Allah Hadir Di Seberapa Kuat Doa Ibu

Allah hadir di seberapa kuat doa ibu

Aku masih belum percaya jika melahirkan dengan dipacu akan memberikan rasa sakit yang luar biasa. Menurutku kala itu, nyeri kontraksi ya memang seperti itu, sakitnya legit. Pun, karena ternyata sudah dua kali obat pacu lewat jalan lahir sudah berhasil kulewati dengan lancar. Nyerinya masih sama saja dengan melahirkan dua jagoanku tempo hari.

“Mbak, bukaan berapa?” tanyaku ke bidan yang baru saja memeriksa.

“Masih sama, Mbak,” jawabnya singkat.

“Sama berapa, Mbak?” kejarku lagi.

“Sama seperti tadi bu dokter yang meriksa jam enam,” jelasnya kemudian. Dia buru-buru pamitan.

Ok, aku menghela napas. Bukan apa-apa, rasa nyeri di perut bagian bawahku yang menjalar ke seluruh pinggang rasanya sudah puluhan kali lipat disbanding sebelumnya. Sekuat tenaga aku mencoba berbaik sangka, Allah Maha tahu yang terbaik. Setelah 24 jam melewati mules-mules tak jelas yang disebabkan oleh perangsang mules berupa obat pacu, tepat sejak jam 12.00 (yang itu artinya 6 jam yang lalu) bidan menyampaikan hasil konsulnya yang memberikanku dua pilihan, istirahat (tanpa pemberian obat pacu) atau segera memilih prosedur lain untuk melahirkan, yaitu operasi bedah sesar? Aku terpaku pada dua pilihan itu. Memang taka da satu pilihan mana yang lebih berat,dua-duanya begitu berat. Satu sisi aku maunya memang istirahat saja, artinya membiarkan dan mengharapkan semua proses terjadi secara alami dengan lancar. Tapi dilain sisi, aku lebih takut dengan risiko yang lebih buruk akan terjadi pada bayi perempuan di dalam rahimku.

Baik, beri kami waktu untuk berpikir, Mbak. Hanya itu yang kusampaikan kepada bidan jaga yang cantik itu. Waktu untuk berpikir, bukankah itu juga menghabiskan beberapa ribu detik terbuang tanpa action? Allah, semoga memang apa pun langkahku, itulah yang sudah Engkau pilihkan buat kebaikan kami, aku dan calon anakku.

Akhirnya kami memilih istirahat saja. sitirahat dari pemberian obat berupa tablet yang dibelah 4 yang dimasukkan ke dalam jalan lahir untuk merangsang munculnya kontraksi yang membaut perut terasa mulas. Kehamilan ini tak seperti dua kehamilan sebelumnya yang meski terlambat atpi masih bisa berjalan dengan lancar tanpa campur tangan obat pemacu kontraksi.

“Mbak, ini udah mau lahir,” ucap mama sambil mengusap peluh yang membasahi kening juga tengkukku. Meski sekuat tenaga aku menahan nyeri yang teramat sangat, mama tetap bisa mencuri tahu. Mama ku bukan “orang pintar”, apalagi dukun. Tapi pengalamannya melahirkan 6 orang anak dari rahimnya dengan cara normal cukup memintarkannya mengenali tanda-tanda melahirkan.

Mama baru saja masuk ke kamar tempatku berada. Di ruang lantai 3 sebuah rumah sakit di Jogja. Mama memang baru bisa datang setelah lebih dari 24 jam aku mulai kesakitan. Bukan karena apa-apa, kebetulan mama baru ke luar kota menjenguk bude.

Benar saja, tak selang sepuluh menit dari kedatangan mama, bidan-bidan cantik itu berlomba membawaku ke ruang persalinan. Aku panik. Rasanya perut ini sudah waktunya untuk mengeluarkan segala yang ada di dalamnya. Aku pengin sekalii mengejan! Tapi tak boleh!

“Nanti, tunggu dokternya datang, tahan, belum lengkap!” bidan itu tetap saja tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.

“Aku mau ngejaaan!” teriakku saat kudengar suara dokter memasuki ruangan bersalin.

“Tunggu! Dokternya pakai sarung tangan dulu!” teriak bidan itu.

Dan aku pun tak mendengar lagi apa kata bidan itu.

“Oek… oek…!” bersamaan dengan tangan dokter yang sudah lengkap dengan handscoend, kepala bayi disusul badannya segera meluncur ke kedua telapak dokter cantik yang sedari kemarin siang sudah menunggu bayi itu.

Kesayangan mama

Entahlah, itu kenanganku bersama ibuku. Perempuan yang selalu menjemput kelahiran cucunya dengan kasih sayangnya, bahkan meski sudah berkali-kali obat pacu dimasukkan. Rupanya suara, kelembutan tangan mama tetap yang ditunggu. Allah ridlo pada keikhlasan mama. Keikhlasan untuk menyaksikan putri pertamanya melahirkan cucu-cucu imutnya.

Aku baru ingat, ternyata ketiga anakku memang semuanya mundur dari HPL, tapi satu yang menyamakan ketiganya, adalah kedatangan mama di sampingku yang seolah menjadi kekuatan tak terlihat dari Allah untuk melancarkan semuanya. Ridlo Allah ada di ridlo mama. Mama, begitu cintanya engkau terhadapku yang sering durhaka. Izinkan aku jadi anak shalehamu yang kelak doaku akan selalu engkau terima di sana.

Satu setengah tahun dari kejadian itu, engkau dipanggil Allah, tanpa sebab, tanpa sakit, tanpa tanda apapun sebelumnya. Bahkan kita menyisakan janji untuk melakukan senam bersama Ahad pagi di alun-alun. Janji yang pernah terucap namun tak pernah tertunaikan.

Kalau menurutmu kenangan itu hanya untuk dikenang, kamu salah. Kenangan itu menjadi sumber kekuatan. Kenangan itu menjadi sumber harapan, untuk kembali berkumpul bersamanya di surge. Kenangan indah ikatan ibu anak yang tak pernah lekang dimakan waktu bahkan kematian.

Kenangan itu menumbuhkan harapan-harapan baru untukku menjadi wanita shaleha yang membanggakanmu.

Kenanganku tak akan mungkin kutemukan lagi, kecuali hanya tempat-tempatnya saja. Dan, kenangan yang selalu menumbuhkan harapan baru akan selalu kuingat, terutama agar aku menjadi perempuan yang semakin shaleha, produktif dan mampu berkarya untuk kepentingan dunia dan akhirat.

2 Replies to “Allah Hadir Di Seberapa Kuat Doa Ibu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *