Berbagilah! Allah Akan Mencukupkan Semua Kebutuhanmu Sebesar Apapun Itu

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari, secara sembunyi dan terang-terangan maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

(QS. Al Baqarah: 274)

“Maaf, Mbak. Uang saya kurang dua puluh ribu,” perasaan tidak enak jelas sekali terdengar, meski si ibu sudah berusaha berbisik ke mbak-mbak kasir berkerudung biru.

Perempuan yang bertugas sebagai kasir hanya tersenyum masam tanpa berkomentar.

Sebelumnya, ibu berjilbab coklat muda itu mendorong keranjang belanjanya yang sudah terisi bermacam bahan pokok ke arah kasir. Di sebelahnya, anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun menarik-narik baju si ibu, raut wajahnya memohon, juga tangan kanan mungilnya menunjuk ke sebuah kotak merah berisi bermacam rasa es krim lezat. Kotak itu berada di sisi kiri agak jauh dari meja kasir. Si ibu dengan lembut mengangguk dan tersenyum. Sontak, si anak berjingkrak berlarian menuju lemari es krim yang dimaksud. Dengan tangan kanannya ia ambil sekotak es krim rasa coklat.

Sesaat kemudian petugas kasir dengan cekatan menghitung total harga belanjaan yang didekatkan ke meja kasir. Satu persatu  barang belanjaan diangsurkan perempuan yang kini mulai gelisah melihat monitor angka yang menunjukkan total biayanya.

“Dua ratus tiga puluh empat ribu delapan ratus rupiah,” batin si ibu mengeja. Semenjak awal sepertinya sudah diperhitungkan total belanjanya, hingga ia lupa saat anak laki-lakinya meminta es krim yang tidak ia duga.

Ia keluarkan semua isi dompet, beberapa lembar uang ribuan di saku gamis, juga uang koin lima ratusan dan ratusan yang ia temukan di kantong kecil depan tas yang di cangklongnya.

Beberapa kali dihitung ulang uang-uang itu. Tetap sama. Si ibu semakin gelisah, tangan kirinya mengelus kepala anak laki-laki yang kini sibuk menjilat es krim yang mulai meleleh.

 “Gimana kalau belanjaan ini saya kurangi senilai uang yang ada saja, Mbak?” pinta ibu itu.

Petugas kasir menghela napasnya. Mungkin lelah, atau malas melakukan hal yang sama harus berulang.

“Jadi yang mau dikurangi yang mana?” tanyanya datar kepada perempuan yang kini mulai terlihat kikuk.

Tak diketahui siapa pun. Seorang pemuda yang berdiri tepat di belakang si ibu sudah memperhatikan semua yang terjadi.

“Mbak, biar yang dua puluh ribu dimasukkan ke tagihan saya saja nanti, ya!” pengin rasanya pemuda berbaju hitam bilang seperti itu ke kasirnya. Pasti si ibu sangat lega. Atau malah tidak enak? Namun ternyata tidak! Pemuda itu urung melakukannya!

Diam-diam pemuda itu mengambil selembar uang Rp. 20.000,- an dari dalam sakunya. Diremas-remasnya lembar uang berwarna hijau itu, kemudian ia jatuhkan ke lantai, tepat di sebelah kaki si ibu.

“Maaf, Bu! Barusan saya lihat ada yang jatuh dari saku ibu,” pemuda itu dengan sopan berbisik dan mengarahkan telunjuk tangan kanannya ke arah bawah, ke tempat uang yang tadi dilemparnya berada.

“Oh, ya Allah, Alhamdulillah!” seolah ia ingin berteriak lega namun ditahannya. Segera ibu itu memungutnya dengan tangan gemetar.

“Ini ya, Mbak! Terima kasih, Mas!” Nampak sekali kelegaan di raut mukanya, ia pandangi anak laki-laki yang masih juga sibuk makan es krim di sebelahnya. Sengaja ia biarkan anaknya memakan es krim dulu setelah barkodenya berhasil di-scan di mesin kasir.

***

Bisa saja pemuda itu melakukan kebaikan yang pertama. Namun mengapa pemuda itu mengambil pilihan kedua untuk membantu si ibu membayar kekurangannya? Ternyata pemuda itu lebih yakin hatinya bahwa Allah Maha Melihat. Dengan pilihan itu pun perasaan si ibu masih tetap terjaga, tidak perlu sungkan merasa berhutang budi. Biarlah Allah saja yang tahu.

***

Semua jamaah serempak menghembuskan napas, seolah tarikan napas yang tadi diambilnya lupa untuk dikeluarkan. Kisah nyata yang diceritakan oleh ustadz di depan terdengar mengharu biru. Termasuk saya yang tak henti merinding mendengar bagian akhir yang dikisahkan laki-laki berbaju koko di depan sana. Ah, Alhamdulillah, banyak hikmah dan manfaat meski kita hanya duduk mendengarkan di majelis mengaji itu.

Ingat beberapa malam lalu saat saya bersama suami dan dua anak kami sedang mencari makan di seputar Mandala Krida.

Tiba-tiba motor yang kami naiki menepi dan berhenti. Suami mematikan mesin motor dan diam tanpa bicara apa pun. Hanya kepalanya yang beberapa kali menoleh ke belakang. Aku pun mengikuti gerakan itu.

Tak selang berapa lama sebuah gerobak rongsok ditarik oleh seorang ibu tua. Terlihat kepayahan dan lelah. Di atas gerobak seorang bocah perempuan yang juga tampak lebih lelah dan mengantuk duduk di antara rongsok yang mereka bawa. Gerobak itu berjalan perlahan melewati kami.

Waktu itu sekitar pukul 8.30 malam. Tiba-tiba suami merogoh saku belakangnya, dari dalam dompet ia ambil dua lembar uang berwarna merah. Lalu disodorkannya kepada saya.

“Cepat, kasihkan ke adek itu!” perintahnya.

Tumben, biasanya dia tak sedikitpun mau merepotkanku yang sedang menggendong anak bungsu kami yang tertidur. Tapi karena posisinya juga lebih sulit untuk berdiri karena menahan anak kami yang lebih besar sedang tertidur di depannya, maka ia meminta tolong agar saya yang mengejarnya.

Refleks, entah karena takut kehilangan jejak atau rasa iba yang tiba-tiba muncul yang memberiku kekuatan untuk segera turun dari motor dan berlari mengejarnya.

“Ini, Dek! Buat sarapan besok” Kuangsurkan dua lembar uang itu sambil tersenyum setelah meminta sang ibu untuk berhenti sejenak.

Anak kecil itu terdiam, ragu, kedua matanya melihat ke arah tanganku yang masih mengambang di udara. Pandangan dialihkan ke ibunya yang masih juga membisu di depan gerobak. Bingung! Raut muka yang sejenak kutebak.

“Ini…!” kuangsurkan uang itu lagi. Sekali lagi bocah perempuan itu memandang ibunya meminta pendapat. Baru tangan mungilnya mengambil dengan sangat perlahan uang yang kusodorkan setelah ibunya yang tampak letih mengangguk tersenyum. Ada binar yang tiba-tiba muncul. Ada bahagia yang meluap namun tertahan.

“Terima kasih!” suara itu hampir tak bisa kudengar. Tapi begitu merdu. Begitu menyejukkan. Aku terpaku. Baru setelah klakson berbunyi aku lari menuju motor yang masih berhenti di belakangku.

Kami memutar arah untuk kembali. Namun kami putuskan untuk mampir ke warung bakso di perempatan jalan. Bakso yang kami pesan hampir tak dapat kurasakan. Ada bahagia lembut yang menelusup entah ke dalam sana. Bukan bahagia yang menghentak.

Kami masih sama-sama diam. Hanya tangan kami yang erat saling menggenggam. Seolah kami sepakat. Tak perlu saling tanya nama, apalagi alamat. Biarlah kami segera lupa. Kami hanya ingin menabung “rasa”nya berbagi.

Rasa yang tidak bisa kami ungkapkan, namun bisa kami rasakan. Saat betapa orang yang kita beri hampir tak tahu caranya meluapkan bahagia. Biarlah itu menjadi kenangan manisnya yang menggunung, yang semoga hanya Allah saja yang tahu.

Bahkan, meski entah berapa lembar dan warna apa uang yang tersisa di dompet suami, sungguh bukan hal yang mengkhawatirkan lagi bagi kami.

Semenjak kami “berbagi” untuk Allah, tak lagi ada rumus matematika manusia yang kami berlakukan, kami memilih menggantinya dengan rumus matematika Allah SWT. Saat rumus manusia mengatakan 10 dikurangi 2 sama dengan delapan, maka rumus matematika Allah bisa saja 10 dikurangi 2 sama dengan 28 atau bahkan 208? Masya Allah, Allah Maha Kaya!

Dengan berbagi setidaknya kami memperoleh ketenangan yang belum pernah kami temui sebelumnya. Hanya perlu yakin dan percaya bahwa Allah itu yang Paling Maha Melihat, Allah Maha Kaya, Allah Maha Penyantun.

Dulu, kami hanya akan merogoh kocek yang sangat dangkal, mencari selembar uang yang sudah sangat lusuh dan tak cukup untuk membeli sebungkus nasi angkringan pun. Untuk kami bagi dengan orang yang meminta-minta. Terkadang jika tak menemukan selembar pun uang lusuh atau beberapa koin, kami urungkan ‘berbagi”.

Kami ketakutan jika akan berbagi. Nanti gimana untuk makan siang? Jangan-jangan nanti nggak bisa bayar ini atau bayar itu? Nyatanya memang banyak sekali sesuatu yang tak bisa kami bayar meski kami sudah super ‘irit” untuk berbagi, padahal secara nominal gaji yang kita terima setiap bulan cukup besar.

Kami lupa bahwa berbagi itu untuk Allah SWT, tapi melalui tangan dan air mata kaum fakir dan dhuafa. Hanya dengan berbagilah harta kita utuh sampai sana (akhirat).

Kini, setelah berusaha tak lagi hitung-hitungan sama Allah, saat kami berpikir tak ada lagi jalan keluar dari semua masalah berat, Allah SWT yang memberi petunjuk. Saat kami berpikir dari mana rejeki untuk membayar sekolah anak-anak? Allah lah yang tiba-tiba menggelontorkan sejumlah rejeki, tepat dengan jumlah yang kita butuhkan saat itu dari arah yang tak kita duga sangka. Saat kami berpikir semua hal mustahil, ada asa yang selalu Allah janjikan melalui ayat-ayat-Nya.

Kami tak lagi memilih lembaran uang paling lusuh, justru kami memilih yang paling besar dan paling baru di dompet kami saat itu untuk berbagi. Ke ibu-ibu tua, kakek-kakek renta yang berjualan koran, atau anak kecil yang menjajakan keripik di setiap masjid selepas shalat Jumat. Juga untuk pembangunan dan perawatan masjid melalui kotak infak di setiap lima waktu shalat.

Kami tak takut lagi untuk berbagi, karena kami yakin harta itu bisa kami bawa mati. Harta itu akan kembali kita miliki di sana, menjadi saksi amal kebaikan kita. Harta yang kita bagi itulah yang sejatinya utuh menjadi milik kita atas izin Allah SWT.

Apakah kami mejadi kaya? Iya, kami menjadi kaya, kaya hati! Alhamdulillah, kami lebih bisa merasakan ketenangan dan kebahagiaan hidup. Kami lebih diberi kesehatan oleh Allah SWT. Anak-anak dijaga Allah saat bermain maupun saat berada jauh dari pantauan kami orangtuanya. Dan hubungan keluarga menjadi lebih harmonis, saling menyayangi, menghargai dan menghormati.

Kami menjadi serba berkecukupan tanpa kami merasa khawatir menjaga harta di dunia karena takut dicuri. Nyatanya, setiap apapun kebutuhan kami, selalu Allah penuhi pada waktunya. Insyaallah!

Apa pun yang kita niatkan hanya untuk mendapat ridla-Nya, Allah lah yang akan menyulap semuanya baik-baik saja. Biarlah hina di depan manusia karena kita tak punya harta, yang terpenting di depan Allah kita punya angka. Sungguh saat kita jalani semua hal di kehidupan dengan lapang dada dan ikhlas, Allah yang akan membayarnya dengan ketenangan dan kenyamanan yang tak disangka-sangka.

Berbagi, merupakan hal yang paling Allah cintai. Berbagi terhadap sesama yang membutuhkan. Dan yakinlah, Allah tak pernah ingkar janji. Kita percayakan saja semua pada rumus matematika Allah. Rumus yang bahkan tak pernah mengenal masuk akal atau tidak. Nyatanya memang Allah-lah Maha Kaya, Allah-lah Maha Penyantun. Kita berbagi menyantuni sesama manusia yang membutuhkan maka kita akan disantuni oleh Allah, dan hanya Allah lah yang Maha Mengetahui jumlah yang pantas bagi kita.

”Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas Maha Mengetahui.” (QS: Al Baqarah: 261)

Kriteria infak atau sedekah yang seperti apa yang diterima Allah SWT?

Berikut ciri atau syarat-syarat infak yang diterima Allah SWT, (berdasarkan QS. Al Baqarah : 262 – 274):

  1. Infak yang tidak disebut-sebut atau yang tidak diikuti tindakan menyakiti orang yang diberi infak
  2. Infak yang diberikan hanya dengan niat untuk mendapat ridla Allah SWT
  3. Infak dari harta atau hasil usaha yang baik bukan yang buruk
  4. Boleh dilakukan dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, siang atau malam hari
  5. Jika ada sedikit kebaikan dari harta yang diinfakkan, maka semuanya untuk dirimu sendiri
  6. Apa pun harta yang diinfakkan, niscaya Allah akan memberimu (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan)

Jangan takut berbagi, karena berbagi merupakan salah satu yang ditakuti oleh setan dari manusia.

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan  kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir) sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 268)

BERBAGI, TAKUT SALAH SASARAN?

Kini, berbagi menjadi lebih mudah, karena Dompet Dhuafa memberikan bantuan dengan banyak pilihan layanan untuk menyalurkan donasi bagi pihak yang tepat, melalui:

  1. Kanal donasi online (donasi.dompetdhuafa.org)
  2. Transfer bank
  3. Counter
  4. Care visit (meninjau langsung lokasi program)
  5. Tanya jawab zakat
  6. Edukasi zakat
  7. Laporan donasi

Jadi bukan lagi mengenai kelebihan, cukup atau kekurangan harta? Namun tentang mau apa tidak kita lakukan, sekarang! Mari berbagi!

Mulailah dengan yang sangat kecil yang kita mampu (bahkan hanya dengan uang sebesar 10 ribu pun kita bisa mendonasikannya melalui Dompet Dhuafa), selebihnya kamu akan merasakan kecanduan dan semakin berusaha meningkatkan dosis berbagi yang lebih besar lagi untuk mendapatkan ketenangan yang lebih tinggi. Allah tak pernah ingkar janji! Insyaallah, Allah yang akan semakin memampukan!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.”

21 Replies to “Berbagilah! Allah Akan Mencukupkan Semua Kebutuhanmu Sebesar Apapun Itu”

  1. Terima kasih Mba sudah mengingatkan saya untuk terua berbagi tanpa takut sedikitpun kekurangan. Terima kasih untuk sharing cerita dan ilmunya , bikin aaya terenyuh dan terharu. Semoga saya biaa terus berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *