TAS BOLA BATHOK KELAPA GOES TO JAMAICA? JOGJA MEMANG GUDANGNYA KREATIFITAS ANAK BANGSA

TAS BOLA BATHOK GOES TO JAMAICA? JOGJA MEMANG GUDANGNYA KREATIFITAS!

“Pak, ini serius semua bahan bakunya dari bathok kelapa?” Saya masih tercengang dengan apa yang kulihat. Sejumlah tas cantik berwarna cokelat tua dengan beberapa titik kombinasi warna krem cenderung putih semakin menambah aksen unik dan etnis.

Bapak berpostur ideal menyunggingkan senyum seraya mengangguk membenarkan pertanyaanku. Bapak yang kemudian kuketahui sebagai owner dari sebuah perusahaan kerajinan bernama “Yanti Bathok and Craft” itu dengan cekatan menjelaskan tanpa diminta.

“Betul sekali, Mbak! Ini semua dari bathok kelapa, tas jinjing, tas selempang, dompet, tas bola, sabuk, teko beserta seperangkat cangkir juga terbuat dari batok kelapa kecil.” Laki-laki yang kemudian kuketahui namanya Pak Ahyani itu dengan runtut menjelaskan.

Penampakan tas bola berbahan bathok yang berhasil goes to Jamaica
(doc. pribadi)

Dari caranya menjelaskan saya bisa menebak bahwa, beliau sudah profesional dalam dunia craft lengkap beserta teknik marketing maupun manajemen perusahaannya.

Gelar Produk Craft & Fashion Istimewa

Replika unta dan anak-anak di Pyramid Bantul Yogyakarta (doc. pri)

Aku melangkah menaiki anak tangga satu per satu menuju ruangan utama diadakannya acara gelar Produk Craft & Fashion Istimewa. Replika unta terihat di kanan dan kiri tangga seolah menyambut para pengunjung untuk berada dalam suasana yang tenang dan santai. Ya, replika ini melengkapi atmosfer Pyramid menjadi semakin tradisional dan bersahaja.  Mengajak pengunjung untuk pelan-pelan menikmati setiap keistimewaan produk unggulan daerah Yogyakarta yang ditawarkan.

Acara yang digelar di halaman Pyramid Museum History of Java ini diprakarsai oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta. Sebagai bentuk kepedulian, pendampingan dan pembinaan terpadu kepada para pelaku UKM guna mendukung perkembangan dunia usaha di kalangan masyarakat, mulai dari usaha mikro, kecil hingga usaha menengah. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mendukung tingkat kreatifitas yang harus bisa bersinergi dengan aneka kemajuan teknologi yang semakin cangggih di era revolusi industri 4.0 yang akan kita hadapi.

Mendekati panggung utama, saat itu sedang ada pemaparan materi mengenai Product packaging. Para pelaku usaha tampak antusias memenuhi kursi yang tepat berada di depan panggung utama. Diskusi dan sharing pengalaman begitu seru, terlihat dari komunikasi dua arah antara pemateri dengan para audiens yang mayoritas dari anggota pelaku usaha yang ikut serta meramaikan acara pameran itu.

Bu Yanti adalah salah satu peserta yang aktif bertanya maupun menjawab berbagai pertanyaan terkait dengan packaging. Benar saja, rupanya beliau adalah istri Pak Ahmadi, owner “Yanti Bathok & Craft” yang stand pamerannya berada tepat di sebelah selatan dari deretan kursi di depan panggung.

Pak Ahyani, owner Yanti Bathok and Craft Yogyakarta, tampak sedang berbincang dengan salah satu pengunjung. (doc. pribadi)

Sempat mengikuti beberapa menit, dapat saya simpulkan bahwa materi yang disampaikan oleh anak muda supel yang berbicara di depan, semata untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam meningkatkan kualitas produk dengan cara pengemasan produk barang yang aman dan menarik.

Ruangan itu luas dan adem, cukup memberikan kenyamanan di tengah pajangan aneka kecantikan produk lokal baik bentuk kerajinan maupun fashion.

Rasanya tak sabar ingin membahas satu per satu produk asli masyarakat Yogyakarta yang mendadak begitu aku kagumi ini. Kita mulai dari kerajinan, ya:

  1. Yanti Bathok and Craft

Stand ini begitu mencolok dan menarik kakiku untuk memilihnya menjadi tujuan pertama. Bukan karena paling dekat, tapi pajangan tas uniknya mengingatkan pada suatu masa di mana saya pernah berjualan tas serupa berbahan dasar bathok kelapa. Bedanya, jika dulu bathok itu disusun dalam potongan ukuran besar sekarang justru ukuran kepingan bathoknya begitu mungil dan rumit. Sampai-sampai saya harus memastikannya bahwa benar itu terbuat dari untaian kepingan bathok berukuran diameter 0.6 cm. Ukuran yang begitu kecil dan membutuhkan kerumitan lebih, namun menghasilkan produk yang lebih elegan dan detail.

Motif rumit dan mungil dari kepingan bathok kelapa yang tersusun dalam bentuk sebuah tas wanita yang cantik.
(doc.pribadi)
Tas dompet wanita two in one tampak dari samping. (doc.pribadi)

Menurut penuturan Pak Ahyani, usahanya sudah dimulai semenjak tahun 2002. Namun, seperti usaha lainnya di area Bantul, Yanti Bathok yang waktu itu masih dalam bentuk badan usaha CV mengalami kerugian besar terkena dampak gempa tektonik yang melanda Bantul dan sekitarnya pada tanggal 27 Mei 2006.

Ingatanku melayang di tahun yang sama. Memang, saat itu pusat kerajinan yang berada di desa Kasongan semuanya luluh lantak, rata dengan tanah. Semua perabotan tertimbun bangunan rumah yang menyisakan rentetan genteng yang berbaris rapi namun merebah seluruhnya mendekat ke bumi.

Efek gempa sempat membuat UKM yang awalnya hanya memproduksi kancing baju bathok ini mengalami vakum sekian tahun. Hingga akhirnya pada tahun 2012 Yanti Bathok & Craft ditata kembali. Berbenah mulai dari mengerucutkan bentuk usaha menjadi perorangan, Pak Ahyani mengelolanya bersama istri. Ia menambah kreasi produksi tak hanya kancing baju etnis, namun merambah ke kerajinan tas bathhok dan aneka pernak-pernik asesoris yang mampu mempercantik ruang tamu hingga dapur.

Produk termurah yang diproduksi adalah souvenir berupa gantungan kunci cantik dari bathok dalam aneka bentuk lucu dengan finishing menggunakan vernis. Untuk sebuah gantungan kunci mereka membanderolnya dengan harga mulai Rp 2.000,-. Sedangkan produk tas bathok mulai dari harga Rp 200.000,- hingga Rp 350.000,-

Aku bergeser ke bagian kiri meja display. Di sana ada 3 buah tas yang menurutku paling unik. Berbentuk bola dengan bagian tengahnya terpasang resleting untuk membuka tutup tas bola tersebut sehingga mampu menyimpan benda-benda pribadi cukup aman. Bathok separuh utuh itu dihiasi gambar bunga cantik yang semakin membuatnya nyeni.

