ANAK ALERGI SUSU SAPI BISA SEMBUH, BENARKAH?

Kulitnya meradang, merah, meninggi dari kulit sekitarnya dan merata di seluruh tubuh. Menyisakan bercak-bercak kulit berwarna pucat, mirip sekali dengan pulau-pulau di tengah lautan yang memerah.


Segera kuperiksa juga dahinya, leher, ku tempelkan punggung tanganku.
“Ah, Alhamdulillah tidak demam!”
Tubuhnya tergolek, kedua tangannya sibuk menggaruk sana-sini.
Dia hanya gatal! Tapi kenapa? Alergi?
Alergi apakah dia? Sebelumnya tak pernah sekalipun mengalami, termasuk alergi susu sapi.

Aku scroll halaman chat wa group. Aku ingat beberapa waktu lalu sempat membaca bahwa salah satu tanda infeksi Covid-19 pada anak adalah muncul biduran atau tanda alergi anak di kulit.

Astaughfirullah! Nak!

Kita bahkan 4 bulan lebih tak pernah ke mana-mana. Berdiam diri di rumah, paling mentok ke luar rumah ya ke teras depan saat pagi sebelum ada orang berlalu lalang. Atau terkadang kita sengaja bercengkrama saat matahari sudah beranjak naik dan menghangatkan lantai keramik di teras kita, saat tak seorang lain pun terlihat batang hidungnya di sekitarnya.
Berjemur, seperti hal yang disarankan banyak tenaga ahli di saat pandemi ini agar memperbaiki kekebalan tubuh kita.

Tanganku berhenti bergerak. Terpaku pada ingatan bahwa, hanya papahnya lah yang masih saja keluar rumah untuk bekerja.
Ah tidak, aku yakin sekali protokol kesehatan juga sangat ketat dilakukannya sesuai dengan arahanku selama ini.

Kemana pun pergi selalu mengenakan masker dan membawa handsanitizer juga semprotan desinfektan untuk jaga-jaga.
Di luar rumah, ia sangat membatasi bertemu muka dengan orang lain dalam jarak dekat. Apalagi sekadar nongkrong di tempat ramai, tidak sama sekali.

Sepulangnya pun dia selalu langsung mandi, bersih-bersih badan dan segera mencuci baju yang dikenakannya seharian.
Baru kemudian berani masuk ke ruang keluarga untuk bercengkrama bersama anak-anak.

Aku scroll sekali lagi di berbagai group wa yang kutebak dulu pernah membahas hal itu.
Nampaknya nihil, tapi yakin sekali dalam ingatan bahwa sumber dari informasi tersebut berasal dari WHO yang telah disunting dalam bentuk bahasa Indonesia. Bahkan sempat menjadi bahan diskusi yang begitu seru di antara teman-teman dokter kala itu.

Tak menunggu lama, apalagi panik yang justru hanya akan menurunkan imunitas kita, aku segera mengirim pesan ke suami, agar pulang nanti mampir ke apotek guna membeli obat anti alergi dalam bentuk Syrup.

Alhamdulillah, ilmu kedokteran yang dulu dipaksakan oleh orang tuaku, kini melekat erat. Bisa kumanfaatkan paling tidak untuk kondisi seperti ini, melindungi keluargaku dari kasus-kasus ringan yang masih bisa diobservasi dirumah.
Tentu saja sembari saya konsultasi juga ke teman sejawat ahli kesehatan anak dalam hal ini.


Kejadian ini saya alami sendiri beberapa pekan yang lalu.
Bentuk alergi yang khas namun tidak disertai demam, masih perlu dicurigai di saat musim pandemi seperti sekarang ini. Setidaknya kita perlu meningkatkan waspada dan harus segera menemukan jawabannya agar segera mendapat penanganan yang tepat.

Bagi anak yang tidak memiliki riwayat alergi saja sudah cukup membuat khawatir.
Apalagi anak yang memang memiliki riwayat alergi sebelumnya. Anak dengan riwayat alergi memiliki kerentanan terhadap penyakit dibandingkan dengan anak lainnya.

Alergi itu apa?

Alergi sendiri adalah bentuk respon sistem imun yang berlebihan terhadap alergen yang pada orang normal itu bukan suatu masalah.
Sedangkan alergen adalah bahan yang dapat mencetuskan alergi.

Alergi protein susu sapi misalnya. Menurut Prof. DR. dr. Budi S, Sp. A(K), selaku narasumber Webinar Pekan Tanggap Alergi, jenis alergi ini memegang prosentase yang lumayan besar, mencapai 23.8% kasusnya di RSCM Jakarta.

Dan di Indonesia sebanyak 7,5% kasus alergi susu sapi pada anak. Alergi susu sapi ini merupakan penyebab alergi ke dua setelah telur di Asia dan Indonesia.

Prof. DR. dr. Budi Setiabudi awan, Sp. A(K), M.Kes

Protein susu sapi yang sering membuat alergi pada anak adalah Whey dan Kasein.

Di awal kehidupan, anak alergi susu sapi cenderung tidak mudah dideteksi. Padahal kejadian alergi sendiri akan menurunkan kekebalan tubuh yang sekarang sangat vital kita punya. Oleh karena itu, anak yang alergi susu sapi harus segera ditegakkan diagnosanya dan segera diatasi.

DAMPAK KETERLAMBATAN PENANGANAN ALERGI

Jika tidak segera kenapa? Akan terjadi banyak dampak yang disebabkannya, antara lain: Dampak terhadap anak, dampak terhadap keluarga juga dampak terhadap masyarakat.

Dampak terhadap anak juga bisa bersifat jangka panjang. Meningkatkan resiko terjadinya penyakit degenerasi seperti obesitas, hipertensi (darah tinggi), bahkan sakit jantung.

Pict 2. Dampak Alergi Susu Sapi yang Tidak Segera Ditangani

Selain itu, dampak lain yang lebih cepat dirasakan anak adalah gangguan tumbuh kembang di usia anak.

Dan masih banyak lagi dampak lainnya seperti pengeluaran orang tua menjadi banyak karena untuk pengobatan anak, anak sering dirawat, diperiksa berkali-kali termasuk cek laboratorium dan pembelian obat-obatan.

Kita bisa mencegahnya dengan mengikuti program gerakan 3K untuk menjaga kesehatan si kecil yang Alergi Susu Sapi, yaitu Kenali Gejala, Konsultasikan dan Kendalikan.

GERAKAN 3K

Menjadi bunda tanggap Alergi di masa Pandemi ini, kita bisa melakukan gerakan ini untuk menjaga buah hati kita yang memiliki riwayat alergi susu sapi.

Pict 3. Gerakan 3K Bunda Tanggap Alergi

K1: KENALI GEJALA ALERGI SUSU SAPI SEDINI MUNGKIN

Ada yang hobinya berkonsultasi dengan Mbah Gugel? Anak demam cari Mbah Gugel, anak gatal buka mbah gugel? Bukan tidak menyarankan, hanya saja jika sumber informasinya valid tidak mengapa.

Namun sebaliknya, seringkali yang terjadi bukannya kita mendapat solusi justru yang ada kita malah panik dengan semua informasi yang mungkin terlalu berlebihan dan membuat kita takut. Padahal siapa yang tahu kalau ternyata informasi itu hanya asal comot saja dari artikel lain, misalnya.

Gejala alergi susu sapi pada anak biasanya terlihat dari beberapa ciri, tergantung organ mana yang memiliki respon berlebih terhadap susu sapi.

Pict 4. Kenali Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak

Gejala tersebut dipaparkan secara jelas oleh Prof. DR. dr. Budi Setiabudi awan, Sp. A (K), M.Kes, pada acara Webinar “Tanggap Alergi di Masa Pandemi Untuk Generasi Maju” yang diadakan oleh SGM Soya Generasi Maju, antara lain:

  1. Organ Saluran Pencernaan: keluhan berupa diare (53%), sakit perut mulas (kolik) (27%)
  2. Kulit: gejala berupa dermatitis Atopik/ Eksim (35%), Urtikaria/Kaligata/biduran (18%)
  3. Saluran Pernapasan: gejala berupa Asma (21 %) Rhinitis alergi /batuk dan bersin berulang (20%)
  4. Umum: Anafilaksis (11%) merupakan kasus alergi dengan gejala paling berat dan dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani segera.

Di musim pandemi Covid ini, tentunya kita lebih harus waspada. Karena gejala umumnya hampir sama dengan gejala alergi yang menyerang saluran pernapasan, yaitu batuk, pilek dan bersin berulang.

Adakah perbedaananya antara batuk pilek yang disebabkan oleh alergi dengan batuk pilek yang disebabkan oleh infeksi?
Ada, perbedaannya lihat pada infografis berikut ini:

Pict 5. Perbedaan Gejala Batuk Pilek karena Alergi dan Karena Infeksi

K2: KONSULTASIKAN KEPADA AHLI (DOKTER)

Jika kita sudah mengenali berbagai gejala alergi dan mendapatinya pada anak kita, hendaklah tidak mudah mendiagnosanya apalagi mengobatinya sendiri. Kecuali jika anda adalah dokter atau tenaga kesehatan yang mengerti ilmunya.

Mendiagnosa sendiri dan mengobatinya hanya dengan modal informasi dari internet yang sekarang serba ada, justru akan menyebabkan keterlambatan diagnosa sehingga penanganan tidak segera dan tidak bisa optimal.

Hendaknya kita segera melakukan konsultasi kepada ahli. Dalam hal ini adalah dokter.
Dokter akan segera melakukan pemeriksaan dan menentukan tata laksana yang tepat untuk penyakit yang muncul. Pencetus alergi akan segera bisa dipastikan sehingga dapat segera dikendalikan alergennya.

Misalnya alergen yang mencetuskan timbulnya alergi adalah susu sapi, maka kita akan segera bisa menghindari semua makanan dan minuman yang mengandung protein susu sapi serta produk-produk turunannya.

K3: KENDALIKAN ALERGI

Lega rasanya saat masalah kesehatan pada anak kita bisa segera mendapat solusi. Saat anak mengalami alergi susu sapi dan berhasil ditegakkan diagnosanya oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang, maka saatnya kita memantapkan diri untuk planning ke depan solusinya seperti apa.

Dokter akan segera memberikan solusi yang paling utama untuk anak yang mengalami alergi susu sapi.

Pict 6. Tatalaksana Alergi Susu Sapi menurut IDAI

Solusi tersebut antara lain:

  1. ASI eksklusif

    ASI merupakan nutrisi yang terbaik bagi anak.
    Dengan pemberian ASI Eksklusif, maka akan meningkatkan daya tahan tubuh (imunitas) anak. Kandungan nutrisinya terdapat alergen yang dikonsumsi si ibu namun dalam ASI hanya dalam jumlah yang sangat sedikit.
    Hal ini justru akan menginduksi atau mencetuskan toleransi pada tubuh anak sehingga membuat anak tak lagi alergi pada protein susu sapi.
  2. Jika Alasan Medis Ibu Tidak Bisa Memberikan ASI?

    Salah satu solusi yang dapat dilakukan ialah dengan menggantikan produk susu non protein sapi, contohnya formula Soya. Namun jika anak tersebut laki-laki, apakah aman memberinya formula Soya? Tidak akan menggangu perkembangan organ reproduksinya?Misalnya kelak anak laki-laki tersebut akan memiliki sifat feminin?

Menurut studi penelitian, Formula Soya aman diberikan kepada anak perempuan maupun laki-laki.

Formula soya merupakan bentuk isolat protein kedelai (bukan protein utuh dari sari kedelai) yang sudah mengalami proses sedemikian rupa sehingga partikelnya yang sangat kecil akan aman diberikan kepada anak baik perempuan maupun laki-laki.

Tidak akan mengganggu tumbuh kembangnya termasuk gangguan hormon reproduksinya kelak. Formula Soya juga sudah difortifikasi dengan berbagai nutrisi, vitamin dan mineral.

TINGKAT KESEMBUHAN (REMISI) ALERGI SUSU SAPI

Untuk kasus alergi protein susu sapi yang ditatalaksana dan dikendalikan sedini mungkin memiliki tingkat kesembuhan sebagai berikut:

Pict 7. Angka Kesembuhan (Remisi) Anak Alergi Susu Sapi

Tahun pertama: sebesar 45-55%
Tahun kedua: sebesar 60-75%
Tahun ketiga: sebesar 90%
Tahun keempat: sebesar 97%

Jadi dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa angka alergi anak terhadap protein susu sapi yang ditatalaksana dan dikendalikan sedini mungkin akan sembuh mendekati 100% di tahun ke empat kehidupan.

Selain pemaparan edukasi berbasis medis oleh Prof. DR. dr. Budi Setiabudi awan, Sp. A(K), M.Kes, Webinar juga dilengkapi dengan pemaparan dari Senior Brand Manager SGM Eksplor Advance + Soya, Anggi Monika Septie.

Pict 8. Anggi Morika Septie, Senior Brand Manager SGM Advance + Soya

Menurutnya, melalui rangkaian kegiatan edukasi Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju, para bunda diajak untuk aktif menjaga si kecil melalui gerakan 3K, yaitu:

  • Kenali gejala alergi protein susu sapi,
  • Konsultasikan ke dokter bisa melalui telepon atau online agar mendapat penanganan yang tepat, serta
  • Kendalikan faktor penyebab alergi susu sapi dengan alternatif nutrisi yang tepat agar si kecil bisa tumbuh dan berkembang secara optimal menjadi Anak Generasi Maju.
Pict 9. Kiri: Mediana Herwijayanti, Digital Markteting Manager SGM Eksplor Advance + Soya, Kanan: Indah Septyani

Selanjutnya, Mediana Herwijayanti selaku Digital Marketing Manager SGM Eksplor Advance + Soya menambahkan bahwa, para bunda dapat memperoleh edukasi nutrisi serta cara mengatasi dan mengendalikan faktor yang menyebabkan alergi susu sapi.

Dalam rangka mendukung World Alergi Week 2020 atau Pekan Alergi Dunia, PT Sarihusada menghadirkan rangkaian acara “Pekan Tanggap Alergi Generasi Maju” dengan menyediakan konten-konten edukasi digital melalui akun Instagram @soya_generasimaju dan Facebook Fan Page Soya Dukung Generasi Maju.

Kegiatan tersebut antara lain:

  • Menyelenggarakan interaksi langsung dengan para ahli melalui sesi “Expert Chat“,
  • kelas Zumba yang membimbing gerakan olahraga ringan bagi bunda dan si kecil agar tetap aktif dan sehat,
  • Inspirasi kreasi resep sehat berbahan dasar SGM Eksplor Advance+ Soya bernutrisi bekerjasama dengan celebriti chef, serta
  • Tips-tips praktis lainnya agar si kecil tetap sehat dan nyaman beraktifitas selama di rumah.

Webinar yang dimoderatori oleh Indah Septyani berlangsung pada hari Senin, 29 Juni 2020, pukul 10.30 – 12.00 wib sangat seru dan aktif. Tentu saja karena topik yang diangkat juga tak jauh dari masalah yang sering dihadapi oleh sebagian bunda di Indonesia mengenai kesehatan anak dengan alergi susu sapi.

Pict 10. Natasha Rizky, Selebriti & Bunda

Selain diisi oleh pembicara-pembicara tersebut, Webinar juga ditambah lagi keseruannya dengan adanya sharing dari Natasha Rizky, seorang selebriti sekaligus bunda yang berbagi cerita tentang anak keduanya yang mengalami alergi susu sapi.
Lengkap banget!

Alhamdulillah, bertambah lagi ilmu yang insyaallah bermanfaat.
Dari semua materi yang disampaikan, beberapa hal penting dapat diambil dan diterapkan kita untuk menjaga kesehatan anak dengan riwayat alergi susu sapi.
Semuanya terangkum dalam 5 tips berikut ini:

Pict 11. Lima Tips Era New Normal Bagi Anak Alergi Susu Sapi

Dan, oiya, tentang putri bungsu saya yang tempo hari mengalami gatal-gatal dan saya sempat khawatir, alhamdulillah setelah saya periksa lebih lanjut dan konsultasikan juga ke dokter anak, selang sehari minum obat alergi keluhannya langsung sembuh.
Namun ada PR lagi, ialah melacak alergen apa yang tempo hari sempat membuatnya gatal dan tidak nyaman jika kelak muncul lagi gejala serupa.

Gimana bunda?
Apakah ada anak bunda yang mungkin mengalami gejala serupa?

