PAUD Kemuning, Pembentukan Karakter Sejak Dini Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

Pembentukan Karakter Sejak Dini, Pondasi Kecerdasan Anak Negeri Masa Kini

  ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS.ar-Ra’d:11)

Kaki mungil berbalut sepatu kets berwarna pink, berjingkat memilih beberapa bebatuan yang berserak di sepanjang jalan beton di kampung Kemuning. Terik matahari sangat terasa di daerah berbatu itu. Aishya, anak usia tiga tahun dengan rambut pirang itu terpaksa kuajak karena ayahnya sedang berangkat ke Palu untuk menjadi salah satu relawan di sana.

Aishya mencium buah mangga, belajar tentang motorik halus dari alam
(gambar: dok. pribadi)

Berkeliling kampung bersama rombongan Roadshow Kampung Berseri Astra, membuatnya melupakan lelah. Alhamdulillah Allah memberi kekuatan padanya, Semangatnya mengikuti Roadshow ini tak melemah sedikit pun. Ia hanya tahu semua yang ia temui adalah hal menyenangkan baginya. Menyentuh tanaman Putri malu, melihat sapi memamah rumput, mencium buah mangga yang masih di pohon hanya dengan posisinya berdiri. Adakalanya ia menunjuk jambu air di depan rumah warga, memintaku untuk memetik sekadar untuk melepas keingintahuannya.

Tiba-tiba langkahnya terpaku di depan sebuah bangunan berwarna kuning. Banyak anak seusianya berlarian di sana. Paud Kemuning. Satu-satunya Paud di kampung Kemuning yang menfasilitasi pendidikan anak usia dini bagi anak-anak balita di seluruh pelosok kampung tersebut. Jika biasanya kita mendengar anak yang dititipkan di TPA atau Paud karena ibunya bekerja sebagai karyawan atau pegawai, berbeda dengan Paud ini. Mayoritas, ibu dari anak-anak ini, yang jika lengkap berjumlah 15 orang saja dalam satu sekolahan, adalah petani, atau buruh tani. Beruntung sekali ya, bahkan di pelosok desa sekarang juga digalakkan pendidikan dini untuk menyelamatkan generasi dengan pembentukan karakter yang kuat sebagai pondasi pendidikan anak dijenjang berikutnya.

Salah satu Pilar Program CSR Astra
Gambar: infografis www.healthymomy.com

Pagi belum begitu terang. Namun sepasang kaki kecil sudah harus melangkah menjauh dari pintu rumahnya. Tangan imutnya digandeng oleh ibu yang juga telah bersiap dengan baju kerjanya. Jangan membayangkan baju kerjanya berdasi atau berkemeja, karena kerjanya memang tak di kantoran. Kerjanya di sawah, namun betapa keteguhan hatinya ingin menyamakan anaknya dengan anak-anak lain yang sekolah, agar mengenal kawan, mengenal antre, juga mengenal berbagi itu seperti apa, dapat ia rasakan sejak dini. Meski harus berjalan setiap hari sepanjang 4 km dari rumah, tetap ia lakoni dengan semangat dan bahagia. Rasanya tak ada hal apapun yang lebih berat dari sekadar berjalan setiap hari melewati rute yang sama menuju sekolah sejauh itu.

Karena sekolah dimulai jam 08.00 WIB, maka paling siang jam 06.00 WIB sudah harus bertolak dari rumah menuju sekolah yang berada di pusat kampung. Itu artinya, persiapan pun harus dilakukan jauh sebelum jam keberangkatan. Bu Yeni, Kepala Sekolah PAUD dan TK dengan nama RA. Masyitoh di kampung Kemuning,  menceritakan kisah salah satu warga di kecamatan itu, beberapa tahun yang lalu saat belum ada satu pun motor yang masuk ke sana.

Tangan bu Yeni terus bergerak mengikuti permainan dakon yang ia jalani bersama anak didiknya yang mengenakan jilbab warna merah.

“Dulu, sekolah ini hampir tak layak di sebut sekolah, Bu!” terangnya. Sesekali senyumnya mengembang, merasakan betapa perkembangan yang terjadi selama ini begitu besar. Tak sia-sia ia mendedikasikan sebagian besar waktunya di sekolah itu. Bu Yeni bersama kedua rekannya, Bu Purwanti dan Bu Badriyah, membangun sekolah dengan ikhlas dan bahagia. Berjuang keras agar bisa berkiprah besar dalam membantu mencerdaskan generasi muda Indonesia, meski dari desa paling pelosok dan sukar dijangkau sekali pun.

Tak jarang, karena begitu jauh tempat tinggalnya dari sekolahan, kerap jika pagi diawali dengan hujan deras, maka kegiatan belajar hari itu cukup di rumah masing-masing saja, alias anak-anak diliburkan. Mengingat jika tetap dipaksa berangkat justru akan lebih membahayakan kesehatan anak.

“Semenjak Astra masuk, Alhamdulillah perkembangan kampung ini sangat besar, Bu! Sekolah ini contohnya, dulu sebelum direhab sangat memprihatinkan. Ruangannya rusak, dindingnya reyot, atapnya bocor di sana-sini, juga kursi-kursi siswa belum ada,” lanjutnya. “Juga, sekarang hampit taka da lagi anak PAUD atau TK yang berangkatnya jalan kaki. Karena selain jalan yang sudah bagus, motor pun sudah banyak yang masuk ke kampung. Anak-anak banyak yang diantar naik motor atau naik ojek.” Bu yeni mengakhiri obrolan itu tepat saat tanda jam sekolah berakhir.

(Dulu) Paud & TK Kemuning sebelum direhab oleh Astra
gambar: Kepala Sekolah PAUD &TK RA. Masyitoh
(Kini) Salah satu siswa TK RA. Masyitoh ceria bermain dakon
Gambar: dok. pribadi

Kulihat sekeliling, dinding sudah semi permanen, atap sudah rapi, cat juga cerah berwarna-warni khas sekolah anak-anak balita. Permainan meski sederhana juga sudah lengkap dengan berbagai permainan edukasi seperti puzzle hewan, puzzle tumbuhan, dakon, susun balok dan lain-lain. Meski sederhana, permainan outdoor seperti komedi putar mini, jembatan palet kayu warna-warni nampak menghiasai halaman dan teras PAUD TK RA. Masyitoh Kemuning. Aishya ikut berkerumun di meja kecil berwarna merah di tengah ruangan, rambut poninya sesekali dirapikan saat terbang terknea kipas angin. Ia bersama dengan siswa lain sedang bermain puzzle hewan. Anak itu memang cepat sekali membaur. Gurunya begitu sabar menjelaskan semua pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan sambil sesekali matanya melirik ke arahku, memastikan bunda masih dalam satu lokasi bersamanya.

Bermain Puzzle hewan bersama teman-teman baru
gambar: dok. pribadi

Hebatnya, dengan segala keterbatasan, ternyata PAUD dan TK tersebut cukup berprestasi. Di Antara prestasi yang telah diraih adalah Juara III lomba tahfidz Quran oleh Bu Badriyah, salah satu guru di sana. Juga juara II lomba tari Islami berkelompok. Hal yang semakin membuatku takjub adalah Bu Badriyah, yang kerap menjuarai berbagai lomba tahfidz, ternyata hafal Al Quran. Masya Allah, Bu! Semoga berkah, ya! Mendedikasikan tenaga, waktu dan ilmunya yang mulia di tempat terpencil namun kaya kasih sayang dan semangat ini.

Gunung Kidul dulu dan Kini

Peta Administrasi Gunung Kidul
Sumber:www.gunungkidulkab.go.id

Satu kata tentang Gunung Kidul, tandus! Entah berapa puluh tahun yang lalu kudengar hal itu menjadi trending topik di kota tempatku mencari ilmu ini. Tak ada yang menyangka, hanya selang beberapa tahun dari doktrin yang melekat itu keadaan dibalik oleh Allah.

Sekarang, siapa yang nggak tahu Goa Pindul? Siapa yang nggak kenal Pantai Indrayanti? Air Terjun Sri gethuk? Dan masih banyak lagi destinasi wisata di Gunung Kidul yang hingga kini pengunjungnya semakin meroket. Bahkan tiap akhir pekan, hampir dipastikan akses sepanjang jalan menuju Gunung Kidul selalu dipadati oleh berbagai kendaraan dari berbagai kota. Macet!

Gunung kidul, mengapa diberi nama demikian? Daerah berbatu ini merupakan rangkaian Pegunungan Kapur Selatan yang membentang di selatan Pulau Jawa. Komposisi bebatuan berwarna putih atau sering disebut dengan batu gamping ini menandakan bahwa dahulu kala daerah ini merupakan dasar laut yang mengalami pengangkatan tektonik dan vulkanik. Jadi tak heran jika memang aslinya tempat itu merupakan tempat yang tandus.

Kampung Berseri Astra (KBA)

Logo Kampung Berseri Astra
Gambar: www.satu-indonesia.com

Kemuning, adalah salah satu kampung yang berlokasi di Gunung Kidul. Tepatnya di Desa Bunder Kecamatan Patuk. Kampung ini terpilih menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) yang merupakan salah satu dari 76 kampung bagian Corporate Social Responsibility (CSR) di seluruh Indonesia. Kenapa kampung ini terpilih? Jadi ada beberapa tahap sebuah kampung dapat dipilih untuk menjadi Kampung Berseri Astra:

Dalam menentukan dan memilih calon KBA, terdapat beberapa tahap yang harus dilewati:

  1. Koordinasi perusahaan Group Astra
  2. Pembentukan Tim KBA
  3. Koordinasi dengan pemerintah daerah
  4. Social Mapping
  5. Penentuan lokasi KBA

Apa itu KBA?

Infografis www.healthymomy.com
Sumber: www.satu-indonesia.com

Kampung Berseri Astra (KBA) merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan Astra yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pembangunan yang mengintegrasikan 4 pilar program, yaitu: Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

Melalui KBA, masyarakat dan perusahaan bekerjasama untuk mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah Kampung Berseri Astra.

Jadi, apa yang kamu dengar sekarang tentang Gunung Kidul? Daerah yang kaya destinasi wisata indah. Pantai, Goa, Karst peninggalan kebudayaan purba? Ya begitulah, semua sudah berubah seiring perkembangan zaman, juga seiring dengan semakin cerdasnya masyarakat Gunung kidul di bawah kepemimpinan pemerintahan Bupati dalam membangun rumahnya sendiri.

Sekarang, jika kamu bertanya padaku seperti apa rasanya sekolah TK, pasti kujawab dengan lantang, “Aku tidak tahu!” Dulu, bahkan di desaku sama sekali tidak ada sekolah TK. Aku langsung masuk ke SD saat usiaku menginjak 6 tahun, yang itu artinya 36 tahun yang lalu. Jadi aku pun tak tahu betapa asyiknya bermain di TK, menggambar kupu-kupu, mewarnai, dibacakan cerita. Aku menghabiskan masa balitaku bersama ibuku tercinta sebagai madrasah pertamaku. Aku mengenal Alif-Ba-Ta-Tsa, juga langsung dari mulut ibuku setiap aku mau tidur. Aku juga mengenal jam dari kakekku. Mengenal kasih sayang dan berbagi dari nenekku. Dan, aku mengenal ketegaran serta kesabaran dari bapakku.

Bukti, kenapa pendidikan begitu penting diberikan sedini mungkin. Inilah yang menumbuhkan cita-cita Astra, Sejahtera Bersama Bangsa.

~

ew

*Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Pewarta Astra 2018. 

 

Allah Hadir Di Seberapa Kuat Doa Ibu

Allah hadir di seberapa kuat doa ibu

Aku masih belum percaya jika melahirkan dengan dipacu akan memberikan rasa sakit yang luar biasa. Menurutku kala itu, nyeri kontraksi ya memang seperti itu, sakitnya legit. Pun, karena ternyata sudah dua kali obat pacu lewat jalan lahir sudah berhasil kulewati dengan lancar. Nyerinya masih sama saja dengan melahirkan dua jagoanku tempo hari.

“Mbak, bukaan berapa?” tanyaku ke bidan yang baru saja memeriksa.

“Masih sama, Mbak,” jawabnya singkat.

“Sama berapa, Mbak?” kejarku lagi.

“Sama seperti tadi bu dokter yang meriksa jam enam,” jelasnya kemudian. Dia buru-buru pamitan.

Ok, aku menghela napas. Bukan apa-apa, rasa nyeri di perut bagian bawahku yang menjalar ke seluruh pinggang rasanya sudah puluhan kali lipat disbanding sebelumnya. Sekuat tenaga aku mencoba berbaik sangka, Allah Maha tahu yang terbaik. Setelah 24 jam melewati mules-mules tak jelas yang disebabkan oleh perangsang mules berupa obat pacu, tepat sejak jam 12.00 (yang itu artinya 6 jam yang lalu) bidan menyampaikan hasil konsulnya yang memberikanku dua pilihan, istirahat (tanpa pemberian obat pacu) atau segera memilih prosedur lain untuk melahirkan, yaitu operasi bedah sesar? Aku terpaku pada dua pilihan itu. Memang taka da satu pilihan mana yang lebih berat,dua-duanya begitu berat. Satu sisi aku maunya memang istirahat saja, artinya membiarkan dan mengharapkan semua proses terjadi secara alami dengan lancar. Tapi dilain sisi, aku lebih takut dengan risiko yang lebih buruk akan terjadi pada bayi perempuan di dalam rahimku.

Baik, beri kami waktu untuk berpikir, Mbak. Hanya itu yang kusampaikan kepada bidan jaga yang cantik itu. Waktu untuk berpikir, bukankah itu juga menghabiskan beberapa ribu detik terbuang tanpa action? Allah, semoga memang apa pun langkahku, itulah yang sudah Engkau pilihkan buat kebaikan kami, aku dan calon anakku.

Akhirnya kami memilih istirahat saja. sitirahat dari pemberian obat berupa tablet yang dibelah 4 yang dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk merangsang munculnya kontraksi yang membaut perut terasa mulas. Kehamilan ini tak seperti dua kehamilan sebelumnya yang meski terlambat atpi masih bisa berjalan dengan lancar tanpa campur tangan obat pemacu kontraksi.

“Mbak, ini udah mau lahir,” ucap mama sambil mengusap peluh yang membasahi kening juga tengkukku. Meski sekuat tenaga aku menahan nyeri yang teramat sangat, mama tetap bisa mencuri tahu. Mama ku bukan “orang pintar”, apalagi dukun. Tapi pengalamannya melahirkan 6 orang anak dari rahimnya dengan cara normal cukup memintarkannya mengenali tanda-tanda melahirkan.

Mama baru saja masuk ke kamar tempatku berada. Di ruang lantai 3 sebuah rumah sakit di Jogja. Mama memang baru bisa datang setelah lebih dari 24 jam aku mulai kesakitan. Bukan karena apa-apa, kebetulan mama baru ke luar kota menjenguk bude.

Benar saja, tak selang sepuluh menit dari kedatangan mama, bidan-bidan cantik itu berlomba membawaku ke ruang persalinan. Aku panik. Rasanya perut ini sudah waktunya untuk mengeluarkan segala yang ada di dalamnya. Aku pengin sekalii mengejan! Tapi tak boleh!

“Nanti, tunggu dokternya datang, tahan, belum lengkap!” bidan itu tetap saja tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.

“Aku mau ngejaaan!” teriakku saat kudengar suara dokter memasuki ruangan bersalin.

“Tunggu! Dokternya pakai sarung tangan dulu!” teriak bidan itu.

Dan aku pun tak mendengar lagi apa kata bidan itu.

“Oek… oek…!” bersamaan dengan tangan dokter yang sudah lengkap dengan handscoend, kepala bayi disusul badannya segera meluncur ke kedua telapak dokter cantik yang sedari kemarin siang sudah menunggu bayi itu.

Kesayangan mama

Entahlah, itu kenanganku bersama ibuku. Perempuan yang selalu menjemput kelahiran cucunya dengan kasih sayangnya, bahkan meski sudah berkali-kali obat pacu dimasukkan. Rupanya suara, kelembutan tangan mama tetap yang ditunggu. Allah ridlo pada keikhlasan mama. Keikhlasan untuk menyaksikan putri pertamanya melahirkan cucu-cucu imutnya.

Aku baru ingat, ternyata ketiga anakku memang semuanya mundur dari HPL, tapi satu yang menyamakan ketiganya, adalah kedatangan mama di sampingku yang seolah menjadi kekuatan tak terlihat dari Allah untuk melancarkan semuanya. Ridlo Allah ada di ridlo mama. Mama, begitu cintanya engkau terhadapku yang sering durhaka. Izinkan aku jadi anak shalehamu yang kelak doaku akan selalu engkau terima di sana.

Satu setengah tahun dari kejadian itu, engkau dipanggil Allah, tanpa sebab, tanpa sakit, tanpa tanda apapun sebelumnya. Bahkan kita menyisakan janji untuk melakukan senam bersama Ahad pagi di alun-alun. Janji yang pernah terucap namun tak pernah tertunaikan.

Kalau menurutmu kenangan itu hanya untuk dikenang, kamu salah. Kenangan itu menjadi sumber kekuatan. Kenangan itu menjadi sumber harapan, untuk kembali berkumpul bersamanya di surge. Kenangan indah ikatan ibu anak yang tak pernah lekang dimakan waktu bahkan kematian.

Kenangan itu menumbuhkan harapan-harapan baru untukku menjadi wanita shaleha yang membanggakanmu.

Kenanganku tak akan mungkin kutemukan lagi, kecuali hanya tempat-tempatnya saja. Dan, kenangan yang selalu menumbuhkan harapan baru akan selalu kuingat, terutama agar aku menjadi perempuan yang semakin shaleha, produktif dan mampu berkarya untuk kepentingan dunia dan akhirat.

PORTOFOLIO EKA WAHYUNI, BLOGGER DOKTER UMUM YANG JUGA MENULIS BUKU

PORTOFOLIO

Nama Blog      : www.healthymomy.com

Nama                 : Eka Wahyuni

Twitter             : @ekabyan

Instagram        : @eka_deejah

Facebook         : Eka Wahyuni

Youtube          : Eka Wahyuni

WhatsApp       : 087838976079

Blog Healthymomy adalah sebuah blog keluarga bertema: lifestyle, travelling, kesehatan, parenting dan kuliner. Selain menulis di blog, Eka Wahyuni yang juga seorang dokter umum juga menulis buku di sela-sela tugasnya mengisi beberapa klinik di Yogyakarta. Beberapa buku antologi dari hasil menang lomba seleksi menulis antologi sudah diterbitkan, di antaranya adalah:

BUKU ANTOLOGI

  1. Hidup Tenang Tanpa Riba | 2018 | Diva Press
  2. Hapus Sedihmu Nikmati Hidupmu | 2018 | Noktah
  3. Ya Allah, Izinkan Kami Punya Momongan | 2018 | Noktah
  4. Kumpulan Cerpen “Cinta Tak Biasa” Sedang proses terbit.

APRESIASI BLOG

Juara 30 Pengirim Artikel Pertama dari ShopBack “Belanja Akhir Tahun dengan ShopFest”

ARTIKEL DARING

http://www.temupenulis.org/cernak-piala-yang-retak/

http://www.temupenulis.org/pohon-tomat-ghani/

http://www.temupenulis.org/cewek-hobi-main-gitar-siapa-takut/

http://www.temupenulis.org/lima-kunci-sukses-ayah-dalam-membentuk-anak-cerdas/

http://www.temupenulis.org/ciri-dan-tips-merawat-kuku-kaki-yang-terinfeksi-jamur/

http://www.temupenulis.org/bye-bye-minder/

http://www.temupenulis.org/seandainya-waktu-ada-25-jam-sehari-masih-belum-cukupkah/

https://trenlis.co/inilah-9-penyebab-bau-mulut-yang-tidak-kamu-sadari-begini-cara-mengatasinya/

https://trenlis.co/kenapa-jerawat-tidak-boleh-dipencet-bagaimana-cara-mengatasinya/

Penginapan, Tempat Wisata dan Produk yang sudah direview oleh Eka Wahyuni:

Homestay Puri Langenarjan

https://www.healthymomy.com/homestay-mewah-harga-murah-paling-recomended-di-jogja/

ASUS X555

https://www.healthymomy.com/tiga-hal-ini-bikin-aku-jatuh-cinta-pada-asus-x555/

Pantai Goa Cemara Yogyakarta

https://www.healthymomy.com/liburan-unikku-tukik-yang-minta-merdeka/

Selain mulai intens menulis di blog, Eka Wahyuni juga sedang merampungkan beberapa buku solo dan duet bersama penulis lain. Eka Wahyuni merupakan ibu dari tiga orang anak hebat, berkepribadian supel dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, juga selalu terbuka dengan pemikiran-pemikiran yang mengajak untuk maju dan selalu produktif serta kreatif. Komunitas yang diikuti semakin memberi peluang kepada Eka Wahyuni untuk terus berkiprah dalam meningkatkan kebermanfaatannya terhadap orang lain dan juga dunia.

Kepribadian yang hangat memudahkan Eka Wahyuni untuk bergaul dengan berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Beberapa komunitas yang aktif diikuti oleh Eka Wahyuni di antaranya adalah: Komunitas Temu Penulis Yogyakarta, Komunitas Bacaan Kita, Komunitas Emak Pintar Yogyakarta, Komunitas Ikatan Dokter Indonesia Cabang Bantul, Komunitas Jualan Buku Online, Komunitas Mengaji dan masih banyak komunitas positif lainnya. Menyukai persahabatan dan senang berbagi ilmu dan pengalaman apa saja yang bermanfaat untuk orang lain.