Indahnya tas bathok bola dari Jogja goes to Jamaica (doc.pribadi)

“Nah, tas itu (saya menyebutnya tas bola, karena memang bentuknya bulat seperti bola) yang paling banyak peminatnya dari luar negeri,” ujar Bapak itu kalem.

“Wow! Luar negeri? Kirim ke mana, Pak?” tanyaku tak bisa sedikit pun menyembunyikan kekagumanku pada sosok yang bersahaja itu.

“Jamaica,” senyum bangganya terlihat begitu kentara.

Luar biasa, sekelas bathok, limbahnya kelapa, saat mendapatkan sentuhan cinta orang-orang kreatif, mampu melipatgandakan nasib baik hingga tak disangka mendapat cinta dari penduduk yang bahkan letak negaranya dalam peta dunia pun entah di mana.

Seolah tak ada habisnya, Pak Ahyani pun terus saja melanjutkan ceritanya tentang perjuangannya mengalami jatuh bangun hingga akhirnya sekarang memetik buah kegigihanya bersama istri.

Orderan tas serupa untuk dikirim ke Jamaica mampu mengisi agenda ekspedisi bahkan dengan frekuensi 3-4 kali pengiriman per bulan.

Selain Jamaica, tas etnis berbahan bathok itu juga pernah satu kali dikirim ke Republik Dominica, namun hingga saat ini belum ada permintaan lagi dari sana.

Tak menyurutkan semangat, karena selain menjual produk, Pak Ahyani dan Bu Yanti juga sering diundang untuk mengisi pelatihan dari berbagai kota maupun daerah mulai dari Sabang hingga Biak, belum Merauke, lanjutnya.

Selain mengisi pelatihan, pasangan suami istri itu juga aktif ikut serta dalam setiap pameran yang diadakan oleh dinas setempat maupun daerah lain. Bahkan sekali waktu, Bu Yanti pernah mengikuti pameran kerajinan di Belanda. Wow!

Menurutnya lagi, bahan baku bathok UKM tersebut sudah mempunyai supplier sendiri dengan kriteria bathok yang tak terlalu rumit. Untuk membuat aneka kerajinan bathok tersebut bisa menggunakan bathok kelapa tua berwarna coklat tua yang bisa langsung diproses, maupun bathok kelapa yang masih putih yang prosesnya mengharuskannya dijemur dahulu hingga kering baru kemudian diproses cetak menggunakan mesin semacam mesin bubut.

Warna coklat tua dan putih disusun sedemikian rupa sehingga saling memberi kombinasi warna yang semakin cantik. Sedangkan limbahnya berupa serpihan bathok, dimanfaatkan untuk dibuat briket arang sebagai bahan bakar.

Kartu nama Yanti Bathok and Craft Yogyakarta (doc. pribadi)

Belakangan, pasangan suami istri ini juga mulai mengembangkan kreasinya tak hanya produk bathok saja, namun segala bentuk produk kelapa mulai dari sabut kelapa hingga akarnya, agar mendapat nilai tambah. Mereka juga berharap bisa menularkan ilmu kreasi tersebut kepada seluruh warga di Indonesia. Biarlah rejeki Allah yang mengatur, yang penting ilmu yang dibagi bisa memberi manfaat dan juga menambah saudara dari berbagai kepulauan Indonesia, pungkasnya.

Aamiin, Pak! Semoga Allah ijabah, ya Pak! Niat bapak mengentaskan banyak masyarakat dengan cara yang indah. Pertahankan selalu dan tingkatkan kreatifitas tanpa batas!

  1. Decoupage Pandan
Mbak Asri dengan aneka produk decoupage anyaman daun pandan andalannya. (doc.pribadi)

Perempuan berjilbab ungu itu lincah memindahkan tas. Namanya Mbak Asri. Dia menuturkan bahwa menggeluti dunia usaha kerajinan tas hampir satu tahun ini. Namun, bukan lagi tas berbahan bathok. Kali ini tas berbahan daun pandan yang dianyam kemudian diberi sentuhan bermacam ornamen gambar floral warna-warni.

Awalnya saya mengira gambar bunga merah mekar dan dedaunan hijau pupus itu adalah sebuah lukisan yang diaplikasikan untuk mempercantik pandan kering yang warnanya putih tulang itu.

Rupanya, itu bukanlah lukisan seperti yang kukira.

“Bukan, itu bukan lukisan, Mbak. Itu adalah gambar motif dari sebuah tissue decoupage yang ditempelkan ke anyaman daun pandan kering (bisa kayu, dauh kering, plastik atau bahan lainnya) kemudian dilem dan diproses deco,” jelas mbak Asri.

“Oh, ya?” aku hanya melongo. “Tempelan tissue?” sekali lagi kupastikan.

Mbak Asri mengangguk tersenyum. Kedua tangannya sibuk mencari sesuatu di layar gawai berwarna putih di tangannya.

“Ini loh, Mbak!” ujarnya menunjukkan sesuatu. Anganku melayang menuju ke suatu peristiwa di mana aku menyaksikan embak-embak yang sedang mempraktekkan teknik decoupage step by step di layar kaca.

“Oh, I see. Masya Allah, bagus banget, Mbak!” pungkasku.

Rupanya Mbak berperawakan tinggi itu mendapatkan semua idenya dari internet. Selain anyaman pandan, proses deco juga dia lakukan pada telenan kayu, botol dan lainnya.

Teknik decoupage pada botol (doc.pribadi)

Mbak Asri membuka usaha ini sejak hampir setahun ini. Meski mengandalkan pemasaran via online dan offline, namun menurut dia pasaran yang lebih menjanjikan justru yang via online.

“Pernah, waktu itu kita mengirimkan orderan ke Papua. Ya, sementara jarak terjauh pemasaran kami memang Papua, belum sampai tahap internasional.” Mbak Astri menjelaskan tanpa keraguan sedikit pun mengenai kualitas yang kini sudah menembus pasar nasional itu.

Kedua matanya optimis. Dara asal Bantul itu mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memfasilitasi daya kreatifitasnya yang mampu menghasilkan sebuah karya, memperkaya sumber daya manusia, juga membuka peluang kerja bagi sekitarnya.

Tak hanya belajar dari internet, usahanya juga dia kembangkan terus melalui pembinaan langsung dari dinas koperasi dan UKM DI Yogyakarta. Berbagai pelatihan yang diadakan oleh dinas tersebut kerap diikutinya. Pelatihan packaging, pelatihan marketing dan juga pelatihan lain yang mendukung berkembangnya usaha-usaha kecil menengah di area DIY.

Dengan aktif berkomunitas yang positif, juga mengikuti berbagai kegiatan, saya pikir tak menunggu lama usaha semacam decoupage tas anyaman pandan ini bisa menembus pasar internasional, semoga!

Kartu nama Asri Pamungkas, decoupage Jogja (doc.pribadi)

Mbak Asri Pamungkas, yang menamai akun facebooknya sama dengan nama lengkapnya dan menandai akun instagramnya dengan nama Gias_olshop membuka stand-nya di Museum Pyramid, jalan Parangtritis, Bantul Yogyakarta.

  1. Kain Jumputan [Bukan] Batik
Kain jumputan dengan pewarnaan alami yang indah (doc.pribadi)

Tepat bersebelahan meja dengan tas pandan. Saya hanya butuh bergeser beberapa langkah saja menuju meja penuh dengan kain berwarna cokelat lembut dengan aneka motif apik itu. Tentu saja, sebagai wanita, saya langsung tertarik dengan kain [bukan] batik jumputan itu.

“Oh, bukan! Ini bukan batik Mbak, kalau batik kan harus melibatkan canting dan malam yang menutupi sebagian permukaan kainnya, baru kemudian diberi warna. Ini namanya kain jumputan,” ibu berkaca mata menjelaskan sambil terus tersenyum.

“Ramah banget, ibu ini!” batin saya.

Keramahan ibu yang bernama Supadmi ini membuatku ingin bertanya lebih mengenai kain indah elegan yang tersampir di beberapa papan display di sampingnya.

“Bu, boleh diceritakan proses pembuatannya?” pinta saya dengan senyum tak kalah manis.

Rupanya saat dua perempuan bertemu membahas sesuatu yang indah pasti akan berujung seru. Beliau mengangguk sambil tangannya mengambil kain jumputan berwarna kuning terang.

“Kalau yang ini pewarnanya sintesis.  Bedanya dengan yang pewarna alami adalah dari hasil pewarnaannya. Kalau sintetis warna yang dihasilkan akan terang dan genjreng, namun pewarna alami dari daun-daun akan menghasilkan warna yang lebih pudar dan kalem, seperti ini!” Bu Supadmi mengambil satu lembar kain berwarna cokelat lembut bermotif bulat dengan tepi bertajuk.

“Wow, masya Allah, ini indah banget, Bu! Manis! Bagus banget dibuat gamis atau rok,” saya meraih kain yang sedang dipegang owner kain jumputan itu dengan hati-hati. Kainnya lembut, cukup tebal untuk membuat sebuah gamis terusan atau atasan bahkan dibuat rok. Kainnya halus dan lembut, juga tidak panas saat dipakai.

Kain jumputan dengan pewarnaan alami menjuntai indah pada papan display di belakang stand (doc.pribadi)

Meski dibanderol antara 200 ribu hingga 350 ribu per lembar, menurut ibu berkaos putih itu kain jumputan warna alami lebih diminati oleh masyarakat. Pewarnaan alami biasanya menggunakan daun Jati, Jambal, Jolawe, Mahoni, Secang, juga daun Mangga dan Alpukat.

Masing-masing daun menghasilkan warna yang berbeda. Untuk warna cenderung merah Bu Supadmi menggunakan daun jati dan secang. Sedang untuk warna coklat bisa menggunakan daun mahoni dan lainnya.

Pewarnaan alami menggunakan daun juga membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pewarna sintetis. Jika pewarna sintetis hanya membutuhkan satu kali proses mewarnai, pewarnaan alami kain jumputan bisa sampai lima kali proses pewarnaan untuk mendapatkan warna yang lebih pekat.

Kain Jumputan yang telah diwarnai dengan pewarna sintetis dan masih dalam keadaan penuh ikatan tali rafia (doc.pribadi)
Ikatan jumputan dari dekat (doc.pribadi)

Sambil mengambil kain berwarna hijau yang masih banyak terdapat ikatan di sana-sini, Bu Padmi menjelaskan beberapa langkah pembuatan kain jumputan secara lengkap dan runtut.

Jadi langkah-langkah membuat kain jumputan antara lain:

  1. Pembuatan pola sesuai yang diinginkan
  2. Pengikatan kain di titik-titik pola menggunakan tali raffia
  3. Pewarnaan dengan cara direbus menggunakan air yang dicampur dengan pewarna baik sintetis atau tumbukan daun
  4. Mengunci warna dengan tunjung dan tawas
  5. Mencuci kain yang sudah terwarnai
  6. Menjemur kain hingga kering tidak di bawah panas matahari langsung
  7. Membuka ikatan tali raffia, dan
  8. Kain indah dengan motif warna aneka bentuk pola sudah kita dapatkan.

Seperti pelaku usaha lain, Bu Padmi juga kerap mengikuti pameran yang diadakan oleh Dinas Koperasi dan UKM  juga pembinaan dan pendampingan PLUT-KUMKM DI Yogyakarta secara periodik.

Usaha yang dinamai dengan Mekar Abadi ini terus dikembangkannya sejak tahun 2017 hingga sekarang. Selain memproduksi kain jumputan yang langsung dijual, Bu Padmi juga membuka kelas-kelas pelatihan untuk masyarakat yang ingin bisa membuat kain jumputan tersebut. Pelatihan ini dapat diikuti mulai dengan biaya Rp 50.000,- per orang dengan minimal 25-30 orang per kelas, atau dengan pelatihan privat dengan biaya sekitar 400 ribu – 450 ribu rupiah untuk beberapa teknik jumputan yang akan diajarkan.

Kartu nama Mekar Abadi Jumputan Yogyakarta (doc.pribadi)
Kain jumputan dengan pewarna sintetis.
Kuning: baru saja dilepas dari ikatan tali rafia
Hijau: Masih lengkap dengan tali-tali rafia yang kuat mengikat pola (doc.pribadi)

Duh, jadi pengin ikuti kelasnya nih! Perempuan kalau lihat yang indah-indah memang suka nggak tahan untuk memilikinya. Memiliki ilmu membuat kain jumputan kayaknya menyenangkan, ya! Bisa membuat berbagai motif sesuka hati kita!

Tak hanya kaum muda saja, saat orang yang lebih berusia namun semangat mencari ilmu dan kreatifitas terus dijaga, maka hasil tak akan pernah mengkhianati usaha. Semangat ya, Embak, ibu, Bapak!

Menggeliatnya usaha kecil menengah di tengah masyarakat Yogyakarta yang sangat kita rasakan tidak jauh dari hasil kerja kolaborasi antara pemerintah melalui Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta, PLUT-KUMKM DI Yogyakarta dan juga antusiasme masyarakat untuk bersinergi mengembangkan kreatifitas karya yang kelak akan berhasil eksis di pasar global. Semoga kegiatan positif semacam akan terus diupayakandan mendapat respon yang semakin antusias dari masyarakat. Sehingga akan menghasilkan masyarakat industri yang mandiri dan berkualitas, yang siap untuk ikut berkompetisi di pasar dunia. Insya Allah!

Jogja memang gudangnya kreatifitas!

Pyramid Museum History of Java
Jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta
(doc.pribadi)

Alhamdulillah, sesorean mengunjungi acara Gelar Produk Craft & Fashion di halaman Pyramid Museum History of Java yang berlokasi di jalan Parangtritis Bantul Yogyakarta pada tanggal 22-23  Maret 2019 ini, membuka mata saya akan pentingnya terus berupaya mengembangkan potensi diri memperkaya kreatifitas yang akan semakin membuat kita berkualitas. Bermanfaat di masyarakat juga bentuk mensyukuri atas diciptakannya kita sebagai manusia yang kaya akal oleh Allah Tuhan Yang Maha Menciptakan segala sesuatu.

Kebun Apel Tanpa Nama #part1

Benar-benar menuju puncak! Jalan kecil beraspal itu begitu sempit. Licinnya permukaan yakin bukan karena hujan biasa. Bahkan tanah di area bahu jalan tampak kering, juga rumput-rumput di sekitarnya. Aspal basah ini karena uap yang mengembun.

“Ini terlalu tinggi!” pekikku dalam hati. Telat! Rupanya piranti gawai yang kupegang dan kupercaya sedari tadi menuju ke titik yang salah!

Bukan, bukan Hp nya yang salah, atau celoteh perempuan yang tak pernah bosan mengarahkan kami untuk belok kanan belok kiri, seolah tak pernah kehilangan power hanya karena tak pernah mendapat jeda minum selama menuntun perjalanan kami di tempat asing ini.

Tapi karena ketidakjelasanku sendiri dalam mengetik destinasi yang kupilih. Bermacam pilihan dan beruntung yang ku klik justru alternative judul yang paling umum, “Kebun Apel Batu”

“Harusnya tadi kupilih saja ‘Wisata Petik Apel’ dengan jarak tempuh terdekat saja’” rutukku dalam hati.

Apa pun itu, tak akan mengubah sedikit pun posisi kami di atas puncak pegunungan Batu. Ada sesuatu hal yang akan Allah tampakkan kepadaku, kepada kami berlima! Entah lah apa itu.

Dari posisi duduk, tiba-tiba kurasakan posisi berubah setengah menengadah. Membuatku sama sekali tak kesulitan menghitung derajat kemiringan tanjakan itu. Mendekati 45 derajat!

Tak sempat ungkap khawatir, atau mengandai-andai sesuatu yang membuat jantung berhenti berdetak sesaat.

Hanya bisa merapal doa keras-keras diiringi,  “Allahu akbar! Allahu akbar!” dari mulut mungil anak-anak yang herannya kini tiba-tiba kompak. Tak seperti sepuluh menit sebelumnya yang saling berteriak keras berebut segala sesuatu di sepanjang jalan.

“Pi, kayaknya salah pilih track, deh!” bahkan kalimat itu pun urung kubisikkan perlahan.

Takut mengubah sedikit saja konsentrasinya memainkan gas, kopling juga rem dan kemudi.

Ya Allah begini kah jalan satu-satunya menuju kebun buah apel yang katanya sangat keren buat petualangan anak-anak itu?

Memetik apel, memakan sepuasnya di bawah pohon, juga memanjatnya di tengah gigil kulit yang semakin menciutkan pori-porinya karena suhu yang begitu rendah itu. Ya, katanya dahan pohon apel yang rendah dan kuat itu sangat mudah dijangkau oleh kaki anak-anak yang belum juga jenjang.

Ah, sudahlah! Seandainya masih jauh, aku hanya bisa berharap Allah masih sudi selamatkan kami.

Gimana bisa memilih? ke depan yang buta berapa jarak lagi jauhnya, sedang mau mundur juga sudah terlanjur begitu jauhnya.

Bismillah! Tak terhitung lagi jumlah kelokan tajam disertai tanjakan terjal. Lembabnya udara begitu tajam tercium disaat jendela harus kami turunkan demi mematikan penyejuk udara.

Kekuatan mobil harus dimaksimalkan hanya berkonsentrasi pada keterjalan lajur berwarna hitam mengkilap itu. Kamu tahu? Poster-poster bergambar nenek-nenek bergigi satu dengan wajah berlumur darah lebih menakutkanku ketimbang suara deru mobil bercampur decit roda yang mencengkeram kuat pada licinnya aspal.

Bahkan tanpa tulisan, “Gunakan gigi satu demi keselamatan Anda!” aku pun sudah begitu paham dengan gambar gigi si nenek yang sengaja di highlight.

Lapar terlupa sudah, kebelet pipis? Ah entah ke mana rasa itu. Pandanganku hanya meraba-raba berapa puluh meter ke depan. Masihkah ada gambaran pohon yang menjulang jauh di atas kepala? Yang berarti tanjakan belum lah berakhir? Atau berganti dengan gambaran putih bersih yang bergerak perlahan mengikuti arah angin yang berembus sepoi di atas lembah atau ngarai di sekeliling kami? Awan?

Allahu Rabb! Belum berkurang kewaspadaanku, kami dikagetkan dengan teriakan si bungsu, “Monyeeet!”

Masya Allah! Sekawanan monyet kecil berkerumun di tengah jalan beraspal yang kini melelehkan air di setiap jengkal permukaannya. Monyet-monyet itu celingak celinguk sambil memamerkan gigi geliginya yang putih.

“Tutup jendelaaa!” suamiku berteriak lebih keras. Sontak tanpa sedikit pun minta penjelasan, kututup kaca yang sedari tadi terbuka lebar. Anak-anak juga refleks menutup semua jendela belakang.

“Bundaa! Kenapa? Kenapa ditutup jendelanya? Monyetnya kasihan! Bapak ibunya lagi pergi,” Si bungsu mulai bingung juga sedih. Bukannya monyet itu lucu? Bukannya monyet itu tidak jahat? Dia mencoba mengingat beberapa cerita pengantar tidur yang sering kuperdengarkan. Tentang monyet yang suka pisang, juga tentang singa si raja hutan.

“Pelan, Pi! Minggir ke kanan!” Teriakku tercekat! Kulihat gerombolan monyet itu tak beranjak sedikit pun. Beberapa hanya berjingkrak-jingkrak. Tiba-tiba dari arah berlawanan melaju kencang mobil berwarna hitam, seolah di terjalnya jalan yang turun mengarah ke kami tak sedikit pun rem nya dipijak.

“Awas, Pi!” Teriakku saat sekejap melintas di sebelah monyet-monyet yang kini mulai panik.

-bersambung-

 

EGRANG, BUDAYA LOKAL INDONESIA, IKHLAS KAH JIKA KELAK DIAKUI OLEH NEGARA LAIN?

Egrang, Budaya Lokal Indonesia, Ikhlas Jika Kelak Diakui Oleh Negara Lain?

Kalau egrang, permainan sekaligus alat olahraga tradisional kita diakui oleh negara lain, kamu ikhlas nggak? Atau nggak peduli?

Jadi, ini sesuatu banget. Ada seorang bapak sudah berumur, rela menghabiskan waktunya selama 55 hari dengan naik egrang dari Jogja ke Jakarta. Beliau berhasil bertemu muka dan berfoto bersama Presiden kita Joko Widodo. Bayangkan, 55 hari hanya berjalan menyusuri pinggiran jalan raya, melawan panas terik dan juga dinginnya malam demi memperjuangkan agar egrang kembali tenar. Agar egrang kembali dicintai oleh masyarakat Indonesia. Bisa bayangkan lelahnya? Apa nggak lecet-lecet tuh kaki? Ya, bahkan hanya berjalan menggunakan sandal ter-empuk pun kalau untuk berjalan sejauh itu saya rasa pasti akan membuat lecet kaki dan pegal-pegal seluruh tubuh. Iya, kan? Apalagi menggunakan egrang? Tapi itulah upaya Pak Yudi si Raja egrang dari Jogja. Bapak berperwakan tinggi itu ingin kembali membuadayakan egrang sebagai salah satu kekayaan Indonesia.

Sejak aksinya mengenalkan egrang dengan cara unik itu, Pak Yudi makin dikenal dengan Raja Egrang-nya. Pak Yudi melanjutkan dengan membuka stand egrang di Alun-alun Selatan Jogja. Stand yang memberi fasilitas egrang mulai dari egrang bumbung (ruas bambu dengan tali), egrang kecil hingga egrang paling tinggi tersedia di sana. Pak Yudi tidaak mematok harga, hanya infak seikhlasnya untuk pemeliharaan egrang-egrangnya agar selalu diremajakan. Pak Yudi begitu mencintai anak-anak. Siapa pun yang mau belajar bermain egrang di sana dan berhasil meyakinkan bahwa dia mau belajar maksimal dengan membuktikannya bisa naik egrang, akan dapat sepasang egrang sesuai permintaannya, gratis.

Gambar: doc. pribadi

Siapa sangka, banyak sekali anak yang tertarik untuk ikut menaklukkan angkuhnya bambu setinggi 2 meter itu. Hingga sekarang setiap malam tempat itu pasti penuh dengan anak-anak yang bermain egrang. Semua anak kecil itu lihai, ada yang berlari, ada yang sambil duduk dan lainnya. Pak Yudi berhasil membuat anak-anak mencintai egrang sebagai budaya asli Indonesia.

Permainan ini, dulunya merupakan alas kaki yang dipakai oleh kerajaan untuk berjalan. Jadi hanya lingkungan kerajaan yang boleh menggunakan alat egrang ini. Alas kaki itu kini mengalami transformasi menjadi alat olah raga yang cukup digemari. Selain menyehatkan, egrang juga sangat membantu kita menghilangkan stress akibat beban kerja. Ditanggung, seluruh otot tubuhmu bakal gerak dan aktif sehingga bisa menyehatkan raga sekaligus menyehatkan hati. Mulai dari otot betis, otot lengan atas, otot perut, otot jari-jari kaki dan tangan dan juga otot punggung, semua bekerja sama saling bersinergi.

Seperti budaya lainnya, gamelan misalnya, yang sekarang mulai digandrungi oleh para turis mancanegara. Tarian tradisional juga tak ketinggalan, mulai banyak pendatang dari luar negeri yang ingin belajar memperdalam kebudayaan kita yang sering kita lihat sebelah mata. Egrang, juga mulai dilirik oleh para pendatang dari luar negeri. Banyak yang minta kerjasama agar dibuatkan egrang, bahkah mau beli beratus-ratus pasang egrang. Bolehkah? Nanti dulu!

Gambar: doc. pribadi

Pak Yudi sebagai kapten Raja Egrang, punya mimpi kelak egrang yang sedang kembali dibumikan lagi di Indonesia, bisa masuk ke dalam salah satu cabang olah raga yang diakui di Indonesia. Tekadnya mengenalkan egrang terutama pada anak-anak bertujuan agar anak-anak mencintai budaya lokal. Budaya permainan tradisional yang tak hanya mengandalkan keseimbangan namun juga koordinasi antar kerja otot dan otak menjadi titik berat berhasilnya seseorang mampu berjalan dengan egrang.

Tidak hanya itu, dengan egrang juga akan mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget, sehingga aktifitas ini bisa menurunkan angka kecanduan terhadap game, video yotutube dan sajian lainnya dari layar gawai yang kini mulai menjadi momok bagi para orangtua.

Gambar: Doc. Pribadi

Sebut saja Abiyyu, anak usia TK B ini dari awal mengenal egrang tak pernah putus asa belajar. Gawai yang hampir setiap saat digenggamnya semakin bisa dialihkan dengan aktifitas fisik itu. Jatuh bangun sama sekali tak menyurutkan semangatnya dalam menaklukkan batang bambu yang tingginya dua kali lipat dari tinggi badannya itu. Nyalinya berkembang seiring dengan beberapa lecet di jari kaki karena menjepit bambu warna-warni itu. Jera kah dia? Tidak!

Tak sampai seminggu, Abiyyu bisa menaklukkan, mulai dari nol hingga akhirnya mahir menjalankan egrang tanpa dibantu siapa pun juga. Kecuali saat naik egrang yang sangat tinggi, biasanya anak kecil itu akan minta digendong dulu untuk naik ke atas. Baru setelah berhasil nangkring di atas, dengan lihai dia melenggang mengelilingi alun-alun selatan Jogja.

Turis domestik, turis mancanegara semua bisa ikut bermain di sana bersama teman-teman kecil dari Raja Egrang. Meski terhalang bahasa, nyatanya anak-anak kecil dari negara berbeda itu kerap bisa akur dan dekat.

Egrang, permainan tradisional yang sangat pantas untuk kembali kita tenarkan. Tak lagi hanya menjadi permainan kalangan Raja, namun alat sederhana itu kini bisa di akses oleh semua kalangan masyarakat.

 “Maaf, egrang ini tidak dijual, saya hanya akan membuatkan bagi sekolah-sekolah, atau wilayah lain selama masih berada di Indonesia. Dan saya bertekad belum akan membuatkan warga negara lain dulu sebelum permintaan kebutuhan egrang dalam negeri terpenuhi,” jawaban yang selalu Pak Yudi berikan pada pengunjung mancanegara yang minta dibuatkan egrang.

Tuh, kan? Egrang saja mulai dilirik, ikhlas kalau nanti egrang menjadi tenar di luar sana? Yuk peduli dengan semua budaya kita! Kuatkan budaya ini di tangan kita sendiri, agar dunia tahu bahwa egrang milik kita. Bagi siapa saja penduduk Indonesia, sangat terbuka untuk belajar gratis membuat egrang yang kuat, agar egrang membumi di negeri kita Indonesia tercinta. Siap tenarkan egrang? Harus siap!

Gambar: Mixagrip

Seru ya? Sehat dan berbudaya bersama egrang. Ngomong-ngomong sehat, terkadang entah beragam alasan membuat status kesehatan kita terganggu. Sebagai contoh penyakit sepele yang sering tidak kita anggap namun sangat mengganggu aktifitas adalah penyakit flu. Penyakit ini begitu mudah menyerang siapa saja. Penyakit yang cara penularannya sangat mudah ini susah dihindari saat stamina dan kekebalan tubuh kita sedang drop. Nah kondisi seperti itu sangat pas kalau kita punya persediaan obat yang aman, contohnya adalah MIXAGRIP. Kandungan obat ini meliputi beberapa obat yang diindikasikan untuk meringankan gejala flu. Komposisi di dalamnya juga tersusun atas obat yang cenderung aman. Obat ini bisa dibeli bebas di apotek tanpa resep. Namun, tetap harus mengindahkan hal-hal yang disarankan di dalamnya. Pastikan bahwa kamu tidak mempunyai riwayat alergi terhadap obat apapun sebelum meminumnya. Juga minum obat hanya seperlunya saja saat dibutuhkan. Dan jika setelah 3 hari keluhan tetap ada, segera konsultasi dengan dokter terdekat. Salam

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

LIBURAN UNIKKU: TUKIK YANG MINTA MERDEKA

Liburan selalu identik dengan perjalanan jauh yang menyenangkan. Bertamasya ke suatu lokasi wisata bersama keluarga. Pun demikian dengan liburan tanggal 17 Agustus 2018, liburan kali ini sangat berbeda. Bersahabat dalam hitungan menit bersama tukik lucu nan menggemaskan.

Tak tahu kah mereka? Sayangnya, gigi-gigi tajam menyeringai, menunggunya berenang tanpa pendamping.

“Pelepasan Tukik? Wow, seruuu! Mau… mauu… mauuu!!” Anak laki-laki itu berjingkrak-jingkrak. Senyum merekah lebar, matanya membulat antusias.

“Eh, bentar, emang udah tahu tukik itu apa?” tanyaku.

“Hahahah… beluum!” Jawabnya polos sambil tangannya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. “Emangnya, tukik itu apa, Bund?” tambahnya.

“Kamu tahu penyu? Tukik itu bayi penyu,” kataku.

“Penyu?” dahinya berkerut.

“Iya, penyu, semacam kura-kura…” kulihat wajahnya seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Ah, aku tahu! Aku mau… aku mauuu… ayok kita ikut melepas tukik Bund!” aku tersenyum.

***

Liburan 17 Agustus 2018 lalu kami isi dengan mengikuti acara Pelepasan Tukik di Pantai Goa Cemara Bantul Yogyakarta. Sesuai dengan perayaan hari kemerdekaan, acara pun diisi dengan memerdekakan tukik, si bayi penyu yang imut.

Belum memiliki kendaraan pribadi bukan menjadi penghalang kami untuk berbahagia. Ya, memang kami belum mampu untuk membeli mobil dengan cara cash. Namun, hal itu tak menyurutkan niat kami untuk membahagiakan anak-anak. Bukan kah di zaman sekarang banyak sekali perusahaan rental kendaraan yang terjangkau. Salah satunya adalah www.automo.com perusahaan rental ini menawarkan berbagai macam kendaraan yang bisa disewa sepuasnya untuk berwisata atau keperluan lain. Tak hanya mobil, mulai dari sepeda motor, truk bahkan hingga pesawat dan kapal pun bisa dicarter. Sistem sewa dihitung per hari atau per malam. Sangat membantu keluarga bahagia seperti kita untuk tetap memberi kebahagiaan sederhana bagi anak-anak. Perusahaan tersebut mempunyai beberapa cabang di Jakarta, Bali dan Yogyakarta.

Kenapa harus sewa mobil atau kendaraan lain? Tentu saja dengan menyewa mobil kita terhindar dari biaya perawatan, juga terhindar dari biaya setoran (kredit), tapi kadang tak bisa terhindar dari kemacetan haha, ya kan semua orang butuh piknik! Nggak punya mobil pun masih bisa jalan-jalan, bisa ganti-ganti mobil semau kita. Tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan dan budget, iya kan? Seru mana coba?

Kenapa sih semua anak-anak suka piknik? Perjalanan jauh? Anak-anak terlihat antusias setiap kali melakukan perjalanan jauh? Bahkan baru disampaikan niat piknik saja sudah membuat mereka tak bisa tidur saking senangnya. Seolah waktu yang panjang dan medan yang berganti-ganti menjadikan hiburan tersendiri di antara rutinitas harian yang membosankan. Sekolah.

Siang itu berpacu dengan matahari yang berada tepat di atas kepala. Dari kota menuju bagian selatan Jogja. Ke arah pantai. Pantai Goa Cemara. Pantai ini berlokasi di sebelah barat pantai Samas, Bantul. Melewati sawah-sawah dan pedesaan membuat anak-anak melihat banyak hal. Kambing yang sedang digembala, tanaman padi yang mulai menguning, jagung yang sudah siap panen. Banyak sekali pemandangan alam yang tidak dapat dijumpai di kota. Pemandangan yang menyegarkan memori anak. Kebahagiaan pun mulai merangkak menguasai anak-anak. Bernyanyi dan terkadang ngemil makanan mengisi perjalanan yang tak pernah membosankan.

Karena terhadang beberapa kali oleh pawai karnaval kemerdekaan, kemacetan pun tak dapat dielakkan. Kami baru tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 wib. Persis saat jadwal acara pelepasan tukik dimulai. Panitia segera membuka acara meski pengunjung masih belum penuh. Pengunjung hanya dibatasi sebanyak 300 anak (yang semuanya jelas didampingi oleh orangtua mereka).

Acara di awali dengan penjelasan seekor penyu yang ditemukan bertelur di tepi pantai. Hingga akhirnya menetas dan dalam usia beberapa puluh hari siap untuk dilepas, dikembalikan ke habitat aslinya, yaitu laut. Tragisnya, dari 300 ekor tukik, kelak 20 tahun lagi hanya 6 ekor saja yang bertahan hidup. Sisanya? Mati dimakan ikan besar atau mati karena makan sampah plastik yang dikira ubur-ubur oleh tukik. Ya, tukik dan penyu makannya ubur-ubur. Tahu kan ubur-ubur? Bentuknya yang bulat berwarna putih transparan, mengapung, sangat mirip dengan plastik. Tak heran jika banyak tukik yang salah menerka.

Plastik itu kenapa sampai di lautan? Itu lah akibat kesombongan kita. Kesombongan tak mau membuang sampah di tempatnya. Perilaku membuang sampah sembarangan oleh manusia terhadap sampah terutama plastic sangat merugikan regenerasi penyu. Bayangkan, kita menyumbang berapa puluh persen sendiri terhadap kontribusi membunuh penyu dan bayi-bayinya dengan plastic yang kita buang sembarangan? Duh, jangan diulangi lagi ya!

Setengah jam pelajaran tukik dijelaskan panjang lebar. Apakah anak-anak mendengarkan? Ya, setidaknya 10 menit pertama mereka anteng, mendengarkan kisah tukik yang belum pernah mereka lihat. Selebihnya?? Mereka bubar sendiri-sendiri. Ada yang bermain pasir, ada yang kejar-kejaran. Ada yang naik-naik pohon cemara. Namanya anak-anak, saat mereka dilepas ditempat luas rasanya sungguh riang tak ada tandingannya. Mungkin terbebas dari “penjara” peraturan membuat mereka melakukan apapun sesuka mereka.

Setelah hari menjelang sore dan sejarah tukik selesai, semua anak diajak ke tempat penangkaran penyu, tempat ratusan tukik imut dipelihara sementara. Anak-anak berebut mengambil batok kelapa untuk membawa tukik ke pantai. Mereka berjeritan begitu menerima tukiknya masing-masing. Tukik itu terus saja berusaha mendaki tepian batok, tak sabar ingin berlari menuju pantai yang dirindukannya selama ini.

Pantai itu sangat bersih, debur ombaknya besar namun begitu menyentuh kaki berubah menjadi riak kecil yang hangat di telapak. Pelataran pantai yang begitu luas membuat anak-anak bebas berlarian, berkejaran, juga bergulingan. Berebut tempat terbaik untuk melepas tukik. Matahari mendampingi keharuan di sore yang memesona. Ya, matahari seolah memberitahu bahwa di jauh sana, banyak sekali bahaya. Hati-hati anak-anak!

Dengan hitungan 1,2 ,3, semua tukik dilepas bersamaan di tepi pantai. Tukik saling berebut menuju debur ombak yang menjadi genderang semangat di depan mereka. Angin sore pantai menambah birunya perasaan anak-anak melepas sahabat barunya.

“Tukiknya kasihan ya, Kak?” tangis Aishya si gadis kecil hampir pecah, matanya berkaca-kaca. Tukik yang baru merayap di tangannya kini harus terseok-seok berlari menuju tepi pantai yang dingin. Tukik yang terus saja berlomba menuju belaian bundanya yang sekarang entah di mana.

“Tukik nggak takut ya, Bund?”

“Enggak sayang, tukik bahagia, tukik mau ketemu bundanya, kan?”

Gadis kecil itu tersenyum, memeluk bunda yang juga ikut terpana melihat semangat tukik menuju laut lepas. Mereka tak tahu, di sana banyak pemangsa yang sigap menunggu mereka berenang-renang, menari menyambut kematian mereka sendiri. Ah, teganya para predator itu, tak tahu apa kalau mereka begitu rindu kepada bunda dan juga rumah asli mereka? Itu lah kehidupan, meski pahit, terus dijalani dengan penuh senyum kebahagiaan.

Jangan kalah sama tukik! Semangat menjemput bahagia, meski banyak mara bahaya menghadang di depan sana!

HOMESTAY MEWAH HARGA MURAH PALING RECOMENDED DI JOGJA

HOMESTAY MEWAH HARGA MURAH PALING RECOMENDED DI JOGJA.

Cocok buat traveller sejati kayak kamu. hehe. Buat kamu yang suka travelling, nih. Pasti carinya tempat menginap yang bagus, nyaman, murah dan dekat dengan berbagai tempat destinasi wisata yang update. Kalau aku sih, pengennya cari di tempat yang cukup “kota” artinya selain kita bisa untuk berkunjung ke destinasi utama yang kebanyakan berada di luar kota, kita juga bisa donk menambah pengalaman dengan mengisi waktu senggangnya dengan jalan-jalan mengeksplor kota tujuan kita.

Terutama bagi yang lagi pengen berkunjung ke kota Jogja, kali ini aku mau coba ulas sekaligus merekomendasikan tempat menginap yang super nyaman namun harga sangat ramah di kantong. Mengingat beberapa kali ke luar kota aku mengalami kesulitan cari penginapan yang oke punya, maka kali ini aku coba sharing tempatku menginap beberapa hari terakhir ini biar kamu sedikit punya referensi. aku tahu kamu seneng bacanya ini, seperti aku juga bakal suka sekali kalau mau berangkat ke luar kota sudah mengantongi informasi penginapan yang rekomended.

Oke, kita mulai dari fasilitas homestay. Selain sebagai tempat bersih-bersih , homestay juga tempat untuk istirahat. Tentunya harus bisa memfasilitasi kita dengan senyaman mungkin. Nah, mengenai fasilitas penginapan yang mau aku share, yakin sekali kamu juga bakal tercengang sepertiku saat membandingkan antara harga dengan fasilitas yang ditawarkan.

Kamar Mandi

Kenapa fasilitas ini kuulas di nomor satu? Baik, jadi kualitas suatu hotel, homestay atau penginapan menurutku harus dilihat dari kamar mandinya dulu. Karena saat kamar mandi ok pasti yang lainnya juga ok. Secara, kamar mandi biasanya letaknya di paling belakang dari suatu ruangan kan? bisa jadi sebagian orang menganggap ini nggak penting, namun bagiku justru ini sangat penting. Saat kamar mandi yang ditawarkan bagus, maka otomatis yang lainnya juga pasti bagus. Bisa dibuktikan. Nah, di penginapan ini kamar mandinya sangat Ok! Air hangat, shower besar anti macet, dibatasi oleh dinding kaca yang semakin memperlihatkan betapa lux kamar mandi ini. Toilet duduk yang cakep dan bersih. Yah, ini hanya bisa dijelaskan dengan kenyataan di lapangan, setidaknya closet yang dipakai di penginapan ini bermerk, yang jika digunakan pasti sangat nyaman. Ukuran kamar mandi juga cukup besar, leluasa untuk menikmati mandi berlama-lama.

Kamar tidur utama

Nah, poin yang kedua yang musti dipertimbangkan setelah kamar mandi . Adalah bed/ tempat tidur utama. Penginapan ini jelas menggunakan bed bertingkat (dua bed yang disusun hingga ukuran tinggi yang nyaman untuk duduk maupun berbaring santai. Dilengkapi dengan sprei dan bed cover warna putih yang halus, lembut dan bersih ini jelas akan memanjakanmu berlama-lama di atasnya. Sangat nyaman!

doc. pribadi

Lobi / tempat santai

Ruangan untuk menerima tamu sekaligus untuk makan breakfast yang disiapkan setiap pagi dengan menu bervariasi. Ruangan santai ini begitu hommy, layak rumah sendiri yang di design begitu rupa  terlihat nyaman berlama di ruang umum ini. Halaman depan dan lorong samping menuju kamar-kamar juga begitu hidup dengan pepohonan kecil yang tertata apik mempercantik dan memberi suasana segar.

doc. pribadi

Breakfast

Meski tak selengkap menu di hotel berbintang, menu yang disediakan di penginapan ini begitu menggiurkan dan membuat sarapan kita sempurna. Tentu saja masih bervariasi juga, ada roti tawar lengkap dengan toping sesuai selera, ada nasi prasmanan dengan sayur, lauk juga sambal dan kerupuk yang akan memberimu rasa kenyang dan siap beraktifitas seharian, juga buah dan minuman kopi&teh yang bisa kamu seduh sendiri sepuasnya.

Fasilitas pendukung lain

Tak lengkap rasanya saat menginap tanpa fasilitas pendukung yang tenyata cukup crusial kedudukannya. Di antaranya adalah TV kabel, AC, meja rias dan juga lemari baju. Pokoknya disediakan lengkap. Kurang apa lagi untuk menuju kenyamanan yang sempurna?

doc. pribadi

Dekat sekali dengan fasilitas umum

Sebut saja alun-alun, baik selatan yang malamnya selalu bercahaya dan hingar-bingar atau alun-alun utara yang merupakan halaman utama kraton Yogyakarta. Alun-alun ini juga kerap dijadikan sebagai destinsai wisata, terutama buat pasangan yang sedang dimabuk cinta atau yang sudah mempunyai anak kecil. Di alun-alun bisa ikut wisata tradisional bermain egrang, atau mengayuh sepeda lampu yang tiap malam membuatnya menyala. Selain alun-alun, penginapan ini juga sangat dekat dengan wisata Taman Sari (Water Castle) hanya berjarak sekitar 300 m dari lokasi homestay. selain itu semua, di sekitar alun-alun selatan juga banyak sekali tersebar cafe-cafe modern yang sangat nyaman untuk bersantai.

Wifi gratis

Nah, fasilitas satu ini sekarang begitu pentingnya. Hampir semua urusan dapat diselelsaikan dengan cara online. Mencari makan misalnya, pesan ojek online atau mau buka-buka segala informasi melalui internet saat sedang santai di penginapan. Semua bisa dilakukan dengan mudah.

Nah, ulasan yang cukup lengkap ini semoga membantumu menemukan tempat penginapan yang sesuai harapanmu ya. Oiya, belum afdol jika belum dilengkapi informasi harga sewa kamar per malamnya. Karena dari awal saya sudah excited sekali untuk sharing informasi homestay mewah murah dan paling recomended, maka akan saya bocorkan harga sewa homestay ini.

kamu bisa menginap di sini hanya dengan membayar 200k hingga 275k saja per malam. Penghitungan check in check out sama dengan peraturan di mana saja. Sedikit beda saat ketemu dengan hari Raya Idul Fitri lebaran yang bisa naik dua kali lipat (Ssst! jangan keras-keras, tapi bisa jadi saat lebaran pun kamu bisa tetep dapetin harga normal loh, meski kemungkinannya sangat kecil hehe) secara saat lebaran sebagian besar harga pasti meroket, termasuk sewa penginapan maupun sewa kendaraan, ya kan?

Serius? Untuk semua fasilitas di atas hanya dibandrol 200k hingga 275k? Yes! Bener pakai banget. Selain fasilitas fisik yang mengagumkan, fasilitas lainnya juga cukup memuaskan, adalah keramahan petugasnya. Mereka sangat ramah juga cekatan. Pokoknya over all, semuanya luar biasa, pastinya kamu bakal pulang dengan hati berbunga-bunga, karena bisa menghemat sekian rupiah dari perjalanan yang mungkin awalnya diperkirakan akan habis banyak.

Gimana? kurang apalagi coba? Seru kan? oiya, nama penginapannya itu PURI LANGENARJAN. Beralamat di Jalan Langenarjan Lor no 11A. Siap beraksi? Semoga liburanmu mendatang semakin membuatmu semangat dan merefresh segala kegalauan ya! Selamat jalan-jalan, kawan!

Daun Puteri Malu Mampu Melindungi Diri Dengan Menguncupkan Daunnya

Sudah pernah dengar kan ada tanaman yang namanya Puteri Malu? Daun yang tiba-tiba menguncup saat di sentuh ini begitu terkenal di kalangan anak sekolah, terutama SD dan TK. Bagi yang duduk di sekolah dasar pasti pernah mendengar nama tanaman ini. Nah, ingat kan? itu loh tanaman yang bisa melindungi dirinya dari serangan dengan cara menguncupkan daunnya. Dia pura-pura mati untuk mengelabui lawannya.

Daun Puteri Malu (Dokumentasi Pribadi)

Saat daun tersebut disentuh, secara otomatis akan menguncup dan menundukkan tangkai daunnya. Persis seperti daun yang layu.

Bunga dari Puteri Malu berwarna pink-ungu entuknya bulat terdiri dari serabut-serabut lembut. Buah atau biji dari Daun Puteri Malu mirip dengan pete dalam ukuran yang sangat kecil. Biasa untuk pete-petean oleh anak-anak yang sedang bermain pasar-pasaran.

Buah / biji daun puteri malu (Dokumentasi Pribadi)

Tanaman ini mudah sekali ditemukan di daerah pedesaan yang masih banyak terdapat kebun maupun semak-semak. Di kota kita akan sedikit kesulitan mendapatkannya.

Untuk memudahkan mencari, berikut ini ada video seperti apa sih bentuk dan rupa Daun Puteri Malu itu? Klik di sini untuk melihat bentuk dan gerak daun Puteri Malu saat disentuh.

Di Jogja masih dapat dengan mudah ditemukan. Terutama di daerah yang masih banyak terdapat sawah dan kebun seperti di Bantul, Sleman, Kulonprogo maupun Gunung kidul. Di kota sendiri masih bisa kita temukan tanaman unik satu ini. Di tengah kota misalnya, kita masih bisa menemukannya di tepian alun-alun kidul seperti pada gambar. Selamat berburu daun Puteri Malu buat teman-teman yang masih bingung. Anak sekarang di usia TK pun sudah mengenal tanaman satu ini. Beda sekali dengan generasi emaknya di zaman lampau ya? rata-rata baru mengenal tanaman satu ini di kelas, ya kalau enggak kelas tiga ya kelas empat SD kira-kira.