Untuk informasi lebih lanjut mengenai alergi anak bisa bunda dapatkan informasi lengkap di:

https://www.generasimaju.co.id/alergianak

Juga untuk edukasi serta tips-tips praktis lainnya bisa dikepoin juga di akun Instagram:
https://www.instagram.com/soya_generasimaju

Atau Fan Page Facebook: Soya Dukung Generasi Maju

SARIHUSADA
NUTRISI UNTUK BANGSA

Written by

68   Posts

Eka Wahyuni Tinggal di Jogja, Bunda dari 3 bocah hebat shaleh dan shaleha ini mempunyai kepribadian hangat dan supel. Selain aktif di sebuah klinik di Jogja, juga aktif berkomunitas dengan sesama penulis dan Blogger di Jogja. Senang sekali berbagi, ilmu, pengalaman, motivasi juga hal-hal positif lainnya. Kontak dan kerjasama bisa dihubungi melalui: Email: ekabyan@gmail.com
View All Posts

20 thoughts on “ANAK ALERGI SUSU SAPI BISA SEMBUH, BENARKAH?

  1. Alhamdulillah, iya alergi biasanya diturunkan dari orang tua, kalo orangtua aman insyaallah anak aman. Susu kedelai juga gurih si dan tidak amis ya

  2. Yup.. memang sebelum memutuskan alergi atau tidak, baiknya konsultasikan ke dokter sekaligus mencari penanganannya dan sekaligus menemukan susu terbaik buat anak.

  3. Ramadhan 2018 ponakan saya di rawat di RS cukup lama. Salah satu penyebab sakitnya adalah alergi susu sapi yang dari kecil di konsumsinya. Setelah mengganti susu soya atas saran dokter anak, alhmdulillah sekarang udh aktif kembali bermain.๐Ÿ˜Š

  4. Mbak alergi ini apa hanya kena ke anak-anak atau orang dewasa pun kemungkinan kena? Pernah liat yt dr.Zaidul Akbar yg membahas kalo susu sapi kurang sehat, tapi belum menemukan alasannya. Sy juga setiap habis minum susu sapi terkadang langsung mules, apa itu termasuk alergi ya ๐Ÿ˜‚

  5. Susu formula soya bikin anak laki-laki feminin jika dikonsumsi berkelanjutan, itu mitos kan mba? Hehehe. Sejauh ini ya susu soya adalah solusi teraman dan terbaik untuk anak yang alergi susu sapi.

  6. Sampai saat ini saya selalu berkutat dengan alergi, dulu waktu saya kecil kata dokter saya alergi udara dan kalau alerginya kambuh itu seperti biduran. Sudah lama tidak pernah kambuh lagi, sekitar 1 bulan ini alerginya kambuh lagi, gatal2 merah di daerah leher dan perut dan alaerginya tidak biduran lagi, sekarang beda banget, sudah ke dokter, dokter cuma kasih salep tanpa kasih obat, makanya pusing ngak tahu kali ini alerginya apa

  7. Kalaupun tidk alergi, selama anak suka dan tidak menimbulkan efek samping yang negatif maka susu kedelai sangat pantas menggantikan susu sapi.

  8. Anak yang mengalami alergi memang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat supaya kondisinya bisa terus membaik dan pertumbuhannya nggak terganggu.

  9. Kalau saya bukan alergi tetapi suka sakit perut kalau minum susu sapi, apa tidak cocok ya? Tapi saya suka maksa karena saya pecinta susu sapi ๐Ÿ˜ฆ

  10. Baru tau ternyata alergi bisa diturunkan dari ortu ya mbak. Kalau susu kedelai sekeluarga emang konsumsi sih jadi sudah terbiasa hehe

  11. Lebih banyak terjadi pada anak mbak, kalo besar biasanya udah sembuh karena sering terdesensitisasi, kena alergen sedikit2 tapi meningkatkan imunitas dan bikin kebal sama protein susu sapi.

  12. Iya formula soya lebih aman untuk anak alergi susu sapi. Betul mbak mitos, terutama formula soya sekarang kan dalam bentuk isolat yang partikelnya lebih kecil, bukan protein utuh sari kedelai yang membuat hormon reproduksinya terganggu

  13. Hehe iya, kalo alergi susu sapi si bisa sembuh dengan penanganan, namun untuk alergi lain masih kemungkinan kambuh lagi, bisa debu, tungau, serbuk sari bunga dll semangat tingkatkan imunitas biar gak mudah kambuh mbak

  14. Sakit perut itu juga salah satu tanda alergi susu sapi mbak, yang kena saluran pencernaan. Kalo setiap minum pasti sakit perut ya coba dihindari dulu aja

  15. Iya, kasus alergi memang diturunkan dari orang tua ke anak. Tidak mutlak muncul tapi resiko alergi lebih besar dibandingkan dengan anak yang orangtua nya tidak ada riwayat alergi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: