologi.

Jangan salah, dunia di masa mendatang adalah gambaran dunia yang semakin liar dalam hal perkembangan teknologi. Generasi Alfa menjadi penguasa kehidupan di masa yang belum bisa kita bayangkan mau seperti apa kelak. Siapa generasi Alfa? Generasi Alfa adalah generasi yang terlahir pada tahun 2010 dan setelahnya. Generasi ini dilahirkan dan mendapat pola asuh dari generasi milenial atau generasi Y (1961-1980) yang berkepribadian hangat, menyukai kritik dan terbuka untuk bermacam perubahan. Generasi Alfa, generasi yang mau tidak mau, suka tidak suka akan hidup di masa yang dikuasai oleh kemajuan teknologi yang tak hanya modern, tapi super modern.

Jika sekarang saja bisa beli makan dari rumah dengan mudah, bisa belajar jarak jauh dengan aplikasi media sosial, bisa pergi kemana pun juga dengan ojek online murah dan mudah didapat, juga tetek bengek lainnya yang ditawarkan oleh teknologi zaman now, bagaimana kehidupan sekitar 10 tahun mendatang? Tak bisa dibayangkan sejauh mana perkembangan teknologi kelak.

Masih beranggapan bahwa teknologi merusak generasi? Sebaliknya, generasi justru bagian dari teknologi. Generasi berupa manusia yang semakin cerdas yang akan menciptakan teknologi seiring majunya ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kebutuhan yang dituntut untuk semakin mudah diraih.

Bijaknya, dengan alasan itulah kita juga mulai mengenalkan generasi Alfa -anak-anak kita yang kini berusia dini- kepada kemajuan teknologi yang akan mereka geluti di masa mendatang. Bukankah kita tidak mau kenangan nenek moyang kita dijajah oleh negara lain kembali menjangkit di generasi mendatang? Setidaknya secara harfiah penjajahan dalam arti yang sebenarnya memang tidak akan terjadi, namun bagaimana dengan penjajahan yang bersenjatakan teknologi? Bukankah itu lebih mengkhawatirkan? Jangan biarkan mereka lemah karena tidak mengikuti perkembangan teknologi. Selamatkan generasi kita, dengan mengenalkan teknologi sejak dini dengan cara yang benar, bijaksana dan bertanggungjawab. Kuatkan kecerdasan dengan tetap memegang teguh nilai-nilai luhur kemanusiaan, agar tercipta generasi tangguh, menjadi pemenang dalam menggerakkan perputaran dunia super modern kelak.

Oh iya, teknologi tak terbatas hanya pada gawai atau smartphone yang selama ini kita artikan. Bukankah perkembangan komputer juga bagian dari kemajuan teknologi? Mengenalkan komputer kepada anak-anak usia dini sangat bermanfaat. Tentu saja bukan hanya mengenai seberapa hebat mereka akan mengalahkan musuh dalam game peperangan. Saat mereka mengenal dasar-dasar teknologi komputer semenjak dini, maka kebutuhan kemampuan mereka selanjutnya akan semakin mudah diterapkan. Kemampuan yang tidak hanya menjadi pengguna atau konsumen teknologi, tetapi mereka sudah seharusnya mampu membuat aplikasi juga berbagai pemrograman komputer secara mendalam. Untuk memfasilitasi kebutuhan ini, DUMET School mengajak masyarakat untuk semakin cerdas menghadapi dunia beserta kemajuan teknologinya. Kursus Pemrograman Komputer andalannya akan membantu menciptakan generasi penerus yang tak hanya menjadi pengguna saja, namun melahirkan pemrogram-pemrogram komputer handal dari Indonesia untuk dunia.

Membangun Keluarga Kuat untuk Negara Hebat

Beberapa hari ini sangat ramai adanya postingan di media sosial tentang, ” Istrimu bukan Babumu” yang menggambarkan peran suami yang tidak mau mengerti kerepotan istri dan cenderung mengabaikan perasaan istri dengan membentak-bentaknya di tempat umum. Atau sebaliknya, seorang suami yang “terpaksa” melakukan seluruh tugas rumah tangga sedangkan istrinya enak-enakan bermain gadget di sofa sambil ketawa-ketiwi. Semua dilakukan suami karena saking cintanya ia kepada istri. Atau kebetulan memang istri yang lebih banyak berperan sebagai pencari nafkah dengan bermacam alasan yang hanya mereka yang tahu.

Dari kedua ilutrasi di atas, apakah ada yang salah? Atau semua tergantung konteksnya? Lagi, jika semua itu dijalankan dengan keikhlasan dan cinta kasih seharusnya tidak ada masalah. Kasus pertama misalnya, saat di luar sang suami terkesan kasar dan acuh tak acuh, namun di dalam rumah siapa tahu? justru sang istri diperlakukan bak ratu. Bisa jadi. Tak ada yang tahu kan? Jika semuanya dilihat dari satu sisi saja, sepertinya memang tidak adil.

Keluarga, merupakan satuan terkecil dari suatu masyarakat di suatu negara. Semakin kuat sebuah keluarga maka semakin kuat pula suatu negara. Pemegang kunci utama terbentuknya kebahagiaan keluarga terletak pada seberapa besar cinta kasih dan pemaafan atas beribu kesalahan yang pasti membanjiri dalam setiap detik oleh setiap anggota keluarga. Semakin bahagia sebuah keluarga maka akan terbentuk ketahanan yang kuat pula. Otomatis ketahanan keluarga kuat juga akan memperkuat sebuah negara.

Suami menyayangi dan mencintai istri dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab. Begitu pun sebaliknya, seorang istri dengan sadar dan ikhlas sanggup menghormati kedudukan suami sebagai kepala keluarga dan bersedia taat serta patuh terhadap suami. Mudah memaafkan seandainya suami melakukan kekhilafan terhadap perannya. Kunci dari kehangatan keluarga sebenarnya terdapat pada perlekatan dan saling pengertian satu sama lain antara suami dan istri.

Semua tahu bahwa seorang istri wajib taat kepada suami, selama suami masih berjalan di jalan yang benar. Seorang perempuan memilih laki-laki yang kemudian ia iyakan lamarannya, tentu melewati berbagai jalan seleksi yang begitu rumit.

Iya. Bahkan, rumitnya tak membuat muda-mudi mengubur mimpinya untuk membangun sebuah keluarga yang manis, indah dan nyaman. Dalam istilah agama Islam dikenal sebagai Sakinah-Mawaddah-Warahmah. Diawali dengan indahnya pertemuan yang hanya menampakkan pesona memikat, hingga dilanjutkan pada proses perkenalan satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk berkomitmen. Mengikat rasa dalam satu ikatan batin dan disahkan dalam peraturan yang berlaku dalam wilayah tersebut. Ikatan sakral yang disaksikan oleh seluruh penduduk langit, bahkan setan menangis setiap mendengar ijab yang diikrarkan oleh mempelai pria terhadap pasangannya.

Negara begitu menyadari bahwa kekuatannya tergantung pada keadaan masing-masing keluarga di dalamnya. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) sebagai badan yang memiliki tugas mengatur segala hal tentang keluarga, memiliki harapan terwujudnya keluarga yang kuat demi terbentuknya negara yang kuat. Bahkan sebuah keluarga menurut BKKBN sendiri memiliki 8 fungsi, yaitu:

  1. Fungsi Agama, Keluarga adalah tempat anak belajar mengenai ilmu agama dan norma-norma di dalamnya.

Keluarga sangat berperan dalam pendidikan agama terhadap masing-masing anggota keluarganya. Mengenalkan nilai-nilai agama sedini mungkin kepada anak-anak sebagai generasi penerus akan menguatkan pondasi perkembangan karakter anak. Semakin kuat karakter anak, maka akan semakin terbentuk pribadi yang santun dan bertanggung jawab sesuai dengan ajaran norma yang berlaku dalam negara tersebut.

2.Fungsi Cinta dan Kasih Sayang, Cinta dan kasih sayang keluarga adalah pilar utama pembentuk kepribadian seseorang.

Kelekatan anak dengan orang tua, juga antara suami dan istri akan sangat dipengaruhi oleh atmosfer kasih sayang yang diciptakan dalam suasana keluarga setiap saat. Kepribadian anak akan semakin kuat jika kebutuhan kasih sayangnya tercukupi dari kedua orangtua maupun saudara-saudaranya. Kasih sayang melahirkan kenyamanan. Kenyamanan akan membuat anak-anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

3.Fungsi Perlindungan, Perkembangan anak memerlukan rasa aman, kasih sayang, simpati dari orang lain. Keluarga tempat mengadu, mengakui kesalahan-kesalahan serta tempat berlindung.

Setiap anak akan belajar perannya menjadi orang dewasa dimulai dari lingkungan keluarga. Kebebasan mengungkapkan sesuatu akan menyebabkan mereka cenderung mudah berterus terang dalam setiap hal. Termasuk saat mempunyai masalah maupun mempunyai keinginan tertentu. Rasa aman, kasih sayang yang didapat akan membuat kepercayaan diri mereka tumbuh kuat. Inilah pondasi yang bagus untuk perkembangan mereka selanjutnya menjadi orang dewasa yang mandiri dan bertanggungjawab.

4. Fungsi Reproduksi, Keluarga merupakan sarana melangsungkan kehidupan dengan mempunyai keturunan.

Salah satu fungsi keluarga adalah meneruskan keturunan yang sah dan dilindungi oleh Undang-Undang. Pembatasan ini agar menjaga kejelasan nasab anak sebagai generasi penerus kelak. Keluarga yang hebat akan melahirkan anak-anak yang hebat.

5. Fungsi Sosial Budaya, Dalam tumbuh kembang anak, keluarga berperan mengajarkan anak bersosialisasi dengan baik dan mewariskan nilai budaya, dengan memberi pemahaman akan pengetahuan dan nilai-nilainya.

Dengan cara mengikutsertakan anak dalam kegiatan sekolah yang berkaitan dengan pelestarian kebudayaan, akan mengajarkan anak pentingnya menghormati dan melestarikan kebudayaan yang sudah lama dianut oleh suatu daerah. Meski hanya melalui pakaian adat, hal tersebut cukup memberi pelajaran kepada anak, untuk saling menghormati adat masing-masing daerah yang berbeda corak dan warna.

6. Fungsi Lingkungan, Semua bentuk dan tingkah laku yang dilakukan seorang anggota keluarga awal mulanya dilakukan dalam keluarga. Anak atau anggota keluarga adalah cerminan bagaimana ia bisa menerapkan kesesuaiannya terhadap lingkungan.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Istilah yang menggambarkan bahwa tingkah seorang anak tidak akan jauh berbeda dari kedua orangtuanya, karena mutlak pendidikan karakter terbentuk sejak anak bahkan masih di dalam kandungan. Seberapa kuat interaksi orangtuanya mengajarkan sesuatu akan sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan pribadi anak. Orang tua yang hangat cenderung akan melahirkan anak-anak yang hangat pula.

7. Fungsi Ekonomi, Keluarga sebaiknya memenuhi kebutuhan finansial setiap anggota keluarganya baik untuk sandang, pangan dan papan.

Di sini lah peran keluarga. Tanpa diminta harus mampu bertanggungjawab terhadap kebutuhan sandang, pangan dan papan bahkan rekreasi bagi anggota keluarganya. Meski pada zaman dahulu tidak semodern sekarang, namun sudah sejak zaman dahulu dimengerti oleh masyarakat bahwa jika siap menikah artinya harus siap dengan segala konsekuensi nafkah yang wajib dipenuhi oleh suami sebagai kepala keluarga. Meskipun pada kenyataannya, tidak serta merta hanya suami yang mencari nafkah, terkadang dengan kesepakatan bersama, seorang istri juga kerap ikut bahu-membahu membantu suaminya mencari tambahan penghasilan guna untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang sudah mereka bentuk dengan niat yang baik.

8. Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, Keluarga berperan penting terhadap upaya terbentuknya kepribadian yang baik dari waktu ke waktu, sebelum terjun dalam kehidupan masyarakat yang sebenarnya.

Anak sejak dini sudah mulai mempelajari apa sebenarnya tugas mereka kelak. Terbukti dengan berbagai macam mainan yang disiapkan untuk mereka. Ular tangga yang mengajarkan kesabaran menunggu giliran bermain, masak-masakan, pasar-pasaran, bengkel-bengkelan, polisi-polisian. Artinya sejak dini mereka sudah dikenalkan dengan berbagai miniatur peran manusia dewasa. Selain itu, peran anak juga sedini mungkin perlu dilatih untuk bersosialisasi dengan usia sebayanya, dilatih berani mengungkapkan, berani memimpin dan berani berkomunikasi mengutarakan sesuatu. Meminta maaf jika salah, mengucapkan terima kasih jika mendapat bantuan dan lain-lain. Pembentukan karakter yang kuat dimulai dari pendidikan keluarga sebagai madrasah terdekat sejak anak-anak bahkan masih di dalam kandungan. Jadi, betapa pentingnya pembangunan keluarga kuat untuk menciptakan negara yang hebat.