Untuk kepentingan kontak dan kerjasama, Eka Wahyuni bisa dihubungi melalui: ekabyan@gmail.com dan HP/WA: 087838976079

 

TESTIMONI SEORANG PEROKOK BERAT YANG TERKENA KANKER PARU

Ia paksa bangun dari baringnya, ia mencoba menghargai kedatangan sahabat-sahabatnya yang entah dulu menjadi siapa saat satu sekolahan. Meski, sudah kami larang, “Biarlah kami yang sehat, yang menyesuaikan mas, jenengan berbaring aja,” Matanya pasrah, punggungmya membungkuk, mengikuti hembusan nafas yang sempit. Sangat lemah, bahkan, untuk duduk tegak terlihat sangat repot, harus ditopang bagian punggung.

Aku membayangkannya bagai seorang penderita diare akut yang disertai muntah hebat, sedang makan dan minum tak sedikitpun berpihak. Lemah. Tak berdaya. Namun, bahkan bayangan ini pun terlalu ringan, bila disandingkan dengan kenyataan yang ada. Efek kemoterapi, satu-satunya alternatif terbaik untuk saat ini, setelah tegak terdiagnosa, bahwa teman kami mengidap kanker paru stadium 4. Kemoterapi yang diprediksikan akan berlangsung 6 kali, baru saja terlewati kali pertama. Masih ada 5 kemo lagi yang saling susul dengan jeda masing-masing 21 hari. Perjuangan masih panjang, tapi insyaAllah dimudahkan. Barang siapa yang menyerahkan segala urusan, sepenuhnya kepada Allah, maka hasil terbaik akan Allah siapkan, hanya tugas manusia sabar serta syukur menjalani dan semakin mendekat kepadaNya.

Apalagi bicara, sekedar ulasan senyum yang ia paksakan untuk disuguhkan pada para sahabatnya, pun berasa begitu berat, seolah kekuatannya tinggal 10%, begitu akutnya. Hanya sesekali, ia terlihat mecoba tersenyum, setiap kali kita melemparkan sedikit candaan, dengan maksud agar dia sedikit terhibur. Senyuman, yang biasanya kita pasang dengan refleks tanpa sedikitpun tenaga untuk membuatnya nyata, namun, untuknya, ia harus keluarkan sedikitnya 50% kekuatan hanya untuk senyum. 

Hari sudah beranjak petang, saat kami tiba di ruang tempat ia dirawat. Setidaknya, fakta ini sedikit menyadarkan para pecinta rokok, meski hanya sebatas teman-teman dekatnya. Dengan dirawatnya sahabat kami, membuat kami memaksa diri untuk bangun, dari kenyamanan menyepelekan penyakit apapun yang berhembus, terkait pola hidup tidak sehat. Merokok, salah satunya. Menurutnya, ia hanya merokok paling banyak 1bungkus setiap harinya, kawan!

Begitu hebohnya efek buruk itu. Meski semua tergantung kekuatan masing-masing diri, namun hendak ditambah berapa kasus lagi sekedar untuk pembelajaran? Adakah yang ikhlas dijadikan pembelajaran? Kurasa jika diberikan bocoran bahwa kelak beberapa bulan atau tahun lagi salah satu dari kita akan bernasib yang sama, pun belum sepenuhnya percaya, kalah sama ego hebatnya sugesti yang dibentuk sendiri. Hanya, jika benar-benar mengalaminya sendiri maka orang akan lebih percaya. Namun, bukannya semua itu sudah terlambat. Walaupun, seandainya ada jaminan bahwa akan disembuhkan seperti sedia kala, namun harus melewati beberapa tahap kemoterapi yang begitu menyiksa, akankah masih ada yang mau menjadi sukarelawan? 

Bahkan tak hanya berita, video testimoni, hingga peringatan di setiap bungkus rokok yang disuguhkan dengan legal, diartikan hanya sebagai lelucon saja oleh para pencintanya. Entah dengan cara apalagi untuk membantu menyadarkan masing-masing diri. 

Apakah nunggu semua merasakan langsung baru akan percaya? Setidaknya berkaca dari pengalaman pahit seseorang, akan lebih membuat kita selangkah lebih maju, dalam hal ini. 

Semoga menginspirasi. 

-ew-